Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2018-05-18
Words:
1,344
Chapters:
1/1
Kudos:
9
Hits:
115

Meriah

Summary:

Meja makan keluarga Toushirou hari ini ramai. Tentu bukan ramai dalam konotasi yang baik apalagi kalau sampai seorang Hehikiri Hasebe membentak satu keluarga ini dari kejauhan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Selamat makan!”

Suara seluruh toudan menggema dalam aula besar, atau mungkin saja satu kastil ini. Diikuti oleh suara bising dari peralatan makan dan perbincangan tiap toudan yang mulai berdengung layaknya kerumunan lebah.

Dari sudut sana, terdengar suara nyaring Iwatooshi dan yang lagi-lagi menunjukan kehebatannya dalam melahap satu porsi makan malam lengkap. Diiringi oleh suara cempreng Imanotsurugi yang memujinya, dan suara kagum Nagasone, Doudanuki, dan Sohayanotsuruki yang tadi siang meragukan kemampuan terpendam Iwatooshi.

Di sudut yang lain, suara yang meneriaki maling makanan saling sahut menyahut. Kali ini datang dari Shishiou dan Izuminokami. Tentu saja yang mengaku ayah dari semua pedang, tak lain dan tak bukan adalah Kogarasumaru, yang ada langsung datang menengahi, diikuti oleh Heshikiri Hasebe yang membentak dari jauh dengan alasan makhluk-makhluk itu mengganggu ketenangan makan tuan yang bersama dengan mereka.

Ichigo Hitofuri dengan tenang mulai menyuap nasi. Seharian ini ia dikirim pergi ke medan perang oleh majikannya. Akhir-akhir ini ia dapat menghitung dengan jari berapa kali perintah semacam itu diberikan padanya, makanya kali ini ia menyambutnya dengan senang hati.

Tetapi alangkah kagetnya ketika ia mengetahui bahwa ia tidak bersama adik-adiknya dalam misi hari ini. Ia akan bersama para uchigatana, tachi dan wakizashi menuju Sunomata. Dirinya memang datang terlambat, tapi untuk sebilah tachi, tidak butuh waktu lama hingga ia dapat mengejar bahkan memiliki kemampuan lebih tinggi daripada seluruh adiknya bahkan yang terkuat sekalipun.

 Nasi hari ini juga enak, gumamnya. Di kunyahan berikutnya, suara meja yang dihentak terdengar di telinganya.

“Kak Ichi, dengar aku!” wajah Shinano yang biasanya menampilkan senyuman, kali ini berkerut satu sama lain. Jelas sekali kali ini ia akan mengutarakan uneg-unegnya. Tapi, apapun yang menjadi kegelisahannya, itu bukan alasan bagi seorang Toushirou untuk menghentakan meja ditengah acara makan seperti ini.

“Shinano, tolong simpan itu setelah makan nanti,” sahut Ichigo dengan tenang.”

“Tidak bisa! Mumpung disini semuanya saksi, aku akan membuktikan pada dia—“ ujung sumpit mengilap yang berwarna biru tua diarahkan kepada bocah berjas laboratorium putih kumal, “—itu salah!”

“Hah? Semuanya salahmu, iya kan, Atsu? Kalau dia lebih hati-hati dengan barang kepunyaannya, pasti hal semacam ini nggak akan terjadi,” Yagen membalas ketus. Bocah ini tidak mau menambah masalah yang sering terjadi ditengah jam makan bersama, tapi memangnya siapa yang sudi difitnah saudara sendiri?

“Shinano. Yagen. Simpan itu nanti.”

“Tapi, sarung tanganku, kak Ichi! Dan besok malam aku ditugaskan ke Jembatan Sanjo!”

“Kak Ichi lihat aku tidak pakai kacamata, kan? Dia yang—“

“TANTOU TOUSHIROU, TOLONG JANGAN TINGGIKAN SUARA KALIAN!”

Heshikiri Hasebe, pedang yang punya kemampuan multitasking menghabiskan makanan sambil memarahi semua—iya, semua, toudan yang berani berisik diatas batasnya, menegur deretan meja Toushirou. Ini menyebabkan hampir semua anggota Toushirou, sekalipun setenang Ichigo dan seribut Midare langsung diam.

