Work Text:
Sesuatu telah terjadi semenjak datangnya pemuda itu di kehidupan Hanjin. Tetapi Hanjin tidak yakin apakah ini wajar atau tidak, ia dilema.
Kim Dohoon. Bukan orang asing, malah telah Hanjin kenal dari mereka masih dalam gendongan ibu masing-masing. Mereka adalah sepupu.
Awalnya tidak begitu sering bertemu, hanya saat acara keluarga. Hingga saat tiba-tiba Dohoon jadi sering mampir ke rumah, hubungan mereka jadi sedikit lebih aneh.
Dohoon yang tinggal di luar kota itu ternyata berkuliah di kota yang sama di mana Hanjin sekeluarga tinggal. Dan akhir-akhir ini jadi sering mampir ke rumah karena diundang Taesan, abangnya Hanjin.
Harusnya jadi hal yang biasa saja bagi Hanjin, kan Dohoon ke rumah cuma buat main sama Taesan dan teman-temannya yang lain. Ia tidak punya urusan dengan para abang-abang itu.
Namun beberapa kejadian belakangan ini menciptakan sebuah getaran aneh antara Dohoon dan Hanjin.
Seperti malam ini...
Kedua orang tua Taesan dan Hanjin sedang berpergian ke luar kota. Dan Taesan si anak pertama yang bandel itu mengundang teman-temannya untuk main game di rumah, sambil minum.
Tentu saja ada Dohoon di antara pemuda yang diundang Taesan itu.
Hanjin awalnya hanya mengurung diri di kamar, rencananya ia akan mengurung diri semalaman setidaknya sampai semua teman Taesan pulang. Ia malas bertemu orang asing.
Apalagi teman-teman Taesan berisik semua terutama yang namanya Gyuvin itu, suka teriak-teriak.
Jadi Hanjin memilih ketenangan di dalam kamar tidurnya.
Jam dua pagi tepatnya saat Taesan mengirim pesan dan menelpon Hanjin untuk mengunci seluruh jendela di rumah, ternyata Taesan sedang pergi untuk mengantar teman-temannya pulang.
Hanjin menghela napas singkat, baru saja ia masuk ke alam mimpi tiba-tiba dibangunkan dan disuruh-suruh. Tetapi bersyukur juga karena akhirnya acara mereka selesai.
Ia pun keluar kamar untuk mengerjakan yang disuruh Taesan.
Namun saat berjalan menuju ruang tengah, Hanjin mendapati sesosok pemuda sedang tidur di sofa. Sialnya, Hanjin dapat langsung mengenali siapa orang itu.
Dibandingkan teman Taesan yang lain, sepertinya Dohoon memilih untuk tidak pulang ke kostnya dan menumpang tidur di rumah ini. Mumpung masih keluarga dekat.
Karena belum siap bertemu dengan si pemuda yang lebih tua darinya itu, Hanjin langsung melangkahkan kakinya ke dapur tanpa menyapa Dohoon sama sekali.
Bau alkohol tercium cukup pekat di ruang tengah, entah abang-abang itu habis berapa botol.
Ia habiskan waktu cukup lama untuk mengunci semua jendela di dapur, bukannya karena banyak atau susah, memang sengaja ia berlama-lama di situ.
Seperti berat dirinya untuk bertemu sang abang sepupu, tidak tahu mengapa. Tetapi hatinya sering berdebar tak karuan saat mereka bertatap muka apalagi sampai mengobrol.
Hanjin tidak suka bagaimana Dohoon menatapnya, Hanjin tidak suka bagimana nada bicara Dohoon kepadanya, terlebih lagi... Hanjin tidak suka bagaimana tangan Dohoon menyentuhnya.
Itu semua kata otaknya, di hatinya lain lagi.
Karena rasanya ia sudah membuang waktu yang sangat lama di dapur, dan ia sejujurnya ingin cepat-cepat kembali tidur, Hanjin pun beranikan diri untuk kembali ke ruang tengah.
Sedikit lega karena Dohoon terlihat sangat pulas dalam tidurnya, Hanjin jadi sedikit lebih tenang untuk mengunci jendela di ruang tengah.
Sampai semua jendela sudah terkunci pun Dohoon masih belum bangun, sekarang Hanjin tinggal mengunci jendela yang di ruang tamu. Sebanyak itu jendela di rumahnya.
Hanjin kira semuanya berjalan dengan lancar karena semua jendela telah ia kunci tanpa kendala, ia juga mematikan lampu ruang depan yang sudah tidak digunakan.
