Work Text:
|| YOU'VE BEEN HIT BY A SMOOTH CRIMINAL ||
Written by Tehtiramisu.
Jiang Heng x Li Peien
Diunggah pada 18 Desember 2025.
Cahaya dan kegelapan.
Bukankah keduanya merupakan hal yang bertolak belakang?
Cahaya mampu menerobos kegelapan dengan sinarnya yang terang benderang. Begitu pun sebaliknya. Kegelapan memiliki aura kelam begitu pekat yang dapat memberikan kuasa lebih untuk mengalahkan sang cahaya. Semua tergantung dari bagaimana kedua hal yang bertentangan itu melawan satu sama lain untuk bertahan.
Tetapi, apa jadinya jika sang anak cahaya sendiri mampu bersinar di elemen kegelapan?
Bukanlah sesuatu yang mustahil memang. Semua dapat terjadi. Namun, hal yang salah adalah ketika salah satu bagian dari elemen kegelapan itu sengaja menyinggungkan dirinya dengan sang anak cahaya.
Yang ada di pikiran sang raja kegelapan adalah membiarkan sang anak cahaya bersinggungan dengan dirinya. Toh, pada akhirnya pilihan satu-satunya adalah membuat cahaya itu hilang tuntas bagaikan abu, dibandingkan sang raja harus membiarkan tubuhnya sendiri ternodai oleh sinar cahaya.
-oooo-
Matanya menatap lurus ke satu titik dengan pandangan kosong. Helaan napas panjang ditariknya selama berkali-kali. Kakinya yang tidak bisa diam terus bergerak tanpa henti dan hampir menendang mengenai meja yang ia tempati saat ini. Tingkah menyebalkan yang dilakukan oleh Li Peien berhasil membuat sosok lain yang melihatnya langsung menggerutu.
“Kakimu jangan gerak-gerak terus dong. Nanti minumanku tumpah nih.”
Shen Xifan mengutarakan keluhannya perihal tingkah laku sang sahabat yang tidak bisa diam. Gadis itu menyentil pelan tangan sahabatnya itu. Melihat raut wajah Peien yang tertekuk itu membuatnya bertanya-tanya.
“Kenapa tuh muka? Kusut banget kayak belum bayar utang.”
Peien refleks menendang kaki Xifan cukup kencang membuat gadis itu langsung mengaduh kesakitan. Xifan melotot kesal. “Orang nanya baik-baik kok malah kena tendang sih.”
“Kamu diam aja deh,” ujar Peien. Bibirnya mengerucut. Matanya merotasi malas. Dia sedang dalam mood yang tidak begitu baik hari ini.
“Dari tadi aku juga diam tahu,” cibir Xifan pelan. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Matanya menatap Peien dengan pandangan menyelidik. “Ada masalah apa sih? Kamu uring-uringan banget deh.”
Peien menghela napas pelan, “aku bingung buat aransemen cover lagu yang selanjutnya mau diapain. Lagi buntu ide banget.”
“Sudah dibikin konsepnya?” tanya Xifan. Melihat Peien yang hanya mengangguk membuat gadis itu kembali melanjutkan pertanyaannya. “Terus apa lagi yang bikin bingung?”
“Kayaknya aku nggak cocok deh sama lagu pilihanku yang kali ini,” ujar Peien. Decakan frustasi darinya terdengar pelan. “Padahal videonya mau aku unggah lusa.”
“Kutahu sih channel kamu kan sudah menetapkan jadwal khusus, tapi untuk yang video kali ini apa nggak mau coba diundur aja?”
Peien menggeleng lesu. Jelas ia tidak bisa mengundurnya lagi. Sejak terjun ke dunia youtube, Peien berkomitmen untuk mengunggah satu video cover lagu setiap dua minggu sekali. Peien hanya tidak ingin mengecewakan pengikutnya karena ia belum pernah sama sekali absen dari jadwal yang telah ia tetapkan. Mereka selalu menantikan video terbaru darinya, bahkan seringkali banyak yang menyarankan Peien untuk mengunggah video baru setidaknya satu minggu sekali. Namun, hingga saat ini Peien masih belum sanggup. Jujur, baginya ia memerlukan cukup banyak waktu untuk berlatih, mengaransemen, serta menyanyikan lagu. Belum lagi mengatur tata lampu dan pernak-pernik khusus untuk menunjang rekaman yang bagus dan berkualitas.
“Hm… Kalau begitu, gimana kalau kamu coba hal yang baru aja?”
Ucapan Xifan berhasil membuat Peien mengalihkan fokusnya pada sang sahabat. “Kayak gimana?” tanyanya penasaran.
“Selama ini kan kamu hanya bikin video cover lagu. Nah, gimana kalau buat video lusa nanti bikin vlog keseharianmu aja? Kuyakin pasti banyak yang penasaran sama kehidupanmu,” ujar Xifan santai. Gadis itu mengerlingkan matanya seraya tersenyum kecil, “Seeky Luvly, the masked singer~”
Nama channel yang dibangunnya di youtube adalah ‘Seeky Luvly’’. Salah satu rahasia terbesar Peien adalah tidak ada siapapun para pengikutnya di youtube yang mengenalnya sebagai Li Peien. Jangankan untuk sebuah nama, mereka semua juga tidak ada yang mengetahui bagaimana rupa asli Peien yang sebenarnya.
Itu benar. Hal yang menjadi keunikan dari akun channel-nya adalah Peien tidak pernah memberitahu penampakkan wajah aslinya kepada siapapun. Biasanya Peien mengunggah video dirinya bernyanyi menggunakan topeng masker emas ala kerajaan yang menutupi seluruh bagian wajahnya.
Awalnya Peien pikir tidak akan ada yang tertarik dengan akunnya, tapi tidak disangka bahwa keunikannya itu justru menarik minat penasaran orang-orang. Tidak jarang jika setiap video yang diunggahnya, pasti selalu muncul komentar yang memintanya untuk memberitahukan identitas aslinya.
Yang tahu identitasnya dirinya memiliki akun channel youtube tersebut hanya orang tuanya, adik perempuannya, dan Xifan. Beruntungnya juga mereka tidak berniat memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun. Mereka menghormati segala keputusan yang Peien ambil.
Peien selalu berpikir berulang kali untuk coba mengungkapkan identitas aslinya, tapi pada akhirnya ia merasa belum sanggup. Peien tidak yakin apakah dia siap dengan semua popularitas yang akan didapatkan secara mendadak nanti apabila ia memperlihatkan wajahnya tiba-tiba. Peien pikir dia akan merasa lebih aman dengan identitas dirinya yang tetap tersembunyi di balik layar.
“Bentar…” Peien berpikir keras. “Kalau aku bikin vlog, nanti identitasku ketahuan dong?”
Xifan menjitak dahi Peien dengan kencang sebagai balasan karena sahabatnya yang menendang kakinya tadi. “Kan bisa kamu cuma nunjukin pemandangan aja, nggak harus nampilin muka kamu. Kayak aesthetic ala-ala gitu lho yang biasa lewat di timeline.”
“Maksud kamu konten kayak ‘a day in my life’ gitu?”
Xifan menatapnya gemas, “Iyaaa, Peien. Kan di awal aku bilang gitu bikin aja vlog keseharianmu. Yang penting kamu editnya harus hati-hati kalau kamu mau identitasmu nggak ketahuan.”
Peien menggumam pelan. Xifan membiarkan saja sahabatnya tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Namun, melihat raut keraguan yang tidak juga kunjung hilang dari wajahnya, akhirnya Xifan memilih turun tangan.
“Kalau masih tidak yakin, nggak usah dipaksakan.”
Peien menggeleng. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman. “Nggak. Justru aku malah dapat ide konsep buat vlog nanti.”
“Keburu sampai lusa?”
Peien terkekeh kecil. “Kerja dibawah tekanan kan sudah jadi passion.” Ia langsung membereskan segala barang-barang miliknya yang membuat Xifan mengernyitkan dahi melihatnya.
“Mau kemana?”
“Pulang bikin vlog. Duluan ya!” Peien melambaikan tangannya pada Xifan yang kini menatapnya dengan pandangan sebal. Samar-samar ia hanya bisa tertawa ketika mendengar gerutuan gadis itu dari kejauhan, “Cih, giliran sudah dapat ide malah aku ditinggal.”
-oooo-
“Wow, Peien-aa, aku baru lihat videonya.”
Perkataan Xifan menjadi penyusup di tengah atmosfer keheningan yang melanda keduanya saat ini. Seperti biasanya mereka berdua berkumpul di kafe sehabis penatnya menjalani kuliah. Namun, untuk kali ini Peien sibuk berkencan dengan tugas-tugas statistika menggunung yang ada di hadapannya. Sedangkan Xifan hanya duduk santai sambil menonton video di ponselnya.
“Untuk ukuran vlog yang pertama kali ini keren banget sih. Kamu juga rapi banget ngeditnya, jadinya identitasmu aman.”
Peien berdecak, “Kalau nggak aman ya jelas nggak bakal aku upload dong.”
Pada akhirnya, hari Jumat lalu merupakan perdana untuknya mengunggah vlog. Video singkat itu hanya tentang keseharian Peien yang pergi berbelanja, memasak, serta bersantai di taman. Seperti ciri khas pada akunnya, Peien sama sekali tidak menunjukkan wajahnya.
Kekehan Xifan langsung mengudara. Gadis itu sedari tadi dilanda rasa bosan, makanya ia mengganggu Peien sejak tadi untuk menghabiskan waktu.
“Peien-aa,” panggil Xifan. Terselip nada iseng dari suaranya. Matanya menatap Peien dengan pandangan jahil.
“Nggak mau coba buka web the unsent project? Kali aja kan ada penggemar yang confess buat kamu.”
Peien balas menatap Xifan dengan pandangan datar. Dahinya berkerut, sedangkan sorot matanya tampak sedikit sinis. Ia hanya melirik singkat, sebelum akhirnya kembali fokus pada tumpukan kertas tugas. “Nggak usah aneh-aneh deh!” balasnya malas.
Xifan yang ditatap dengan pandangan sinis justru malah tertawa kencang. Tubuhnya tergelak kecil seiring dengan kedua matanya yang menyipit lantaran terlalu banyak tertawa.
“Ih, bisa aja ada? Kamu kan penyanyi terkenal!”
“Cuma penyanyi youtube.“
“Iya, tapi kan channel kamu aja sudah tembus dua ratus ribu pengikut!” timpal Xifan dengan semangat. Gadis itu menggebuk kedua tangannya di atas meja cukup kencang. Hampir membuat beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.
Xifan menahan tawanya ketika Peien memelotinya, “Sstt! Jangan berisik ah!” desis Peien pelan.
“Iya iya, aku cuma bilang, terus pengikut sebanyak itu disebut apa lagi kalau bukan penggemar?”
