Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-17
Completed:
2026-04-22
Words:
28,354
Chapters:
12/12
Comments:
2
Kudos:
16
Bookmarks:
1
Hits:
409

Back To You

Summary:

"Sakura-chan, katakan kita ada di mana?"

"Ini terakhir kali aku menjawab, kita ada di pernikahan Sasuke dan Hinata."

Tidak ada yang tahu mereka pernah bersama. Tidak ada yang tahu ketika mereka kembali bersama.

Sekembalinya ke desa—setelah dua tahun menjalani misi penebusan dosa—Sasuke Uchiha mendapati jalannya selalu bertemu dengan Hinata Hyuuga. Dari satu pertemuan, menjadi dua pertemuan, hingga tak terhitung lagi.

Pertemuan-pertemuan itu membawa rasa cinta di hati keduanya. Mereka memutuskan untuk menjalin hubungan. Hingga hari mereka harus berpisah, karena mimpi masing-masing.

Hingga enam tahun kemudian, perasaan mereka masih tetap sama.

Chapter 1: Prolog

Chapter Text

Semilir angin menerbangkan helaian poni yang selalu menutupi dahinya. Mata seindah bulan fokus pada buku yang di pegangnya. Bibirnya bergerak pelan mengikuti setiap kata yang ia baca tanpa mengeluarkan suara. Itulah pemandangan yang Sasuke lihat dari bawah sini. Mencuri pandang pada wajah manis─yang sebagian tertutup buku─milik Hinata, kekasihnya. Sudah enam bulan, mereka menjalin hubungan. Hubungan yang hanya mereka berdua yang tahu.

Menidurkan kepala pada paha empuk milik sang gadis. Sebuah kebiasaan yang sangat Sasuke suka. Biasanya, Hinata akan mengelus lembut surai hitamnya. Namun, kali ini─kekasih yang sangat ia cintai─memilih menyibukkan diri dengan membaca buku.

Rambut panjang Hinata sedikit menggelitik wajahnya. Dengan perlahan, Sasuke mengangkat tangan. Menyelipkan sebagian rambut─yang menutupi pemandangan indahnya─kembali ke belakang telinga. Tangannya turun ke bahu, lalu menyapu lengan Hinata dengan sengaja. Seolah mengirim pesan tersirat. Dan, berhasil, ia kembali mendapat atensi dari Hinata.

Senyum tipis bertengger manis di bibir merah mudanya. Dengan terpaksa, menutup buku dan meletakkannya di samping tubuh. Hinata menegakkan punggung, yang semula bersandar pada pohon.

“Kamu bosan Sasuke-kun?” Hinata meletakkan satu tangan di pipi dan satu lagi di rambut milik Sasuke. Mulai menyisirnya pelan.

Sengatan kecil yang menyenangkan mengalir pada tubuh, membawa rasa nyaman. Tanpa sadar, memejamkan mata. Makin merapatkan kepala pada perut ramping kekasihnya. Senyum senang tak kuasa Sasuke tahan. “Aku tak pernah bosan denganmu.”

“Benarkah?” Mencubit pipi Sasuke dengan lembut.

Bayangan tentang masa depan bersama Hinata muncul dalam benak Sasuke. Hinata yang menggendong anak mereka, menyambutnya pulang dari misi. Hinata yang memasak di dapur,  dengan jahil memeluknya dari belakang. Hinata yang berbaring di sampingnya, saling berbagi cerita, sebelum terlelap dalam pelukan satu sama lain. Sasuke ingin semua ini menjadi nyata.

“Hinata ….” Meletakkan tangan pada tangan Hinata─yang sudah Hinata letakkan kembali pada pipi Sasuke─dan mengelusnya pelan. “Apa kamu mau menjalani sisa hidupmu bersamaku?”

Sasuke terkekeh melihat wajah Hinata yang seketika memerah. Dapat ia rasakan elusan tangan Hinata pada rambutnya berhenti. Meski mengatakannya sekarang, bukan berarti mereka akan menikah besok. Mereka masih 19 tahun, masih banyak hal yang ingin dilakukan. Dan hal yang Sasuke ingin lakukan nanti, ia ingin melakukannya bersama Hinata. Ia mengatakan itu karena sudah sangat yakin. Tak pernah ada bayangan perempuan di masa depannya selain Hinata.

“A-aku mau.” Hinata menjawab─dengan wajah yang sudah sangat merah─sambil menatap mata Sasuke.

Menggenggam tangan Hinata dan membawanya ke dada. Membiarkan Hinata untuk merasakan detak jantungnya yang menggila. Senyum senang tak bisa lepas dari wajah tampan Sasuke. Masih terus menatap, ia berkata, “Apa kamu mau ikut bersamaku, Hinata?”

