Chapter Text
Mobil tahanan berhenti dengan hentakan yang membuat tubuh Lee Donghyuck ikut terdorong ke depan. Rantai borgol di kedua pergelangan tangannya beradu pelan ketika ia refleks menahan diri pada bangku besi yang sudah berkarat. Sejak satu jam terakhir ia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia sudah siap menghadapi apa pun yang menunggunya di balik tembok penjara itu, tetapi keyakinan itu runtuh begitu pintu belakang mobil dibuka dan udara pengap bercampur bau got, asap rokok, serta keringat manusia langsung menghantam wajahnya.
"Turun."
Suara sipir terdengar datar. Donghyuck menurut tanpa membantah. Ia melompat turun dari bak mobil, lalu berdiri diam beberapa detik sambil mendongak melihat bangunan tinggi yang kini menjadi dunianya. Cat dindingnya mengelupas di banyak sisi, kawat berduri melingkari tembok luar, dan suara orang berteriak sudah terdengar bahkan sebelum ia benar-benar melangkahkan kaki ke dalam.
Ruang penerimaan penjara itu bau keringat, karat, dan urin. Lampu neon berkedip-kedip di langit-langit yang sudah menguning. Donghyuck berdiri di tengah-tengah, tangan diborgol di belakang punggung, seragam orange yang kebesaran menempel di tubuhnya yang ramping tapi berlekuk. Beberapa petugas penjara saling pandang sambil nyengir kecil, tapi mereka tidak berkata apa-apa. Mereka tahu siapa yang bakal "menyambut" bocah baru ini.
Donghyuck sendiri pun sudah tahu seperti apa penjara laki-laki dari cerita orang, berita, sampai forum-forum internet yang diam-diam ia baca selama proses persidangan. Semua orang mengatakan hal yang sama. Kalau wajahmu tampan, tubuhmu kecil, atau kelihatan lemah, jangan berharap bisa hidup tenang.
Donghyuck memenuhi ketiga syarat itu.
Ia bukan pria berotot. Bahunya sempit, pinggangnya ramping, pinggulnya berisi, wajahnya terlalu halus, dan kulitnya masih jauh lebih bersih dibanding para tahanan yang berjalan melewatinya. Rambutnya bahkan masih dipotong rapi karena baru beberapa hari lalu ia berada di ruang sidang dengan pakaian mahal, bukannya mengenakan seragam narapidana lusuh di tubuhnya. Penampilannya adalah senjata dalam pekerjaannya. Selama ini, kecantikannya adalah salah satu hal yang paling dia butuhkan.
Bodohnya, hidupnya berakhir di tempat seperti ini hanya karena ia terlalu jauh memanfaatkan kecantikan itu.
Donghyuck tidak pernah merampok. Tidak pernah membunuh. Tangannya bahkan nyaris tidak pernah memukul siapa pun. Ia hanya tahu cara membuat laki-laki jatuh cinta, membuat mereka percaya, lalu menguras rekening mereka sedikit demi sedikit sebelum menghilang. Korban-korbannya hampir selalu pria kaya yang menyembunyikan orientasi seksual mereka dari keluarga maupun publik.
Korban-korbannya tidak pernah benar-benar melapor karena malu. Selama bertahun-tahun semuanya berjalan mulus, sampai salah satu korbannya ternyata memiliki uang, koneksi, dan harga diri yang terlalu besar untuk membiarkan dirinya dipermainkan begitu saja. Akhirnya Donghyuck tertangkap dan sekarang ia berada di sini.
Donghyuck tau kecantikannya adalah masalah. Di dunia luar, itu adalah senjata. Di sini, ia sadar betul itu akan jadi undangan terbuka.
Gerbang besi terbuka dengan bunyi berdecit yang panjang. Sipir mendorong bahunya agar terus berjalan. Semakin jauh ia masuk, semakin jelas suasana penjara yang sesungguhnya.
Dari berbagai arah terdengar orang saling meneriaki umpatan, tertawa keras, berdebat, bersiul, memukul meja, sampai suara logam yang dipukul tanpa alasan jelas. Beberapa narapidana berkumpul bermain kartu di lantai, beberapa lainnya merokok sambil menyandarkan punggung ke tembok, sementara sisanya hanya duduk memperhatikan siapa pun yang lewat seperti tidak memiliki hiburan lain selain kehidupan orang lain.
Lalu seseorang melihat Donghyuck.
"Weh, anak baru."
Satu kepala menoleh. Lalu dua. Lalu semakin banyak. Dalam hitungan detik, rasanya hampir setiap pasang mata di area itu mengarah kepadanya.
"Buset... bening."
"Itu napi apa artis nyasar?"
"Tobat gue, cakep amat."
"Tahan berapa lama tuh sebelum nangis?"
“Waduh neng, kok nyasar ke sini?”
“Anjeeeeeng lu liat pantatnya geal geol.”
“Emang minta dipake itu mah.”
Tawa meledak dari berbagai arah. Beberapa orang bersiul panjang. Yang lain sengaja memajukan badan mereka untuk melihat lebih jelas seolah Donghyuck adalah barang baru yang sedang dipamerkan.
Donghyuck menundukkan kepala serendah mungkin. Ia menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa perih, berusaha mengabaikan komentar-komentar yang semakin vulgar setiap beberapa langkah. Ia tahu membalas hanya akan memperburuk keadaan.
Di tengah keramaian itu, tanpa sengaja pandangannya terangkat. Di salah satu meja beton dekat halaman tengah, dua pria duduk santai bersama beberapa narapidana lain. Salah satunya bertubuh besar dengan lengan penuh tato yang terlihat sampai ke punggung tangan. Wajahnya datar, tetapi sorot matanya tajam seperti orang yang tidak pernah belajar menyembunyikan niat buruknya.
Pria di sebelahnya memiliki tubuh yang tidak kalah besar, hanya saja ekspresinya jauh lebih santai. Ia sedang menyandarkan siku di meja sambil mengisap rokok dan sesekali tertawa mendengar obrolan orang-orang di sekitarnya. Keduanya tampak mereka pantas ada di sini. Tampak seperti dua hewan buas yang memang sedang ada di habitat asli mereka.
Mata Donghyuck berhenti terlalu lama di sana. Mungkin karena mereka sama-sama tampan. Mungkin karena di tengah tempat sekotor ini, otaknya masih sempat memikirkan hal sebodoh itu. Mereka berdua, meski tampak kusam karena kotornya penjara dan memiliki beberapa bekas luka, entah bagaimana tetap enak dipandang, tampak jantan, tampak kuat. Atau mungkin karena keduanya juga sedang menatap lurus ke arahnya. Mata mereka bertemu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Pria yang lebih tenang, dengan senyum tipis di bibirnya, mengangkat alisnya sedikit.
Donghyuck buru-buru memalingkan wajah. Ia tidak sempat melihat pria yang sedang merokok itu menyenggol bahu temannya pelan sambil mengangguk ke arah anak baru yang baru saja salah tingkah karena ketahuan mencuri pandang.
Perjalanan menuju blok tahanan terasa jauh lebih panjang setelah itu. Baru ketika sipir berhenti di depan deretan sel, Donghyuck mulai memperhatikan nomor-nomor yang menempel di atas pintu besi. Sipir membuka salah satunya, lalu mendorong Donghyuck masuk setelah melepas borgolnya.
"Sel lo."
Donghyuck mengangguk pelan. Ia baru sempat menghembuskan napas ketika suara seseorang terdengar dari luar.
"Hai anak baru."
Nada suara itu sangat santai bahkan hampir terdengar ramah. Namun, saat Donghyuck menoleh, dia tau niat dibalik nada itu sama sekali tidak baik.
Dua sel di sebelah kirinya, pria yang tadi ia lihat sedang merokok berdiri bersandar pada jeruji sambil menatapnya dengan senyum tipis yang sama sekali tidak membuatnya merasa tenang.
"Nama lo Donghyuck, ya?"
Donghyuck tidak menjawab, namun pria itu tetap tersenyum.
"Gue Jaemin."
Ia menunjuk pria bertato yang kini ikut berdiri di sampingnya.
"Ini Jeno."
Jeno menyilangkan tangan di dada, rahangnya tegas, tatapannya tajam dan lapar. Jeno tidak mengatakan apa-apa. Namun, tatapan laki-laki itu cukup membuat tengkuknya terasa dingin. Jaemin di sebelahnya cuma menyeringai, matanya memperhatikan Donghyuck seperti serigala yang sedang melihat anak domba. Jaemin terkekeh pelan melihat wajah Donghyuck yang semakin pucat.
"Selamat datang ke neraka ya, " jeda sesaat. "Kita bakal sering ketemu nih, tetangga."
