Chapter Text
Apa yang tidak Donghyuck ketahui adalah, saat dirinya masih mematung di kamar mandi, sang sipir sedang menerima bungkusan berisi serbuk putih dari Jaemin tepat di luar kamar mandi itu. Bayaran atas kerjasamanya.
“Lunas ya,” Jaemin menjabat tangan sang sipir sambil menyelipkan bungkusan kecil itu melalui tangan keduanya.
“Oke,” ujar sipir itu setelah mengecek bungkusan di tangannya. “Kasian itu anak sampe nangis di dalem. Gue pikir lo sama Jeno beneran suka.”
Jaemin mengangguk dengan santai, “Emang suka kok.”
“Loh terus kenapa lo nyuruh gue nunggu sampe dia beneran hampir diperkosa banget baru gue bubarin?” Tanya sang sipir dengan heran.
“Orang suci kayak lo ga usah sok-sok mau paham urusan penjahat deh,” Jaemin menyeringai lebar, “Eh tapi lo mah sebenernya sama aja ya kayak kita. Penjahat.”
Sang sipir berdecih keras sebelum meninggalkan Jaemin begitu saja. Jaemin yang akhirnya sendiri kemudian menyandarkan dirinya ke pintu kamar mandi, memejamkan matanya dan membayangkan seberapa menyedihkan keadaan Donghyuck di dalam sana. Sendirian, tanpa perlindungan, tanpa perlawanan. Tepat seperti apa yang telah ia rencanakan.
Menjelang malam, halaman penjara kembali dipenuhi narapidana yang menunggu waktu apel terakhir. Di sudut yang paling ramai, Jaemin duduk santai memainkan gelas seng kosong di tangannya. Jeno berdiri di sampingnya dengan wajah yang sama datarnya seperti biasa.
"Aman tadi?"
Jaemin menyandarkan kepalanya ke lengan Jeno dengan malas, "Aman lah, lo pikir gue gak jago apa?"
Jeno terdiam beberapa saat. "Menurut lo...udah cukup?"
Jaemin mengangkat pandangan ke arah blok tahanan. Di kejauhan, Donghyuck berjalan sendirian menuju selnya dengan kepala tertunduk dan langkah yang jauh lebih cepat daripada biasanya. Sudut bibir Jaemin terangkat tipis.
"Gue harap lo masih ada tenaga, Jen." Jaemin menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. "Mangsa kita bakal menyerahkan diri.”
Jeno menyeringai lebar, tidak sabar untuk menikmati hadiahnya.
•••
Malam itu, dengan langkah gontai dan mata sembap, Donghyuck sendiri yang mendatangi sel Jeno dan Jaemin. Ia berdiri lama di depan pintu jeruji itu sebelum akhirnya berbicara dengan pelan, tubuhnya masih diliputi rasa takut yang bercampur putus asa.
“Permisi…”
Jaemin yang membuka sel itu dari dalam, entah mengapa sel mereka tidak pernah terkunci. Senyum kemenangan langsung terpasang di wajahnya begitu melihat siapa yang datang.
"Wah, lihat siapa yang akhirnya nyari kita," kata Jaemin, suaranya penuh nada mengejek.
Ia melangkah mundur, memberi ruang bagi Donghyuck untuk masuk namun tetap berada di pinggir pintu sel, matanya tidak pernah lepas dari wajah Donghyuck yang penuh air mata. Donghyuck melangkah masuk dengan kepala tertunduk, tubuhnya masih gemetar.
Jeno berdiri dari ranjangnya, memandangi Donghyuck dengan tatapan lapar yang sudah lama tertahan. Namun Jaemin mengangkat tangan, menahan Jeno dan Donghyuck, seolah masih ingin menikmati momen ini lebih lama.
"Ngerangkak," kata Jaemin pelan, tapi terdengar seperti perintah mutlak yang tidak bisa dibantah. “Gak boleh jalan kalau lo ada di sel ini.”
Donghyuck menatap Jaemin sekilas, ada kilatan perlawanan yang cepat padam oleh rasa lain yang lebih besar. Perlahan, ia menekuk lututnya di lantai dingin sel itu, kedua tangannya gemetar di sisi tubuhnya sebelum akhirnya ia jatuhkan ke lantai di depannya sebagai tumpuan. Air mata terus mengalir di pipinya saat ia mengangkat wajah menatap dua orang yang kini menjulang di hadapannya.
Dengan lutut yang gemetar, ia merangkak masuk ke sel mereka setelah Jaemin membiarkannya lewat. Lantai dingin dan kasar menyakiti lututnya, tapi ia tidak berani berhenti sampai berada tepat di depan kaki Jaemin. Jaemin mengangkat dagu Hyuck dengan ujung sepatunya.
“Donghyuck mau ngapain ke sini?”
“Aku mau minta tolong.” Donghyuck berkata dengan lirih
“Gak kedengeran, sini deketan.” Jeno berkata sambil kembali duduk di kasurnya. Jaemin sendiri saat ini masih berdiri dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya. Keduanya memiliki seringai yang sama.
Dengan perlahan dan gemetar, Donghyuck merangkak sedikit demi sedikit ke depan kaki Jeno. Ia bisa melihat tatapan lapar Jeno dan gundukan di celana laki-laki itu. Sementara itu, dia juga bisa mendengan siulan dari Jaemin yang mengikutinya dari belakang, ia yakin mata laki-laki itu ada di bongkahan pantatnya yang saat ini terpampang jelas.
“Aku mau minta tolong.” Ujar Donghyuck lagi setelah sampai ke depan Jeno.
"Lah udah mau minta tolong aja.” Jaemin berdecak di sampingnya. “Ngaku dulu kalau lo salah udah nolak kita kemarin."
"Aku... aku salah," suara Donghyuck pecah di antara isak tangis. "Maafin aku udah nolak kalian. Aku minta maaf. Aku yang salah"
Jaemin tertawa pelan, nada puas terpancar jelas dari wajahnya.
“Aku salah udah nolak kalian,” jawab Donghyuck dengan suara gemetar. “Aku bodoh. Aku pikir aku bisa sendiri. Padahal, aku cuma selamat karena kalian. Tolongin aku… aku mohon.”
Jaemin berjongkok di depan Donghyuck, mengangkat dagunya dengan lembut, sebuah kelembutan yang justru terasa lebih menyeramkan daripada kekerasan.
"Lo punya siapa, Donghyuck?" tanyanya, menuntut jawaban yang sudah ia ketahui.
"Punya kalian," jawab Donghyuck lirih, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku punya kalian berdua."
Jeno yang sudah kehabisan kesabaran akhirnya melangkah maju, menarik Donghyuck berdiri dengan satu tangan. "Udah, Jaem," katanya berat, matanya menyala.
Ia menatap Donghyuck lekat-lekat, suaranya menurun menjadi hampir seperti perintah dan permohonan sekaligus. "Sumpah sama kita. Sumpah kalau lo punya kita, lo bakal nurut, dan lo nggak akan pernah khianatin kita."
Donghyuck mengangguk cepat di antara isak tangisnya, mengulang sumpah itu dengan suara bergetar. Jaemin masih ingin memperpanjang permainan mereka malam itu, tapi Jeno sudah tidak sanggup menunggu lebih lama lagi.
“Sumpah…” bisik Donghyuck, air matanya mengalir. “Aku punya kalian. Aku bakal nurut. Aku nggak akan khianatin kalian. Tolongin aku.”
Malam itu, di dalam sel sempit yang lembap, Donghyuck resmi menjadi milik mereka berdua.
Jeno menuntunnya untuk duduk di kasur yang tadi Jeno duduki, sementara laki-laki itu ganti berlutut di hadapannya. Tangan Jeno mencengkram dagunya dengan kasar karena laki-laki itu tidak tau cara menyentuh apapun dengan kelembutan, tidak peduli secantik apa objek sentuhannya.
Donghyuck memejamkan matanya saat Jeno menciumnya dengan ganas. Bibirnya melumat bibir Donghyuck, lidahnya masuk dengan paksa, menjelajahi setiap inci mulut yang manis itu. Ciumannya kasar, penuh amarah dan nafsu yang sudah tertahan berhari-hari. Donghyuck sempat tersentak, tapi lama-kelamaan ia terlena, tubuhnya meleleh di pelukan Jeno.