“Casual listener.“
Peien membalas. Kali ini pemuda itu benar-benar mencoba untuk tidak memedulikan sahabatnya. Matanya kembali sibuk menatap tumpukan lembaran kertas yang berserakan di atas meja. Astaga, tugas statistika ini benar-benar membuatnya frustasi. Kehadiran Xifan pun sama sekali tidak membantunya untuk menyelesaikan tugas tersebut.
“Tapi kan—”
“Sstt!” Peien mendesis. Bibirnya mencebik kesal. “Kamu diam dulu, baru nanti ngoceh lagi. Aku mau ngerjain tugas ini dulu! Mending bantuin aku deh.”
“Huft, ogah.” Xifan meledek sambil menjulurkan lidahnya jahil. “Malas banget berurusan sama statistika lagi. Selamat mengulang di mata kuliah yang jahanam ini ya.”
“Jahat,” rutuk Peien. “Terus apa gunamu di sini, Shen Xifan?”
“Nunggu jemputan dong,” balas Xifan santai. Begitu maniknya itu menemukan sosok yang ditunggunya, Xifan langsung bangkit berdiri. “Eh, Kak Suye sudah datang dong… Dadah, Peienaa! Aku duluan ya!” pamitnya seraya melambaikan tangan. Senyuman lima jari terbit di bibirnya.
Xifan langsung pergi meninggalkan Peien yang menatap kepergiannya dengan tatapan sebal. Apalagi melihat Xifan yang sengaja menggodanya dengan mengedipkan sebelah mata membuat Peien rasanya ingin sekali melempari sahabatnya itu dengan batu. Ah, sekarang giliran Xifan yang meninggalkan Peien lebih dulu. Jadi begini rasanya punya sahabat yang saling menduakan satu sama lain? Jika kemarin Xifan diduakan oleh kepentingan youtube, sekarang Peien diduakan karena kehadiran pacarnya sang sahabat.
Kepergian Xifan membawa kehampaan di sore hari itu. Peien menghela napas lelah. Tubuhnya duduk semakin bersandar ke kursi kafe, tapi lama kelamaan tubuhnya merosot ke bawah. Bibirnya merengut lucu sembari manik hitamnya yang menatap tumpukan tugas yang tidak kunjung selesai.
Tangannya meraih ponsel miliknya, lalu memutar benda pipih tersebut dengan satu tangannya layaknya sebuah gangsing. Peien bosan. Dia butuh hiburan. Namun, jelas tugas statistika yang ada di hadapannya ini bukanlah suatu hiburan yang menyenangkan, justru membuat perasaannya semakin memburuk, ingin sekali rasanya ia membakar kertas-kertas yang penuh angka menyebalkan itu dengan bensin.
Tiba-tiba perkataan Xifan sebelumnya tadi terbesit ke benaknya. Peien menggigit bibirnya. Dahinya mengernyit berusaha mengingat-ngingat.
"The unsent project?"
Jemarinya dengan cepat mencari laman situs itu di ponselnya. Sepertinya tadi Xifan juga menyebut sesuatu tentang penggemar juga. Peien jadi penasaran dengan situs tersebut.
Setelah diamati lebih lanjut olehnya, ternyata website bernama The Unsent Project itu sejenis situs halaman yang bisa mengirimkan pesan terhadap seseorang secara anonim. Ah, pantas saja Xifan menyebut kata penggemar sejak tadi. Mungkin bisa dibilang situs web ini merupakan tempat di mana siapa pun bisa mencurahkan hatinya.
Memikirkan hal itu saja membuat Peien tersenyum geli. Mendadak pikirannya berkelana. Ia menimang-nimang apakah lebih baik mencari nama akunnya atau tidak di kolom pencarian tersebut. Namun, dikarenakan rasa penasarannya berada di tingkat tertinggi, akhirnya Peien mengetik 'Seeky Luvly’ secara perlahan.
Searching the archive for messages to "Seeky Luvly" ..... 316 posts found.
“Wow, lumayan banyak juga...” Matanya membulat terkejut. Rasa bangga menyeruak ke dalam hatinya yang kini mulai menghangat. Kebanyakan pesan yang masuk berisi ucapan semangat dan pujian terhadap video-video yang telah diunggahnya. Bibirnya tersenyum kecil membaca semua pesan tersebut.
'Suaramu beneran bagus banget. Semangat terus ya, Seeky~'
'Wih, vlog pertamanya kok menarik banget sih??! Please, banyakin lagi dong bikin vlog kayak giniㅠㅠ'
'Suaramu candu banget. Pokoknya aku penggemarmu Seeky!<33'
‘Seekyyy plis aku suka banget denger suaramu, tetap hidup yaa…’
“Kok pada gemas banget sih pesan-pesannya?”
Senyuman yang mengembang sempurna tampak sekali dari wajahnya. Tidak henti-hentinya Peien menggulirkan layar ponselnya ke bawah untuk membaca pesan lainnya. Rasanya menyenangkan sekali bisa membuat orang lain terhibur dengan karya yang dibuat olehnya. Peien terlalu fokus dengan euforia bahagia sehingga tidak menyadari ada orang lain yang kini mulai berjalan ke arahnya.
“Atas nama Li Peien.”
“Eh?”
Yang dipanggil segera mendongakkan kepalanya bingung. Pandangan matanya yang semula sibuk menatap layar ponselnya pun akhirnya mengalihkan atensinya pada sosok yang muncul di hadapannya. Peien mengernyitkan dahinya melihat laki-laki dengan tinggi badannya yang menjulang itu kini menatapnya dengan senyuman kecil. Tangan sang barista tersebut dengan hati-hati menaruh secangkir minuman di atas mejanya.
“Ini pesanan teh susunya. Selamat menikmati.”
Peien menolehkan kepalanya ke segala arah kebingungan, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke arah sang barista.
“Maaf, seingatku tidak pesan…?”
Barista itu balas menatap Peien dengan tatapan bingung. “Sebelum pergi, ada perempuan bernama Shen Xifan memesankan ini untuk anda. Apakah saya salah orang?”
Peien menghela napas lega. Ia kira siapa gerangan orang asing yang memberikan minuman untuknya. Ternyata itu Xifan. Sahabatnya itu ternyata bisa juga bersikap manis padanya.
“Ah, benar itu aku. Terima kasih—” Peien melirik pada name tag yang tersemat di bagian kanan baju barista tersebut. “Jiang Heng,” lanjutnya pelan.
“My pleasure,” balas Jiang Heng. Senyumannya itu sedikit menggetarkan hati Peien.
Peien kira barista itu akan meninggalkannya sendiri, tapi laki-laki itu masih tetap berdiri di tempatnya. Sang barista berdeham pelan seraya mengamati tumpukan kertas yang ada di atas meja Peien.
“Statistika ya? Sepertinya tugas yang cukup sulit.”
Tawa canggung hanya bisa Peien berikan sebagai balasan, “Haha, benar… Tugas yang sangat memusingkan. Cukup sekali untuk bikin stress.”
Barista itu mengangguk seraya tertawa kecil. Tangannya secara perlahan menunjuk salah satu soal yang terpampang jelas di kertas tersebut. “Maaf jika saya lancang, tapi sepertinya anda menggunakan cara yang salah untuk nomor ini.”
“Eh?”
“Sebaiknya anda mencari dulu hasil dari variabel tabel ini, baru mencari hasil dari perbandingan kedua tabelnya.”
Netra hitam Peien membulat dengan antusias. Tangannya buru-buru menyambar kertas kosong, lalu menuliskan langkah-langkah yang dijelaskan secara singkat oleh barista tadi. Tiba-tiba terbesit sesuatu di pikirannya. Peien mendongak kembali menatap sang barista dengan tatapan segan.
“Hmm… Maaf, tapi bisa tolong ajari aku lebih rinci lagi?”
Sang barista itu tampak terdiam berkutat dengan pikirannya sejenak. Peien sih tidak masalah juga kalau pada nyatanya ia nanti akan ditolak. Lagi pula Peien sudah terlalu putus asa sehingga jadinya ia asal saja berbicara pada orang yang tidak dikenalnya.
“Boleh, tapi tidak masalah menunggu shift saya selesai dulu?”
“Hm…” Peien mengangguk ragu.
Jiang Heng menatapnya dengan senyuman kecil. “Baik, shift saya akan selesai sebentar lagi. Tolong tunggu ya.”
Yang dilakukan Peien sekarang hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Diam-diam pandangan matanya mengikuti kepergian Jiang Heng yang kini telah berbalik ke arah yang berlawanan. Manik hitamnya mengamati sang barista itu dengan hati-hati. Setelahnya yang bisa Peien lakukan hanya menarik napas panjang. Astaga, ide gila dari mana bisa-bisanya ia meminta tolong pada orang asing yang tidak dikenalnya untuk mengajarinya?
Lebih aneh lagi adalah orang asing itu ternyata menyanggupi permintaannya. Apalagi orang yang ia mintai tolong itu sedang sibuk pula dengan pekerjaannya. Beruntung barista itu sebentar lagi akan menyelesaikan shift-nya. Jika tidak, mungkin Peien tidak tahu lagi akan menaruh wajahnya di mana karena seenaknya minta diajari statistika.
Sambil menunggu, Peien menyeruput pelan secangkir teh susu yang uap hangatnya masih membumbung tinggi di udara. Aku suka, manisnya pas sekali, batin Peien. Ia menaruh catatan di pikirannya untuk berterima kasih pada sahabatnya nanti.
Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama dari yang Peien perkirakan. Lima belas menit kemudian barista itu pun kembali menghampirinya. Kaus hitam dengan luaran apron coklat yang dikenakannya sebelumnya kini sudah berganti menjadi kemeja tartan. Pria itu memberikan senyuman kecil sebelum meminta izin untuk duduk di meja yang sama dengan Peien.
“Jadi….” Barista itu berdeham pelan. Melihat Peien yang sedari tadi hanya menatapnya diam membuat laki-laki itu yang memulai percakapan lebih dulu.
Peien menggigit bibirnya pelan. Ditatapnya barista di hadapannya dengan pandangan sungkan. “Err… Aku harus memanggilmu apa?”
“Jiang Heng boleh. Aheng buat singkatnya juga boleh.”
“Beneran panggil Aheng nggak apa-apa, nih…” Peien bertanya ragu. Entah kenapa ia merasa kalau laki-laki di hadapannya ini sedikit lebih tua darinya.
Yang ditanya malah memberikan seringai tipis. Jiang Heng menopangkan dagunya pada tangan kanannya seraya berujar, “Mau panggil sayang juga boleh.”
Hah… Dia kenapa deh, smooth sih tapi baru ketemu banget lho?! batin Peien sedikit tidak suka. Ia berusaha menghiraukan hatinya yang sebenarnya menghangat karena digoda oleh barista tampan itu.
“Ah, okay. Aheng....” Peien hanya membalas dengan senyuman segaris. Tidak benar-benar tersenyum, hanya memberikan ekspresi wajah datar. “Kalau begitu panggil aku Peien,” lanjutnya.
