Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-23
Completed:
2026-06-05
Words:
2,284
Chapters:
2/2
Kudos:
49
Bookmarks:
3
Hits:
1,893

Matahari Yang Perlahan Memudar

Summary:

Benang yang terlilit, apakah bisa dikembalikan selain dengan cara dipotong? Tapi apakah sambungan itu akan tetap sama? Mungkin tidak, karena distorsi takdir telah ikut bermain didalamnya.

Chapter Text

“Selamat Yudis atas kelulusahhhn—“

Belum usai Arjuna berucap, tiba-tiba dia merasa pusing, pandangannya memburam, sampai akhirnya gelap. Ketika Arjuna membuka matanya, dia melihat langit-langit yang familiar, kamar Yudis, kemudian dia menyadari ada yang aneh, kenapa tubuhnya tidak tertutupi sehelai kain pun, tangannya pun terborgol, dia menelisik, mencari sosok sang pemilik kamar, dan menemukan pemuda itu tengah duduk dengan gitar ditangannya.

“Yudis?”

“Oh Juna sudah bangun?”

“Apa maksudnya ini Yudis?”

Yudis menaruh gitarnya, dia berjalan kearah kasur, kemudian menunduk, menatap lekat Arjuna hingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Tidak apa-apa Juna, itung-itung sebagai hadiah kelulusan ku bukan?

Muka Arjuna memerah. Ia mengerti maksud Yudis. “Aduh kepiting rebus ku, belum dimasak juga sudah memerah.” Kekeh Yudis sembari melepas seluruh pakaiannya.

Berdebar jantung Arjuna melihat tubuh indah pacarnya itu. “Suka?” Tanya Yudis.

Arjuna tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya, memangnya siapa yang tidak suka lihat tubuh pacar sendiri. “Padahal kalau Yudis mau, tanpa beginipun aku mau lakuin kok.”

“Masa?” Yudis menaiki kasur, dia mengungkungi Arjuna, memalingkan wajah itu menghadapnya. “Lihatnya ke aku dong.” Senyum nakal Yudis. Ia kemudian mengambil sebuah plastik klip yang tersimpan kapsul didalamnya.

“Apa itu?”

“Kita main sampe pagi ya~”

“Gila kau, ogah.” Arjuna mengatup bibirnya, tapi sia-sia, ketika Yudis tiba-tiba saja mencubit putingnya. Begitu “Awhh.” Keluar dari bibirnya, Yudis memanfaatkan itu.

“Phuehh pahit.”

Yudis mengambil air, menenggukannya kedalam mulut Arjuna. “mana ada obat yang tidak pahit sayang, memang obat lambung?”

Arjuna tertawa ringan.

“Sayang.” Yudis membelai wajah Arjuna. “Sayang ku, Arjuna.”

Arjuna memejamkan matanya, menikmati belaian itu.

“Arjuna, Arjuna, nama yang cantik, secantik pemiliknya, seagung pemiliknya.” Yudis mengecup tahi lalat disudut mata Arjuna. “Atau bisa ku panggil agen Maheswara?”

Mata Arjuna terbuka lebar, terkejut.  “Bagaimana—.”

“Kaget yaaa~.” Yudis mengelus helai putih di rambut Arjuna diiringi senyum nakalnya. “Kamu pikir hanya kamu yang bisa mengulik kehidupan ku selama ini? Oh tentu tidak Arjuna.”

“Yudis, aku bisa jelasin.” Panik Arjuna

“Sssh.”

Yudis menaruh jari dibibir Arjuna. “Tak ada yang perlu dijelasin lagi Juna.”

Arjuna bergidik melihat tatapan dingin Yudis, bibirnya lalu dibungkam dengan kasar, Arjuna berusaha menolak ciuman yang diberikan, Yudis semakin kuat menecengkram rahangnya, dia mengigit sedikit bibir Arjuna hingga si empunya membuka mulutnya sendiri.

“Akhh.” Arjuna tersedak ludahnya. “Shhto...eumhhp.”

Yudis memanfaatkan itu dengan melesakan lidahnya kedalam mulut Arjuna. Yudis mengadu lidah mereka, Arjuna pasrah mulutnya diaduk Yudis, giginya diabsen satu persatu. Sepertinya obat yang diberikan oleh Yudis mulai bereaksi, Ajuna bisa merasakan tubuhnya mulai memanas, merasa sensitif ditiap tepi, khususnya bagian selatannya.