Di belakangnya, Jaemin yang sudah naik ke kasur bergerak mendekat. Ia mengangkat tubuh Donghyuck dengan mudahnya dan meletakan laki-laki kecil itu di pangkuannya sebelum mulai menciumi leher jenjang itu. Lidahnya menjilat, giginya menggigit pelan lalu semakin keras, meninggalkan tanda merah keunguan yang jelas.
Mereka berdua bekerja sama menelanjangi Donghyuck. Baju seragam lusuh itu dilempar sembarangan. Celana pun ikut jatuh. Kini Donghyuck duduk telanjang bulat di antara mereka berdua. Jeno dan Jaemin menciumi dan menggigit seluruh tubuhnya tanpa ampun. Dada, perut, pinggul, paha dalam, bahkan punggung, dan bahu. Setiap gigitan dan hisapan meninggalkan tanda kepemilikan yang banyak dan jelas.
“Makin cantik kalau merah-merah gini, Donghyuck.” Ucap Jaemin sambil menggigit telinganya.
Jeno mundur selangkah, berdiri di depan Hyuck yang sudah terengah-engah. Ia membuka resleting celananya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah keras.
“Buka mulut lo,” perintah Jeno dengan suara berat.
Donghyuck membuka mulutnya dengan patuh. Jeno langsung memegang kepalanya dan mendorong pinggulnya ke depan, memasukkan seluruh penisnya dalam satu gerakan kuat hingga menyentuh tenggorokan Donghyuck.
“Ugh!” Donghyuck tersedak hebat, air mata langsung keluar. Tubuhnya refleks mundur, tapi Jeno menahan kepalanya kuat.
“Tenang… tarik napas lewat hidung,” bisik Jeno sambil mengusap rambutnya.
Setelah tersedak beberapa kali, Donghyuck berhasil mengatur nafasnya. Ia berhasil memasukkan seluruh penis Jeno sampai ke pangkal, hidungnya menempel di perut keras pria itu.
Jaemin yang melihatnya tertawa puas. “Gila… jago banget sih, cantik. Udah sering ngemut kontol di luar sana ya?”
Jaemin mendorong punggung Donghyuck hingga ia berlutut sempurna di lantai sel yang dingin. Jeno duduk di pinggir kasur, tepat di tempat Donghyuck dan Jaemin duduk sebelumnya, kakinya terbuka lebar, lalu membalikan tubuh Donghyuck sehingga menghadap ke arahnya, membawanya kembali ke posisi merangkaknya. Jeno kemudian memegang kepala Hyuck dan memompa mulutnya dengan ritme yang dalam dan lambat.
Sementara itu, Jaemin berlutut di belakang Donghyuck. Ia membuka kedua paha Donghyuck lebih lebar, lalu menunduk dan mulai menjilat lubang sempit itu dengan lidahnya yang panas dan basah.
“Hngg!!” Donghyuck menggelinjang hebat, suaranya teredam oleh penis Jeno yang memenuhi mulutnya.
Jaemin memasukan lidahnya semakin dalam. Lidahnya menjilat, menusuk, dan menghisap dengan ahli, membuat lubang di hadapannya berkedut-kedut dan sangat basah. Tangan Jaemin meremas bokong mulus itu sambil sesekali menggigit pelan paha dalamnya.
“Enak ya, cantik?” gumam Jaemin di antara jilatan-jilatannya. “Baik kan gue, tetep ngasih lo ngerasain enak padahal lo nya udah nakal banget kemarin.”
Jaemin menampar pantat Donghyuck dengan keras, sekali di setiap sisinya.
“Lo juga kayaknya seneng banget ya ngemutin kontol Jeno. Emang suka diisi ya, Donghyuck? Enak ga mulutnya, Jen?”
Jeno mendesah kasar sambil terus memompa mulut Donghyuck yang basah dan hangat. “Persis kayak yang gue bayangin. Mulutnya emang dibikin buat ngemut kontol.”
Jaemin menyeringai mendengar jawaban Jeno. “Bilang makasih dulu dong, Donghyuck.” Ujarnya sambil menarik kepala Donghyuck hingga penis Jeno keluar dari mulutnya.
Donghyuck tanpa sadar mengerang protes hingga Jeno dan Jaemin tertawa, menyadari bahwa laki-laki ini memang menikmati mengulum penis Jeno.
Jeno mencengkram pipi Donghyuck lagi dengan keras, “Ayo cepet bilang makasih. Katanya udah sumpah mau nurut tadi.”
Donghyuck hanya bisa menangis, terengah dan terlena di antara dua pria gila itu. “Makasih Jeno dan Jaemin.”
Jeno tertawa puas sebelum kembali memasukkan penisnya ke mulut Donghyuck. Menggerakkan pinggangnya dengan lebih cepat. Jeno mendesah kasar, pinggulnya mendorong lebih dalam ke tenggorokan Donghyuck. Otot perutnya menegang.
“Telen ya, Cantik. Gue mau keluar.”
Ia mengerang panjang saat orgasme menghantamnya. Sperma panasnya menyembur deras ke tenggorokan Donghyuck, memaksanya menelan berkali-kali agar tidak tersedak atau muntah. Beberapa tetes masih lolos dari sudut bibir Donghyuck.
Tapi Jeno belum selesai. Ia menarik penisnya keluar dan menembakkan sisa spermanya ke wajah cantik Donghyuck. Semprotan putih kental membasahi pipi, hidung, bibir, bahkan bulu matanya. Wajah mulus yang biasanya terlihat innocent itu kini kotor dan penuh air mani.
“Cocok banget, Cantik. Mukanya emang cocok buat penuh sperma.” kata Jeno sambil tertawa rendah. Ia menarik Donghyuck naik lalu mencium bibirnya dengan ganas, menjilat sisa spermanya sendiri dari bibir dan lidah Hyuck.
Jaemin yang duduk di belakang tertawa meledek. “Udah keluar duluan? Gak sabar banget ya lo? Cuma diemut doang udah muncrat.”
Jeno menatap Jaemin dengan mata masih gelap nafsu. “Ganti posisi sini. Lo cobain dulu semantep apa mulutnya.”
Jaemin menyeringai. Ia berdiri di depan Donghyuck, memegang dagunya yang basah sperma. “Giliran gue ya, cantik. Sini Donghyuck, cium dulu yang pinter.”
Donghyuck masih terengah, tapi ia patuh mencium ujung kontol Jaemin yang sudah basah precum. Jaemin menyeringai lebar. Ia menunduk untuk mencium bibir Donghyuck dalam-dalam, lidahnya menjajah mulut yang masih memiliki residu sperma Jeno. Kemudian ia mendorong kepala Donghyuck untuk kembali ke selangkangannya.
“Masukin semuanya ya. Gue mau tau, lo beneran enak atau Jeno yang terlalu sange.”
Donghyuck membuka mulut lebar dan mencoba menelan kontol Jaemin yang sedikit lebih panjang dari Jeno. Jaemin mendesah puas sambil memegang kepala Donghyuck dan memompa pelan.
“Aduh, emang pinter banget ternyata. Semangat banget sih, seneng banget ya ngisep kontol?”
Di belakang, Jeno sudah berlutut. Ia menuangkan pelumas yang entah dari mana mereka dapatkan ke jari-jarinya, lalu mulai memasukkan satu jari ke lubang pantat Donghyuck yang masih sempit.
“Ketat banget, Cantik. Berapa lama lo ga dipake orang?” ejek Jeno sambil memutar jarinya.
“Padahal muka lo kayak pelacur pejabat. Apa pejabat kontolnya pada kecil-kecil ya? Gedean jari gue ya daripada kontol mereka?” Jeno tertawa sendiri mendengar kalimatnya sementara Donghyuck sudah mulai mendesah tidak terkontrol karena gerakan Jeno di lubangnya.
“Sabar,” Jeno menepuk pantat Donghyuck yang bergerak-gerak sendiri, “Nanti gue tambahin.”
Satu jari menjadi dua, lalu tiga. Donghyuck menggelinjang, suaranya teredam kontol Jaemin di mulutnya. Saat Jeno memasukkan jari keempatnya sekaligus, Donghyuck menjerit kesakitan dan kenikmatan, air matanya kembali mengalir deras. Ia menarik kepalanya dari penis Jaemin.