Jiang Heng mengangguk. Setelahnya Peien memulai dengan menunjukkan kertas soal-soal statistika pada si barista. Jiang Heng dengan sigap memberikan berbagai penjelasan lengkap sembari tangannya mencoret-coret kertas kosong. Peien mengamati dengan serius.
“Wow. Hebat sekali,” decaknya kagum. Peien terpana dengan kecepatan Jiang Heng dalam menyelesaikan satu soal, yang bahkan itu adalah soal yang Peien mengerjakannya dengan stuck sedari tadi.
Jiang Heng mengangkat sebelah alisnya. Ia memberikan senyuman tipis seraya tangan kanannya menunjuk sisi kepalanya dengan pandangan jahil, seakan-akan memberitahu Peien secara tersirat untuk, “Coba pakai otakmu.”
“Iya, iya, Tuan Pintar. Aku tahu otakmu cerdas kok.”
Peien mengalihkan wajahnya ke arah lain bermaksud pura-pura tidak peduli dengan ledekan singkat dari Jiang Heng tadi. Lagi pula Peien tidak tersinggung, ia tahu bahwa laki-laki di hadapannya itu berusaha mencairkan suasana.
“Coba kerjakan soal yang ini. Pakai cara yang sama kayak tadi.”
Sesekali Jiang Heng membiarkan Peien mengambil alih untuk mencoba mengerjakan tugasnya sendiri. Tangannya langsung memberikan petunjuk ketika Peien mulai kebingungan dengan langkah-langkah untuk menyelesaikan soal tersebut.
“Lihat, akhirnya kamu bisa kan?”
Jiang Heng tersenyum tipis. Netra coklatnya memberikan atensi penuh pada Peien yang kini sedang berdecak bangga tiada henti pada dirinya sendiri. Jiang Heng dengan tubuh yang tergelak geli menatap raut wajah Peien menurutnya sangat menghibur.
“Ternyata aku pintar juga.”
“Setuju.” Jiang Heng menganggukkan kepalanya. “Kelinci itu memang pintar, 'kan?”
Peien mengernyitkan dahinya. “Maksudmu?”
“Kelinci itu kepintarannya unik, lho. Mereka pintar menyembunyikan makanan yang diambilnya di tempat yang tak diketahui kawanan mereka sendiri.”
“Hah?” Peien melongo. “Bentar, bentar… Maksudnya kamu mau bilang aku mirip sama kelinci?!”
Pandangan sangsi yang diberikan Peien membuat Jiang Heng hampir saja mengeluarkan tawanya. Namun, laki-laki itu justru memberikan tatapan pura-pura polos. Jiang Heng mengangguk kecil seraya menunjuk wajah Peien dengan dagunya.
“Coba lihat pipi sama bibirmu. Mirip banget sama kawanan kelinci.”
“Enak saja aku dimiripin sama kelinci!” Matanya melotot. Peien mencoba menahan diri untuk tidak menjitak Jiang Heng dengan penghapus yang dipegangnya kali ini.
Jiang Heng memiringkan kepalanya. Raut wajahnya tampak santai. “Kan sudah kubilang kelinci itu pintar, itu berarti aku memujimu kan?”
Peien berdecak kecil seraya bibirnya yang mengerucut lucu. “Pujian dari mana, huh.”
“Jangan kebanyakan cemberut kayak begitu. Kamu malah makin mirip kelinci lho. Pipimu jadi makin tebal. Nggak mau kan aku miripin lagi sama kawananmu itu?”
“Jiang Heng!”
Tawa keras dari sang barista langsung mengudara. Jiang Heng langsung menjauhkan dirinya ketika melihat Peien bangkit dari tempat duduknya. Peien tampak bersiap untuk menimpuk Jiang Heng dengan kertas tugas miliknya.
“Hei, kamu selalu begini ya sama orang baru?” Tangan besar Jiang Heng dengan sigap menangkap pergelangan tangan kanan Peien. Jiang Heng menahan dan menarik tangan itu, sehingga tubuh Peien sedikit maju menunduk ke arahnya. Jiang Heng mendekatkan bibirnya ke telinga Peien. “Berusaha memukul orang yang sedang kamu mintai pertolongan?” bisiknya pelan.
Peien buru-buru menarik tangannya dari genggaman Jiang Heng. Pemuda itu kembali duduk lagi dari tempatnya. Manik hitamnya menatap Jiang Heng nyalang. “Lagian aneh-aneh aja sih.”
“Biar nggak kaku.” Jiang Heng mendengus pelan, setelahnya ia terkekeh kecil. “Ternyata kelinci bisa serius juga ya?”
“Ngomong begitu sekali lagi biar aku lempar penghapus ini ke mulutmu.”
“Calm down, little rabbit.” Jiang Heng mengangkat kedua tangannya ke atas. Laki-laki itu tiada hentinya tergelak dengan tingkah laku Peien yang menurutnya terlalu jujur, dan ia kagum dengan perubahan sikap Peien yang semula malu-malu kemudian menjadi agresif, seakan-akan mereka telah mengenal dekat. Ia berdeham pelan, “Ayo lanjut lagi. Tugasmu masih banyak tuh.”
“Memangnya siapa yang mulai duluan?”
Ada nada sinisan yang keluar dari perkataan Peien. Jiang Heng tidak mempedulikannya. Akhirnya mereka berdua kembali tenggelam di antara lautan soal statistika, dengan Jiang Heng yang bersikap sebagai nahkoda untuk membimbing Peien dalam mengerjakan soal-soal tersebut.
Peien mengamati Jiang Heng dengan baik sembari kembali menyeruput teh susu miliknya tersebut hingga habis. Melihat ekspresi Peien yang terlihat kesenangan dengan minuman buatannya itu membuat Jiang Heng puas.
“Kamu suka sekali ya sama teh susu?”
Yang ditanya membalas dengan angguukan antusias. “Suka banget! Pokoknya segala macam milk tea aku suka, mau itu yang standar, jasmine, roasted, apapun itu aku suka.”
Jiang Heng segera bangkit dari tempat duduknya. Senyuman lebar terbit di wajahnya. “Mau aku bikinin lagi nggak? My treats.”
“Eh, Aheng nggak usah…” Peien buru-buru menggelengkan kepalanya, tapi Jiang Heng sudah keburu pergi meninggalkan meja menuju dapur kafe.
Tak lama kemudian, laki-laki itu kembali menghampirinya dengan dua gelas minuman yang berada di genggamannya. Jiang Heng menaruh kedua minuman tersebut di atas meja dengan hati-hati.
“Aheng, terima kasih ya…” Peien jadi merasa tidak enak. Sudah dirinya dibantu dengan mengajarinya materi statistika, kini laki-laki itu juga kembali membuatkannya minuman secara cuma-cuma.
“Santai aja.”
“Tapi kamu kenapa baik banget sih, beneran nggak apa-apa nih?” Peien tampak ragu untuk mengambil minumannya, walaupun sejujurnya mulutnya mulai menahan ludah mencium wangi teh susu yang harum nan menggoda.
“Serius beneran.” Jiang Heng menyodorkan minuman tersebut pada tangan Peien yang masih terlihat ragu. “Ngelihat kamu suka banget sama teh susu, aku jadi kepengen minum juga. Makanya aku memang sengaja mau bikin dua.”
Melihat Peien yang tampak menikmati sekali teh susu itu membuat senyuman Jiang Heng melebar. Laki-laki itu semakin menyandarkan punggungnya ke kursi seraya terdiam sejenak mengamati wajah Peien yang berparas manis. Bagaimana cara bibir Peien mengerucut kecil berusaha meniup berulang kali teh susunya yang masih sedikit panas.
Peien yang merasa diperhatikan pun balas menatap Jiang Heng. Alisnya terangkat sebelah dengan dahi sedikit mengernyit, “Jadi? Kamu nggak mau lanjut lagi kah, Aheng?”
“Oh ya…” Jiang Heng tersadar. Laki-laki itu memajukan sedikit tubuhnya kemudian kembali mengajari Peien dengan berbagai soal penuh angka.
Jarum jam semakin lama silih berganti. Tepat pukul delapan malam, akhirnya sesi bimbingan belajar dadakan di antara Jiang Heng dan Peien selesai juga. Selama pengerjaan tadi pun berjalan dengan lancar, meskipun Jiang Heng berkali-kali menyisipkan candaan kecil untuk menggoda Peien, tapi sayangnya tidak terlalu digubris olehnya.
“Wah, tidak kusangka tugasnya jadi cepat beres begini.”
Peien meregangkan kedua tangannya ke atas. Bibirnya menguap lebar, yang langsung ditutup begitu saja oleh tangan Jiang Heng.
“Kalau menguap itu ditutup.”
Peien hanya menganggukkan kepalanya pelan. Pemuda itu berdeham pelan, “Oh ya, makasih ya sudah mau aku ganggu hari ini. Aku benar-benar merasa terbantu sekali dengan ajaranmu tadi.”
“Itu semua sayangnya nggak gratis, Peien.”
Manik hitam Peien langsung membulat mendengar perkataan Jiang Heng. Pemuda itu buru-buru mengeluarkan dompet dari saku celananya. Tingkah laku Peien itu mengundang tawa geli dari Jiang Heng. Apalagi tawanya semakin terdengar keras ketika Peien menyodorkan beberapa lembar uang padanya dengan pandangan panik.
“Tadi cuma bercanda.”
“Mana ada bercanda tapi mukanya serius begitu?!” Peien membalas sewot. Bibirnya merengut sembari tangannya mengibaskan uang yang dipegangnya saat ini secara berulang kali.
“Cepat! Ini jasamu mau kubayar atau gimana? Sekalian sama teh susunya tadi deh.”
Jiang Heng menggeleng. Tangannya mendorong tangan Peien untuk menjauh, bermaksud meminta pemuda itu untuk menyimpan uangnya kembali. Senyum jenaka dilemparkannya.
“Nggak usah. Mending uangnya dipakai buat mampir ke sini lain kali aja.”
Peien mengerjapkan kedua matanya cukup lama. Begitu kesadaran menguasai dirinya, ia hanya bisa mengangguk kecil. Tangannya dengan cepat membereskan semua barang-barangnya yang masih berserakan di atas meja.
“Oh ya, Peien.” Panggilan itu membuat Peien yang saat ini tengah menyampirkan ransel pada bahu kanannya langsung menoleh. Jiang Heng menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Seperti ada kilat jahil, tapi juga serius dari binar matanya.
“Saat kubilang kamu mirip kelinci, itu berarti aku bersungguh-sungguh.” Jiang Heng menggantungkan ucapannya sebentar. Netra coklatnya menangkap rasa penasaran dari wajah Peien.
“Maksudku kelinci itu hewan yang lucu. Menggemaskan.”
Tidak ada lagi yang diutarakan Jiang Heng selanjutnya. Laki-laki itu kemudian mengucapkan selamat tinggal pada Peien. Sedangkan Peien hanya membalas dengan anggukan singkat, lalu ia berjalan pergi meninggalkan Jiang Heng lebih dulu. Peien berjalan menuju halte dengan langkah yang ringan sekaligus aneh.