Donghyuck mundur sampai punggungnya menyentuh dinding dingin. Sel itu sempit, bau apek, ada dua tempat tidur susun. Temen selnya, seorang pria kurus, langsung mengalihkan muka, dan pura-pura tidur. Jantungnya berdegup kencang banget sampai terasa mau meledak. Dia perlahan meluncur duduk di lantai, lutut ditekuk ke dada, tangan memeluk kaki sendiri. Menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya.
Malam pertama itu, ia hampir tidak tidur sama sekali. Setiap suara langkah di luar selnya membuat jantungnya berdegup kencang. Ia tahu persis bagaimana penjara memperlakukan laki-laki seperti dirinya. Ia sudah mendengar cerita-cerita itu sejak masih di ruang tahanan sementara, tentang bagaimana wajah cantik bisa berubah menjadi kutukan di balik jeruji.
Malam ini baru pertama dan dia sudah tahu, dia benar-benar masuk neraka.
•••
Pagi pertama Donghyuck di penjara dimulai jauh sebelum matahari benar-benar terbit. Suara pluit yang memekakkan telinga disusul teriakan sipir membangunkan seluruh blok. Dalam hitungan detik lorong yang semula hanya dipenuhi suara dengkuran berubah menjadi lautan umpatan. Pintu-pintu sel dibuka satu per satu, disusul narapidana yang keluar sambil mengucek mata, mengenakan sandal seadanya, atau sekadar menyulut rokok bahkan sebelum sempat mencuci muka.
Donghyuck nyaris tidak tidur semalaman. Setiap kali memejamkan mata, ia selalu merasa ada orang yang sedang memperhatikannya dari balik jeruji. Beberapa kali ia benar-benar mendengar suara siulan dari luar sel, disusul tawa rendah yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Teman satu selnya sama sekali tidak mengajaknya bicara. Pria itu hanya tidur membelakanginya sepanjang malam, seolah tidak ingin ikut campur dengan urusan anak baru yang sudah terlanjur menarik perhatian terlalu banyak orang.
"Keluar semuanya! Baris!"
Donghyuck buru-buru mengikuti arus para narapidana menuju halaman tengah. Ia memilih berdiri di barisan paling belakang. Semakin tidak terlihat, semakin baik.
Setelah apel singkat selesai, seluruh penghuni blok dibubarkan untuk mengambil jatah sarapan. Orang-orang langsung bergerak tanpa benar-benar membentuk antrian yang rapi. Mereka saling serobot, saling dorong, saling maki, sementara para sipir hanya memperhatikan dari kejauhan seolah semua itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Di penjara ini, berita menyebar cepat. Apalagi kalau barangnya secantik dia.
Donghyuck menggenggam nampan logamnya erat-erat. Ia terus menunduk sambil menghitung langkah, berharap bisa mengambil makanan lalu kembali ke sel atau setidaknya duduk di sudut yang sepi. Harapan itu pupus ketika seseorang bersiul tepat di belakang telinganya.
"Woy semok."
Donghyuck menegang.
"Liat sini bentar."
Ia pura-pura tidak mendengar. Beberapa detik kemudian tangan lain mencolek lengannya.
"Budeg ya lo?"
Donghyuck akhirnya menoleh. Seorang narapidana berusia sekitar empat puluh tahun sedang menyeringai sambil mengunyah sesuatu. Giginya banyak yang hilang, lengannya dipenuhi tato yang mulai pudar. Baunya… jangan ditanya.
"Nama lo siapa?"
"Lo anak baru, ya?"
Donghyuck masih diam, tidak mau menanggapi omongan pria itu. Dia hanya mau menghilang dari sini.
"Galak amat, Neng."
Temannya yang berdiri di samping ikut menyahut. "Jangan galak sama abang. Nanti abang sakit hati."
Mereka tertawa bersama. Donghyuck kembali memalingkan wajah. Ia berusaha maju beberapa langkah agar menjauh dari mereka, tetapi antrian terlalu padat. Tubuh orang-orang saling berhimpitan sampai bahunya beberapa kali tidak sengaja bersenggolan dengan narapidana lain.
"Eh." Suara lain terdengar. "Kulitnya alus banget."
Seseorang menyentuh punggung tangannya. Donghyuck refleks menarik tangan itu ke dada.
"Tolong jangan pegang saya." Donghyuck nyaris berbisik, namun cukup keras untuk membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh.
Pria yang tadi menyentuhnya mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah. "Aduh sopan banget adek ngomongnya."
"Kayak anak kampus."
“Alah ayam kampus kalau yang gini mah.”
"Kok bisa jadi napi sih adek manis? Ketangkep pas lagi ngelacur ya?"
Tawa di sekitarnya kembali pecah. Donghyuck menelan ludah. Ia mulai berpikir untuk meninggalkan antrian saja. Perut lapar masih lebih baik daripada harus terus berdiri di tengah kerumunan seperti ini. Belum sempat ia bergerak, keributan kecil muncul dari sisi lain halaman.
Dua narapidana hampir berkelahi hanya karena berebut rokok. Salah satunya langsung dihajar sampai tersungkur ke tanah. Tidak lama kemudian beberapa orang lain ikut bersorak, bukannya melerai. Seorang sipir baru berjalan menghampiri setelah pukulan ketiga mendarat.
Donghyuck terpaku beberapa detik. Tidak ada yang terlihat terkejut. Tidak ada yang panik. Seolah memukul orang di depan umum memang bagian dari rutinitas pagi.
"Geser." Suara berat dari belakang membuat Donghyuck spontan menepi.
Dua orang melewatinya begitu saja. Jeno dan Jaemin. Mereka membawa nampan kosong seperti narapidana lain. Bedanya, tidak ada yang berani menyenggol mereka. Orang-orang yang tadi masih saling dorong otomatis memberi ruang tanpa diminta seperti malas mencari perkara dengan mereka.
Donghyuck menundukkan kepala secepat mungkin agar mereka tidak menyadari kehadirannya, namun dia terlambat. Saat melewatinya, Jaemin melirik sekilas ke arah nampan di tangan Donghyuck.
"Donghyuck belum dapet makan?"
Donghyuck tidak menjawab, namun Jaemin mengangguk kecil seolah memang tidak mengharapkan jawaban.
"Yuk ambil bareng kita."
Ia melanjutkan langkah bersama Jeno tanpa menunggu untuk memastikan apakah lawan bicaranya mengikuti mereka.
Donghyuck menghembuskan nafas pelan, menimbang pilihannya. Baru kali itu sejak masuk penjara ada orang yang berbicara kepadanya tanpa siulan, tanpa umpatan, tanpa candaan cabul. Entah kenapa, itu justru terasa lebih menyeramkan. Jadi ia putuskan untuk mengikuti kedua laki-laki itu.
Siang harinya para narapidana dikumpulkan untuk pembagian pekerjaan. Ada yang bertugas membersihkan lorong, ada yang mencuci pakaian, ada yang memperbaiki pagar kawat yang rusak, sementara sebagian lainnya dipindahkan ke dapur.
Donghyuck berdiri bersama kelompok narapidana baru sambil mendengarkan nama-nama dipanggil.
"Lee Donghyuck."
Ia mengangkat tangan pelan.
"Dapur."
Donghyuck mengangguk lega. Setidaknya bekerja di dapur terdengar lebih aman daripada berada di halaman bersama puluhan orang. Belum sempat ia bernapas lega lebih lama, terdengar suara lain dari arah belakang.
"Dapur juga?"
Donghyuck menoleh perlahan karena ia tau siapa pemilik suara itu. Jaemin sedang berdiri beberapa meter darinya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Di sebelahnya, Jeno hanya menatap lurus ke depan seperti biasa.
Jaemin mengangkat sebelah alisnya sehingga ekspresi wajahnya tampak lebih menyebalkan.
"Wah." Senyumnya melebar sedikit. "Kayaknya emang kita jodoh."
Donghyuck langsung memalingkan wajah lagi. Ia tidak tahu apakah pembagian itu benar-benar kebetulan. Yang ia tahu, sejak kemarin sampai sekarang, rasanya kedua orang itu selalu berhasil muncul di mana pun ia berada. Ia mulai berpikir bahwa dirinya sedang diburu.
Jeno dan Jaemin, dua nama yang bahkan petugas penjara pun berusaha tidak menyinggung sembarangan. Semua orang menyebut nama mereka dengan nada berbeda, campuran takut hormat, dan kebencian.
Keduanya dihukum seumur hidup karena pembunuhan, meski daftar kejahatan mereka jauh lebih panjang dari itu. Perampokan, narkoba, prostitusi, judi online, semua pernah mereka jalankan bersama sejak muda. Di dalam penjara, mereka tetap menguasai jalur-jalur gelap yang sama, dengan bantuan beberapa petugas yang sudah mereka beli lewat suap dan barang selundupan.
