Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-07-31
Words:
1,204
Chapters:
1/1
Kudos:
7
Hits:
64

Sampai Jumpa

Summary:

"Ini merupakan suatu masalah yang membutuhkan solusi cepat," Gertrude menggumam pelan seraya menaruh secangkir teh yang baru saja diseduhnya. "Oleh sebab itu Eli, kurasa kamu butuh sugar daddy."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Ini merupakan suatu masalah yang membutuhkan solusi cepat," Gertrude menggumam pelan seraya menaruh secangkir teh yang baru saja diseduhnya. "Oleh sebab itu Eli, kurasa kamu butuh sugar daddy."

Eli Clark tersedak dan mulai terbatuk-batuk. Burung hantu yang semula bertengger di bahunya pun terbang dengan cemas. Gertrude memindahkan posisi duduknya agar gadis itu bisa menepuk-nepuk punggung Eli beberapa kali.

"Aku hanya bercanda," Gertrude tertawa ramah, dia memandangi temannya dengan sinar jenaka di matanya. "Aku tak bisa membayangkan Eli menjadi sugar baby, kamu sangat kalem dan pemalu. Yah walau pastinya ada saja sugar daddy yang menyukai tipe sepertimu."

"A-ah, aku baru tahu selera humormu seperti ini, haha..." Eli tertawa ragu, warna mukanya masih memerah akibat tersedak dan sedikit merasa malu akibat candaan temannya.

"Doakan saja, semoga nasibku di kota akan jauh lebih baik." Brooke Rose mendarat di pangkuan Eli, sang majikan spontan mengelus puncak kepalanya dengan sayang. "Aku kemari hanya ingin pamit, sore ini juga aku akan berangkat ke kota. Kuharap kekuatan ramalanku akan jauh lebih berguna saat di sana."

Gertrude tersenyum sedih, kadang ia bertanya-tanya apakah Eli pernah berharap agar tidak terlahir dengan kekuatan supranatural. Karena meskipun Eli dikucilkan warga desa, ia tak pernah sekali pun nampak mengeluh. Dia menerima semua perlakuan itu dengan tabah, tak ada dendam sedikit pun pada mereka semua.

"Mereka tidak benar-benar membenciku," suatu saat pemuda bertudung biru itu mengatakannya. "Manusia akan takut dengan kekuatan yang berada diluar kendali mereka, itu hal yang wajar. Kalau aku di posisi mereka, mungkin aku juga akan bereaksi serupa." Saat itu Gertrude tengah memerban dahi Eli yang berdarah akibat lemparan batu dari salah satu warga desa.

Pemuda malang itu berpapasan dengan warga yang habis berburu saat ia memunguti ranting pepohonan di hutan. Lemparan batu yang sangat tiba-tiba itu membuatnya tak sempat menghindar. Mau tak mau Eli berlari kembali ke rumah yang berupa gubuk di lembah gunung, tempat dimana para warga desa mengucilkannya.

Eli sama sekali tidak pantas mendapatkan perlakuan tak adil seperti ini. Mengucilkannya sedemikian rupa, hingga membuatnya tinggal jauh dari desa.

"Maaf aku tak bisa membantumu, aku tak punya uang sebanyak itu..." Meskipun dia tak pernah meminta bantuannya, tapi gadis itu selalu berusaha untuk meringankan beban Eli.

Mulai dari hal kecil seperti meminjamkan selimut tambahan saat musim dingin, menyelipkan sebotol susu segar setiap pagi di depan pintu, merawatnya saat sakit, dan hal lain yang nampak remeh namun sangat berarti bagi Eli.

"Padahal kepala desa bukan pemilik lahan, tapi berani sekali dia tiba-tiba menagih sewa bayaran yang begitu besar padamu! Ini tidak adil, aku tak mengerti kenapa dia begitu membencimu. Ini sama saja dengan dia mengusirmu secara tak langsung...."

Eli hanya tersenyum simpul, "sepertinya memang begitu, tapi kalau aku bisa membayarnya maka dia akan berhenti menggangguku."

"Kau tak perlu membayarnya, carilah tempat tinggal yang baru. Kalau kau melakukannya, aku akan ikut denganmu." Gertrude meraih telapak tangannya, menggandeng pemuda itu dengan erat seolah-olah dia akan menariknya ke suatu tempat.

"Jangan begitu, ini adalah kampung halamanmu. Mungkin tidak terlihat, tapi jujur saja, aku pun betah tinggal di sini." Eli memandangi kedua telapak tangan mereka yang saling bertautan.

"Aku sangat berterimakasih atas bantuanmu selama ini, Gertrude." Brooke Rose kembali hinggap di pundaknya saat Eli meraih barang bawaan yang dia bungkus dengan kain cokelat. "Aku harus segera pergi ke stasiun, kereta terakhir ke kota akan segera tiba."

Gadis itu nampak enggan berpisah dengan Eli, mungkin dia bukan seorang peramal seperti pemuda di depannya, tapi Gertrude memiliki feeling yang buruk.

"Tunggu, aku ingin kamu membawa ini." Melepas cincin perak yang melingkari jari manisnya, Gertrude memberikan benda itu pada Eli. "Ini benda keberuntunganku, aku rasa kamu akan jauh lebih membutuhkan."