Bohong kalau Peien tidak kepikiran dengan ucapan Jiang Heng tadi. Perkataan sang barista itu menghantuinya terus bahkan hingga pemuda itu sudah sampai di rumahnya. Sebenarnya Peien juga menangkap sesuatu lain dari perkataan Jiang Heng.
“Dia bilang pipi sama bibirku mirip kelinci…” gumamnya. Itu berarti sang barista benar-benar mengamati wajahnya, bukan?
Bahkan untuk pertemuan pertama di antara keduanya, bagi Peien ini terasa cukup intens.
Ah, sial, kenapa pula jantungnya harus berdebar-debar seperti ini.
-oooo-
Sudah berlalu seminggu semenjak kunjungan Peien ke kafe itu. Kafe yang menjadi tempatnya bersikap nekat untuk meminta tolong pada salah satu barista asing yang tidak dikenalnya di sana. Peien sudah menganggap kejadian saat itu sebagai angin lalu. Lagi pula jika dipikir-pikir tidak ada salahnya baginya untuk meminta bantuan pada orang asing. Apalagi Jiang Heng saat itu terlihat bersungguh-sungguh mengajarinya. Bahkan jika boleh jujur, Peien merasa lebih mudah memahami cara pengajaran Jiang Heng dibandingkan dosennya sendiri di kampus.
Selain itu, ada juga kebiasaan baru yang hinggap padanya. Sejak perkataan iseng Xifan tempo lalu juga membawa Peien menuju suatu aktivitas rutin, yaitu mengunjungi laman situs The Unsent Project.
Bahkan ia bisa mengunjungi situs tersebut selama beberapa jam sekali. Padahal pesan-pesan yang diberikan untuknya itu paling hanya bertambah satu atau dua pesan, itu pun tidak berlangsung selama setiap hari. Namun, Peien merasa bahwa pesan-pesan yang diberikan padanya melalui situs itu berbeda dengan halaman komentar di berbagai video yang diunggahnya di youtube.
Pesan-pesan di The Unsent Project menurutnya lebih unik. Apalagi karena sistemnya yang menggunakan semacam metode penggemar rahasia membuat rasa penasaran selalu meningkat berkali-kali lipat.
Seperti saat ini, Peien tengah asyik bersantai di taman rindang yang dekat dengan lingkungan apartemennya. Taman kota yang menjadi tempat direkamnya vlog miliknya untuk pertama kali. Ia duduk di salah satu ayunan, berkali-kali Peien mengayunkan tubuhnya pelan bergerak bersama irama angin. Namun, matanya tetap terfokus pada layar ponsel yang dipegangnya saat ini.
'Nggak minat buat coba cover lagu yang banyak rapnya nih? Suaramu unik, lho.'
“Hm, menarik. Makasih sarannya, anon!” Peien mengangguk kecil. Disimpannya saran itu dengan baik di dalam benaknya. Lagi pula ia sama sekali belum pernah mencoba eksplor rap pada setiap lagunya.
'I'm in love with your voice fr... Beneran indah banget. Nggak berniat jadi penyanyi betulan aja?'
Lantas Peien menggelengkan kepalanya ketika membaca pesan tersebut. “Mau sih, tapi maaf aku nggak siap buat tampil di depan umum,” gumamnya pelan.
'Bagaimana bisa aku selalu berakhir mendengarkan alunan suara indahmu ketika aku tidak bisa tidur?'
“Gombal banget,” kekeh Peien. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali ketika menemukan beberapa pesan gombal yang sama, tapi dengan 'metode' yang berbeda untuknya. Tawa ringan tiada henti keluar dari bibir kecilnya.
“Ada pepatah yang bilang kalau orang tiba-tiba tertawa sendiri itu artinya dia kerasukan.”
Mendadak tubuhnya terdiam kaku selama beberapa detik. Pikirannya berusaha memproses dari mana ia pernah mendengar suara itu sebelumnya, hingga akhirnya Peien segera tersadar. Lantas dengan cepat ia mengangkat kepalanya. Matanya saling bertemu pandang dengan netra coklat lain yang kini sedang menatapnya.
“Kita bertemu lagi, Peien.”
Ucapan dengan nada riang itu membuat Peien melongo sesaat. Dengan tawa canggung ia membalas, “Oh… Halo Aheng...”
Peien pikir interaksi mereka di kafe pada tempo lalu itu akan menjadi pertemuan terakhir di antara keduanya. Namun, sepertinya ia salah. Astaga. Satu minggu sudah berlalu, dan kenapa pula Peien harus bertemu lagi dengan Jiang Heng? Apalagi dari sekian banyak taman yang ada di kota ini, kenapa pula Jiang Heng harus menginjak tempat yang sama dengannya?
“Wajahmu kelihatan nggak senang ya.”
Sebelah alisnya terangkat. Peien hanya memberikan senyuman canggung. “Lagian siapa yang nggak kaget ternyata ketemu kamu lagi…..”
“Di tempat ini?” Jiang Heng memberikan pandangan menyelidik. Yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Peien. “Tempat pertama kali bertemu memang selalu bikin menarik untuk kembali lagi,” lanjutnya ringan.
“Hmm, tapi kalau dihitung dengan kafe di minggu lalu, ini jadi pertemuan kedua kita, bukan?”
Jiang Heng terkekeh, “Wah, kamu menghitungnya. Ternyata kamu menantikan pertemuan kita lagi ya.”
“Yang ngungkit duluan kan kamu,” dengus Peien begitu melihat sikap Jiang Heng yang menurutnya terlalu percaya diri.
Jiang Heng mengambil langkah untuk duduk di ayunan sebelah Peien yang masih dalam kondisi kosong. Laki-laki itu mengayunkan tubuhnya pelan seraya memejamkan matanya. Helai-helai rambut hitamnya berantakan karena angin yang menerpa.
Melihat Jiang Heng yang tampak tenang membuat Peien memilih untuk melakukan hal yang sama sepertinya. Ia menyimpan ponselnya di saku celananya, lalu ikut mengayunkan tubuhnya lebih kencang bersama dengan ayunan tersebut.
“Kalau suasananya damai begini, terasa bernostalgia ya?”
Peien mengangguk menyetujui ucapan Jiang Heng. Sang barista itu melanjutkan ucapannya seraya menyeringai tipis, “taman ini menyimpan banyak kenangan.”
Peien menoleh. Netra coklat Jiang Heng saat ini tampak terfokus pada satu titik, tapi dapat diamati bahwa pandangan matanya kosong. Jiang Heng berujar, “di taman inilah aku menemukan duniaku. Bagaikan harta karun, tempat ini menjadi titik balik kehidupanku. Di sini pula aku mendapatkan pekerjaan tetapku. Ada seseorang yang merekrutku karena kemampuanku yang katanya hebat. Aku mampu beradaptasi, bergerak cepat dalam menyelesaikan sesuatu dengan baik ketika bertugas. Bahkan berkali-kali orang yang merekrutku memilih untuk merekomendasikan jasaku pada orang lain.”
Peien hanya menatap dalam diam. Ia memutuskan untuk tidak memberikan balasan apapun dan membiarkan Jiang Heng mengeluarkan isi hatinya. Peien hanya berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Tapi sayangnya aku gagal.” Jiang Heng memejamkan matanya seraya menghela napas pelan. “Untuk pertama kalinya aku merasakan fase itu. Aku melakukan kesalahan yang terlihat kecil, tapi sebenarnya sangat fatal. Mau tidak mau, aku harus mencari tempat lain. Aku bersyukur kafe itu mau menerimaku sebagai barista pemula.”
Oh, berarti yang Aheng bicarakan itu pekerjaannya sebelum menjadi barista ya… batin Peien. Namun, pemuda itu memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut, takut menghancurkan momen sensitif saat ini.
Jiang Heng tiba-tiba bangkit berdiri. Ia menolehkan wajahnya ke arah Peien. Netra coklat lelaki itu kini menampilkan sorot yang berbeda. Pandangan mata Jiang Heng yang tajam, tapi juga lembut di saat yang bersamaan itu terlihat sangat misterius bagi Peien.
Peien termenung selama beberapa detik. Tanpa disadari tangannya bergerak sendiri untuk menggenggam tangan Jiang Heng seraya mengelusnya pelan. Seketika ia tahu bahwa Jiang Heng butuh pendengar untuk mencurahkan hatinya. Peien hanya bermaksud untuk memberikan kekuatan kecil terhadap laki-laki itu.
Yang dibalas dengan Jiang Heng balik menggenggam tangan Peien semakin erat. Mendadak genggaman hangat dari Peien seakan-akan melepas beban yang selama ini hinggap di pundaknya. Tubuh besarnya itu berdiri mendekat ke arah Peien supaya genggaman tangan di antara keduanya tidak terlepas.
Siapa sangka jika di pertemuan kedua ini, Peien merasa bahwa Jiang Heng adalah sosok laki-laki yang membuatnya nyaman. Apakah mungkin karena sang barista menunjukkan sisi rentannya yang berbeda jauh ketika di pertemuan pertama yang terlihat penuh tawa dan berkarisma.
Namun, untuk interaksi mereka yang bisa disebut sebagai kedua kalinya, apakah Peien hanya berpikiran terlalu sederhana?
Entahlah.
Pemuda itu mencoba untuk menunjukkan empatinya sebagai sesama makhluk hidup. Peien berusaha mengusir jauh-jauh pemikiran buruk yang mendadak hinggap di benaknya.
-oooo-
Orang itu harus rela bahwa rahasia yang selama ini ditutupnya rapat harus terbuka paksa secara tiba-tiba. Sayang sekali sosok malang itu sudah bersikap lengah sejak awal.
Sang anak cahaya itulah yang salah karena membiarkan elemen kegelapan itu memasuki kehidupannya.
Bahkan hanya dari sentuhan kecil yang disebut kepercayaan secara tiba-tiba seharusnya membuat orang itu sadar bahwa ada sosok lain yang mengintai dirinya.
Tik tik tik.
Suara mesin laptop yang menyala disertai dengan tombol mouse yang bergerak berulang kali menjadi penyusup dalam keheningan pada malam itu.
“Hm…”
Seringai sosok itu muncul melihat sesuatu yang ada di layarnya saat ini. Ternyata mudah untuk menarik perhatiannya.
Matanya dengan serius mengamati layar yang menampilkan seseorang sedang tertidur pulas. Orang itu tertidur dengan napas yang teratur, sepertinya mimpi indah sedang dijumpainya. Wajahnya yang berparas manis itu membuat sosok lain yang memperhatikannya tersenyum puas. Diacaknya rambut hitam miliknya itu dengan perasaan senang yang membuncah di dada.
Langkah awal telah berhasil.
-oooo-
“Akhir-akhir ini kamu dekat ya dengan barista itu.”