Namun setelah melihat sosok di sofa itu bergerak bangun secara perlahan, Hanjin pun menggigit bibir sambil mengumpat pelan.
Langkahnya menuju ruang tengah sekarang terasa lebih berat, ia mencoba untuk tidak beradu tatap dengan sosok itu.
"Adek."
Dan yap.
"Iya, mas," jawab Hanjin menoleh ke Dohoon, padahal ia tinggal enam langkah lagi ke pintu kamarnya.
"Sekarang jam berapa?"
"Jam dua pagi."
Dohoon dengan muka bantalnya itu hanya mengangguk, Hanjin pun tidak berkata apa-apa lagi.
Hanya ada mata yang lebih muda yang diam-diam memperhatikan penampilan abang sepupunya. Dohoon mengenakan kaus kutang putih dengan celana training abu-abu, jaketnya dijadikan bantal olehnya saat tidur tadi.
Berbeda dengan penampilan Hanjin yang mengenakan piyama coklat kesayangannya.
Setelah berada di situasi hening beberapa menit karena Dohoon yang sedang mengumpulkan nyawa, akhirnya pemuda yang lebih tua itu kembali bergerak kali ini hendak mengenakan jaketnya.
"Mas mau ke mana?" tanya Hanjin, pertanyaan refleks saat melihat orang lagi siap-siap.
"Pulang," jawab Dohoon singkat lalu bangkit dari duduknya, masih sedikit ngambang.
"Tidur di sini juga gak apa-apa, mas. Daripada kenapa-napa di jalan," kata Hanjin.
Dohoon cuma ketawa kecil dengar perkataan Hanjin, yang lebih kecil itu jadi sedikit sebal. Padahal ia serius, kan Dohoon masih keluarganya, kalau dia kenapa-napa yang bertanggungjawab juga orang rumah ini.
Pemuda itu tiba-tiba melangkah ke arahnya, membuat Hanjin sedikit was-was dan mundur beberapa langkah kecil.
Hingga mereka akhirnya berhadapan, Dohoon mengangkat tangannya untuk mengacak-acak rambut Hanjin dengan gemas.
"Cie, khawatir," ejeknya dan begitu saja berlalu menuju dapur, yang Hanjin bisa tebak entah Dohoon mau ke toilet atau minum atau dua-duanya.
Namun masa bodoh apa yang mau pemuda itu perbuat di dapur rumahnya, Hanjin sudah terlanjur dibuat berantakan dengan apa yang pemuda itu perbuat pada dirinya.
Hanjin jadi hanya mampu diam mematung di tempat karena harus menetralkan detak jantungnya yang jadi tak beraturan. Kembali lagi pada pikiran, apakah ini wajar?
Apakah wajar ia merasakan hal seperti ini dari abang sepupunya?
Hanjin tidak tahu berapa lama ia melamun, ia baru tersadar saat Dohoon kembali dari dapur.
"Kok gak tidur?" tanya Dohoon.
"Ini mau..." jawab Hanjin. "Mas Dohoon beneran mau pulang?"
"Kenapa? Takut ditinggal sendiri?" tanya Dohoon lagi, dan mereka kembali pada adegan saling berhadapan.
"Enggak.. bukan gitu, emang mas udah mampu naik motor?" Entah mengapa suara Hanjin jadi lebih kecil dan menciut sekarang, bahkan ia tak berani menatap mata Dohoon sekarang.
"Khawatir banget, hm?"
Sial, suara sialan itu lagi.
Khawatir kan wajar tetapi entah mengapa Hanjin malu mau mengakui bahwa ia memang khawatir. Hanjin hanya diam tak menjawab Dohoon.
Dohoon mendengus geli melihat tingkah adik sepupunya itu.
"Tidur gih, dek. Udah malem banget ini." Tanpa aba-aba, tanpa izin, Dohoon memeluk pinggang Hanjin dari belakang lalu menuntunnya berjalan menuju kamarnya.
Hanjin terkejut namun begitu saja pasrah melangkahkan kakinya sesuai tuntunan Dohoon. Kalau Dohoon bisa rasakan, jantung Hanjin sedang berdegup sangat kencang sekarang.
Merasakan napas Dohoon di belakang telinganya membuat Hanjin tak karuan, Hanjin harap telinganya tidak memerah sekarang.
"Apa mau dikelonin?"
Mereka sudah sampai di depan pintu kamar Hanjin dan tiba-tiba Dohoon menanyakan pertanyaan gila itu. Hanjin sontak menggeleng kuat.
"Kamu kan gitu kata tante, sering minta dikelonin," ujar Dohoon.
"Gak sama Mas Dohoon juga," balas Hanjin.