“AAAAH! Sakit, Jeno. Kebanyakan jarinya, sakit banget.”
“Diem lo,” bentak Jeno sambil mendorong keempat jarinya lebih dalam, menggerakkannya dengan liar di dalam lubang Donghyuck. “Lo harus biasa. Besok-besok kontol gue sama Jaemin bakal bolak-balik di dalem sini. Harus dibiasain biar gak robek.”
Jaemin tertawa sambil kembali memasukkan penisnya ke dalam mulut Donghyuck.
“Tahan ya, Donghyuck. Lo tuh barang kita sekarang. Muka cantik, badan semok, mulut enak, pantat sempit. Semua buat kita pake sesuka hati. Tapi kita gamau lo cepet rusak, nanti udah gak enak lagi kalau kita pake. Makanya harus disiapin baik-baik.”
Jeno akhirnya menarik keempat jarinya. Kontolnya yang sudah keras kembali menempel di lubang Hyuck yang sudah basah pelumas.
Jaemin langsung protes, “Eh, masa lo dapet dua lubang duluan? Gue juga mau!”
Tapi Jeno tidak peduli. Ia mencengkram pinggul Donghyuck kuat dan mendorong pinggulnya masuk sekaligus dalam satu gerakan kasar.
“AAARRGHH!!” Donghyuck berteriak keras, tubuhnya mengejang hebat. Rasa penuh dan sakit yang luar biasa membuatnya menangis tersedu.
“Belum bisa masuk semua… sialan ketat banget,” geram Jeno sambil mulai menggerakkan pinggulnya dengan kuat. “Lo nangis aja. Nangis yang keras. Biar semua orang di penjara ini tahu lo sekarang lagi dipake sama kita.”
Jaemin yang kesal karena kalah rebutan, malah menarik kepala Donghyuck kasar dan memasukkan penisnya kembali ke mulut pria itu hingga pangkal. Hidung Donghyuck sampai menempel di bulu kemaluan Jaemin.
“Isep yang bener. Isep sambil lo di ancurin pantatnya sama Jeno. Ini yang lo minta kan? Perlindungan? Ini harganya. Lo harus jadi pelacur yang baik.”
“Dengerin, Hyuck. Mulai sekarang setiap hari lo bakal kita isi. Anjiiiing enak banget.” Jeno melenguh di tengah kalimatnya, “Pagi, siang, malem. Bahkan lo tidur pun, kontol kita tetep di dalem pantat lo.”
Jeno tertawa kasar sambil terus menghantam anus Donghyuck dalam-dalam. “Gila, Jaem. Enak mampus. Denger gak cantik? Kamu enak banget. Ah gila kalau enak ini mah, jangankan perlindungan. Lo minta gue selundupin apapun buat lo juga gue kasih gratis.”
Donghyuck hanya bisa mendesah, tercekik penis Jaemin di mulutnya. Tubuhnya bergoyang kasar setiap kali Jeno menghunjamnya dengan kuat. Tanda-tanda gigitan dan memar di seluruh tubuhnya semakin banyak.
“Aduh aku jadi penasaran banget nih. Seenak apa sih pantat kamu sampai Jeno ngoceh mulu?” Tanya Jaemin jenaka.
“Jeno cepetan brengsek. Gue gak mau keluar di mulutnya.” Nada bicaranya langsung berubah saat ia berbicara pada Jeno.
“Lo keluar aja lah dulu. Nanti pas liat lobangnya juga langsung ngaceng lagi.” Jeno menjawab dengan acuh tak acuh, dia masih meracau betapa enaknya Donghyuck terasa di sekitar penisnya. Betapa pintarnya Donghyuck karena ikut menggerakan pinggulnya.
“Pinter banget sih muasin gue. Udah cantik, pinter lagi. Gue pelihara terus ya, Hyuck? Jadi punya gue sama Jaemin terus ya? Lo bakal dapet semua yang lo mau di penjara ini kok kalau sama kita. Ah sinting, gak pernah gue ngerasain yang seenak lo.”
Jaemin yang sudah hampir mencapai puncaknya pun memutuskan untuk mengeluarkan penisnya dari mulut Donghyuck. Dia kemudian ikut berlutut di depan Donghyuck dan mengangkat kepala cantik itu.
“Enak?” Tanyanya sambil tersenyum manis, “Donghyuck ngerasa enak juga gak?”
Dengan air mata yang mengalir dan desahan yang akhirnya tidak tertutupi oleh penis di mulutnya, Donghyuck mengangguk dengan lemas.
“Enak. Enak banget, Jaemin. Enak enak enak enak enak. Jeno enak banget.” Jaemin tertawa senang mendengar Donghyuck yang sudah seperti orang mabuk kemudian membawanya dalam ciuman yang panjang.
“Pinter banget sih jawabnya. Mau dientot terus ya?” Donghyuck kembali mengangguk dengan cepat.
“Mau. Mau. Mau. Mau. Mau. Jaemin please. Jeno, Jeno tolong.” Jeno ikut tertawa di belakangnya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di lantai dan menarik Donghyuck untuk duduk di atasnya.
“Tolong apa sih, Cantik? Kan ini lagi dientotin.” Jeno mencium pipi Donghyuck yang basah sementara lelaki di pangkuannya menggeleng lemah.
“Jeno, lagi. Mau lagi, Jeno.” Donghyuck menolehkan kepalanya ke arah Jeno dan mencium lelaki itu lebih dulu. Jeno dengan senang hati membalas ciuman berantakan dari Donghyuck. Tangannya menggerakan badan Donghyuck ke atas dan ke bawah, menyambut gerakan pinggangnya sendiri.
Jaemin menatap pemandangan di depannya dengan nafsu yang tinggi. Ia mendekat dan menarik rambut Donghyuck dengan keras. “Kok gue dicuekin sih, Donghyuck?”
Dengan mata yang basah Donghyuck menggeleng berkali-kali. Tangannya memegang pipi Jaemin dengan gemetar dan menarik kepala laki-laki itu ke arahnya. Donghyuck kemudian mencium Jaemin dengan dalam. Jaemin membiarkan Donghyuck memimpin ciuman itu sebelum mengambil alih. Ciuman itu basah, berisik, dan sangat-sangat heboh.
“Cantik,” Kepala Jeno mendekati telinga Donghyuck, “aku mau keluar nih. Hyuck mau diisi lobangnya?”
Memutus ciumannya dengan Jaemin, Donghyuck menoleh dengan cepat ke arah Jeno sambil mengangguk semangat. “Mau. Jeno, mau. Keluar di dalem ya, Jeno ya?”
Jeno tertawa senang hingga matanya menghilang. Gemas dengan kelakuan manis laki-laki di atasnya ini. Lihat siapa yang memohon berkali-kali sekarang padahal kemarin menolak mentah-mentah dirinya dan Jaemin.
Setelah beberapa kali hentakan, Jeno akhirnya mengeluarkan spermanya ke dalam lubang Donghyuck. Dia menggeram sambil mencengkram pinggang Donghyuck dengan keras sementara Donghyuck ikut melenguh panjang. Rasa penuh dan hangat di lubangnya membawanya ke pelepasan pertamanya pula.
“Ah bangsat enak banget. Cantik, enak banget kamu. Enak kan cantik?”
Donghyuck mengangguk dengan lemas sambil bersandar ke dada Jeno sepenuhnya. Kepalanya tenggelam di leher Jeno yang penuh keringat.
“Makasih, Jeno.” Jeno mencium bibir Donghyuck dengan gemas mendengar ucapan terima kasih yang begitu manis dari Donghyuck.
Tiba-tiba badan Donghyuck diangkat oleh Jaemin dan diletakkan di atas kasur.
“Jangan lemes dulu ya, Donghyuck. Gue belum kebagian nih.”
Setelah mengatakan itu, Jaemin langsung memasukkan seluruh penisnya ke lubang Donghyuck yang langsung berteriak keras. Jaemin menggeram panjang, matanya terpejam menikmati kehangatan dan keketatan yang luar biasa.
“Brengsek, enak banget, Donghyuck. Pantat lo enak banget.,” umpatnya sambil mulai mendorong pinggulnya dengan kasar dan cepat. Setiap hantaman menghasilkan suara basah dan vulgar yang memenuhi sel sempit itu.