Shen Xifan menopangkan dagunya di tangan kirinya seraya menatap Peien dengan tatapan menyelidik. Bosan mengamati sang sahabat, ia mengalihkan atensinya pada salah satu barista di kafe itu yang sedang sibuk meracik minuman. Barista yang menjadi teman baru Peien akhir-akhir ini. Xifan mengakui bahwa barista itu juga memiliki wajah yang tampan.
“Dia gebetanmu ya?” Xifan bertanya iseng seraya mengamati wajah Peien yang tiba-tiba sedikit tegang.
“Just friend,” balas Peien cuek. Ia tidak menyadari kalau Xifan padahal sudah mengamati bahwa rona merah tampak di wajahnya sejak tadi.
Xifan mendengus, “Semua juga pasti berawal dari teman dulu.”
“Lho? Kamu kan beda?” Peien menatap jahil. “Kamu sama Kak Suye sih bukan teman, tapi awalnya dokter-pasien zone.“
“Tapi setidaknya hubunganku sudah naik setingkat daripada kamu.” Xifan menjulurkan lidahnya bermaksud meledek Peien. Matanya mengerling jahil. “Lagian sahabatku yang kayak kelinci ini keren juga bisa naksir barista yang tampan kayak gitu!”
Peien merotasikan matanya malas, “Gini-gini aku masih punya selera ya.”
Namun, begitu Peien kembali pulang ke rumahnya, ia mendadak termenung. Pikirannya terbayang oleh perkataan Xifan saat di kafe tadi. Sahabatnya itu kini tahu Peien semakin dekat dengan Jiang Heng. Dikarenakan tiap ia berkunjung ke kafe itu, Jiang Heng tidak segan-segan untuk menghampirinya dan mengajaknya mengobrol, bahkan ketika Xifan tengah bersama mereka. Berulang kali gadis itu terkadang menjadi nyamuk di antara kedua laki-laki itu.
Selain itu, semenjak pertemuan di taman kota pada tempo lalu itu juga membawa hubungan mereka semakin jauh. Peien menyebutnya sebagai pertemuan yang cukup intens. Waktu itu ketika Jiang Heng selesai mencurahkan perasaan sedihnya tentang pekerjaan, laki-laki itu juga menjadi pendengar yang baik ketika Peien juga ikut menceritakan kenangan lain yang dimilikinya di taman itu. Dikarenakan taman itu pula yang menjadi saksi mata kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.
Mana ada dua orang asing yang baru mengenal bisa saling mencurahkan hati satu sama lain?
Apalagi keduanya tahu bahwa mereka kesepian. Kehadiran Jiang Heng dan Peien untuk satu sama lain seperti layaknya keajaiban. Semacam obat penyembuh yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa untuk menyatukan keduanya.
Tetapi, seperti apa yang Peien katakan pada Xifan sebelumnya.
Bahwa hubungan antara Li Peien dan Jiang Heng adalah teman.
Saat ini mereka memanglah teman, tapi tidak tahu bagaimana rantai benang takdir akan membawa akhir keduanya berlabuh.
Semua masih abu-abu.
“Duh, kebiasaan banget sih kalau jam segini malah overthinking.“
Decakan darinya terdengar. Peien terlalu lama larut dalam pikirannya sendiri. Bahkan ketika jam telah berganti menjadi jam sepuluh yang seharusnya ia sudah tidur, tapi Peien masih terjaga. Tubuhnya terlentang di atas kasur dengan iris hitamnya yang menatap langit-langit kamarnya.
Peien menarik napas panjang, setelahnya ia mengambil ponsel miliknya. Tidak ada yang menarik. Hanya membaca spam berisikan pesan-pesan dari grup kelas mata kuliah. Apalagi mendadak kepalanya diserang rasa pusing, lantaran ia teringat belum menyiapkan lagu baru untuk unggahan video terbaru di minggu depan.
Baru saja ia mencoba untuk tidur, tapi Peien malah menyalakan ponselnya lagi dan membuka laman situs The Unsent Project. Ada beberapa pesan baru yang memberinya ucapan semangat yang manis. Hal yang refleks membuat senyumannya langsung terbit.
Namun, begitu matanya menangkap ada sesuatu yang ganjil membuat ia langsung bangkit terduduk secara tiba-tiba. Matanya membulat menatap layar ponsel dengan khawatir.
Ada salah satu pesan baru yang membuat kebingungan menguasai Peien.
'You're so freaking cute. Kupikir kelinci akan kalah lucu jika disandingkan denganmu.'
“Hah?” Dahinya mengernyit. Mendadak tangannya sedikit gemetar.
Kenapa pengirim pesan yang ini bisa mengatakannya mirip dengan kelinci? Padahal Peien menutupi seluruh wajahnya dengan masker topeng. Dia sama sekali tidak pernah menunjukkan wajahnya di video.
Mencurigakan.
Namun, Peien berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Mungkin ini hanya kebetulan, iya hanya kebetulan, batinnya berusaha optimis meskipun rasa cemas menguasai dirinya.
Kemudian terbesit suatu di benaknya. Peien menatap layar ponselnya dengan ragu. Ia menimang-nimang apakah yang dilakukannya kali ini adalah hal yang benar atau tidak, karena Peien harus siap dengan segala konsekuensi apa yang ditemukannya nanti.
Pemuda itu berniat untuk mencari namanya sendiri di kolom pencarian. Bukan dengan nama akun channel-nya, tapi memang dengan nama aslinya sendiri. Toh, sebenarnya Peien tidak berharap banyak, tapi sejujurnya ia penasaran. Apakah akan ada pesan yang ditujukan untuknya atau tidak jika ia memakai nama asli. Tangannya secara perlahan mengetik nama ‘Li Peien’ dengan jantung bertalu-talu.
Ternyata ada.
Namun, hanya terdapat satu pesan.
Satu pesan yang sayangnya berhasil menghantui pikirannya. Bahkan selama Peien tertidur pun tulisan itu seperti bersuara secara berulang-ulang layaknya sebuah kaset rusak. Tulisan itu bersuara bahkan di dalam mimpinya di malam itu yang tidak tahu itu adalah mimpi damai atau mimpi buruk.
'Apakah kamu penyihir?'
-oooo-
“Aheng,” panggilnya pelan. “Kira-kira apa lagu yang ada di pikiranmu saat ini?”
Jiang Heng memiringkan kepalanya sejenak dengan mata yang memicing kecil. Seringai kecil tampak dari sudut bibirnya. Pertanyaan random dari Peien itu berhasil menarik perhatiannya, dan lantas membuat Jiang Heng menghentikan kegiatannya saat itu juga.
Saat ini keduanya sedang berbelanja di salah satu swalayan dekat apartemen Jiang Heng. Laki-laki itu mengajak Peien untuk bermain ke tempat tinggalnya, yang akhirnya disetujuinya ajakan tersebut. Sebelum itu, keduanya berencana untuk membeli beberapa makanan dan minuman ringan terlebih dahulu untuk mengisi waktu santai.
“Hm, lagu ya? Kamu ingin menyanyikan lagu untukku?”
“Percaya diri banget ya?” Peien mencibir penuh canda. Tangannya meraih dua botol besar minuman cola, lalu memasukannya ke dalam keranjang yang dipegang oleh Jiang Heng. Namun, laki-laki itu menghentikan pergerakannya.
“Jangan kebanyakan minum soda. Nggak baik.” Jiang Heng meminta Peien untuk menaruh kembali minuman itu ke rak. Dari seringnya intensitas pertemuan mereka berkali-kali, ia sudah tahu kebiasaan Peien yang kerap kali minum cola dalam jumlah yang cukup banyak.
“Tapi aku mau ini…" Peien merengut kecil. Mendadak jantungnya berdebar-debar ketika Jiang Heng menatapnya dengan pandangan tajam.
“Nggak.”
“Please boleh, ya?” Peien memiringkan kepalanya seraya kedua tangannya membentuk permohonan kecil. Pada akhirnya Jiang Heng mengangguk seraya berdecak pelan.
“Yaudah boleh, tapi satu aja ambil yang botol kecil.”
Peien mengerucutkan bibirnya, tapi pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk dengan tubuh menunduk lesu. Jiang Heng memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya dengan melanjutkan obrolan mereka sebelumnya.
“Tadi kenapa kamu tiba-tiba nanya tentang lagu?”
“Aku lagi butuh ide aja,” balas Peien. Setelah menaruh botol cola berukuran kecil di keranjang, tangannya mengambil dua bungkus snack keripik kentang.
“Untuk?”
“Hmm… Mungkin, sesuatu?” jawab Peien tidak yakin. Sejujurnya meskipun mereka sudah sering main bersama, tapi ia masih merahasiakan identitasnya sebagai pemilik akun channel 'SeekyLuvly’' dari Jiang Heng.
Pemuda itu memilih berjalan lebih dulu dari Jiang Heng, tapi pada akhirnya Peien menoleh ke belakang karena Jiang Heng tidak kunjung mengikutinya. Pria itu masih berdiri di tempatnya. Sorot mata Jiang Heng tampak berkilat aneh. Namun, setelahnya Jiang Heng langsung menghampiri Peien dengan langkah riang.
“Smooth criminal.“
“Hmm?” Peien mengerjapkan matanya bingung.
Jiang Heng menyeringai lebar. Tangannya mengambil sekotak teh kantong beraroma jasmine ke dalam keranjang seraya berujar, “Lagu smooth criminal.”
“Lagunya Michael Jackson?”
Pertanyaan Peien dibalas dengan anggukan semangat dari Jiang Heng. Peien memberikan pandangan cukup terkejut.
“Wow, aku tidak menyangka. Seleramu ternyata king of pop, huh?”
“Masterpiece.“
Balasan singkat dari Jiang Heng membuat Peien tahu bahwa pria itu sangat mengagumi penyanyi terkenal tersebut. Tiba-tiba saja pikirannya berkelana. Ada suatu ide bagus yang terbesit di benaknya. Peien menemukan konsep menarik untuk lagu cover yang rencananya ingin dibuatnya nanti.
“Peien?”
Sekarang giliran Peien yang hanya diam. Pemuda itu masih larut dalam pemikirannya. Jiang Heng yang telah berjalan pergi memutuskan untuk kembali menghampirinya, lalu dengan sengaja ia mencondongkan tubuhnya. Selain itu, Jiang Heng mendekatkan wajahnya pada Peien membuat kening keduanya kini saling menempel. Peien yang masih terdiam belum sadar akan apa pun membuat Jiang Heng sengaja berbisik memanggil namanya di dekat wajah pemuda semanis kelinci itu.
Hal yang sontak membuat tubuh Peien terlonjak kecil. Apalagi begitu mata tajam Jiang Heng terasa menembus ke dalam pandangannya saat itu juga. Uap napas dari bibir Jiang Heng yang menerpa wajahnya itu membuat Peien langsung menarik tubuhnya ke belakang. Rona merah kontan menghiasi kedua pipi Peien, bahkan ia merasa bahwa rona itu menjalar hingga ke telinganya. Tingkah yang dilakukan Jiang Heng tadi refleks membuat Peien menatapnya dengan mata yang membulat terkejut, tapi kentara sekali ada binar malu-malu yang tampak dari sorot matanya.