"Kenapa gak mau sama mas? Takut bukannya tidur malah ada hal lain yang bangun?"
"Apaan sih..."
Oke, sekarang wajah Hanjin sudah total merah, ia benar-benar tersipu sekarang. Tangan Dohoon tiba-tiba jadi kurang ajar masuk dalam piyamanya tanpa izin, pinggul pemuda itu juga semakin menekan ke bokong Hanjin.
"Ngerasain gak, dek?"
"Mas..."
Iya, Hanjin merasakan itu dengan jelas. Di belahan bokongnya, ada sesuatu yang keras mengganjal sengaja ditekan Dohoon.
Hanjin gigit bibir, tangannya mencoba melepaskan tangan Dohoon dari dirinya. Ia tidak menyangka akan kembali terjebak dalam situasi seperti ini dengan Dohoon.
Situasi di mana mereka seketika melupakan hubungan abang adik sepupu itu, mereka merasa seperti dua manusia yang hanya ingin menyalurkan cinta dan hawa nafsu.
Walaupun Hanjin belum menemukan di mana bagian cintanya, yang ia rasakan sekarang hanyalah malu dan rasa tersipu.
Tangan Dohoon bergerak memutar kenop pintu kamar Hanjin, pintu terbuka dan mereka berdua masuk dengan posisi yang masih seperti itu.
"Mas, jangan!"
Hanjin tersentak dan mencoba menghentikan Dohoon yang mau menarik celana piyamanya turun. Tetapi Dohoon seakan tuli.
"Mas~!"
Air mata Hanjin langsung turun begitu saja, tangannya masih mencoba menahan Dohoon agar tidak bertindak lebih jauh. Walaupun tenaga Dohoon rasanya jauh lebih kuat dari tenaganya.
"Gak mau..." isaknya.
Barulah saat mendengar isakan Hanjin, Dohoon berhenti.
"Kenapa nangis?" bisiknya sembari merapikan kembali celana Hanjin yang hampir terlepas total.
Hanjin tidak menjawab, benar-benar menangis sekarang.
Yang lebih muda itu pun dibawa Dohoon ke kasur, direbahkan selagi ia bergerak mengungkungnya.
"Takut, ya? Maaf," ucap Dohoon lalu memberikan kecupan lembut.
Tubuh Hanjin diam tetapi bibirnya secara natural ikut bergerak saat kecupan dari Dohoon berubah menjadi lumatan. Air matanya masih mengalir di tengah ciuman itu.
Dan isakannya kian mereda semakin dalam ciumannya dengan Dohoon, entah apa sihir yang dibawa Dohoon dalam pagutan lembutnya. Mampu membuat Hanjin lama-kelamaan merasa terbuai.
Tangannya sampai mencengkram pelan bahu Dohoon. Lenguhan kecil juga keluar di sela-sela lumatan bibir mereka.
"Maaf ya, adek," ucap Dohoon lagi setelah mengakhiri ciumannya. Tangannya mengusap jejak air mata pada wajah cantik adik sepupunya itu.
Hanjin mengangguk pelan.
"Udah mau tidur?" tanya Dohoon.
Hanjin kembali mengangguk namun kali ini tangannya sambil mencengkram jaket Dohoon di bagian pinggangnya. "Jangan pulang," pintanya.
Dohoon mengulum senyum. "Mau dikelonin beneran, ya?"
Meskipun tidak dijawab pun Dohoon sudah tahu jawabannya. Jadi ia membenarkan posisi tidur mereka agar lebih nyaman, juga melepas jaketnya yang lalu ditaruh di sisi lain kasur.
"Sebelumnya maaf kalo gak enak dikelonin sama mas, mas gak jago kelonan normal," ujar Dohoon sembari memeluk tubuh Hanjin dari belakang.
"Gak apa-apa," balas Hanjin mengelus tangan Dohoon yang melingkar di perutnya.
Di belakang—tepatnya di tengkuk—Hanjin merasakan Dohoon terus menghirup dalam sambil mengusapkan bibir ke rambut belakangnya.
"Wangi rambutnya adek," bisik Dohoon dengan wajah yang tenggelam pada lembutnya rambut Hanjin.
Hanjin tidak tahu harus menjawab apa, sedikit canggung dengan pujian itu. Jadi hanya mendiami Dohoon sambil tangannya masih mengelus tangan yang lebih kekar itu.
Sampai perlahan tangan Dohoon masuk ke dalam piyamanya, hangatnya bersentuhan dengan kulit polos Hanjin dibalik sana. Lalu naik hingga ke dada membuat Hanjin seketika menahan napas.