Tentunya, bukan lawan sebanding bagi seorang penipu sepertinya.
•••
Hari-hari berikutnya mulai kehilangan bentuknya. Donghyuck tidak lagi bisa membedakan hari Senin dari Kamis, atau pagi dari siang selain dari posisi matahari yang berpindah sedikit demi sedikit di atas tembok tinggi penjara. Rutinitas di tempat itu terlalu berulang. Pluit membangunkan mereka sebelum fajar, apel pagi, sarapan, pembagian kerja, makan siang, kembali bekerja, lalu dikurung lagi sebelum malam semakin larut.
Bagi sebagian besar penghuni, hidup di balik jeruji sudah berubah menjadi kebiasaan yang dijalani tanpa dipikirkan lagi. Bagi Donghyuck, setiap hari justru terasa semakin berat daripada hari sebelumnya. Katanya, di penjara kamu akan kesepian. Namun sebaliknya, Ia belum pernah benar-benar merasa sendirian.
Penjara memang penuh sesak oleh manusia. Namun, ada perasaan yang terus menggerogoti pikirannya sejak hari pertama ia datang. Perasaan bahwa setiap langkahnya sedang diamati. Mungkin semua narapidana baru mengalami hal yang sama. Mungkin ia hanya terlalu banyak membaca berita tentang kehidupan di penjara sampai otaknya menciptakan ancaman yang sebenarnya tidak ada.
Namun semakin ia mencoba berpikir rasional, semakin banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Ia mulai menghafal kebiasaannya sendiri. Jika ingin mengambil air minum, ia menunggu sampai kerumunan bubar. Saat menuju dapur, ia selalu memilih lorong yang lebih sepi. Apabila sudah waktu makan, ia sengaja datang agak terlambat supaya tidak perlu berdiri lama di tengah antrian berisi banyak orang.
Ia bahkan mulai menghitung waktu. Berapa menit yang dibutuhkan dari dapur menuju gudang. Berapa lama para sipir biasanya berkeliling. Jam berapa halaman belakang mulai kosong. Donghyuck berusaha mengubah jalurnya setiap hari, seolah ia sedang memainkan permainan yang hanya ia pahami sendiri.
Tetapi permainan itu selalu berakhir dengan hasil yang sama. Mereka tetap menemukannya.
Hari pertama, ia melihat Jeno sedang duduk di tangga belakang dapur sambil menghabiskan sebuah cemilan yang seharusnya tidak ada dalam penjara. Donghyuck menundukkan kepala dan berjalan lebih cepat. Lima belas menit kemudian, ketika ia membawa dua ember berisi peralatan kebersihan menuju gudang, pria itu sudah berada di dekat pintu gudang bersama beberapa narapidana lain. Mereka sedang mengobrol santai seolah memang tidak memiliki pekerjaan.
Donghyuck mengerutkan dahi. Bukankah tadi dia ada di belakang dapur?
Ia memilih tidak memikirkannya. Namun sore harinya, ketika pekerjaannya selesai dan ia kembali ke blok tahanan, Jeno lagi-lagi terlihat sedang bersandar di pagar pembatas halaman sambil berbicara dengan seorang sipir. Tiga tempat berbeda dalam satu hari yang sama.
Jaemin lebih sulit ditebak. Kalau Jeno seperti batu besar yang mustahil tidak terlihat, Jaemin justru seperti bayangan yang baru disadari keberadaannya ketika sudah terlalu dekat. Kadang Donghyuck mendengar tawanya lebih dulu sebelum menemukan sosoknya. Kadang ia sedang membantu mengangkat karung beras di dapur. Kadang ia duduk bermain kartu bersama beberapa narapidana yang usianya jauh lebih tua. Kadang ia bercanda dengan sipir sambil menyulut rokok untuk mereka. Ia tampak akrab dengan semua orang.
Donghyuck tidak mengerti bagaimana seseorang yang menjalani hukuman seumur hidup masih bisa tertawa sebebas itu. Yang lebih aneh lagi, setiap kali Donghyuck tanpa sengaja mengangkat kepala, Jaemin hampir selalu sudah lebih dulu menatapnya.
Siang itu Donghyuck mendapat giliran tugas membersihkan halaman belakang. Halaman itu tidak terlalu luas. Sebagian dipenuhi rumput liar yang tumbuh di sela-sela semen retak, sementara sisanya dipenuhi karung sampah yang menunggu diangkut. Matahari sedang terik-teriknya. Keringat membasahi punggung seragamnya bahkan sebelum pekerjaan benar-benar dimulai.
Ia memilih bekerja di sisi paling ujung. Semakin jauh dari orang lain, semakin baik. Sapunya bergerak perlahan menyapu dedaunan kering ke dalam satu tumpukan besar. Sesekali ia mengusap keringat di pelipis menggunakan lengan baju, lalu kembali bekerja tanpa mengangkat kepala.
"Hai, Donghyuck."
Donghyuck pura-pura tidak mendengar. Tapi suara itu terdengar lagi.
"Halooo kok gue ga dijawab sih?"
Masih santai seperti seseorang yang sedang mencoba memulai percakapan biasa. Donghyuck menggenggam gagang sapunya lebih erat.
"Aduh kasian banget cantik-cantik budek. Lebih gampang sih berarti kalau mau sergap dari belakang."
Ia akhirnya menghela napas pelan sebelum berbalik. Jaemin berdiri sekitar dua meter darinya. Di tangan kanannya ada sapu lidi yang bahkan tidak tampak pernah dipakai. Seragam penjaranya tampak sama lusuh dengan narapidana lain, tetapi entah kenapa tetap terlihat bagus di badannya daripada kebanyakan penghuni blok.
Jaemin tersenyum kecil ketika mata mereka bertemu. "Ohh kedengeran ternyata. Gue kira lo ga bisa denger juga, ternyata ga bisa ngomong doang."
"Ada perlu apa ya?" Suara Donghyuck terdengar pelan.
Jaemin mengangkat kedua alisnya, pura-pura kaget. "Loh, bisa ternyata."
Donghyuck mulai menyesal sudah membuka mulut. Ia membungkuk lagi, berniat melanjutkan pekerjaannya, tetapi Jaemin justru ikut berjalan perlahan ke arah tumpukan daun yang sedang ia sapu.
"Lo takut sama gue?"
Donghyuck tidak langsung menjawab. Ia menyapu sekali lagi. Dua kali. Namun, kemudian berhenti saat melihat Jaemin melangkah mendekat.
"...Iya."
Jawaban itu hampir tenggelam oleh suara narapidana lain yang sedang tertawa di kejauhan. Jaemin mengangguk pelan.
"Bagus." Donghyuck kembali mengangkat kepala mendengar respon Jaemin. "Gue juga bakal takut kalau jadi lo."
Donghyuck mengernyit tanpa sadar mendengar kejujuran di kalimat itu. Jaemin memperhatikan ekspresinya beberapa detik sebelum mengangguk ke arah bawah pohon yang berada di sisi lain halaman.
"Jangan lihat ke sana."
Donghyuck refleks menoleh.
"Ck bandel banget sih."
Empat narapidana sedang duduk di bawah pohon sambil merokok. Begitu menyadari dirinya melihat ke arah mereka, salah satunya menyeringai lebar. Yang lain mengangkat kaleng minuman seolah sedang bersulang dari kejauhan. Donghyuck buru-buru memalingkan wajah.
"Dari hari pertama mereka ngeliatin lo." Jaemin berbicara pelan. "Nggak cuma mereka. Sebagian besar blok ini juga, bahkan gue rasa satu penjara juga udah denger ada makanan enak di blok C.
Donghyuck menelan ludah. "Kenapa kamu ngomong gini ke saya?"
Jaemin tersenyum tipis. "Karena lo harus tau seberapa bahaya posisi lo sekarang.”
"Saya tahu kok.”
Jaemin tertawa meremehkan, dia mendekat ke Donghyuck sambil menggelengkan kepalanya. “Lo gatau.”
Dia bergerak mengitari Donghyuck dengan pelan, menatapnya dari atas sampai bawah dengan intens. "Lo gatau mereka mau ngapain lo."
"Saya tahu.”
“Lo gatau. Lo gatau kalau mereka mau mojokin lo di kamar mandi rame-rame pas lo telanjang terus ngisi semua lobang lo yang cuma dibasahin air. Lo gatau kalau semakin lo nangis semakin ngaceng mereka. Lo gatau kalau lo nanti lo berdarah, dan lo pasti akan berdarah, bukannya berhenti mereka malah akan ngerayain udah ngejebol perawan lo. Lo gatau kalau mereka ga akan cukup sekali make lo. Lo gatau kalau mereka juga akan bawa semua temen-temen mereka buat make lo juga. Dan pas lobang lo udah robek dan lo udah ga enak lagi, lo gatau kalau mereka akan jadiin lo babu mereka.”