Donghyuck menangis tersedu-sedu, tapi mulutnya tak berhenti mendesah. “Enak… Jaemin… enak banget… huhu…”
Jaemin tertawa di antara desahan kasarnya. Ia menunduk, menangkap salah satu puting Donghyuck yang sudah menonjol keras dengan mulutnya, menghisap dan menggigit pelan sementara pinggulnya terus menghantam tanpa ampun.
“Donghyuck denger suara sendiri nggak?” tanya Jaemin sambil mempercepat gerakannya. “Sexy banget. Ayo lebih keras lagi nangisnya.”
Jeno duduk di sisi kasur, mulutnya sibuk menciumi dan menghisap leher Donghyuck, meninggalkan tanda baru di kulit yang sudah penuh memar. Saat Donghyuck menoleh ke arahnya dengan mata berkaca-kaca dan bibir gemetar, Jeno terdiam sebentar.
“Mau apa, cantik?”
Donghyuck tidak menjawab. Pria itu hanya memajukan kepalanya ke arah Jeno dengan bibir yang merengut. Jeno langsung menunduk dan menciumnya dalam-dalam, lidahnya menari dengan lidah Donghyuck yang basah. Seperti belum puas, setelah ciuman itu terlepas, Donghyuck menggeliat, tangannya terangkat ke arah Jaemin yang masih menggenjotnya tanpa henti.
“Jaemin, cium aku dong. Please…”
Jaemin menyeringai puas. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium Donghyuck dengan ganas, lidahnya menjajah mulut manis itu sementara penisnya terus menghunjam dalam. Donghyuck yang sudah mabuk kontol ternyata jadi sangat manja. Ia terus berusaha mencium Jaemin balik, tangannya memeluk leher Jaemin, mendesah di antara ciuman.
“Jaemin, enak. Pelan-pelan huhu, tapi lebih dalem Jaem tolong,” Donghyuck terisak di tengah kalimatnya “Jaemin, aku suka banget…”
Kedua pria itu semakin bergairah mendengar nada manja Donghyuck. Jaemin menggeram di telinga Donghyuck.
“Manja banget sih. Mana nih yang kemarin nolak-nolak kita? Yang katanya bukan punya kita?”
Jaemin mempercepat hantamannya, pinggulnya membentur bokong Donghyuck dengan suara keras. Jeno di samping mengocok penis Donghyuck dengan tangan kasarnya. Tak lama kemudian, Jaemin mengerang panjang. Ia menekan pinggulnya dalam-dalam dan menyemburkan sperma panasnya langsung ke dalam lubang Donghyuck. Saat itu juga Donghyuck mencapai puncaknya. Tubuhnya mengejang hebat, sperma tipisnya menyembur ke perutnya sendiri. Tapi Jeno tidak berhenti mengocoknya.
“Keluar lagi. Sekali lagi,” perintah Jeno dengan suara berat.
“Gak bisa, Jeno. Aku gak bisa.” Donghyuck menangis tersedu-sedu, tubuhnya menggeliat hebat,
“Bisa, cantik. Tadi katanya enak kan? Yuk sekali lagi aja.” Ujar Jeno sambil terus mengocoknya dengan cepat hingga Donghyuck mencapai orgasme kering yang menyakitkan sekaligus nikmat. Air matanya mengalir deras.
Jaemin masih di atasnya, penisnya masih tertanam dalam sambil menikmati kontraksi lubang Donghyuck yang masih memeluknya erat.
“Pinter, pinter banget Donghyuck cantik,” puji Jaemin sambil mengecup bibir Hyuck yang sudah bengkak. “Mulai sekarang lo tidur di sini tiap malam ya.”
Donghyuck hanya bisa mengangguk lemah, tubuhnya lemas total, lubangnya penuh sperma kedua pria itu, dan wajahnya penuh air mata serta sisa kenikmatan.
Malam itu berakhir dengan Donghyuck resmi menjadi milik mereka berdua. Awal dari hubungan yang akan mengikat ketiganya untuk waktu yang sangat lama.
•••
Ketika fajar mulai menyingsing, Donghyuck terbangun di antara kedua pria itu. Untuk pertama kalinya sejak masuk penjara ia tidak merasa perlu takut lagi.
Donghyuck tahu bahwa dirinya baru saja masuk ke dalam sangkar yang lain. Namun sangkar ini, ia pikir, jauh lebih aman dibanding hidup tanpa perlindungan sama sekali di tempat seperti ini. Sejak awal, sangkar ini lah yang ia pilih.
Donghyuck tidak pernah menjadi orang biasa. Sebelum masuk penjara, ia terbiasa membaca keinginan orang-orang berkuasa, mencari celah kelemahan mereka, lalu memanfaatkannya perlahan tanpa mereka sadari. Kebiasaan itu ternyata masih berguna, bahkan di balik jeruji sekalipun.
Sejak awal ia datang ke penjara ini, Donghyuck sudah melakukan penilaiannya sendiri. Tidak ada perbedaan signifikan baginya, penjara dan dunia luar. Setidaknya hierarkinya sama. Survival of the fittest. Donghyuck tau, dia bukan lah orang yang kuat secara fisik, tidak juga memiliki penampilan yang menyeramkan, atau memiliki harta yang paling banyak. Akan sulit baginya untuk memanjat tangga hierarki kekuasaan di sini. Namun, sangat mudah baginya memanjat orang yang ada di tangga tertinggi.
Jeno dan Jaemin serta semua korbannya di luar sana memiliki kesamaan. Mereka semua adalah lelaki berkuasa. Lelaki-lelaki yang kuat. Korbannya di luar punya uang yang berlimpah, jabatan yang tinggi, privilege yang banyak. Jeno dan Jaemin punya otot yang besar, ketakutan dari narapidana dan sipir, privilege yang banyak. Dan tentu saja, yang paling penting, mereka semua punya selera yang sama. Donghyuck.
Donghyuck yang cantik. Donghyuck yang lemah. Donghyuck yang butuh diselamatkan. Donghyuck yang tidak punya siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa jika tidak ada mereka. Donghyuck yang sombong dan tidak mau dengan mudahnya jatuh ke pelukan mereka. Donghyuck yang kemudian berlari sendiri ke mereka setelah tau betapa salahnya ia karena sudah menolak mereka. Donghyuck yang berhasil mereka taklukan.
Sebuah piala yang paling berkilau, yang semua orang ingin dapatkan, tapi hanya mereka yang bisa punyai.
Lelaki dengan kuasa katanya kelemahannya ada di tahta, harta, dan wanita. Padahal kelemahan utama mereka ada satu, ego mereka sendiri. Begitu mudahnya bagi Donghyuck untuk mengatur mereka dari titik itu. Ingin mereka baik padamu? Terus beri makan ego mereka, semakin diberi makan, semakin rakuslah mereka. Jika sudah biasa diberi banyak, saat Donghyuck memberi lebih sedikit, mereka akan berlomba-lomba untuk menyenangkannya sehingga Donghyuck kembali menjadi Donghyuck yang manis dan dengan senang hati selalu memberi makan ego mereka.
Sejak awal, Donghyuck tidak akan pernah membiarkan dirinya sendiri mejadi korban. Biarlah semua orang menilainya seperti itu. Pada kenyataannya, dia selalu menjadi pemenang. Lihatlah hidupnya di penjara ini ke depannya. Dilindungi oleh dua laki-laki tampan yang memberikannya seluruh barang selundupan yang ia butuhkan dan seks yang hebat. Tepat seperti yang sudah ia rencanakan dari hari pertama ia bertatap mata dengan Jeno dan Jaemin.
Hari-hari berikutnya berjalan sesuai dengan rencana Donghyuck. Donghyuck kini selalu duduk di antara Jeno dan Jaemin saat makan, tidak lagi perlu mengantri sendirian dengan rasa takut. Ia belajar cepat bagaimana caranya membuat kedua pria itu nyaman, sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi keahliannya sejak lama.
Ia mulai memperhatikan pola kecil dari Jeno dan Jaemin. Jeno, meski tampak garang, sebenarnya menyukai perhatian kecil dan diperlakukan lembut. Jaemin, di sisi lain, lebih menyukai percakapan, senang ketika Donghyuck mendengarkan cerita-ceritanya dengan penuh perhatian meski isinya seringkali mengerikan. Apalagi saat Donghyuck bisa membalasnya dengan jawaban-jawaban yang ia nilai menarik.