“Ikut ke mana Sasuke-kun?” Raut bingung tercetak jelas.

Perlahan Sasuke bangun dari tidurnya. Masih menggenggam tangan Hinata. “Aku ingin berkelana lagi ….” Ada jeda dan Hinata masih setia mendengarkan. “Aku ingin mengajakmu.” Hening di antara mereka. Sasuke menerka-nerka mengapa Hinata tidak segera menjawab.

Mata Hinata yang menajam, bagai membawa berita buruk. “Maaf … aku tidak bisa.” Kesedihan terpancar darinya. Bukan kemauan Hinata untuk menolak Sasuke. Hanya saja, ia tak bisa membuang mimpinya. Setelah sekian lama, sang ayah akhirnya menaruh kepercayaan padanya. “Aku akan menjadi ketua klan.”

Menatap mata Hinata dengan cermat, mencari kebohongan, yang tak akan pernah Sasuke temukan. Rahangnya mengeras. Genggaman pada tangan Hinata menguat. Ia merasa kecewa. Penolakan dari Hinata tak pernah terpikirkan olehnya. “Kenapa baru mengatakannya?”

“Aku baru tahu tiga hari yang lalu. Aku tak mengatakannya karena ini belum akan terjadi dalam waktu dekat, tapi … jika aku pergi, aku tak akan pernah mendapatkannya.”

Meskipun Sasuke menunggu hingga hari pelantikan, tetap ia tak akan bisa membawa Hinata bersamanya. Menjadi ketua klan, artinya tak bisa pergi sesuka hati.

“Kamu menginginkan ini Hinata?” tanyanya meyakinkan. Untuk Hinata dan juga dirinya.

“Aku menginginkannya Sasuke-kun,” jawabnya dengan yakin.

Melihat ke arah lain. Tak sanggup menerima kenyataan. “Bagaimana jika aku tidak kembali?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tak seharusnya, ia bersikap egois. Sasuke tak bermaksud dan tak pernah berpikir untuk tak kembali. Hanya saja, kekecewaan telah mengambil alih.

“Kenapa kamu tidak kembali?” Balik Hinata yang menggenggam satu-satunya tangan Sasuke. Ini bukan sekadar pertanyaan. Melainkan juga pernyataan yang berarti, jika kamu mencintaiku, mengapa tidak kembali. Memandang Sasuke yang masih melihat ke arah lain dengan sendu.

Sasuke diam tak menjawab. Sekali lagi, bukan maksudnya berkata seperti itu. Tapi ia tak akan menarik kata-katanya dan masih berharap, mungkin Hinata bisa luluh.

Perjalanan kali ini, bukan hanya untuk penebusan dosa. Namun, ia juga ingin menjelajahi dunia bersama Hinata. Melihat dunia baru yang belum pernah mereka datangi. Mungkin satu atau dua tahun. Setelah itu menikah dan menetap di Konoha selama sisa hidup. Itulah mimpi Sasuke. Ia lupa, Hinata juga punya mimpi yang harus dihargai.

“Aku kira, kamu bahagia di sini.” Hinata melepaskan tangan Sasuke dari genggamannya.

Dengan cepat, Sasuke memandang Hinata. Tak setuju dengan perkataan itu. “Aku bahagia saat bersamamu Hinata.”

Setetes air mata hampir jatuh dari matanya. Ganti Hinata yang memandang ke arah lain. “Aku akan menunggumu, Sasuke-kun.” Ia bangkit dari duduknya. Mengibaskan debu di rok dengan hati-hati. Hinata bisa merasakan, Sasuke yang masih terus menatapnya. “Jika kamu tak sanggup menemuiku sebelum pergi, kamu tak perlu melakukannya,” ucapnya dengan tersenyum pada Sasuke.

“Aku tak akan kembali Hinata!” Upaya terakhir Sasuke. Berharap Hinata masih bisa berubah pikiran. Namun sia-sia saja.

Menatap punggung Hinata yang mulai menjauh. Rasa sesak di hati, tak bisa disangkal. Detik tubuh Hinata menghilang dari pandangan, Sasuke tahu, ia kacau. Siapa yang harus berkorban? Tentu, tidak ada. Semua berhak atas hidup masing-masing.

Menyandarkan punggung di pohon tempat Hinata duduk tadi, tempat favorit mereka. Tangannya tak sengaja menyentuh buku yang Hinata lupa bawa. Buku yang ia belikan di kencan mereka kemarin. Tawa miris ke luar dari bibirnya. Memejamkan mata, Sasuke memutar ingatan. Beberapa saat yang lalu, mereka seperti tak dapat dipisahkan. Dan sekarang, rasanya seperti sebuah perpisahan.