Donghyuck tidak bisa memikirkan jawaban apapun. Dadanya terasa semakin sesak.
Jaemin memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Gue sama Jeno juga mau make lo."
Donghyuck menegang. Jaemin tidak tampak malu mengatakannya.
"Tapi gue sih najis ya bagi-bagi sama mereka.” Ia mengangkat dagunya ke arah kelompok narapidana tadi.
Setelah mengatakan itu, Jaemin berbalik pergi. Tidak memberikan Donghyuck waktu untuk memproses dan merespon omongannya. Donghyuck masih berdiri membeku lebih lama setelah pria itu menghilang.
Sore harinya, antrian makan kembali dipenuhi dorong-dorongan. Donghyuck memilih berdiri di tengah kerumunan, berharap tubuh orang-orang di sekelilingnya cukup untuk membuat dirinya tidak terlalu mencolok.
Harapan itu hanya bertahan beberapa menit. Bayangan seseorang jatuh tepat di sampingnya. Donghyuck tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Tubuh besar Jeno berdiri di belakangnya, memegang nampan logam kosong dengan ekspresi yang sama datarnya seperti beberapa hari terakhir.
Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Mereka berdua hanya berdiri dalam diam. Antrian bergerak satu langkah. Donghyuck ikut maju satu langkah. Jeno ikut maju dua langkah. Sekarang pantat Donghyuck menempel langsung pada selangkangan Jeno. Setiap satu langkah Donghyuck maju, Jeno terus maju sambil tetap menjaga tubuh mereka selalu menempel.
Seorang narapidana yang semula berada di depan Donghyuck melirik sekilas ke belakang. Begitu melihat Jeno, ia langsung bergeser memberi ruang tanpa mengatakan apa pun.
"Lo lihat kan?" Suara Jeno rendah tepat di telinganya "Mereka lebih milih minggir karena ga berani cari ribut sama gue"
Ia masih menatap lurus ke depan. Donghyuck menggenggam nampannya lebih erat. "Gak akan ada yang berani ngalangin gue buat ngambil makanan gue."
Kalimat itu berhenti di sana, namun Donghyuck bisa merasakan arti di balik kalimat itu. Permainan kata adalah salah satu keahlian dia. Jadi dia tau, maksud Jeno, Donghyuck adalah bagian dari makanannya.
Beberapa detik kemudian Jeno akhirnya menarik dagu Donghyuck agar menatap ke arahnya. "Gue nggak suka ngulang omongan gue. Jadi dengerin yang bener."
Jeno menggeser dagunya sedikit ke arah ruang makan yang dipenuhi puluhan narapidana. "Selama lo di sini bakal selalu ada orang yang mau sama lo."
Ia berhenti sejenak untuk memajukan pinggangnya sehingga Donghyuck bisa merasakan kemaluannya yang mengeras tepat di pantatnya. "Gue juga ngerti kenapa."
Antrian kembali bergerak. Jeno melangkah maju sambil mendorong Donghyuck untuk mengikuti langkahnya. Ia mengambil jatah makanannya, lalu berkata dengan tegas, “Kalau lo mau selamet, pikirin baik-baik lo mau jadi makanan siapa.”
Jeno menyempatkan diri untuk menepuk pantat Donghyuck dengan keras, sampai suaranya terdengar ke ujung antrian, sampai Donghyuck terlonjak kaget. Kemudian barulah Jeno berjalan pergi seolah percakapan singkat dan tepukan itu tidak memiliki arti apa pun.
Donghyuck tetap berdiri di tempat, badannya bergetar menyadari apa yang Jeno lakukan dan katakan barusan. Perlahan ia mengangkat kepala dan bertatapan langsung dengan Jaemin.
Pria itu sedang duduk di salah satu meja beton bersama beberapa narapidana lain. Dari kejauhan, pria itu mengangkat gelas sengnya sedikit ke arah Donghyuck. Sebuah isyarat kecil yang seolah mengatakan,
Gue bilang juga apa.
Donghyuck menundukkan kepala lagi. Pertanyaan macam apa itu, mau jadi makanan siapa. Donghyuck tidak mau jadi makanan. Tapi...siapa juga yang akan menghentikan mereka untuk menyantapnya?
•••
Beberapa hari berlalu dan perubahan kecil mulai terlihat di seluruh blok. Donghyuck mungkin belum memahami aturan tidak tertulis yang berlaku di penjara itu, tetapi para narapidana lain jelas memahaminya. Mereka mulai berhenti memanggilnya dengan siulan atau sengaja menghalangi jalannya seperti pada hari pertama.
Donghyuck yakin itu bukan karena kehilangan minat mereka karena tatapan lapar mereka tetap mengikuti seluruh langkahnya. Tatapan-tatapan yang sebelumnya terang-terangan kini berubah menjadi lirikan dari kejauhan. Beberapa kali ia bahkan menangkap orang-orang yang sedang berbisik sambil melirik ke arahnya, kemudian menggeleng seolah memutuskan bahwa urusan itu tidak seimbang dengan risikonya untuk dicampuri.
Semakin lama ia berada di sana, semakin jelas pula perbedaan cara Jeno dan Jaemin memperlakukannya.
Jeno tidak pernah berusaha menyembunyikan apa pun. Kalau ia memperhatikan Donghyuck, ia akan menatapnya tanpa ragu. Tatapannya datar, sulit ditebak, tetapi cukup lama untuk membuat Donghyuck buru-buru mengalihkan pandangan. Ia bukan tipe orang yang memainkan isyarat-isyarat kecil. Tubuhnya dengan percaya dirinya selalu menemukan tempatnya di tubuh Donghyuck.
Sekarang, setiap kali mereka mengantri makanan bersama, dan mereka selalu mengantri makan bersama, Donghyuck bisa merasakan kerasnya batang kemaluan Jeno di pantatnya. Bahkan sekarang sebelah tangan Jeno sudah sering melingkar di pinggangnya sambil berbisik hal-hal kasar di telinganya.
Setiap mereka berpisah, Jeno akan memberikan salam perpisahan berupa tamparan atau remasan di pantatnya. Donghyuck hanya berusaha tetap diam dan tidak bereaksi setiap itu terjadi, namun ia menyadari reaksi seluruh narapidana di ruangan itu. Ada yang tertawa, ada yang ikut melenguh, seakan-akan mereka juga merasakan kenyalnya pantat Donghyuck di tangan Jeno, seakan-akan mereka menunggu Jeno bosan dan memberikan bagian untuk mereka.
Jaemin berbeda. Ia jauh lebih mudah diajak mengobrol oleh narapidana lain, lebih sering terlihat tertawa, bahkan beberapa kali bercanda dengan sipir yang sedang berjaga. Namun justru karena terlihat begitu santai, Donghyuck tidak pernah bisa menebak kapan perhatian pria itu benar-benar tertuju kepadanya, walau Donghyuck curiga bahwa perhatiannya selalu tertuju padanya.
Kadang Jaemin hanya muncul di dekat tempat Donghyuck bekerja, melontarkan satu komentar ringan tentang cuaca atau pekerjaan hari itu, lalu pergi lagi tanpa menunggu jawaban. Kadang, dia datang hanya untuk mengutarakan kalimat-kalimat panas tentang apa yang mau dia lakukan kepada Donghyuck bersama Jeno.
Jaemin jarang menyentuhnya dan di momen-momen langka saat dia menyentuh Donghyuck, Jaemin akan memberikan kontak seminimal mungkin. Ujung jarinya akan membentuk dari lurus dari dagu hingga leher Donghyuck, ibu jarinya pernah mengusap pipi Donghyuck dengan lembut, dan terkadang ia akan meletakkan telapak tangannya di atas pinggang Donghyuck untuk mengarahkan langkah Donghyuck.
Donghyuck tidak mengerti kenapa keduanya tidak pernah tampak terburu-buru, tapi itu membuatnya semakin tidak nyaman. Seolah-olah mereka yakin bahwa cepat atau lambat, jalan Donghyuck akan selalu berujung di tempat yang sama. Di bawah kuasa mereka.
Yang paling menyeramkan adalah saat mereka berdua ada di tempat yang sama. Mungkin karena perbedaan metode penyiksaan yang mereka lakukan pada Donghyuck.
Seperti biasanya, Donghyuck akan selalu berada di pembagian tugas yang sama dengan mereka. Donghyuck harus berdiri di antara dua tubuh besar yang terus-menerus mengintimidasinya. Terkadang Jeno sengaja menyenggol badannya dan menahan Donghyuck agar tidak terjatuh. Kadang Jaemin berbisik pelan tentang apa yang ia bayangkan tadi malam tentang Donghyuck di atas kasurnya. Donghyuck hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat dan berusaha fokus pada pekerjaannya sendiri.