Suatu sore, Donghyuck duduk di lantai sel sambil memijat kepala Jeno yang duduk di depannya. Pria itu memejamkan mata, tubuhnya yang biasanya tegang perlahan mengendur setiap kali jari-jari Donghyuck bergerak lembut di kepalanya. Jaemin duduk di ranjang, mengamati keduanya dengan senyum tipis di wajahnya.
“Capek?” Donghyuck bertanya dengan lembut sambil membubuhkan sebuah kecupan ringan di dahi Jeno
"Lo tau gak," ucap Jeno pelan, matanya masih terpejam. "Gak ada yang pernah nyisirin rambut gue kayak gini dari gue kecil."
Donghyuck menghentikan gerakannya sejenak, terkejut dengan kalimat tiba-tiba itu. Ia tidak menyangka pria seganas Jeno bisa mengucapkan sesuatu yang begitu jujur dan rapuh. Dengan hati-hati, ia melanjutkan gerakan tangannya, memilih untuk tidak berkomentar apapun agar momen itu tidak rusak.
"Aku seneng kok ngelakuin ini," jawab Donghyuck akhirnya, suaranya lembut dan tulus meski di dalam hatinya ia tahu betul setiap kata yang ia ucapkan punya tujuan tersendiri. "Kamu boleh minta aku lakuin ini kapan aja yang kamu mau."
Jaemin tertawa pelan dari ranjangnya, menggeleng-gelengkan kepala melihat Jeno yang biasanya kasar kini terlihat begitu jinak. "Anjir, Jen, lo kayak kucing kalau lagi sama dia," ledeknya, meski nada suaranya juga tidak lepas dari kehangatan yang sama.
“Kamu yang salah, Jaem.” tuduh Donghyuck, “kamu kan yang udah lama bareng Jeno. Harusnya kamu lah yang kayak gini ke dia.”
Jaemin mengangkat kedua tangannya sambil tertawa kecil.
“Maaf deh kalau belum bisa menjalankan tugas sebagai sahabat dengan baik,” Ia kemudian menyeringai, “tapi aku gatau nih, Hyuck caranya mijet kepala orang. Coba sini kamu contohin dulu ke aku.”
Jeno membuka matanya untuk memelototi Jaemin kemudian melempar kausnya tepat ke wajah Jaemin yang tertawa keras.
Malam itu, ketika Jeno sudah tertidur pulas di ranjang atas, Jaemin duduk di sebelah Donghyuck sambil menatapnya lekat-lekat. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat Donghyuck sedikit gugup, seolah pria itu sedang membedah setiap gerak-geriknya.
"Lo pinter banget ya," ucap Jaemin pelan, suaranya datar namun penuh makna tersembunyi. "Pinter banget bikin orang nyaman sama lo."
Donghyuck menahan napas sejenak, jantungnya berdebar tidak nyaman mendengar kalimat itu. Ia berusaha menampilkan ekspresi bingung yang wajar, seolah tidak mengerti maksud sebenarnya dari ucapan Jaemin.
"Maksud kamu?" tanyanya pelan, suaranya sengaja dibuat sedikit gemetar.
Jaemin tersenyum tipis, tangannya terulur untuk mengusap pipi Donghyuck dengan lembut. Sentuhan itu terasa hangat, namun ada sesuatu di baliknya yang membuat Donghyuck tetap waspada.
"Gue cuma bilang lo pinter," lanjut Jaemin, nadanya kini lebih ringan. "Gak semua orang bisa bikin dua orang kayak gue sama Jeno jadi selunak ini sama satu orang."
"Aku cuma... pengen kalian seneng," jawab Donghyuck, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Kalian udah lindungin aku. Wajar kan kalau aku pengen bales dengan cara aku sendiri?"
Jaemin tertawa pelan, meski matanya tetap mengamati Donghyuck dengan seksama. "Terserah lo lah," ucapnya akhirnya, memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan itu lebih jauh. Ia menarik Donghyuck ke arah pelukannya, membawa keduanya ke alam mimpi.
Namun sejak malam itu, Donghyuck semakin berhati-hati setiap kali berhadapan dengan Jaemin, menyadari bahwa dari ketiga orang di sel itu, Jaemin-lah yang paling sulit untuk benar-benar dikelabui.
•••
Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, dan hubungan ketiganya semakin dalam tanpa disadari siapa pun, termasuk Jeno dan Jaemin sendiri. Yang awalnya hanya nafsu sesaat perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Donghyuck menjadi pusat dari kehidupan mereka berdua, satu-satunya alasan mereka menghitung hari dengan cara berbeda. Bahkan beberapa narapidana lain mulai menyebut mereka bertiga sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Donghyuck bahkan mulai menikmati momen-momen kecil bersama mereka, sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Rutinitas antar mereka bertiga pun semakin terbentuk. Setiap pagi sebelum apel, Donghyuck bangun lebih dulu dari keduanya, menyeduh kopi sachet murahan yang biasa dijual di kantin penjara dengan takaran yang sudah ia hafal luar kepala. Jaemin suka kopinya pahit dan panas, sementara Jeno lebih suka dengan gula dan es batu, sesuatu yang sepele namun tidak pernah terlewatkan oleh Donghyuck.
Ia belajar detail-detail kecil semacam itu dengan sengaja, menyimpannya rapi seperti seorang kolektor. Rokok jatah Jeno selalu ia sisihkan sebungkus setiap minggu, disembunyikan untuk hari-hari ketika suasana hati pria itu memburuk. Jaemin, di sisi lain, selalu merokok setiap hari. Keduanya suka menyelundupkan buku dan majalah untuk Donghyuck karena saat ketiganya sedang bersantai di dalam sel, Donghyuck akan membacakan potongan cerita dari buku yang berhasil diselundupkan ke dalam sel. Dengan kepala salah satu dari mereka bersandar di pahanya, sementara dirinya berada di pangkuan yang lainnya. Keduanya akan memejamkan mata mereka seolah suara Donghyuck sendiri adalah semacam obat penenang baginya.
Di dalam hatinya, ia tahu betul bahwa mengingat hal-hal kecil semacam itu adalah investasi, sebuah cara membuat seseorang merasa benar-benar dilihat, benar-benar dipahami. Ia sudah lama belajar bahwa laki-laki seperti Jeno dan Jaemin, yang selama ini hanya dikenal lewat kekerasan dan ketakutan yang mereka timbulkan, justru paling haus akan hal sesederhana perhatian.
Suatu sore, Jeno pulang dari ruang kerja dengan luka sobek di alisnya, hasil perkelahian dengan narapidana dari blok sebelah yang mencoba mencuri jatah rokok selundupan mereka. Ia melangkah masuk sel dengan wajah masih dipenuhi amarah, darah masih menetes pelan dari lukanya.
Donghyuck yang sedang duduk di ranjang langsung bangkit begitu melihatnya, mengambil kain basah dan sisa alkohol medis yang biasa disimpan Jaemin untuk keadaan darurat semacam ini. Jeno menurut tanpa berkata apa-apa, duduk di pinggir ranjang sambil membiarkan Donghyuck membersihkan lukanya dengan hati-hati.
Setiap kali kain itu menyentuh luka, Jeno meringis pelan, namun tidak sekalipun ia menyuruh Donghyuck berhenti. Ia justru memejamkan mata, membiarkan sentuhan lembut itu bekerja lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar mengobati luka. Donghyuck memperhatikan reaksi itu diam-diam, menyimpan informasi baru dalam kepalanya tentang betapa pria di depannya ini haus akan sentuhan yang tidak berujung kekerasan.
"Sakit banget ya?" tanyanya pelan, suaranya penuh perhatian yang terdengar tulus.
"Gak sesakit yang lo kira," jawab Jeno, matanya masih terpejam. Ia diam sejenak sebelum melanjutkan, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Udah biasa kok.”
Donghyuck menghentikan gerakan tangannya sejenak, menatap wajah Jeno yang untuk pertama kalinya terlihat begitu terbuka dan rapuh. Ia tahu momen semacam ini adalah emas, sebuah celah kecil yang harus ia rawat dengan hati-hati agar tidak menutup lagi.