“Jangan melamun, Peien-aa.”
Tawa kecil dari Jiang Heng langsung mengudara melihat tingkah laku Peien yang menurutnya menggemaskan.
Jika dulu Peien sering bersikap tidak peduli dan acuh dengan segala godaan Jiang Heng di beberapa pertemuan awal mereka. Namun, semakin kedekatannya hubungan di antara keduanya membuat pertahanan diri Peien melemah.
Jantung, bisa tolong berhenti berdebar aneh tidak?!
Sayangnya Peien hanya bisa mengutarakan semua perasaannya itu dalam hati.
-oooo-
Di suatu hari, Peien mengawali paginya dengan kembali membuka situs The Unsent Project itu lagi. Kali ini berbeda tidak seperti biasanya. Sekarang ia mencari dengan nama aslinya sendiri.
Peien kira tidak akan ada lagi pesan baru untuknya semenjak waktu itu, terakhir kali Peien memeriksanya adalah ketika pesan itu menyebut dirinya sebagai penyihir. Namun, ternyata kali ini pesan yang masuk ternyata semakin bertambah. Pesan-pesan yang ditujukan untuknya semakin membuat rasa cemasnya meningkat.
'Jangan tertidur di tempat umum, bagaimana jika ada orang yang menculikmu?'
'Ingin rasanya suaramu yang indah itu kusimpan hanya untuk diriku sendiri.'
‘You're always blushing, and I’m excited to see just how red I can make you each day.’
'Kamu berduaan terus dengan sahabatmu. Aku cemburu.'
“Ini orang gila dari mana…” Peien menggigit bibirnya takut ketika membaca seluruh pesan baru itu. Semuanya terlihat menyeramkan.
Selama ini Peien merasa hidupnya aman. Ia merasa tidak ada hal apapun yang mengganggu ketentraman hidupnya. Namun, pesan-pesan aneh tanpa identitas untuknya sekarang mampu mengacaukan mood-nya saat itu juga.
Pasti ini ulah stalker gila. Orang itu pasti selalu mengikutinya kemana pun ia pergi. Pesan dengan penuh obsesi yang tersirat itu selalu muncul setiap harinya di laman situs itu. Lama kelamaan Peien jengah untuk membacanya.
Hari-hari telah berlalu. Namun, kali ini berbeda. Pesan dari penguntit gila itu tidak hanya muncul di laman situs pesan anonim, tapi juga dikirimkan secara langsung ke e-mail milik Peien. Entah dari mana orang yang tidak jelas asal usulnya itu bisa menemukan alamat e-mail miliknya.
'I'm really thankful for your existence. I want to keep you in my life.'
Pesan dua kalimat itu berhasil membuat Peien mudah menaruh rasa curiga terhadap apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan tubuhnya mudah berjengit kecil apabila mendengar suara kecil seperti benda terjauh atau ketika dirinya mendapatkan sentuhan ringan dari orang lain.
“Peien?”
Tubuhnya terlonjak kecil begitu mendapati ada seseorang yang menepuk bahunya. Lantas saja Peien dengan cepat bangkit berdiri dan mengeluarkan botol pepper spray yang ada di genggamannya sejak tadi. Ia menoleh ke belakang dan menodong botol itu terhadap seseorang di hadapannya.
Namun, begitu mengetahui bahwa orang yang menghampirinya saat ini adalah Jiang Heng. Helaan napas lega langsung dikeluarkannya begitu saja.
Astaga. Peien lupa kalau saat ini dirinya memiliki janji dengan si barista itu.
Sebelah alis Jiang Heng terangkat naik. Dia terkejut dengan tingkah laku Peien yang tampak waspada. Padahal laki-laki itu tidak berniat macam-macam. Ia menghampiri Peien begitu shift kerjanya telah selesai, dikarenakan Peien memang menunggunya sejak tadi.
“Are you okay?“
Jiang Heng meraih tangan Peien, lalu memberikannya genggaman lembut. Tangan Peien yang bersuhu dingin itu membuat kekhawatiran Jiang Heng meningkat.
“Peien, kamu kenapa?”
Peien bercicit. “Aku merasa ada yang mengikutiku sejak tadi.”
Ucapannya itu lantas membuat Jiang Heng semakin menarik tubuh Peien untuk mendekat padanya. Rahangnya mengeras. Matanya berkilat tajam. “Ceritakan nanti,” ujarnya. Intonasi suaranya mendadak terdengar semakin berat. Matanya bagaikan elang melirik ke segala arah dengan curiga. Berusaha untuk mencari sesuatu yang membuat Peien merasa gelisah.
Peien hanya bisa mengangguk kecil. Sebenarnya ia tidak berniat untuk memberitahukan hal-hal aneh yang terjadi dengannya sekarang pada siapapun, bahkan kepada keluarganya dan Xifan itu sendiri.
Niat hari ini seharusnya Peien akan pergi bersama Jiang Heng untuk menonton film ke bioskop. Namun, karena situasi yang menurut Jiang Heng tampak tidak kondusif membuat pria itu memilih mengajak Peien ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen Jiang Heng, Peien langsung menceritakan seluruh pengalaman ganjilnya pada pria itu. Ia juga menunjukkan pesan-pesan menyeramkan yang didapatinya sejak tempo lalu kepada Jiang Heng. Pria itu membaca semua pesan itu dengan dahi yang mengernyit aneh. Rahangnya tampak kaku. Kentara sekali kalau pria itu berusaha menahan emosinya untuk tidak meninggi karena membaca pesan-pesan dari stalker gila itu untuk Peien.
Ting!
Suara notifikasi email yang masuk ke dalam ponsel Peien malah membuat tubuhnya mendadak tegang.
'There's something special about you. It's intoxicating, but you shouldn't cross the line.'
Jiang Heng membaca pesan baru itu dengan wajah yang tertekuk. Helaan napas ditariknya pelan.
“Saranku jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang ini, Peien.” Jiang Heng menatapnya dengan serius. “Hanya aku dan kamu saja sepertinya cukup. Bisa saja penggemar rahasia ini salah satu orang terdekatmu, kan?”
Peien hanya bisa mengangguk pelan. Matanya menatap ke bawah dengan sorot yang ragu. Hati kecilnya mengatakan untuk tidak mencurigai orang terdekatnya saat ini. Mana mungkin orang-orang yang dikenalnya dekat mampu berbuat hal itu padanya?
Jika begitu, seharusnya Peien juga mencurigai Jiang Heng. Lama kelamaan sosok pria itu juga berubah status menjadi orang dekat yang juga mengisi kehidupannya. Maniknya dengan hati-hati menoleh ke arah Jiang Heng yang saat ini masih menatap layar ponsel Peien dengan sorot tajam.
Namun, rasa cemas yang menguasai dirinya mendadak hilang ketika Jiang Heng memeluk tubuhnya. Peien membiarkan tubuhnya meluruh ke dalam pelukan erat Jiang Heng. Rasanya hangat dan nyaman. Selain itu, Peien merasa ketakutan yang menghantuinya akhir-akhir ini hilang begitu saja.
Aneh sekali. Kekuatan apa yang dimiliki Jiang Heng hingga mampu membuatnya tenang saat itu juga?
Jiang Heng seperti penyihir.
Tiba-tiba pesan pertama yang dari si stalker gila itu kembali terbayang di pikirannya. Orang itu menyebut Peien sebagai penyihir. Apakah stalker itu juga merasakan seperti apa yang Peien rasakan saat ini?
Perasaan tenang ketika bersama orang yang dianggap tepat.
Sayangnya Peien tidak punya petunjuk siapa penguntit yang membuatnya takut itu.
“Peien-aa, aku akan bantu untuk menyelidikinya. Cukup bilang padaku kalau pesan-pesan dari orang aneh itu muncul lagi, ya?”
Peien mengangguk pelan di dalam pelukan Jiang Heng. Sepertinya menuruti perkataan Jiang Heng tadi ada benarnya juga
Ini semua demi keselamatan dirinya.
-oooo-
Sekarang intensitas pertemuan Jiang Heng dan Peien sudah tidak terhitung lagi berapa jumlahnya. Bahkan hubungan keduanya bisa dibilang semakin naik ke tingkat yang lebih tinggi, meskipun saat ini masih belum ada 'status' apa pun yang tersemat di antara mereka.
Cinta platonik? Teman?
Tidak ada teman yang mencium temannya sendiri. Bahkan hingga tubuh keduanya saling bertemu untuk bercumbu dan menikmati balutan gelora asmara di antara keduanya.
Iya, betul, memang sudah sejauh itu hubungan yang berlabuh di antara mereka.
Bermula dari Li Peien yang lama kelamaan mulai sering menginap di tempat tinggal Jiang Heng. Mereka tidur di ranjang yang sama. Saling berbagi keluh kesah sebelum tidur. Semula hanya berawal dari kecupan ringan di kening, disertai dengan pelukan hangat sebagai upaya untuk menenangkan Peien yang belakangan ini dipenuhi kekalutan. Hingga akhirnya bentuk sentuhan itu mengantarkan gejolak lain yang tumbuh di antara keduanya.
Semakin sering mereka mencurahkan hati di ranjang yang sama, semakin sering pula sentuhan yang mereka berikan untuk satu sama lain.
Seperti di hari Sabtu ini, Peien pergi mengunjungi apartemen Jiang Heng. Pemuda itu menekan beberapa tombol password sebelum akhirnya masuk ke dalam. Jiang Heng bahkan secara cuma-cuma memberitahukan password apartemen miliknya pada Peien. Itu membuktikan bahwa kepercayaan sudah terbangun kokoh di antara keduanya.
“Peien, aku menemukan sesuatu lagi.”
“Eh?” Peien mengangkat kepalanya untuk menatap Jiang Heng. Saat ini ia sedang melepas sepatu dan meletakkannya di salah satu rak yang ada di dekat area pintu masuk tadi. Tiba-tiba suara Jiang Heng itu masuk ke dalam indra pendengarannya.
“Sepertinya penggemar rahasiamu ini meninggalkan jejak tentang dirinya.”
Peien tidak mengindahkan ucapannya dan memilih untuk mengamati wajah Jiang Heng dalam diam. Pelipis laki-laki itu seperti dihujani keringat, matanya tampak cukup sayu, apalagi bibirnya juga pucat. Peien mengernyitkan dahinya dengan semua keanehan itu. Tidak biasanya Jiang Heng terlihat seperti ini.
Tangannya pun dengan cepat bergerak untuk menyentuh kening Jiang Heng, lalu turun menuju ke kedua pipinya, dan berakhir ia menyentuh lengan pria itu.