Yudis menyudahi ciuman mereka, dia menjilati bibirnya yang basah sehabis berciuman dengan Arjuna.

“Enak?” Seringainya.

“Enak pala kau!”

“Ouch jangan kasar-kasar sayang, nanti aku balik kasarin loh.” Yudis mengetuk-ngetuk pipinya dengan pose seolah berpikir. “Ah kalau masalah kasar, Agen Maheswara sudah biasa kan? Haha xixi.”

Tangan Yudis meraba puting Arjuna, disambut desahan oleh pemuda dibawahnya itu.

Sial. Baru putingnya saja yang disentuh, aliran kenikmatannya hampir mencapai puncak, matanya pun sudah panas dan basah.

“Yang mana dulu ya~ yang ini atau ini.” Goda Yudis menunjuk puting Arjuna dan menyentil kepala kontolmya yang sudah dibanjiri pre-cum.

“Enghh.” Arjuna sudah kepalang terangsang, sentuhan sedikit saja dia sudah begini, apalagi nanti jika Yudis memasukan batangnya ke dalam dirinya pasti nik— seketika Arjuna menggeleng. Arjuna tahan dirimu, jangan gila. “Annhh.”

Yudis langsung melahap puting Arjuna, dan tangannya yang kosong, dia gunakan tuk mengadu kontol mereka berdua. Arjuna menggelinjang. Ia tahu ini salah, tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa menolak sentuhan yang diberikan Yudis, apalagi dengan tangannya yang terborgol. Ia sama sekali tidak bisa melawan.

“Plisshh. Ahng kittah bicara okhh.”

Yudis tidak menggubris, dia lanjut menjamah tubuh Arjuna. Bibirnya yang semula mengisap puting kanan Arjuna kini berpindah ke puting kiri.

“Ahh ahh aku mau.”

“Sssh nanti ya, kita sama-sama.”

Yudis fokus menggesek kedua kontol mereka. (mulai dari sini saya akan menggunakan bahasa frontal dan non-formal)

Desahan mereka berdua mengisi kamar itu, sampai akhirnya keduanya sama-sama mencapai ejakulasi.

“Bersihin.” Perintah Yudis menyodorkan kontolnya ke mulut Arjuna.

Arjuna menjulurkan lidahnya, Yudis mendorong kontolnya memasuki mulut Arjuna.

“Umhh.”

Dengan lihai Arjuna memainkan lidahnya dalam membersihkan sekaligus memberi blowjob ke kontol Yudis yang kembali mengeras itu, awalnya dia putar lidahnya melingkar, mengulum kontol keras Yudis seperti menjilati lollipop bulat, sedikit-sedikit dia hisap kepala kontohnya Yudis dan menjilati lubang kepalanya.

“Esshh as expected from an agent huh, kakak sudah terbiasa sepertinya.” Yudis menjambak rambut Arjuna, mendorong kontolnya lebih dalam. Arjuna hendak menyangkal, sungguh pengalaman pertama dia justru bersama Yudis, apadaya mulutnya masih tersumpal oleh palkon keras milik si Yudis. Lagi dia tersedak ketika ujung kontol Yudis menyentuh bagian dalam kerongkongannya. “Drink it.”

Arjuna mau tidak mau meminum pejuh yang tersembur dari kontol Yudis. Ahh sungguh pemandangan yang indah. Batin Yudis, Arjuna terengah-engah, wajahnya merona merah, kantung mata dan sudut matanya yang basah, mata sayu yang seakan merayunya untuk digauli lebih, dan sebagian pejuh yang berada disekitar mulut Arjuna, sungguh menggoda Yudis, tak sabar tuk menanti bibit miliknya itu memasuki tubuh Arjuna.

Yudis pun bangkit dari kasur, dia mengambil lube yang sengaja sudah dia sediakan didalam laci nakasnya.

“Yudis, dengarin aku, aku janji Yudis. Setelah ini aku akan keluar, dan kita bisa hidup bersama okay?”

“Juna, Juna, kau pikir dengan berkata begitu aku akan percaya?”

“Yudis, pleasee, aku benar-benar cinta kamu.”

Plak

Yudis menampar Arjuna, yang sontak saja sikap itu membuat Arjuna terkejut, membeku karena Yudis tidak pernah bersikap kasar padanya. “Juna, seharusnya sebagai seorang secret agent kau tidak senaif ini bukan?” Yudis menepuk pipi Arjuna yang bekas dia tampar.