"Aku gak suka lihat kamu luka gini," ucapnya lembut, jarinya mengusap pipi Jeno yang tidak terluka.
Jeno tersenyum mendengarnya, senyum yang membuat kedua matanya menghilang. Ia memajukan dirinya untuk mengecup bibir Donghyuck singkat, “Gapapa. Kan sekarang ada kamu yang bisa ngurusin aku.”
Malam itu, ketika Jeno sudah tertidur dengan kepala bersandar di pangkuan Donghyuck, Jaemin duduk di seberang mereka, mengamati pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sesuatu yang aneh terlihat di matanya, campuran antara kekaguman dan sesuatu yang lebih gelap yang belum pernah ia utarakan pada siapa pun.
"Lo tau gak kenapa Jeno jadi kayak sekarang?" tanya Jaemin tiba-tiba, suaranya rendah agar tidak membangunkan Jeno yang tertidur.
Donghyuck menggeleng pelan, memberi isyarat agar Jaemin melanjutkan. "Bokapnya mati waktu dia kecil. Nyokapnya kerja banting tulang sendiran buat ngidupin dia, sampai akhirnya sakit dan mati juga pas dia masih SMP. Sejak itu dia hidup sendirian di jalanan."
Donghyuck mendengarkan dengan seksama, wajahnya menunjukkan simpati yang sebagian besar tulus, meski di dalam kepalanya ia juga mencatat setiap detail sebagai peta baru untuk memahami cara mengendalikan Jeno lebih dalam lagi.
"Terus kamu?" tanyanya pelan, mengalihkan perhatian pada Jaemin. "Gimana ceritanya kamu bisa sampai di sini?"
Jaemin terdiam cukup lama, matanya menerawang ke arah dinding sel yang kotor.
"Cerita gue gak sedramatis kayak punya Jeno sih," jawabnya akhirnya, nada suaranya berubah datar. "Gue emang dari lahir udah suka liat orang kesakitan. Gak ada trauma spesial, gak ada alasan bagus. Gue emang begini dari sananya."
Donghyuck menahan napas sejenak mendengar pengakuan itu, sebuah kejujuran mentah yang jarang sekali keluar dari mulut Jaemin. Ia memilih untuk tidak menghakimi, hanya mengangguk pelan sambil menatap mata Jaemin lekat-lekat.
"Tapi kamu gak pernah nyakitin aku," ucapnya lembut, sengaja memilih kalimat yang akan menempel lama di kepala Jaemin.
Sesuatu berkedip aneh di mata Jaemin mendengar kalimat itu, sebuah kilat yang jarang muncul di wajahnya yang biasanya begitu terkontrol. "Iya," jawabnya pelan, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri. "Dan gue juga gak ngerti kenapa."
•••
Bulan demi bulan berikutnya, Donghyuck menyaksikan sendiri bagaimana kedua pria yang dulu ia takuti setengah mati perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit di hadapannya. Jeno menjadi lebih sering tersenyum, tawanya yang dulu jarang terdengar kini punya nada yang lebih ringan setiap kali Donghyuck melempar gurauan kecil di meja makan. Jaemin, yang selalu terkontrol dan penuh permainan, sama seperti dirinya, mulai sesekali membiarkan Donghyuck melihat sisi lain darinya, momen-momen singkat ketenangan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, sisi kejujuran yang selama ini selalu ia sembunyikan.
Meski begitu, sesekali rasa merinding masih muncul ketika mengingat betapa posesifnya kedua pria itu terhadap dirinya. Namun Donghyuck rasa dia sudah belajar cara mengendalikan situasi semacam itu, memastikan amarah mereka tidak pernah benar-benar meledak menjadi sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.
Donghyuck mulai berpikir bahwa dirinya sudah berhasil sepenuhnya. Dua narapidana paling ditakuti di penjara ini kini menjadi miliknya, tunduk pada setiap keinginannya tanpa mereka sadari. Ia tersenyum kecil setiap kali memikirkan hal itu, sebuah kepuasan diam-diam yang tidak pernah ia bagikan kepada siapa pun.
Suatu hari, seorang narapidana baru yang belum mengenal aturan tidak sengaja duduk terlalu dekat dengan Donghyuck di ruang makan. Sebelum orang itu sempat menyadari kesalahannya, Jeno sudah berdiri di belakangnya, tangannya mencengkram kerah baju pria itu dengan kasar.
"Pindah," ucap Jeno dingin, suaranya rendah namun cukup untuk membuat seisi lapangan hening seketika. Pria baru itu buru-buru bangkit dan pergi tanpa berani menoleh lagi, wajahnya pucat pasi.
Donghyuck menatap kejadian itu dengan tenang, tidak lagi merasa terkejut seperti dulu. Ia justru menepuk kursi kosong di sebelahnya, mengundang Jeno untuk duduk dengan senyum manis di wajahnya.
"Makasih ya," ucapnya lembut, sengaja membuat Jeno merasa seperti pahlawan alih-alih monster. Amarah pria itu mereda seketika, digantikan rasa bangga yang jelas terlihat dari caranya duduk lebih tegak di sebelah Donghyuck.
Donghyuck tahu betul apa yang sedang ia lakukan. Setiap kali kecemburuan mereka meledak, ia tidak pernah menegur atau melawan secara langsung. Sebaliknya, ia selalu mengarahkan amarah itu menjadi rasa bangga, membuat kedua pria itu merasa perilaku posesif mereka adalah bentuk cinta yang dihargai, bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Kekhawatiran pertama muncul saat Donghyuck sedang kembali ke selnya. Meskipun pada praktiknya Donghyuck selalu tidur di sel Jeno dan Jaemin, namun secara administratif dia masih memiliki selnya sendiri. Maka, terkadang dia perlu kembali ke sel asalnya. Seperti saat pengecekan besar-besaran.
Teman satu sel Donghyuck tidak pernah benar-benar menjadi “teman” Donghyuck. Ia tidak peduli dengan Donghyuck dan Donghyuck tidak peduli dengan siapapun yang tidak menguntungkannya dan di penjara ini hanya Jeno dan Jaemin yang menguntungkannya. Namun karena mereka di satu sel yang sama, tentu terkadang mereka berbicara dengan satu sama lain. Sayangnya, dari seluruh waktu-waktu yang jarang terjadi itu, hari ini terjadi di bawah pengawasan Jeno.
"Kenapa lo deket-deket sama punya gue?" tanya Jeno dingin, suaranya penuh ancaman terselubung.
“Gak ada, Jen. Gue cuma nanyain barang gue aja.” Suara teman sel Donghyuck sudah agak bergetar karena gerak-gerik Jeno yang agresif.
“Donghyuck gak pernah ada di sel ini. Dia gatau tentang barang lo.” Jeno berkata dengan dingin.
Teman sel Donghyuck langsung pucat dan buru-buru berpamitan setelah mengatakan maaf, meninggalkan sel itu tanpa berani menoleh lagi.
Setelah Jeno membawa Donghyuck kembali ke selnya dan Jaemin, Donghyuck mencoba membahas kejadian tersebut dengan hati-hati. Ia duduk di pangkuan Jeno, jarinya bermain dengan kerah baju pria itu sambil mencari kata-kata yang tepat.
“Jeno," ucapnya pelan. "Jangan marah dong. Aku kan gak ngapa-ngapain sama dia."
"Gue gak suka orang lain deket-deket sama lo," jawab Jeno tegas, tangannya melingkar posesif di pinggang Donghyuck.
Donghyuck menghela napas pelan, memutuskan untuk tidak memperdebatkan hal itu lebih jauh. Ia tahu betul kapan harus mundur dan kapan harus mendesak, sebuah keahlian yang sudah lama ia asah sejak sebelum masuk penjara. Sebagai gantinya, ia mengalihkan perhatian Jeno dengan cara lain, membuat pria itu melupakan topik pembicaraan sepenuhnya.
Namun di sudut ruangan, Jaemin mengamati semuanya dalam diam, matanya penuh perhitungan. Ia tahu betul bagaimana cara Donghyuck mengalihkan perhatian Jeno, dan diam-diam ia mengagumi kepiawaian itu, meski juga menyadari bahwa dirinya sendiri sepenuhnya berhasil dikelabui dengan cara yang sama.