"Dek, pernah nenenin orang gak?"
Oke, pertanyaan ini di luar ekspektasi.
Ternyata Dohoon benar-benar tidak bisa kelonan secara wajar.
"Belum..." jawab Hanjin, deg-degan.
"Pasti enak nenennya, dek," bisik Dohoon sambil memainkan pucuk dada Hanjin dengan kukunya, pelan-pelan saja mainnya.
Itu pun sudah cukup membuat menggigil. Dan Hanjin tahu Dohoon ini lagi kode ke mana, ia sedang berperang dengan batinnya harus apa ia sekarang.
Kalau dari akal pikirannya, mereka tidak boleh jatuh ke godaan ini lebih dalam.
Tetapi sehebat apa lah Hanjin masih memikirkan akal pikiran saat ini. Tubuhnya sendiri saja sudah bertindak lain, dibiarkan tangan Dohoon membuka kancing piyamanya satu persatu.
Hanjin juga ingin tahu bagaimana rasanya.
"Boleh gak, dek?"
Piyama Hanjin sudah terbuka, Dohoon kembali memastikan dengan bisikan mautnya itu.
Hanjin mengangguk pelan.
Tubuhnya sudah berbalik menghadap si abang sepupu dan langsung disambut kecupan manis di bibir yang lalu turun ke leher secara perlahan.
Turun lagi ke tulang selangka barulah ke pucuk dadanya yang sudah mencuat karena dimainkan dengan kuku tadi.
Dikecup dengan lembut sekali, tangan Dohoon yang menahan piyama Hanjin agar tidak jatuh menutupi santapannya itu meremas pelan lengan kecil Hanjin. Menikmati santapannya dengan khidmat.
Hanjin rasanya tidak mampu bernapas dengan teratur lagi, perasaan basah dan hangat itu mulai menyentuhnya.
Ditambah terpaan hangat napas Dohoon, setiap hembusan itu rasanya mendorong jiwa Hanjin terbang dari raganya.
"Emmhh..."
Hanjin tahu akan mengeluarkan suara yang tidak-tidak kalau sudah disentuh kayak gini. Tetapi ia tidak menyangka akan secepat itu terbuai.
Jadi Hanjin menutup mulutnya sendiri takut suaranya menembus dinding dan sampai ke telinga tetangga, takut esok pagi ada penggerebekan.
Semakin Dohoon dekap tubuh Hanjin dengan bibirnya yang semakin liar menghisap puting merah muda yang terasa lembut itu. Benar-benar seenak itu.
Mau kiri mau kanan, dua-duanya candu.
Andai Dohoon punya dua mulut, sudah dia kenyot secara bersamaan kedua susu Hanjin. Sayang cuma punya satu, harus ganti-gantian kenyotnya.
Hanjin menunduk dalam hingga hidungnya menyentuh rambut Dohoon yang wanginya begitu maskulin itu. "Mas, pelan-pelan..." lirihnya.
Lidah itu terus menjilat panas dadanya dengan hisapan yang kian kuat membuat Hanjin sungguh pening. Malam ini bisa makin kacau kalau Dohoon tidak dihentikan.
Dohoon mengangkat wajah yang membuat bibir mereka kini tinggal beberapa sentimeter lagi dan jarak kecil itu langsung dihapus oleh Dohoon dengan pagutan dalam.
Mengabsen isi mulut Hanjin begitu lihai seperti telah hapal setiap sudut ruang hangat itu, memang telah hapal.
Telapak tangannya merambat turun ke pinggang ramping Hanjin sampai ke bokong sekalnya. Diremas sambil digoyangkan secara gemas, Dohoon suka yang kenyal-kenyal.
Hanjin menahan tangan Dohoon di belakang sana. Malu, kenapa bokongnya dimainkan begitu...
"Mas, jangan gitu ih," bisik Hanjin melepaskan ciumannya duluan, tangan Dohoon ditarik menjauh dari bokongnya.
"Kenapa? Kan cuma remes doang," tanya Dohoon.
"Gak boleh," kata Hanjin menekankan.
"Ya udah, tunggu udah nikah aja ya nanti."
Sepertinya Dohoon masih kebawa mabuk dari ngumpul-ngumpul tadi. Dohoon biasanya tidak akan berbicara seperti ini, ia pasti malu kalau posisinya sedang sadar.
Dilihat dari matanya sih memang masih agak merah.
"Ayo, tidur beneran. Kalo nenen terus nanti bengkak, kasian adek." Sekarang piyama Hanjin kembali dirapikan oleh Dohoon.