Hari ini mereka terjebak di ruang laundry. Donghyuck yang terjebak, sementara mereka adalah penjebaknya. Setelah melihat Jeno menyelipkan sebuah plastik kecil berisi bubuk kecil ke sipir yang menjaga blok mereka, Donghyuck tahu tidak ada ketidaksengajaan di tempat ini.
Di ruangan panas penuh uap itu, Jeno sering sengaja berdiri di belakang Donghyuck, badannya menempel setiap kali Donghyuck berjongkok untuk mengambil baju. Jaemin memilih untuk duduk di meja sambil merokok barang selundupan mereka. Hanya Donghyuck yang benar-benar melakukan pekerjaan di ruang itu.
“Donghyuck sini,” perintah Jaemin pelan.
Donghyuck mendekat dengan ragu. Jaemin menariknya sampai berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka. Lalu dengan gerakan lambat, Jaemin menjalankan satu jarinya dari bibir Hyuck, turun ke dagu, leher, sampai ke dada.
“Cantik, udah pernah ngerokok belum?”
Donghyuck menggeleng cepat-cepat, kemudian mengangguk ragu. Jaemin sampai tertawa dibuatnya.
“Gimana sih? Yang bener yang mana?”
“Belum pernah…”
Jaemin langsung tersenyum manis, manis seperti racun yang akan menggerogoti tubuh Donghyuck dari dalam sampai membusuk dan hancur berkeping-keping. Jari tangannya ia kembalikan ke bibir bawah Donghyuck, menekannya pelan sampai bibir tebal itu terbuka. Tangan sebelah yang memegang rokok, ia bawa ke mulutnya sendiri kemudian dia hirup rokok itu pelan. Tatapannya tetap tajam ke arah mata Donghyuck.
Saat melihat Jaemin mendekatkan kepala laki-laki itu ke arahnya, Donghyuck langsung berusaha mundur. Namun, badannya menabrak tubuh keras. Tidak perlu menengok juga Donghyuck sudah tau bahwa Jeno berdiri di belakangnya. Sebelah tangan Jeno merengkuh tubuh Donghyuck, mengunci kedua tangannya di sisi badannya dengan mudah, sementara sebelah tangan lagi mencengkram dagu Donghyuck. Seluruh badannya terkunci, tidak bisa ia gerakan.
Jaemin kembali menyeringai melihat mangsa mereka terjebak. Ia menghirup rokoknya sekali lagi sebelum memajukan kepalanya dan menghembuskan asapnya tepat ke dalam rongga mulut Donghyuck yang terbuka. Donghyuck langsung terbatuk-batuk sampai kedua lelaki itu tertawa.
“Aduh anak baik,” Jaemin berdecak pelan, “sini belajar dulu ngisep rokok yang bener.”
Laki-laki itu kemudian menyeringai lebar, “Nanti ngisep kontol lebih susah loh.”
Jeno di belakangnya berbisik tepat di telinganya, “apalagi kalau kontolnya dua.”
“Bayangin ya,” bisik Jaemin tepat di depan muka Donghyuck.
“Nanti kita borgol tangan lo ke kasur. Jeno bakal ngentot mulut lo sampai mentok, dia gak akan peduli mau lo muntah, mau lo pingsan, yang penting mentok. Tapi karena gue lebih baik dari Jeno, gue bakal buka lubang lo lebar-lebar pake jari dulu… Kalau lo nurut bahkan gue bisa bermurah hati dan pake lube. Baru kontol gue masuk pelan-pelan. Lo bakal nangis, lo bakal ngelawan, tapi tetep lo bakal banjir juga. Soalnya lo sebenarnya cuma perek yang butuh dijejelin kontol dua cowok sekaligus.”
Donghyuck gemetar. Air matanya sudah menggenang tapi belum jatuh. Jaemin tersenyum puas melihatnya sementara Jeno masih sibuk melumat telinganya dari belakang. Sepertinya, Donghyuck sudah memahami perasaan korban-korban yang Jeno dan Jaemin bunuh bersamaan.
•••
Kamar mandi adalah lokasi dimana seorang narapidana paling mudah diserang. Entah ditusuk dengan pisau atau dengan penis. Entah dibunuh atau diperkosa. Apalagi dengan bentuk kamar mandi terbuka dimana semua mandi bersama, tanpa tirai atau sekat apapun yang menghalangi. Semua telanjang bebas, tanpa baju atau kain apapun yang menutupi.
Donghyuck selalu memilih waktu yang paling sepi untuk menggunakan kamar mandi, tapi tetap saja tidak ada yang benar-benar sepi di tempat ini. Air dingin mengguyur tubuhnya yang telanjang. Dia berusaha mandi secepat mungkin, punggung membelakangi pintu masuk. Membelakangi semua narapidana yang dia tau sedang menikmati pemandangan berupa tubuhnya saat ini.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Donghyuck refleks menengok.
Jeno dan Jaemin masuk dengan keadaan sudah telanjang bulat. Tubuh mereka penuh otot dan tato, kemaluan mereka sudah setengah tegang bahkan sebelum melihatnya. Mereka hanya berdiri di depan pintu, menyandar di dinding sambil memandang tubuhnya dari atas ke bawah seperti sedang menonton video porno.
Donghyuck buru-buru berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, tapi tentu usahanya sia-sia.
“Anjing…liat tuh,” kata Jeno dengan suara berat, matanya nggak lepas dari pantat Hyuck. “Badannya bener-bener mulus. Pantatnya kenceng gitu, muat ga tuh kita berdua.”
Jaemin menyeringai sambil mengusap penisnya sendiri pelan, seolah Donghyuck adalah objek masturbasinya. “Paksain aja, Jen. Lubang sekecil apapun pasti bisa dibikin muat kok. Paling sakit aja dia.”
Mereka bicara seolah Donghyuck tidak ada di sana. Badannya gemetar hebat, air mata sudah bercampur air shower. Dia mencoba bergerak ke pintu, tapi Jeno langsung maju selangkah, badannya menghalangi jalan keluar.
“Buru-buru mau ke mana?” tanya Jaemin sambil nyengir. “Lanjut mandi aja, belum kebilas tuh sabunnya. Kita cuma nonton kok. Lagian, Jeno sukanya yang bersih. ”
Jaemin kembali menengok ke Jeno, “Liat tuh, Jen. Kalau dia ditunggingin, pasti enak banget diliat dari belakang. Gue mau isi dia penuh-penuh sampe peju kita netes-netes dari lubangnya. Lo mau yang mana duluan? Mulut atau pantat?”
Donghyuck memilih membalikan tubuhnya untuk kembali ke bawah pancuran shower. Tubuhnya meringkuk di bawah guyuran air. Jeno dan Jaemin cuma tertawa pelan, puas melihat reaksinya, sebelum akhirnya keluar tanpa menyentuhnya sama sekali.
Sejak kejadian di kamar mandi itu, Donghyuck tau dia tidak aman. Seharian penuh dia berada di mode waspada, namun anehnya Jeno dan Jaemin tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Tidak saat makan, tidak saat bekerja. Maka, di malam hari saat dia sudah siap tidur di selnya, Donghyuck pikir setidaknya hari ini dia selamat.
Sampai malam itu ia mendengar pintu besi selnya berderit pelan.
Donghyuck yang sejak tadi duduk bersandar di ranjang bawah langsung mengangkat kepala. Lampu lorong yang redup memantulkan bayangan jeruji ke lantai semen, membuat sel sempit itu terasa lebih sesak daripada biasanya. Jam malam sudah lewat cukup lama. Suara obrolan dari blok sebelah perlahan mulai digantikan dengkuran, sesekali diselingi umpatan seseorang yang masih terjaga.
Teman satu sel Donghyuck bahkan tidak tampak terkejut ketika mendengar bunyi kunci diputar dari luar. Pria itu hanya mendesah pelan, bangkit dari tempat tidurnya, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
“Halah…” Ia melirik Donghyuck sekilas. “Gue cabut dulu.”
Donghyuck mengernyit. “Mau ke mana?”
Pria itu mendekati pintu yang baru terbuka beberapa senti. Dari celah sempit itu sudah terlihat dua bayangan tubuh berdiri di lorong.
“Ke mana aja asal bukan di sini.” Nada bicaranya datar, tetapi langkahnya sedikit terburu-buru.
Saat pintu terbuka lebih lebar, ia langsung menyelinap keluar tanpa banyak bicara. Sipir yang berdiri di samping hanya menggeser tubuhnya sedikit memberi jalan, seolah perpindahan penghuni sel pada tengah malam bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Baru setelah itu dua orang lain melangkah masuk.
Jaemin lebih dulu. Tangannya santai berada di dalam saku celana seragam, langkahnya pelan seperti seseorang yang sedang berkunjung ke kamar teman, bukan memasuki sel orang lain tanpa izin.