“Apa kita bunuh aja ya dia, Jen?” Jaemin tiba-tiba berkata.
Donghyuck dan Jeno menoleh ke arahnya dengan kaget. Siapa yang tidak kaget mendengar kalimat seperti itu.
“Kalau emang menurut lo dia ganggu,” Jaemin mengangkat bahunya santai, “ya kita singkirin aja.”
Donghyuck langsung membelalakan matanya. Ia menoleh ke Jeno, berharap Jeno bisa menyanggah ucapan Jaemin namun yang ia temukan malah Jeno yang benar-benar sedang berpikir. Seakan-akan saran Jaemin bisa saja ia setujui.
“Liat dulu nanti deh. Kalau emang masih ganggu baru kita beresin.”
“Hah…” Donghyuck akhirnya tidak tahan untuk merespon kegilaan itu, “kalian bercanda ya?”
Jaemin tersenyum miring kepadanya. “Sini, cantik.” Ujarnya sambil menepuk pahanya
Jeno langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan Donghyuck bergerak ke arah Jaemin. Tentunya dengan tepukan pelan di pantat Donghyuck saat laki-laki itu merangkak keluar dari pangkuannya.
Jaemin menyambut Donghyuck dengan kedua tangan terbuka dan langsung membawanya ke dalam ciuman panas setelah Donghyuck mendudukan diri di pangkuannya.
“Aku lagi pengen nih, Donghyuck.” Ucapnya saat ciuman mereka terlepas, “puasin aku sama Jeno ya?”
Tanpa memberi kesempatan Donghyuck untuk menjawab atau mengembalikan fokus ke percakapan awal mereka, Jaemin kembali mencium Donghyuk dengan dalam. Jeno pun sudah bergabung di kasur Jaemin sembari membuka bajunya sendiri. Percakapan itu terlupakan oleh Donghyuck, namun tidak oleh Jaemin. Donghyuck bukan satu-satunya orang yang pawai dalam mengalihkan perhatian di sini.
•••
Sampai suatu malam, ketika Donghyuck sedang tertidur di antara mereka berdua, Jeno berbisik pelan pada Jaemin yang masih terjaga. "Lo pernah kepikiran gak, gimana kalau dia keluar duluan dari kita?"
Jaemin terdiam sejenak, matanya menatap langit-langit sel dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Hukuman kita seumur hidup, Jen," jawabnya pelan. "Dia pasti keluar duluan daripada kita.
"Gue gak mau kehilangan Donghyuck, Jaem," lanjut Jeno, suaranya semakin pelan seolah takut membangunkan Donghyuck yang tertidur di antara mereka. "Hukuman dia kan gak seberat kita."
Jaemin tidak menjawab untuk beberapa saat, hanya menatap wajah damai Donghyuck yang tertidur pulas di antara mereka. Sesuatu yang gelap dan posesif mulai tumbuh di dalam dadanya, sebuah pikiran yang belum ia utarakan bahkan pada Jeno sekalipun.
“Gue gak akan biarin kita kehilangan dia kok.”
Donghyuck, tanpa sepengetahuan keduanya, sebenarnya mendengar sebagian percakapan itu meski berpura-pura tertidur. Jantungnya berdebar kencang mendengar nada suara Jaemin yang berubah, sesuatu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Ia menyimpan kekhawatiran itu dalam hati, memutuskan untuk tidak membahasnya di keesokan hari, atau kapan pun.
Suatu sore, seorang petugas administrasi penjara memanggil nama Donghyuck melalui pengeras suara, memintanya datang ke kantor untuk keperluan administratif. Donghyuck berjalan dengan santai, tidak menyangka apa pun yang istimewa akan terjadi. Namun begitu sampai di kantor, petugas itu menyerahkan selembar kertas dengan senyum ramah.
"Sisa hukuman kamu tinggal satu tahun lagi," ucap petugas itu sambil menunjuk kalender di kertas tersebut. "Kalau kelakuan baik terus, mungkin bisa lebih cepat lagi."
Donghyuck menerima kertas itu dengan tangan gemetar, hatinya dipenuhi rasa lega yang luar biasa. Setelah satu tahun terjebak di tempat terkutuk ini, ia benar-benar bisa membayangkan kehidupan di luar sana, jauh dari bau besi dan tembok kotor yang selama ini menjadi rumahnya. Ia berjalan kembali menuju blok dengan langkah yang jauh lebih ringan dari biasanya.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama begitu ia tau bahwa kabar itu, entah dari mana, telah sampai kepada Jeno dan Jaemin malam harinya. Keduanya terdiam mendengar kabar tersebut, ekspresi wajah mereka berubah drastis dari yang biasanya penuh kehangatan menjadi dingin dan tertutup lagi.
"Satu tahun lagi," ulang Jeno pelan, suaranya datar namun matanya menyimpan sesuatu yang gelap. Ia menatap Donghyuck lama sekali, seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya. "Terus lo bakal ninggalin kita?"
Donghyuck terkejut mendengar pertanyaan itu, tidak menyangka reaksi mereka akan seperti ini.
"Hukuman aku kan emang dua tahun," jawabnya hati-hati, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
"Aku kan bukan penjahat kelas kakap kayak kalian." Donghyuck berusaha mengalihkan perhatian keduanya dengan candaan seperti biasa, namun hari ini tidak berhasil.
Jaemin yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, nadanya tenang namun ada sesuatu yang mengerikan tersembunyi di baliknya. "Kita udah nunggu lama banget buat dapetin orang kayak lo di hidup kita," ucapnya pelan, matanya menatap Donghyuck lekat-lekat.
"Lo pikir kita bakal biarin lo pergi begitu aja?"
Donghyuck merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar nada suara itu. Ia sudah terbiasa dengan sisi posesif keduanya, namun kali ini terasa berbeda, lebih dalam dan lebih berbahaya dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, ia merasakan ketakutan yang sama seperti malam pertama ia masuk sel mereka.
"Ya mau gimana lagi. Bukan aku juga yang mau kan," ucap Donghyuck, berusaha menenangkan situasi meski suaranya sendiri tidak sepenuhnya yakin. "Aku tetep bakal balik ke sini kok, buat jenguk kalian."
"Jenguk?" potong Jaemin, tawanya keluar pelan namun terdengar dingin. "Lo pikir jenguk sebulan sekali bakal cukup buat kita?"
Ia bangkit dari duduknya, melangkah mendekat ke arah Donghyuck dengan gerakan yang tenang namun penuh perhitungan. Jarinya terangkat, mengusap pipi Donghyuck dengan lembut, kontras dengan ekspresi matanya yang dingin dan penuh niat tersembunyi.
"Donghyuck sayang, lo adalah orang paling berharga buat gue dan Jeno," lanjutnya pelan. “Lo sendiri kan yang mastiin kita berdua jatuh cinta sama lo setahun ini?”
Donghyuck menatap Jaemin dengan mata membelalak, tubuhnya membeku di tempat. Ia mencoba mencari kata-kata untuk membantah, namun tidak ada satu pun yang berhasil keluar dari mulutnya. Di belakang Jaemin, Jeno berdiri diam dengan rahang mengeras, tatapannya penuh konflik antara cinta dan keputusasaan.
"Gue gak akan biarin apa yang kita punya hilang cuma karena hukuman lo lebih ringan dari kita."
Jaemin tersenyum tipis, senyum yang sama dengan yang pertama kali Donghyuck lihat malam ketika ia menolak mereka berdua di sel ini. Senyum itu masih semenakutkan dulu, bahkan mungkin lebih.
Besoknya, Donghyuck mulai memperhatikan kebiasaan baru dari Jaemin. Setiap malam sebelum tidur, pria itu diam-diam menggores satu garis kecil di dinding sel dekat ranjangnya, sebuah tanda yang awalnya tidak Donghyuck pahami maksudnya. Suatu malam, penasaran yang sudah lama terpendam akhirnya membuatnya bertanya.
"Itu apaan sih, Jaem?" tanya Donghyuck sambil menunjuk deretan garis kecil yang sudah memenuhi sebagian dinding.
Jaemin tersenyum sejenak sebelum menjawab, "Itung-itungan," jawabnya santai. "Berapa hari lagi sisa hukuman lo di sini."
Donghyuck terkejut mendengar jawaban itu, jantungnya berdebar dengan perasaan yang campur aduk antara terharu dan sedikit ngeri.