“Aheng… Badanmu panas,” ujar Peien cemas. Dengan hati-hati ia meraih pergelangan tangan Jiang Heng dan menariknya pelan, bermaksud untuk mengajak pria itu kembali ke kamar. Jiang Heng hanya menurut saja. Apalagi ketika Peien menyuruhnya untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Jiang Heng lagi-lagi menurutinya.
Setelah itu Peien keluar dari kamar. Kemudian ia kembali lagi dengan membawa wadah baskom kecil yang berisikan air dingin disertai dengan kain lembut. Pemuda itu dengan hati-hati menaruh kedua benda itu di atas meja nakas. Peien duduk di pinggiran kasur. Helaan napas pelan keluar darinya.
“Aheng…” panggil Peien pelan. “Tidak seharusnya kamu bekerja keras seperti ini. Ini adalah masalahku dengan penggemar rahasia yang menyeramkan itu.”
“Itu karena aku peduli denganmu, Peien-aa…” balas Jiang Heng dengan suaranya yang serak.
“Tapi siapa yang memperhatikan kesehatanmu kalau kamu mulai sakit begini?” Peien menggigit bibirnya cemas. Jemarinya dengan hati-hati mengompres kain pada air dingin, lalu meletakkan kain tersebut ke atas dahi Jiang Heng yang bersuhu cukup panas.
“Orangnya ada di hadapanku sekarang.”
Peien mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Maniknya saling bertemu pandang dengan netra tajam milik Jiang Heng yang menatapnya serius.
“Iya, itu kamu.”
Jiang Heng menarik tubuh Peien untuk semakin mendekat ke arahnya. Tubuh Peien ambruk begitu saja hingga menindih Jiang Heng, baru saja ia ingin bangkit tapi laki-laki itu tetap menahan tangannya. Jiang Heng sengaja membiarkan Peien tetap menindih tubuhnya.
“Lalu kita ini apa?” Peien berbisik pelan.
“Aku pikir kita sudah terlalu jauh untuk hanya disebut teman,” bisik Jiang Heng. Suara beratnya itu membelai telinga Peien dengan lembut, bertolak belakang dengan reaksi tubuhnya yang mulai meremang.
“Just say it…”
“Lovers? Boyfriend? Kamu mau kita mengubah status ke hal itu?”
Peien mendongakkan kepalanya pelan. Perlahan-lahan senyuman mulai terbit menghiasi wajahnya. “Mau,” balasnya dengan suara kecil. Dengan berani, bibirnya mendekat lebih dulu untuk mengecup bibir Jiang Heng dengan kilat. Ia berniat menyudahinya, kalau saja Jiang Heng tidak secara tiba-tiba meraup bibirnya dengan cepat. Laki-laki itu memberikan berbagai lumatan manis pada Peien. Direngkuhnya pinggang ramping Peien supaya semakin mendekat ke arahnya.
“Peien-aa, bolehkah?”
Jiang Heng meminta izin dengan sengaja ia bersuara di dekat telinga Peien membuat pemuda itu tertawa kecil lantaran tubuhnya meremang geli.
“Kamu lagi sakit.”
“Kalau begitu kita nggak butuh ini.” Jiang Heng menyingkirkan kain kompresan yang masih setia menempel di atas dahinya. Seringai tipis terbit di bibirnya. “Lihat, aku sudah sembuh, kan?”
“Nanti malah gantian aku yang sakit.”
“Kalau begitu biar aku yang merawatmu nanti,” balas Jiang Heng. Bibirnya bergerak mengecup kening Peien cukup lama. Keduanya memejamkan mata menikmati momen tenang ini sejenak. Berusaha melupakan keganjilan dan kebisingan di dunia luar sana.
Peien bisa merasakan dengan jelas tubuhnya yang mendapatkan energi panas karena Jiang Heng yang sedang sakit hari ini. Namun, melihat Jiang Heng yang menatapnya dengan sorot keinginan yang tinggi, membuat ia tidak bisa berkata apa pun lagi.
Peien hanya mengerucutkan bibirnya seraya mengangguk pelan. Tingkahnya itu berhasil membuat Jiang Heng langsung kembali mempertemukan ranum keduanya dalam ciuman panjang. Bibirnya secara aktif memberikan berbagai kecupan dan lumatan pada Peien.
Lama kelamaan fokus Jiang Heng yang semula hanya bibir, turun menuju perpotongan leher Peien. Kulit semanis madu itu berkilat karena sinar lampu, tapi sinar tersebut menyorot pada jejak bahwa leher itu tidak sepenuhnya polos. Peien bersuara lirih.
“Yang kemarin masih ada...”
Sisa-sisa love bites yang diberikan Jiang Heng beberapa hari yang lalu masih membekas di tubuhnya. Jiang Heng menyeringai tipis. Suaranya pun ikut berbisik serak.
“Kutambah lagi, ya?”
“Nanti hilangnya lama,” dengus Peien. Sontak hal itu membuat Jiang Heng tertawa keras, kemudian dengan cepat ia membalikkan posisi hingga tubuh Peien sekarang berada di bawahnya saat ini.
“Nggak apa-apa. I want you to be mine. Apa kamu menyesal?”
Peien menggeleng cepat. Ditatapnya baik-baik Jiang Heng yang ada di atas tubuhnya saat ini. Meskipun pria itu dalam kondisi yang tidak terlalu sehat, tapi kekuatannya tetap kokoh dan tidak hilang. Helaian rambut Jiang Heng tampak berantakan karena keringat. Wajahnya menatap Peien dengan sorot mata yang sangat memuja.
Hanya dari pandangan intens itu saja sudah berhasil membuat Peien meleleh. Lantas kedua tangannya melingkar ke leher Jiang Heng, seraya menarik tubuh besar itu mendekat padanya. Ranum keduanya saling beradu kembali. Ciuman manis yang perlahan-lahan meruntuhkan Peien bahwa dirinya tahu kalau ia tidak bisa menolak lagi semua sentuhan dari Jiang Heng.
-oooo-
“Sudah lama nih ya kita nggak telponan bareng.”
“Habisnya kamu sibuk terus sama pacarmu!”
Gerutuan sebal terdengar dari seberang telepon. Kekehan dari Peien mengudara. Pemuda itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan ponsel yang masih setia menempel di telinga kanannya.
Saat ini Peien sedang bercengkrama ria bersama Xifan. Mereka berdua memang jarang bertemu akhir-akhir ini. Apalagi semenjak libur semester telah dimulai membuat mereka berdua jarang saling bertemu untuk sama lain, dikarenakan saat ini Xifan sedang pergi berlibur keluar kota bersama dengan kekasihnya.
“Itu karma buatmu, Xifan. Dulu kamu sering giniin aku tahu,” ledek Peien. Hanya terdengar decakan kesal dari Xifan di seberang sana. “Ngomong-ngomong, makasih lho, Xifan. Ini semua kan berkat kamu. Kalau kamu nggak traktir aku minuman waktu itu, mana mungkin aku bisa kenal sama Aheng,” lanjut Peien santai.
“Hah? Minuman? Traktiran yang mana, ya? Aku lupa.”
“Waktu itu—” Peien menggantungkan ucapannya sebentar. Pikirannya menerawang berusaha mengingat. “—Ingat nggak sih yang kita lagi nongkrong ke kafe, terus aku lagi pusing sama tugas statistika dan video? Saat itu kan kamu pulang duluan tuh, kamu beliin aku teh susu biar aku nggak suntuk,” lanjutnya.
“Aku emang suka sih traktir kamu teh susu. Tapi kalau pas saat itu aku lupa deh. Ah, lagian aku mana mungkin langsung traktir kamu gitu aja... Aku kan langsung keluar dari kafe itu. Nggak mungkin dong aku balik lagi ke kasir?”
Penjelasan dari sang sahabat mendadak membuat Peien terdiam. Pemuda itu menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong.
Ah, benar juga… Waktu itu Xifan langsung pergi meninggalkannya begitu sahabatnya itu dijemput oleh kekasihnya.
Apa mungkin Jiang Heng sengaja memberikannya minuman gratis saat itu?
Tapi dari mana Jiang Heng bisa mengetahui nama Xifan? Mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Bahkan Peien adalah orang yang lebih dulu mengenalkan mereka berdua. Tidak mungkin pada saat itu Jiang Heng langsung mengetahui namanya dan Xifan begitu saja, bukan?
“Peien?”
“Peien??? LI PEIEN!!”
Teriakan dari seberang telepon berhasil menyadari Peien saat itu juga. Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa Shen Xifan berteriak memanggilnya sejak tadi.
“Xifan, maaf… Kepalaku mendadak pusing. Aku tutup duluan ya. Selamat malam.”
Lantas jemarinya dengan cepat menekan tombol untuk mematikan panggilan saat itu juga. Manik hitamnya menatap ponselnya sendiri dengan ragu. Tangannya gemetar. Pikirannya mulai takut akan sesuatu berbagai kemungkinan buruk.
Kalau dipikir-pikir lagi Peien baru menyadari bahwa semua hal janggal yang terjadi dalam hidupnya itu dimulai sejak ia mengenal Jiang Heng. Kasus stalker gila itu sampai sekarang belum selesai. Si pengagum rahasia tidak jelas itu masih tetap mengirimkan pesan-pesan untuknya di laman situs The Unsent Project, tapi orang aneh itu tidak lagi mengirimkan pesan menyeramkan padanya lewat e-mail.
Semua peristiwa aneh itu muncul setelah Jiang Heng masuk ke dalam kehidupannya.
Bahkan meskipun status keduanya berubah menjadi pacar, Peien sama sekali belum memberitahukan tentang dirinya sebagai penyanyi cover di youtube. Ia merasa masih menunggu waktu yang tepat. Namun, Peien kerap menyadari kalau Jiang Heng terkadang suka menanyakan dirinya semacam ‘lagu apa yang kamu suka sekarang ini?’’ (bahkan pertanyaan ini bisa muncul tiap minggu) atau ‘aku mau jadi pendengar pertama yang bisa dengerin suara kamu nyanyi lagu ini. Kamu nggak mau coba nyanyiin, kah?’ (bahkan pertanyaan ini bisa pas sekali karena kebetulan Peien telah menuliskan daftar lagu pilihan yang akan ia rekam di masa mendatang, tapi kenapa isi pikiran Jiang Heng bisa selalu sama dengan dirinya?)
Tiba-tiba keraguannya muncul. Rasa percayanya pada Jiang Heng mendadak luntur.
Apakah ada koneksi yang kuat antara Jiang Heng dengan stalker itu? Apa ini benar-benar hanya kebetulan?
Gara-gara hal mencurigakan itu, Peien memutuskan untuk tidak lagi menghampiri Jiang Heng. Pemuda itu takut dan tidak siap jika apa yang dicurigainya itu menjadi kenyataan. Peien butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Mungkin mengambil break di tengah hubungan keduanya adalah pilihan yang baik untuk saat ini.