Angin dingin di musim kemarau kembali menerpa jendela ruang tamu sang gadis. Bunyi gemerisik dedaunan kering yang berterbangan ikut meramaikan suasana sore itu. Eli Clark memandangi cincin polos dengan pahatan nama Gertrude di sisi dalamnya secara seksama. Apa maksudnya ini?

"Ini hadiah dari mendiang ayahmu, bagaimana mungkin bisa aku membawanya bersamaku?" Tapi gadis berambut cokelat itu adalah seseorang yang keras kepala. Sekali dia memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa merubah keputusannya.

"Percayalah Eli, aku serius. Aku hanya... kau tahu... firasatku tentang surat undangan itu sangat tidak enak." Diam sejenak, kedua matanya nampak berkilauan akibat air mata yang memaksa jatuh namun masih dapat ditahan. "Kalau terjadi sesuatu yang sangat mendesak, kamu pun boleh menjualnya, setidaknya bisa laku untuk beberapa koin emas. Pokoknya kamu harus terus bertahan hidup."

Eli tertawa pelan, meskipun kedua matanya tertutupi kain biru tua yang berhiaskan simbol aneh, Gertrude bisa membayangkan lengkungan matanya terpejam saat tertawa.

"Aku hanya pergi ke kota yang berjarak dua jam dari sini, bukan pergi berperang." Eli mencoba memberikan cincin itu pada Gertrude, tapi gadis itu masih menolaknya. Eli menghela napas, menyerah. "Aku... Sungguh berterima kasih karena kamu begitu peduli padaku. Kalau dengan membawa cincin ini bisa membuatmu jadi lebih tenang, maka aku akan membawanya."

Gertrude yang senang mendengar pernyataan Eli segera memeluknya dengan erat. Aroma kayu manis selalu mengelilingi pemuda ini, Gertrude yakin dia akan sangat merindukannya. "Sampai kapan pun aku akan menunggumu pulang."

Eli mengangguk, kedua tangannya melingkar di pundak sang gadis, membalas pelukannya. "Aku akan kembali ke desa ini, dan memberikan cincin ini padamu."

"Hei, sudah kubilang kalau cincin itu kamu jual juga tidak apa. Selama kamu bisa kembali dengan selamat itu sudah cukup." Gertrude segera melepas pelukan, karena waktunya telah tiba. Lebih lama lagi dia menahan Eli disini, dia bisa ketinggalan kereta.

"Sampai jumpa kembali."

Perpisahan dengan teman baiknya itu membuat dada Eli terasa hangat. Sekalipun penduduk desa mengucilkannya, dia selalu memiliki satu orang untuk kembali pulang. Selama perjalanan di dalam kereta, Eli menimbang-nimbang cincin itu di kedua telapak tangannya.

"Menurutmu aku harus menyimpannya dimana?" Brooke Rose bersiul rendah sambil menempelkan sisi kepalanya ke telinga kanan Eli yang tertutupi tudung kepala.

"Aku takut menjatuhkannya kalau ku simpan di saku baju." Dengan ragu Eli menyelipkan cincin itu di jari manis tangan kirinya. "Oh, ternyata pas." Dia masih ingat saat Gertrude mengatakan bahwa Eli memiliki jari seorang pianis. Tapi dia tak mengerti apa maksudnya, satu-satunya alat musik yang pernah dia lihat hanyalah seruling yang biasa digunakan warga desa untuk menggembala domba.

"Kalau aku memakainya begini tidak akan hilang dengan mudah, dan kalau pun lepas aku bisa langsung menyadarinya." Brooke Rose kembali bersiul rendah, menyetujui ucapan pemiliknya.

"Tapi ini bisa membuat orang lain salah paham dengan hubungan kita berdua." Kedua pipinya memerah. Jangan salah, Eli memang menyukai gadis itu, tapi membayangkan dirinya dengan Gertrude dalam hubungan yang lebih dari teman....

"Dia lebih pantas bersama lelaki dari kelas bangsawan, yang memiliki pekerjaan mapan, dan tidak tinggal di sebuah gubuk reyot." Mengakuinya memanglah menyakitkan, tapi bagi Eli itu semua adalah kenyataan pahit yang harus dia sadari.

Dia ingin mengubah kenyataan pahit itu. Jika rencananya berhasil maka Eli juga bisa mengubah gubuk reyotnya menjadi sebuah rumah sungguhan. Bisa membeli selimut tebal tanpa harus meminjamnya, bisa membeli susu segar sendiri setiap paginya, bisa memanggil dokter saat jatuh sakit, dan hal lainnya yang selama ini selalu saja merepotkan Gertrude.

Secarik kertas undangan yang terbalut dalam amplop misterius terselip diantara baju yang dia bawa. Sebuah surat yang mengundangnya untuk ikut serta dalam permainan berbahaya demi hadiah uang yang begitu besar. Jika Eli bisa memenangkan game itu maka bukan hanya melunasi "hutang", tapi rencana untuk mengubah kenyataan pahitnya juga akan terwujud.

Semoga kekuatan meramalnya dapat membantu memenangkan permainan itu.

Semoga saja.

Notes:

Halo, makasih yang sudah baca sampai akhir. Sebenarnya ini masih ada lanjutannya, tapi karena aku ingin menekankan hubungan pertemanan Eli/Gertrude, jadi aku potong sampai sini. Semoga kalian suka :)