Jeno masuk setelahnya dengan wajah yang sama datarnya seperti biasanya. Begitu ia melewati ambang pintu, sipir di luar langsung menutup kembali jeruji besi itu hingga bunyi gerendel menggema di sepanjang lorong.
Klik.
Suara itu terdengar jauh lebih keras di telinga Donghyuck. Ruang yang tadinya sempit kini terasa benar-benar pengap.
Jaemin berjalan beberapa langkah ke tengah sel, memandangi ruangan itu sebentar sebelum akhirnya menyandarkan bahunya ke dinding. Kepalanya sedikit mendongak memperhatikan langit-langit yang lembap.
“Kecil juga.”
Ia bergumam pelan, lebih seperti komentar untuk dirinya sendiri. Lama “kenal” dengan Jaemin, Donghyuck mulai sadar bahwa Jaemin tidak pernah benar-benar mengharapkan respon verbal orang terhadap ucapannya. Dia hanya ingin mengucapkan apa yang ada di pikirannya. Mengetahui bahwa omongannya sudah menganggu psikologis lawan bicaranya sudah cukup untuknya.
Jeno tidak ikut bergerak. Ia tetap berdiri di dekat pintu, kedua lengannya terlipat di depan dada. Tubuhnya yang besar seolah dengan sengaja sudah menutup satu-satunya jalan keluar dari sel itu.
Jarak di antara mereka dan Donghyuck sekarang tidak sampai dua meter. Donghyuck saat ini benar-benar merasakan betapa kecil ruang itu sebenarnya. Tidak ada tempat untuk menghindar. Tidak ada sudut yang bisa membuatnya merasa aman.
Jaemin akhirnya mengalihkan perhatian dari langit-langit ke arah Donghyuck.
“Nggak usah tegang gitu dong, Donghyuck.” Senyum tipis muncul di wajahnya. “Kita cuma mau main aja kok.”
Donghyuck menghembuskan nafas pelan. Tatapannya bergantian jatuh kepada Jaemin, lalu Jeno, kemudian kembali ke pintu yang kini sudah terkunci rapat.
“Kenapa kalian bisa masuk ke sini?”
Jaemin terkekeh pelan. “Ya tinggal masuk aja. Emang ada orang yang ngetuk pintu sel penjara?”
Donghyuck langsung bangkit berdiri, “Keluar,” suaranya bergetar tapi berusaha tegas. “Saya nggak mau kalian ada di sini. Pergi!”
Jeno maju selangkah. “Lo kira bisa ngomong ‘nggak mau’ di sini?”
Donghyuck langsung mengambil langkah mundur, tapi ruang geraknya tinggal sedikit.
"Kita cuma mau ambil jatah kita," kata Jeno. Suaranya rendah dan berat, seperti binatang yang sudah lama menahan lapar.
Jaemin berdiri di belakangnya, bersandar santai di dinding sambil mengamati mereka. Donghyuck mengangkat kedua tangannya, mencoba menjaga jarak meski ruangan sesempit itu tidak menyisakan banyak tempat untuk lari.
"Saya... saya nggak ngerti maksud kalian," suaranya bergetar, jauh dari kepercayaan diri yang biasa ia pakai untuk menipu korban-korbannya dulu.
Ketika Jeno mencoba meraih lengannya, ia langsung mengayunkan tangan dan menampar wajah Jeno sekuat tenaga. Jeno tertawa kasar, pipinya tampak memerah akibat tamparan yang diterima. Matanya semakin gelap, rahangnya mengeras.
“Oh, bisa berani juga lo.”
Jeno langsung menerjang Donghyuck hingga tubuh kecil itu jatuh di kasurnya sendiri. Donghyuck berusaha melawan sekuat tenaga dengan menendang, memukul, mencakar. Tubuh kecilnya berontak hebat di pelukan Jeno yang seperti besi.
“LEPASIN! JANGAN SENTUH GUE!”
Donghyuck entah bagaimana caranya berhasil menendang perut Jeno sekali. Jeno menggeram marah, lalu membalik tubuh Hyuck dengan kasar dan menekannya keras ke kasur. Dadanya terbentur kasarnya sprei penjara. Tangan Jeno mencengkeram kedua pergelangan tangannya di atas kepala.
“Makin lo lawan, makin gue sange,” bisik Jeno di telinga Donghyuck sambil menggesekkan kemaluannya yang sudah keras ke pantat sekal di hadapannya. “Badan lo gerak-gerak gini bikin gue pengen jebol lo sekarang juga.”
Donghyuck menjerit keras ketika tangan Jeno yang bebas menyusup ke dalam celana seragamnya, langsung meremas pantatnya dengan kasar. Jari-jari kasar itu bahkan mencoba meraba celahnya.
“Jangan! Tolong! Gue nggak mau! Gue bisa bayar lo kalau perlu!” Donghyuck masih berusaha nego sambil meronta. Air matanya sudah jatuh deras. “Gue punya uang di luar, gue bisa kasih lo duit banyak!!”
Jaemin yang dari tadi hanya nonton akhirnya tertawa pelan. Dia mendekat dan memegang dagu Donghyuck, memaksa kepalanya menoleh.
“Uang?” Jaemin mengangkat alis. “Lo pikir kita butuh duit? Yang kita mau cuma lubang lo yang sempit ini.”
Jaemin mencondongkan wajahnya lebih dekat, suaranya rendah dan kejam:
“Duit lo ga ada artinya di sini, tuan putri. Mau lo punya jutaan dollar di luar sana, di sini gak laku. Mata uang di sini namanya kekuasaan dan lo gak punya itu sama sekali. Yang lo punya cuma badan lo. Harusnya lo cukup pinter buat jual itu ke kita yang beneran kaya di dalem sini.”
Donghyuck menggeleng keras, tubuhnya bergetar hebat. “GUE BILANG NGGAK MAU! LEPASIN GUE!”
Donghyuck masih berusaha melawan sekuat tenaga, melakukan apa saja yang bisa ia lakukan. Tapi Jeno terlalu kuat. Dengan satu tangan, Jeno sudah hampir menurunkan celananya sampai setengah paha.
“Gue nggak tahan lagi, Jaem,” geram Jeno. “Gue mau pake sekarang.”
Jaemin memandang Donghyuck yang sedang menangis dan meronta dengan puas.
“Kita pake ya, cantik? Jatah kita dong karena udah ngelindungin lo selama ini. Masa lo mau dapet enaknya aja,” Jaemin mendekatkan dirinya ke wajah Donghyuck, menjulurkan lidahnya dan menjilat air mata yang menetes di pipi laki-laki itu.
“Kita juga mau ngerasain seenak apa sih lo.”
Donghyuck masih terus menggeleng dan menangis. “Tolong, tolong saya mohon. Jangan sentuh saya. Saya gamau.”
“Kita gak peduli lo maunya apa.” Jeno menjawab dengan kasar.
“Donghyuck maunya dipake sama orang-orang jelek di luar sana aja? Iya? Maunya dipake rame-rame, diewe sama 100 orang? Mau sampe lobangnya rusak? Sampe lo mati karena pantat lo udah ga bisa nutup lagi?”
Jaemin mencengkram rahang Donghyuck dengan kasar, pertama kalinya ia menyentuh Donghyuck seperti ini. Hilang semua sentuhan sensual dan isengnya selama ini. Saat ini, Jaemin sama kasarnya dengan Jeno.
“JAWAB ANJING!”
Donghyuck terhentak karena bentakan Jaemin di depan mukanya.
“Bego ya lo? Udah ditawarin yang enak sama kita malah maunya jadi perek penjara. Gak sadar selama ini selamet cuma karena kita? Dipikir lo belum dipake rame-rame di lapangan tuh karena orang-orang di sini baik? Gak tega sama lo? Mereka semua gak nyentuh lo karena lo tuh punya kita.”
“Gue bukan punya kalian.” Donghyuck menyanggah omongan Jaemin dengan cepat. Menolak untuk menjadi properti di sel ini.
Jaemin, mendengar jawaban itu, tiba-tiba berubah dalam sekejap. Mukanya yang tadi mengeras, sudah kembali relaks. Ekspresinya kembali ke raut dasarnya yaitu sebuah seringai meremehkan dan sebelah alis yang terangkat. Cengkramannya pun langsung dia lepaskan.
“Oke kalau gitu.” Ujarnya dengan santai. Tidak lagi dengan suara menggelegar. “Ayo, Jen.”
Donghyuck mengerjap dengan bingung. Jeno pun membeku di atasnya.
Jeno menoleh ke arah Jaemin dan berkata dengan kesal. “Apaan sih?”
“Donghyucknya gamau, Jen.” Jaemin pura-pura sibuk melap tangan yang tadi mencengkram dagu Donghyuck ke celana oranye yang ia kenakan.