Amarah Juna melambung. “Mungkin memang terdengar naif, tapi aku tidak pernah memberi tahu hal penting tentang keluarga mu Yudis.”

“Tapi kenyataan kalau kau mendekati ku hanya untuk menyelidiki keluarga ku itu aku gak suka Juna.” Yudis mengusap sudut matanya, akhirnya apa yang dia simpan selama ini bisa dia ungkapkan. “Aku paling benci orang bermuka dua, kau telah berkhianat Juna, baik padaku, atau organisasi mu haha.”

“Mencintai ku? Heh.” Cemooh Yudis, sembari tangannya melumuri lubang pantat Arjuna dengan pelumas. Arjuna tersentak ketika dia merakan dua jari Yudis memasukinya. “Aduh sudah ngehigh banget ya kamu, kok segampang ini sih.” Yudis menambah jarinya, membuka lebih lebar lubang Arjuna yang basah itu.

“Ahhn uunhh Dishh.”

“Jangan dijepit dong sayang, akukan jadi susah longgarinnya.”

Arjuna menggeleng, dia natap memohon kepada Yudis yang sibuk mengeluar masukan jarinya dalam lubang Arjuna, dia berhenti sejenak ketika dia merasa sentakan di tubuh Arjuna. Gotcha. Yudis langsung saja memasukan kontolnya,

“AENghh nooh, hiks.” Arjuna tidak menginginkan ini, dia ingin melakukannya atas dasar rasa suka mereka satu sama lain. Bukan karena hukuman, bukan karena kegagalan dia menyembunyikan identitasnya.

Yudis mengecup sudut mata Arjuna yang berair, mengecupi pipinya dan dahinya, sesungguhnya dia tidak ingin begini juga, tapi dia tidak memiliki cara lain yang lebih ringan untuk menghukum kesayangannya itu.

“Mhhh ahh mhhh sempit banget sayang. Rileksin dikit dong.”

Arjuna pasrah membiarkan pikirainnya terbuai oleh persenggamaan mereka, toh semua sudah terjadi, persetan dengan apa yang akan terjadi setelah ini, saat ini dia memilih tuk rasakan dan resapi kontol Yudis yang terus menusuk ke dalamnya, khususnya g-spotnya.

“Ahh mantap sekali Yudis, terus sodok aku Dis, yang keras.”

“Sudah pasti sayang, kapan lagi sih aku bisa nikmatin lubang kamu.”

?

“Ma....mahkdsudhh kamu apaahh.”

“Maksud ku ini baru permulaan sayang. Nanti ada kejutan lain.” Ia pegang erat kedua pinggul ramping Arjuna. “Sayang aku mau keluar.” Ucap Yudis disambut desahan oleh Arjuna, hingga akhirnya Yudis mendorong kontolnya dalam-dalam ke tubuh Arjuna. Ahh enaknya tanam bibit.

Plok

Yudis melepas kontolnya, kemudian dia berjalan ke luar pintu, dan berdiri disitu, tangannya melambai, tak lama kemudian terlihat dua orang memasuki kamar Yudis. Arjuna terkesiap, napasnya tertahan, dua orang lelaki telanjang dengan ereksi, dia seketika tahu apa yang akan terjadi.

“YUDIS.”

Muka Arjuna horror memandang kedua lelaki asing itu, yang menyeringai di kedua sisi tubuhnya.

Salah satunya bersiul. “Wiuw. Cantik. Aku Ryan.” Rambutnya blonde dengan ombre biru.

“Apa kubilang? Kalian tak akan menyesal.” Ucap Yudis kembali duduk dikursinya.

“Jangan sentuh.” Arjuna menyentak tangan yang menyentuh kakinya.

“Wush jangan galak-galak cantik, nanti juga enakan kok.” Salah seorang lainnya, dengan rambut berwarna ashgrey. Mengambil pita diatas nakas. “Mari kita main, aku Naoto akan menemani kamu main bersama Ryan hehe.”

Pemuda bernama Naoto itu kemudian menutup mata Arjuna dengan pita ditangannya, dan kemudian gelap menyambut penglihatan Arjuna.

“NO!”

Arjuna menangis. “Kurang ajar kau Yudi—.” Sebelum akhirnya dibungkam oleh bibir lembut seseorang yang entah siapa itu.

.

.

.