Gokotai dan Akita hampir saja menangis, sementara Hakata dan Houchou hanya begidik ketakutan. Sisanya tidak menampilkan ekspresi kaget atau semacamnya, hanya saja mereka sadar ancaman Heshikiri Hasebe itu semakin nyata.

Menit-menit selanjutnya dihabiskan dalam diam—tepatnya dibawah tekanan ketakutan akan amarah Heshikiri Hasebe. Sesekali ada pintaan untuk mengoper shoyu dari Nakigitsune ke Namazuo.

“Tapi, aku tidak salah, Kak Ichi...”

“Memangnya ada yang mau disalahkan, apa? Aku juga tidak mau, tahu.”

Tiga perempat nasi dan lauk milik pangeran kelopak 4 sudah habis dan duo ini kembali mengangkat tema yang sama. Sepertinya tidak ada jalan lain selain menyelesaikannya disini. Ichigo Hitofuri sedikit menyesali keputusannya untuk menggunakan waktu makan untuk menjadi hakim.

“Bisa kalian ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Siapapun boleh angkat suara, dengan catatan sopan dan tidak meninggikan suara.”

“Aku, Kak Ichi,” Houchou mengumpulkan keberaniannya dan mengangkat tangan. “Hari ini, aku dapat bagian piket mengurus ladang bersama kak Yagen. Kak Shinano dan kak Atsushi mendapat bagian untuk mengurus kandang kuda. Kita ganti baju disaat yang bersamaan dan... dari situ dimulainya.”

Jujur saja, ucapan anak-anak yang tidak jelas membuat masalah tambah rumit, tapi hanya dengan ini ia bisa menyelesaikan masalahnya. Ichigo melontarkan pertanyaan, “lalu, apa yang terjadi?”

“Disitu yang aku tidak mengertinya. Kak Shinano mempermasalahkan soal sarung tangannya, tapi bagiku, yang kak Yagen pakai tadi siang itu memang sarung tangannya, kok. Ukurannya saja pas dengannya.”

“Kalau seperti itu, tangannya Gotou juga bisa pas dengan tanganku, dong,” Shinano langsung menyerang balik. “Dia menggunakan sarung tangan yang biasa kupakai untuk ke medan perang, Kak Ichi!”

“Kata siapa? Itu punyaku, tahu.”

“Jenderal memberikannya kepadaku satu setengah bulan yang lalu karena aku berhasil mengalahkan Kak Yamanbagiri di sparring. Itu jelas-jelas punyaku!”

“Enak saja. Aku beli ini dengan uang yang kutabung, tahu.”

“Tidak. Aku dan Gokotai melihat dengan jelas kalau dia mengambilnya dari atas bajuku yang sudah kulipat kemarin.”

Gokotai langsung tergagap ketika mendengar namanya ikut terseret dalam kasus ini. “A-aku...,” hanya suara kecil terbata-bata yang keluar. Pandangan seluruh Toushirou baik yang benar-benar penasaran maupun yang sekedar ingin tahu, langsung mengarah kepadanya dan itu membuatnya makin menyembunyikan wajahnya.

“Ma-maafkan aku... hiks...”  Midare yang berada disamping Gokotai langsung memeluk bocah bersurai putih tersebut. Ichigo menghela napas lega. Setidaknya adiknya masih ada yang waras.

Kenapa seminggu sekali ada saja yang begini, Ichigo mengeluh dalam hatinya. “Shinano, ingat apa yang kukatakan di hari pertamamu ada disini?”

“Jangan mengganggu sesama Toushirou.”

“Bagus. Jadilah seperti Yagen. Kacamatanya hilang, tapi dia menahan dirinya untuk membicarakannya sekarang.” Dalam situasi rumit semacam ini, Ichigo Hitofuri sudah tidak mempunyai bahan cermah selain membandingkan adiknya antara yang satu dengan yang lain. Jujur saja ia agak menyesal harus memilih cara seperti ini.