“Bukan punya kita katanya kan, jadi ga bisa kita minta jatah ke dia.”
Jaemin menatap Donghyuck yang sudah lemas di bawah Jeno.
“Besok lo bakal jalan sendirian. Tanpa kita di deket lo. Kita lihat seberapa lama lo bertahan sebelum lo sendiri yang dateng merangkak ke kita, mohon-mohon biar kita sumpel lobang lo itu biar ga ada yang bisa maksa ngontolin lo.”
Jeno melepaskan Donghyuck dengan kasar hingga tubuh kecil itu ambruk, nafasnya tersengal, celananya sudah turun hingga lutut, tubuhnya penuh memar merah dari cengkeraman Jeno.
Sebelum berdiri dari jongkoknya, Jaemin mengusap air mata di pipi Donghyuck dengan ibu jari. “Jangan habisin air matanya buat malam ini. Besok lo bakal nangis lebih banyak soalnya.”
•••
Di dalam sel mereka sendiri, Jeno melampiaskan amarahnya dengan meninju dinding hingga tangannya berdarah. Ia berjalan mondar-mandir seperti binatang buas yang baru saja kehilangan mangsanya. Setiap kali ia teringat wajah ketakutan Donghyuck, hasratnya semakin sulit dikendalikan.
“Ngapain sih lo malah narik gue," Jeno membentak, matanya menyala penuh frustrasi. "Gue udah lama pengen dia, Jaemin. Udah dari hari pertama dia masuk."
Jaemin duduk santai di ranjangnya sendiri, mengamati Jeno dengan sabar. Ia mengeluarkan sebatang rokok selundupan dan menyalakannya perlahan, seolah tidak terpengaruh sama sekali oleh gejolak yang dirasakan sahabatnya. Asap tipis mengepul ke udara sebelum ia akhirnya membuka suara.
"Kalau kita paksa sekarang, dia bakal terus lawan kita sampai kapan pun," Jaemin menjelaskan dengan tenang.
“Gue malah seneng kalau dia ngelawan.”
Jaemin tertawa lantang mendengar respon Jeno. “Iya gue tau, tapi lo tau apa yang bakal bikin lo makin seneng?”
“Ngewein dia.”
Jaemin melempar rokok yang ada di jarinya ke arah Jeno. Laki-laki itu malah mengambil rokok yang telah jatuh ke lantai dan memasukannya ke mulutnya sendiri.
“Iya gue juga tau, bego.” Jaemin menggeleng sambil merebut kembali rokoknya dari mulut Jeno, “Tapi bayangin kalau dia dateng sendiri ke kita. Ngerangkak ke depan kontol lo, mohon-mohon buat jadi punya lo.”
Jeno berhenti mondar-mandir, mencerna kata-kata Jaemin meski amarahnya belum sepenuhnya reda. "Gimana bisa jadi gitu?"
“Semua orang mau dia, Jeno. Satu-satunya yang bikin princess itu selamat selama ini ya cuma karena kita nempelin dia mulu. Liat aja sehari dua hari, pas preman-preman di sini sadar Donghyuck udah sendirian. Pasti semua langsung buru-buru mau make dia.” Jaemin menyodorkan rokok di jarinya kepada Jeno. Membiarkannya menghirup nikotin dari barang terlarang itu untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Gimana kalau mereka beneran berusaha make dia?”
Jaemin menghembuskan asap rokoknya perlahan, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Justru itu yang kita mau. Biar dia sadar, tanpa kita, dia nggak akan pernah aman di sini."
Matanya menyipit tajam, penuh perhitungan dingin. "Nanti juga dia yang dateng sendiri, ngerangkak ke kita. Ngerengek buat minta perlindungan. Silahkan deh lo ewein dia sebanyak mungkin yang lo mau. Udah jadi punya kita nanti dia,”
Jaemin tertawa kecil sebelum melanjutkan, “lagian bentukan kayak gitu, dipake beberapa kali juga ketagihan sendiri. Ujung-ujungnya juga dia bakal mohon-mohon buat ditusuk karena emang dia perek bukan karena mau butuh dilindungin.”
Jeno mendudukkan dirinya di sebelah Jaemin, menarik rokok yang mereka bagi dari tangan Jaemin sebelum menghirupnya dengan dalam. Jaemin melirik ke selangkangan sahabatnya dan tertawa melihat gundukan keras di sana.
“Mau gue bantuin atau bisa ngocok sendiri?”
Jeno berdecih sinis, “Gak nafsu gue sama lo malem ini.”
Jaemin hanya tertawa dan mengangkat bahunya. Tidak terpengaruh dengan penolakan Jeno. Pikirannya sendiri pun sudah dipenuhi dengan fantasi hal-hal yang dia dan Jeno akan lakukan pada boneka baru mereka, bukan dengan satu sama lain.
“Gimana kalau mereka beneran berhasil make Donghyuck dulu sebelum kita? Lemes gitu, mana mungkin dia bisa lindungin diri sendiri.” Jeno bertanya sambil memejamkan matanya, Jaemin bisa melihat urat-urat di lehernya semakin tampak karena laki-laki di sampingnya ini sedang menahan emosinya.
“Tenang aja, gak akan gue biarin siapa pun nyentuh dia selain kita.”
•••
Donghyuck menyadari ada sesuatu yang berubah ketika matahari bahkan belum benar-benar tinggi. Biasanya, sebelum ia sempat meninggalkan blok tahanan, ia sudah bisa merasakan dua pasang mata mengikutinya. Mereka tidak selalu menyapanya, bahkan lebih sering hanya melirik sekilas, tetapi keberadaan mereka seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Pagi itu… Tidak ada siapa-siapa.
Donghyuck sempat melirik ke arah sel mereka ketika para narapidana berbaris keluar. Kosong.
Ia mencoba bersikap biasa saja, tetapi sudut bibirnya tanpa sadar terangkat sedikit. Mungkin mereka akhirnya bosan. Mungkin percakapan semalam benar-benar menjadi akhir dari semuanya.
Rasa itu tidak bertahan sampai waktu sarapan selesai karena prediksi Jaemin terbukti benar keesokan harinya. Begitu Jeno dan Jaemin sengaja menjaga jarak dari Donghyuck, seluruh blok penjara seolah kembali hidup dengan niat jahat yang sebelumnya tertahan. Donghyuck bisa merasakan perubahan dari cara orang-orang menatapnya, dari bisikan-bisikan yang mulai terdengar lagi di sepanjang koridor.
Saat mengantri mengambil makanan, Donghyuck mulai merasakan tatapan yang beberapa hari terakhir menghilang kini kembali berdatangan. Seseorang bersiul pelan dari belakang antrian.
"Eh. Kok sendirian aja nih?”
Tawa kecil terdengar dari beberapa arah. Donghyuck pura-pura tidak mendengar. Ia terus menatap panci besar berisi bubur di depan antrean sambil berharap namanya segera dipanggil.
“Mana nih penjanganya?”
"Udah kendor kali kebanyakan dipake, jadi dibuang deh."
Kalimat terakhir diikuti tawa yang lebih keras.
Donghyuck merasakan tengkuknya mulai menegang. Ia mengambil nampannya secepat mungkin lalu berbalik hendak pergi. Belum sempat melangkah dua langkah, bahunya bertabrakan dengan seseorang. Sebagian buburnya tumpah ke lantai.
"Eh." Pria bertubuh besar yang menabraknya mengangkat kedua tangan pura-pura tidak bersalah.
Temannya di samping langsung ikut tertawa. "Modus banget sih nabrak-nabrak lo."
"Adek kecil, belajar jalan dulu yuk."
Donghyuck menunduk, mengambil kembali nampannya tanpa membalas sepatah kata pun. Ia memilih pergi. Di belakangnya, suara tawa itu masih terdengar cukup lama.
Keadaan semakin buruk menjelang siang. Lorong menuju area terbuka biasanya selalu ramai. Hari itu rasanya semua orang sengaja berjalan lebih lambat. Donghyuck baru beberapa langkah meninggalkan halaman ketika tiga narapidana berhenti tepat di tengah jalan. Donghyuck berhenti, menunggu mereka bergeser namun tidak ada yang bergerak.
"Permisi." Suara Donghyuck pelan.
Salah seorang akihirnya buka suara. "Lo udah bukan punyanya Jeno dan Jaemin lagi?"
Temannya terkekeh. “Udah dibuang?”
Donghyuck melirik ke kanan dan ke kiri, hanya ada tembok. Tidak ada ruang yang cukup untuknya kabur. Ia akhirnya memutuskan memutar balik ke tempat asalnya. Begitu ia berbalik, tawa kembali terdengar.
"Cepet juga ya."
"Baguslah, sekarang udah bisa kita ambil berarti."