"Hadap ke sana lagi." Tubuh Hanjin dengan gampang dibalik Dohoon kembali membelakangi lalu dipeluk lebih erat dibanding pas awal.
Hanjin dari tadi hanya pasrah mengikuti semua skenario Dohoon.
(*˘︶˘*).。*♡
Sinar matahari pagi yang masuk dari jendela kamarnya membuat Hanjin terbangun karena rasa silau.
Ia turun dari kasur, sejenak melihat ke arah Dohoon yang masih terlelap. Seketika teringat bagaimana Dohoon terus mengecup leher dan bahunya sebelum tidur semalam, terasa begitu manis.
Juga adegan menyusu yang dengan cepat diusir Hanjin dari kepalanya sebelum pipinya kembali memanas lagi.
Setelah termenung begitu lama, Hanjin pun keluar kamar untuk minum dan cuci muka.
Han Taesan belum pulang, entah menginap di rumah siapa dia. Hanjin malas menebak, terlalu banyak kemungkinan soalnya, teman Taesan kebanyakan.
Lagipula paling nanti siang juga abangnya itu sudah di rumah.
Hanjin kembali ke kamarnya, kali ini disambut pemandangan Dohoon yang duduk termenung di kasur. Seperti biasa, sedang mengumpulkan nyawa.
Lucu, batin Hanjin melihat muka bantal Dohoon yang masih setengah merem itu.
"Soto yuk, mas," ajak Hanjin.
Dohoon mengangguk mengiyakan ajakannya, meskipun masih memerlukan sedikit waktu untuk ia dapat sepenuhnya bangun dan siap untuk beraktivitas.
"Mas ke kamar mandi dulu. Gak terbiasa dia tidur sama adek," ujar Dohoon dengan suara parau, turun dari kasur menuju toilet.
Sempat mengusak kepala Hanjin yang mulai merona malu karena tahu yang Dohoon maksud itu apa. Tadi sempat melirik ke sana juga soalnya, memang keliatan keras.
Sepertinya sudah ditahan dari semalam.
Akhirnya sambil menunggu Dohoon dan urusannya itu, Hanjin menenggelamkan teriakan frustrasinya pada bantal.
Abang sepupu sialan, batin Hanjin gelisah padahal suka.
•
Warung soto itu letaknya tidak jauh dari rumah, hanya butuh tiga menit naik motor. Hanjin dibonceng oleh Dohoon tentunya.
Selain karena dekat, makanan hangat berkuah seperti soto bisa membantu meredakan pengar. Maka dari itu Hanjin mengajak Dohoon ke sini.
Di tengah mereka lagi makan, Taesan tiba-tiba datang. Sepertinya baru pulang tetapi melihat ada adiknya dan sepupunya lagi makan soto jadi mampir terlebih dahulu.
Warungnya memang semi terbuka gitu.
"Mantep banget nyoto pagi-pagi," sapa Taesan langsung duduk di samping Hanjin, juga secara santai meminum es teh Hanjin yang terletak di meja.
"Nginep di mana abang semalem?" tanya Hanjin masih sibuk sama sotonya.
"Kost Leehan," jawab Taesan.
"Udah tinggal kumpul kebo aja lu sama Leehan," sahut Dohoon.
"Nanti ada saatnya," balas Taesan disambut tabokan dari Hanjin.
"Jangan macem-macemin anak orang," katanya—as if dia bukan anak orang yang lagi dimacem-macemin sama sepupu sendiri.
"Aman, adek," ujar Taesan santai. "Minta dong satu suap," lanjutnya menatap mangkuk soto Hanjin dengan muka pengen.
Hanjin pun mulai menyendok nasi dan kuah soto ke mulut Taesan.
"Ayam sama kentangnya juga," pinta Taesan dengan mulut yang sudah penuh nasi itu, Hanjin hanya menurut memenuhi permintaan abangnya.
Dohoon menyaksikan itu semua, sebuah pemandangan seorang abang yang manja ke adiknya.
Dan entah mengapa, ia cemburu.
Padahal kan Taesan abangnya Hanjin. Kenapa dia harus cemburu dengan hubungan abang adik itu? Kenapa harus cemburu perkara suap menyuap?
Baiklah, Dohoon juga mulai merasa perasaannya ini aneh. Jadi ia hanya menunduk selama mereka menghabiskan makanan mereka.
Aneh, ya?
Yang seharusnya Dohoon pikirkan adalah bagaimana reaksi Taesan nanti saat tahu sepupunya malah naksir sama adik satu-satunya itu, sudah melakukan hal yang tidak-tidak pula.
Tapi ya sudahlah, lagi bulol dia.