Suara perbincangan yang menyelimuti aula makin lama digantikan oleh suara peralatan makan yang ditumpuk dan teriakan koordinasi dari para kurir yang mendapat piket membersihkan kastil, membawanya ke dapur. Ichigo Hitofuri kini bisa bernapas lega. Canggung disaat makan bersama setidaknya lebih baik daripada mendapat omelan dari Heshikiri Hasebe. Kali ini, Shishiou, Izuminokami, dan Horikawa—Ichigo agak kaget melihat Horikawa yang penurut dan masuk kriteria anak baik ada disana, mendapat ceramahan panjang dari Hasebe. Padahal, kalau dilihat-lihat, majikannya tampak tidak setuju dengan ceramah itu dan mencoba menariknya, dan tentu saja ia gagal.

Kedua matanya kembali ia lontarkan ke arah mejanya. Nakigitsune sedang menumpuk semua piring kotor mereka sekeluarga. Rubah di pundaknya berulang kali mengatakan, “berikan mangkuk dan piring pada Nakigitsune! Yang belum selesai makan, jangan terburu-buru. Kami akan menunggu kalian.”

Houchou menumpuk mangkuk nasinya dengan mangkuk Midare yang duduk tepat di sampingnya. Honebami, yang biasanya membiarkan Namazuo membawa mangkuknya, kali ini malah menolaknya. “Namazuo habis memegang benda favoritnya, dan aku tidak mau mangkukku dikotori tangannya,” kilahnya. Sontak saja itu langsung membuat Gotou yang sedang melahap nasi dan lauk terakhirnya langsung menunjukan tanda-tanda mual.

Canggung dari awal hingga akhir seperti ini baginya lebih baik dibandingkan ribut-ribut, itu prinsip kakak tertua Awataguchi. Satu makan malam dilewati dengan tenang walaupun sempat ada keributan singkat.

Tapi semuanya berubah,

 ketika Shinano menghancurkan tumpukan mangkuk tepat pada saat Yagen baru memberikan mangkuknya kepada Nakigitsune.

“DASAR PENCURI SARUNG TANGAN!” Shinano langsung menarik kerah Yagen. Suaranya cukup besar untuk membuat perhatian sebagian besar toudan langsung teralih ke arah meja Toushirou.

Yagen balas menarik syal Shinano. Wajah tenang selama makan malam kini hilang sepenuhnya. “KAU KIRA KACAMATAKU CUMA BUAT SEKEDAR GAYA, HAH?”

“SAUDARA MACAM APA KAU INI?!” Shinano langsung melepas tangan Yagen dari syalnya dan mendorong pundak Yagen sekuat tenaga.

“SEJAK KAPAN AKU MENGANGGAPMU SAUDARA?”

“DASAR NGGAK MODAL!”

“Kak Ichi, kakak lihat bukan? Dia yang paling besar koar-koarnya! Jangan tertipu, dia sedang pura-pura jadi korban biar kakak mengasihani dia!” Yagen langsung mendekati Ichigo yang mendadak migrain, dan menunjuk Shinano.

“Kak Ichi, sampai matipun aku nggak bakal bohong ke kakak. Yagen itu yang justru pura-pura jadi korban. Aku punya banyak saksi mata terpecaya, kok!” langsung saja semua tudingan itu dibantah oleh Shinano. Dengan cepat, ia menarik tangan Atsushi dan Gokotai—yang langsung panik dan hampir menangis untuk yang kedua kalinya. “Kakak tidak mungkin meragukanku, kan?”

“Kak Ichi, kalau soal saksi, aku juga punya. Midare, Houchou, dan kak Honebami. Aku berani bersumpah kalau aku tidak bohong,” Yagen mengambil langkah radikal yang ia harapkan dapat membungkam Shinano. Tapi ia salah.

“Hei! Awataguchi! Kesini kalian!”

Yang barusan menggonggong tak bukan dan tak lain adalah Heshikiri Hasebe. Sekarang, Ichigo Hitofuri yang tengah diserang migrain, ia makin tak punya muka karena adik-adiknya kini tersangkut kasus dan tuannya ada di belakang sosok jahanam itu.

Oh, demi api yang melalap kastil Osaka. Seketika, ia berharap agar hatinya ditabahkan untuk menghadapi cobaan seberat ini.

Notes:

Halo semuanya! Aku kembali hanya untuk mengupload karya yang sudah membusuk di netbookku dan sayang sepertinya kalau tidak dibagikan uwu

Sampai jumpa di upload-an selanjutnya ^^