Donghyuck mempercepat langkah tanpa menoleh lagi.
Sepanjang hari, serangan yang Donghyuck dapatkan semakin parah. Saat mengantri untuk mengambil makan siang, seorang narapidana besar sengaja menempelkan tubuhnya dari belakang, tangannya menyusup ke pinggang Donghyuck sebelum sempat ditepis.
Awalnya ia kita itu adalah Jeno. Namun, saat menyadari bahwa dia tidak mengenali badan di belakangnya, Donghyuck melompat menjauh secepat mungkin. Jantungnya berdegup kencang, tapi orang-orang di sekitarnya hanya tertawa mengejek melihat kepanikannya.
Di halaman belakang, beberapa narapidana mulai bersiul dan melontarkan kata-kata kotor setiap kali Donghyuck lewat. Salah satu dari mereka bahkan berani menarik ujung bajunya, membuat Donghyuck nyaris tersandung karena buru-buru menghindar. Tidak ada Jeno maupun Jaemin yang biasanya berdiri di dekatnya dan itu membuat semua orang merasa bebas melakukan apa saja.
“Wah… si perek sendirian hari ini?” bisik salah satu narapidana di sana sambil terkekeh rendah. Tangan kasarnya langsung merayap ke pinggul Donghyuck, meremas kuat dari atas celana seragam tipis. “Masih empuk banget padahal. Jeno sama Jaemin emang udah bosen mainin lo ya?”
Donghyuck tersentak keras, mencoba menggeser tubuhnya ke depan, tapi di hadapannya sudah ada napi lain yang sengaja menghalangi jalannya. Tangan kedua napi itu menyusup ke bawah bajunya, meraba kulit perutnya yang mulus dengan jari-jari kotor.
“Jangan, tolong lepasin,” gumam Donghyuck dengan suara gemetar, hampir tak terdengar.
“Loh kok pelit. Kemarin lo udah dipake dua preman gila itu kan? Sekarang giliran kita, bangsat. Jangan sombong.”
Komentar cabul mengalir deras dari segala arah. Ada yang berteriak dari sisi lain ruangan, “Eh cantik, malam ini lo tidur di sel gue ya? Gue janji pelan-pelan pertama kali.”
Yang lain malah lebih kasar, “Ngapain pelan-pelan, orang udah dirusak Jeno sama Jaemin. Tinggal masuk aja ini mah.”
Hanya keajaiban yang membuat Donghyuck bisa melewati shift kerjanya hari itu dengan selamat. Keajaiban berupa sipir-sipir yang berjaga hari ini padahal biasanya tidak pernah ada yang mengawasi pada narapidana di ruang tugas mereka.
Di saat sore menjelang, setelah seharian bekerja keras. Tubuh Donghyuck terasa lengket oleh keringat dan debu. Ia memutuskan untuk membersihkan badannya sebelum kembali ke blok tahanan. Kamar mandi umum berada di ujung lorong belakang. Tempat itu jauh lebih sepi dibandingkan halaman belakang karena sebagian besar narapidana masih sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Suara keran yang menetes bergema di ruangan sempit berlantai semen itu. Donghyuck menengadah di bawah kucuran air, membasuh wajahnya beberapa kali. Air dingin sedikit mengurangi pusing yang sejak tadi mengganggu kepalanya. Baru ketika ia mengangkat kepala, ia mendengar suara beberapa laki-laki di belakangnya.
Donghyuck langsung memindahkan dirinya ke ujung ruangan sejauh mungkin dan memunggungi pintu masuk, sambil dengan cepat menggosok sabun batangan kasar ke lengan dan ketiaknya. Busa sabun putih turun mengalir di punggungnya, menelusuri lekukan tulang belakang sebelum hilang di lantai beton yang licin dan berlumut.
Donghyuck tidak menoleh, tapi dia bisa merasakan pandangan mereka menelusuri tubuh telanjangnya, tatapan lapar yang tidak memandangnya sebagai sebagai daging segar yang siap dikoyak.
"Waduh rezeki besar. Liat nih ada siapa," suara parau memecah keheningan, diikuti oleh tawa kasar yang bergema di ruangan berdinding itu. "Daging baru. Kebetulan lagi dibersihin nih."
Donghyuck menunduk lebih dalam, air mata hampir saja bercampur dengan air shower yang mengalir ke wajahnya. Dia mencoba menutupi selangkangannya dengan tangan dan lengannya, refleks pertahanan biologis yang sia-sia. Langkah kaki mereka semakin dekat, terdengar jelas di tengah gemericik air.
"Eh, sekarang lo udah dibuangkan sama Jeno Jaemin ?" ucap salah satu pria itu, "Berarti lo boleh dong kita coba-coba dikit."
Salah satu dari mereka, seorang pria bertato ular di lehernya, berdiri tepat di belakangnya. Dia bisa mencium bau keringat yang busuk dan asap rokok yang menempel di kulit pria itu. Tangan kasar yang berkeriput tiba-tiba mencengkram bahu Donghyuck dari belakang, membuat tubuh mungil itu terhentak kaget. Cengkeraman itu kuat seperti penjepit besi, jari-jarinya menekan ke dalam bahunya hingga meninggalkan jejak merah.
"Jangan ditutup-ditutup gitu dong," bisik pria itu tepat di telinga Donghyuck, napas yang panas membelai lehernya yang basah. "Pelit banget sih sama kita.”
Donghyuck mencoba melepaskan diri, sikunya menyeruduk ke arah perut pria itu, tapi usahanya lemah dan hanya memicu tawa yang lebih keras dari ketiga temannya.
"Oh, dia masih punya nyali!" seru yang lain, seorang pria botak dengan gigi yang hilang di depan. "Dikira kita ga bisa setega Jeno kali ya."
Dua pria lain bergerak cepat, menyerang dari sisi kiri dan kanan. Mereka merenggut tangan Donghyuck yang sedang berusaha menutupi tubuhnya, lalu menariknya ke belakang dengan kasar. Donghyuck berteriak, tapi suaranya tenggelam oleh suara air dan tawa mereka.
Sekarang dia terpojok, empat pria dewasa mengelilinginya dalam lingkaran yang mengintimidasi. Mata Donghyuck membelalak ketakutan, melihat empat pasang mata yang penuh dengan nafsu bejat yang tidak bisa disembunyikan.
Salah satu dari pria itu melangkah maju, memutari badannya hingga sekarang berdiri tepat di belakang Donghyuck. Pria itu kemudian berjongkok dan tanpa basa-basi meraup pantatnya.
“Kenyel banget nih, beda emang yang terawat sama perek penjara biasa.” gumamnya, matanya menatap lekat-lekat pantat Donghyuck yang bergerak-gerak karena berusaha menjauhi pria itu.
Donghyuck menggelengkan kepalanya, air matanya akhirnya tumpah deras membasahi pipinya. "Tolong, jangan..."lirihnya, suaranya pecah dan hampir tidak terdengar. Tapi permohonannya itu hanya seperti bahan bakar bagi api nafsu mereka.
"Kita cek dulu kali ya, masih bisa nutup ga lobangnya," canda pria botak, diikuti oleh gelak tawa rekan-rekannya. “Soalnya katanya punya Jeno sama Jaemin mah gede banget ya.”
Kedua tangannya menarik kedua bongkah pantat Donghyuck dengan kasar. Sensasi itu menyakitkan dan memalukan. Menjalar seperti sengatan seluruh tubuh Donghyuck. Donghyuck mencoba menutup pahanya, menekuk lututnya untuk melindungi dirinya sendiri, tapi dua pria lainnya segera menangkis kakinya, membuatnya terbuka lebar dan tidak berdaya.
"Sempit banget sialan," serunya dengan penuh semangat.
“Ah anjing, udah lah ga tahan gue. Langsung pake aja.”
Tepat ketika salah satu dari mereka kembali melangkah maju, suara peluit nyaring memecah ruangan.
"Apa-apaan ini!"
Pintu kamar mandi dibuka keras dari luar. Seorang sipir masuk sambil mengacungkan tongkat.
"Bubar semua! BUBAR!"
Keempat narapidana itu saling pandang, lalu mendecakkan lidah sebelum satu per satu keluar sambil mengumpat pelan.
Ruangan kembali sepi, menyisakan Donghyuck masih berdiri mematung. Lututnya terasa lemas. Ia merosot ke lantai kamar mandi begitu keempat orang itu pergi, tubuhnya gemetar hebat sambil terisak pelan. Bajunya robek di beberapa bagian, dan bekas cengkeraman kasar masih terasa nyeri di lengannya.
Sipir itu menatapnya sekilas. "Beresin baju lo, terus balik ke sel."
Donghyuck hanya mengangguk. Ia benar-benar mengira dirinya baru saja beruntung karena diselamatkan oleh sipir tersebut.