"Biar gue tau berapa lama lagi gue punya lo," lanjut Jaemin dengan jujur, matanya menatap dinding penuh goresan itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Dan berapa lama lagi waktu gue buat mikirin cara biar lo gak usah pergi."
Donghyuck sampai sekarang terkadang masih sulit membedakan kapan Jaemin bercanda atau serius, contohnya seperti saat ini. Maka, dia memilih untuk tertawa kecil, berpura-pura menganggapnya lelucon semata, meski jauh di dalam hatinya sebuah alarm kecil mulai berbunyi, sesuatu yang sudah lama ia abaikan demi rasa aman yang ia nikmati selama ini.
"Kalau lo keluar nanti, lo mau ngapain?" tanya Jeno suatu malam,
Donghyuck menjawab dengan hati-hati, memilih untuk tidak terdengar terlalu antusias membicarakan kehidupan di luar sana, khawatir hal itu akan memicu sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Gak tau juga," jawab Donghyuck sambil mengangkat bahu, berusaha terdengar acuh tak acuh. "Mungkin cari kerjaan biasa aja. Hidup tenang."
Bohong. Dia tentu akan kembali ke pekerjaan awalnya.
"Lo bisa hidup tenang tanpa kita?" tanya Jeno lagi, kali ini nada suaranya sedikit berubah, lebih tajam dari sebelumnya.
Donghyuck menyadari jebakan dalam pertanyaan itu dan buru-buru memperbaiki jawabannya, tangannya terulur menggenggam tangan Jaemin dengan lembut.
"Bukan gitu maksud aku," ucapnya cepat, suaranya dibuat selembut mungkin. "Aku cuma belum kepikiran jauh-jauh."
Jawaban itu tampaknya cukup untuk menenangkan Jeno, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya hilang.
Donghyuck belajar sejak kejadian itu untuk selalu berhati-hati setiap kali topik pembicaraan mengarah pada masa depan, memastikan dirinya tidak pernah terdengar terlalu bersemangat membicarakan kehidupan tanpa kehadiran mereka berdua.
•••
Menjelang bulan keenam menuju kebebasannya, sebuah insiden kecil hampir merusak keseimbangan yang selama ini berhasil dijaga Donghyuck dengan susah payah. Seorang narapidana lama yang cukup disegani, yang selama ini menjaga jarak dari urusan Jeno dan Jaemin, dengan sengaja memuji kecantikan Donghyuck terlalu keras di depan umum saat antrean makan siang.
“Mantep banget deh emang,” Ucapnya keras sambil bersiul saat menatap Donghyuck di ruang makan, “kalau udah bosen nanti kasih gue ya, Jen.”
Jeno langsung melangkah maju dengan wajah merah padam menahan amarah. Tanpa basa-basi ia sempat melayangkan pukulan pertama, kedua, ketiga, entah sampai berapa kali, yang Donghyuck ketahui, laki-laki itu membuat lawannya sampai pingsan dan penuh darah. Saat Donghyuck menyadari bahwa Jeno masih belum mau berhenti sementara lawannya sudah ada di ambang kematian dan Jaemin hanya menonton sambil menyeringai puas, maka ia memutuskan untuk maju dan mengentukan pukulan Jeno.
"Jen, udahlah," bisik Donghyuck cepat, matanya menatap lurus ke mata Jeno yang masih menyala penuh amarah. "Aku gak mau kamu masuk sel isolasi lagi cuma gara-gara hal kecil kayak gini."
Jeno menatap Donghyuck lama sekali, dadanya masih naik turun menahan emosi yang membara. Perlahan, kepalan tangannya mengendur, tubuhnya sedikit demi sedikit rileks di bawah sentuhan tangan Donghyuck yang masih menahan lengannya.
"Oke," gumamnya akhirnya, mundur beberapa langkah meski matanya masih melirik tajam ke arah pria yang tadi memuji miliknya, “karena gue gamau tidur gak sama lo.”
Donghyuck menghela napas lega, namun kelegaan itu tidak bertahan lama begitu ia menyadari Jaemin yang sudah berdiri di dekat mereka, mengamati seluruh kejadian dengan tatapan penuh perhitungan.
"Hebat banget sih," ucap Jaemin pelan, hanya untuk didengar Donghyuck seorang. "Sekarang lo bisa nenangin Jeno cuma pakai satu kalimat. Gue jadi mikir, lo latihan di mana buat jago kayak gini?"
Pertanyaan itu meluncur ringan, namun Donghyuck bisa merasakan sesuatu yang tajam tersembunyi di baliknya. Ia tersenyum tipis, berusaha membuat jawabannya terdengar sewajar mungkin.
"Aku cuma sayang sama kalian," jawabnya pelan. "Makanya aku gak mau kalian kenapa-napa."
Jaemin menatapnya lama, seolah sedang mempertimbangkan apakah akan mempercayai jawaban itu sepenuhnya atau tidak. Pada akhirnya ia hanya mengangguk pelan sambil meraih Donghyuck ke pelukannya, meski sorot matanya tetap menyimpan kewaspadaan yang tidak sepenuhnya hilang. Sebuah pengingat bahwa dari ketiga orang di sel itu, Jaemin tetap menjadi yang paling sulit untuk benar-benar dikendalikan sepenuhnya.
•••
Suatu malam yang tenang, ketika ketiganya duduk berdesakan di ranjang sempit sambil berbagi sebungkus makanan ringan hasil selundupan, Jeno tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya.
"Gue sayang sama lo," ucapnya pelan, matanya menghindari tatapan Donghyuck seolah malu dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri. "Bukan cuma nafsu kayak dulu. Beneran sayang."
Donghyuck menatap wajah Jeno yang terlihat begitu jujur dan telanjang, tanpa topeng kegarangan yang biasa ia tunjukkan pada dunia luar. Sesuatu di dalam dada Donghyuck terasa aneh mendengar pengakuan itu, sebuah perasaan yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri.
"Aku juga," jawabnya pelan
Untuk sesaat ia tidak yakin apakah kalimat itu murni bagian dari sandiwara yang selama ini ia mainkan atau sesuatu yang mulai terasa nyata tanpa ia sadari.
Jaemin, yang duduk di sisi lain, hanya mengamati momen itu dalam diam, namun tangannya perlahan terulur untuk menggenggam tangan Donghyuck yang bebas.
"Kita berdua," ucap Jaemin pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya, "gak akan pernah biarin ada yang ngerebut lo dari kita. Lo harus tau itu."
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang terdengar seperti janji cinta, namun juga menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap di baliknya, sebuah kebenaran yang baru akan sepenuhnya terungkap beberapa bulan kemudian. Donghyuck hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jaemin.
"Kita bikin kamu bunuh orang aja ya, Cantik," ucap Jaemin pelan, suaranya lembut seolah sedang membicarakan hal biasa. "Biar hukuman kamu nambah."
Donghyuck merasakan darahnya seolah membeku mendengar kalimat itu. Ia menggeleng lemah, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Jaemin, maksudnya gimana…"
"Kalau kamu gak berani," lanjut Jaemin, memotong ucapan Donghyuck tanpa peduli, "biar Jeno yang lakuin. Aku yang atur semuanya biar keliatan kayak kamu yang ngelakuin. Gampang kok."
Donghyuck menatap kedua pria di depannya bergantian, mencari secercah keraguan atau bercanda di wajah mereka. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan mengerikan dari Jaemin dan tatapan berat penuh keyakinan dari Jeno, dua ekspresi yang sama-sama meyakinkannya bahwa ucapan itu bukan sekadar ancaman kosong.
Di luar sel, lampu koridor berkedip pelan, dan suara langkah penjaga malam terdengar semakin menjauh. Donghyuck duduk di antara dua orang yang selama ini ia kira sudah berhasil ia kendalikan sepenuhnya, kini menyadari betapa rapuhnya kendali itu sebenarnya.
Dia terjebak oleh permainannya sendiri. Semahir itu dia melakukan perannya sampai tanpa sengaja membuat dua kriminal ini jatuh cinta kepadanya. Terobsesi sampai di titik mereka tidak mau melepaskannya. Ia tidak tahu lagi apakah masih ada jalan keluar dari sangkar yang telah ia bangun sendiri.