-oooo-
Sudah hampir dua minggu semenjak Peien menjauh dari Jiang Heng. Pemuda itu tidak lagi mengunjungi kafe tempat Jiang Heng bekerja. Bahkan seluruh pesan dan panggilan telepon yang Jiang Heng tujukan untuknya juga Peien tidak menggubrisnya satu pun.
Apalagi sekarang ia di tengah liburan natal yang seharusnya menyenangkan, tapi malah Peien habiskan untuk melamun. Bahkan seharusnya minggu ini Peien mengunggah video baru untuk channel youtube miliknya, tapi justru ia malah melewatkannya. Peien diserang oleh rasa ragu juga takut.
Saat ini pemuda itu hanya menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Ia mencoba untuk produktif, tapi rasa takutnya begitu besar hingga membuatnya tidak berhasrat untuk melakukan apa pun.
Namun, suatu pop-up notifikasi e-mail yang muncul di sudut kanan layar laptopnya itu berhasil mengacaukan lamunannya. Peien membuka pesan tersebut, tapi apa yang dibacanya itu berhasil membuat matanya membulat terkejut.
'SeekyLuvly itu kamu, kan?'
Deg! Jantungnya seperti dihantam oleh benda yang kuat. Tubuhnya terdiam kaku selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia berusaha menggelengkan kepalanya berulang kali untuk mengembalikan kesadarannya.
Stalker gila itu kembali mencoba mengirimkan pesan melalui e-mail miliknya. Tidak tanggung-tanggung, orang itu memberikan pesan yang berhasil membuat jantung Peien copot dari tempatnya. Ini pertama kalinya si stalker menyebutkan namanya.
'Aku tahu kamu membaca pesan ini.'
Pesan baru kembali muncul. Perlahan-lahan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Baru saja Peien ingin menekan tombol close pada aplikasi browser, sebelum tiba-tiba ada pesan baru yang kembali muncul.
'Balas pesanku, SeekyLuvly atau aku sebut saja nama aslimu ya.’
‘Li Peien, balas pesanku sekarang.’
Peien menggigit bibirnya pelan. Tangannya dengan gemetar mengetik sesuatu untuk orang asing itu.
'Siapa kamu?'
'Your not-so-secret admirer.'
'ORANG GILA!'
Peien tidak peduli jika saat ini ia bertingkah tidak sopan pada orang asing. Stalker gila itu bukanlah orang yang tepat untuk mendapatkan sopan santun darinya.
'Serius wajahmu terlihat manis sekali jika diliputi amarah.'
Matanya dengan waspada menatap sekelilingnya. Batinnya bertanya-tanya, dari mana orang itu bisa mengawasinya? Bahkan ketika Peien saat ini berada di kamarnya sendiri, bukan di tempat umum. Sialan! Berani-beraninya orang itu menaruh alat penyadap di apartemennya?!
Dasar sinting!
'Cepat apa maumu. Aku tidak punya waktu untuk mengurusmu.'
'Sabar, Sayang. Sekarang lihat video ini.'
Balasan pesan kembali muncul, tapi kali ini disertai oleh lampiran link video. Ternyata tautan itu membawanya pada unggahan vlog Peien yang pertama. Vlog yang hanya berisi keseharian Peien pergi berbelanja ke supermarket, taman, dan kemudian kembali ke pulang ke apartemen untuk menunjukkan hasil belanjaannya itu.
Dahinya berkerut. Ia tidak paham dengan maksud dari si penguntit itu.
'Menit 06:27'
Peien pun mempercepat videonya pada menit sesuai pada pesan yang diterimanya. Tetap saja dia merasa tidak ada kejanggalan pada bagian tersebut. Pada menit itu, hanyalah Peien yang sedang duduk di ayunan taman kota untuk menikmati udara malam hari. Peien masih tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang penguntit.
'Daya tangkapmu lambat.'
“Siapa yang tidak panik dikejar stalker gila?!” Peien mengomel kesal. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Apalagi ketika sang penguntit kembali mengirimkannya sebuah pesan video baru.
Video berdurasi pendek itu masih sama seperti potongan klip bagian menit yang diberitahu oleh sang penguntit sebelumnya.
“Apa maksudnya sialan?!”
Peien berujar frustasi. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang dimaksud si stalker gila itu. Dia sudah mengulang video itu berkali-kali, tapi tidak ada petunjuk yang menjelaskan apapun. Lagi-lagi video selalu sama menunjukkan Peien yang sedang duduk di ayunan seraya bernyanyi riang.
Entah apa yang dipikirkannya, tiba-tiba Peien segera meraih earphone miliknya, lalu ia membesarkan volume pada ukuran yang sangat tinggi. Peien tidak peduli jika telinganya akan rusak atau bagaimana, intinya ia telah muak dengan semua hal yang dihadapinya saat ini.
Peien kembali mengulang video tersebut, dan suara lain yang muncul setelahnya membuat tubuhnya menegang kaku. Matanya menatap lurus pada layar komputer dengan pandangan kosong. Sedangkan video singkat itu telah berputar berkali-kali layaknya loop. Suara yang muncul membayangi pikiran Peien layaknya radio rusak.
“Pembunuhnya Jiang Heng!”
Rasanya untuk meneguk ludahnya sendiri saja Peien tidak bisa. Tubuhnya kaku seperti robot. Kepalanya seperti dihantam berbagai migrain. Apalagi pesan yang muncul setelahnya membuat ia semakin menegang.
'Sudah sadar sekarang?'
“GILA!”
Peien berteriak kencang. Ia hampir saja mendorong laptop miliknya sendiri. Peien tidak menyangka jika vlog miliknya merekam suatu bukti pembunuhan nyata.
Sinting! Berarti selama ini dia berhubungan dekat dengan seorang pembunuh?! Jiang Heng sialan!
'Kalau kamu bernyali tinggi, datang sekarang juga ke Jalan Iris No. 36’
“Dalam mimpimu, setan!”
Matanya menatap layar di hadapannya dengan nyalang. Pesan baru yang muncul malah semakin memancing emosinya.
‘Identitasmu akan tersebar sebagai orang yang sengaja membiarkan pembunuhan terjadi.’
“Sialan!”
Tanpa berpikir panjang, Peien segera mematikan laptopnya. Ia menyiapkan benda-benda yang sekiranya akan menyelamatkan dirinya nanti. Tidak peduli bagaimana hasilnya, intinya Peien sudah muak dengan semuanya. Ia muak dengan pesan-pesan gila yang selalu masuk setiap harinya. Peien juga muak dan berniat untuk melupakan semua kenangan manisnya dengan Jiang Heng!
Jika memikirkan semua perilaku manis yang Jiang Heng lakukan dulu, membuat batinnya memanas. Semua tingkah pria itu palsu dan Peien sudah muak!
Dengan cepat ia mengambil kunci motor miliknya, lalu bersiap menuju alamat yang dimaksud Jiang Heng.
Jika Jiang Heng bermaksud untuk bermain-main dengannya, maka jangan kira Peien akan diam begitu saja. Biar pemuda itu yang menghabisi si penguntit gila itu lebih dulu!
“Jiang Heng!”
Suaranya berteriak kencang membelah jalanan sepi yang tidak ada siapa pun di malam yang hening ini. Hanya ada satu rumah bertingkat di ujung jalan yang dari luar terlihat usang. Namun, begitu lampu rumah di lantai atas itu menyala, terlihat siluet seseorang dari jendela.
Tanpa ragu-ragu ia berlari memasuki rumah yang sepertinya kosong itu. Langkahnya sudah penuh dengan amarah.
“Aku akan melaporkanmu!”
Suara Peien menggema begitu ia memasuki rumah tersebut. Dengan cepat ia melangkah menuju lantai dua dan menemukan Jiang Heng yang sedang berdiri bersandar di dinding. Laki-laki itu menatapnya dengan sorot mata yang berkilat sinis.
“SIALAN KAU AHENG!”
Peien dengan cepat berlari menerjang Jiang Heng hingga tubuh keduanya jatuh ke bawah. Tidak segan-segan Peien memberikan pukulan berkali-kali pada rahang dan perut Jiang Heng. Pemuda itu meluapkan semua rasa takut yang mengintainya beberapa bulan ini pada Jiang Heng. Dianggapnya tubuh pria itu sebagai samsak tinju karena Peien sendiri sudah tidak peduli lagi dengannya.
Sosok yang dipukul tidak membalas, tapi kemudian Jiang Heng langsung membalikkan keadaan dengan memutar tubuh keduanya. Kini tubuh Peien yang berada di bawah dikarenakan tertindih oleh tubuh Jiang Heng. Sorot mata pria itu tidak menatap Peien seperti dulu. Tidak ada lagi binar mata penuh pemujaan darinya. Yang Peien tangkap sekarang justru adalah sorot mata pembunuh kejam yang siap melahapnya saat itu juga.
Laki-laki itu hanya diam, kemudian tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Secara tiba-tiba, Jiang Heng menggoreskan cutter pada dahi dan pipi Peien yang sontak saja membuat jeritan kesakitan darinya terdengar.
Pemuda itu bangkit berdiri dengan tubuh yang mundur menjauh. Peien merasa darah menetes dari wajahnya yang perih. Ia menatap Jiang Heng dengan tajam, kemudian Peien menarik pisau kecil yang ia sembunyikan dari balik sepatunya.
“Aku juga bisa balas melukaimu! Memangnya hanya kamu saja?!”
“Oh, mau membunuhku ya?” Jiang Heng bersuara serak. “Jika ingin membunuhku, kalau begitu apa bedanya kamu dengan diriku?”
“Sejak awal kamu yang sosok pengacau itu, Peien. Aku sedang menjalani misiku dan seenaknya saja kamu mengambil barang bukti?”
“Jika sadar juga aku tidak akan mengunggah video itu, bodoh!” Peien berteriak kencang dengan tubuh gemetar. Air mata terlihat sedikit di pelupuk matanya.
Jiang Heng memejamkan matanya seraya tertawa sinis. “Misiku saat itu gagal karena dirimu.”
Pada malam ketika Peien sedang melakukan rekaman untuk vlog-nya, saat itu di sisi lain taman terdapat Jiang Heng yang sedang menyiksa seseorang dengan tongkat bergerigi tajam. Pada waktu itu, Jiang Heng sedang menyelesaikan misi untuk membunuh seorang petinggi pemilik perusahaan farmasi. Pria itu sudah yakin untuk membunuhnya di taman karena kebetulan tempat itu sedang sepi tidak disinggahi oleh siapa pun.
“Aku bisa membunuhmu di pertemuan pertama kita saat itu, Peien-aa...”
Suaranya terdengar semakin memberat. Pikirannya kembali melakukan kilas balik pada kejadian di malam itu. Begitu ia melihat kamera yang terletak jauh di antara rerumputan, Jiang Heng tahu bahwa ada seseorang lain yang tidak sengaja turut masuk ke dalam permainan kejinya. Ia berniat menghabisi Peien saat itu juga.
“Tapi begitu mendengar suaramu, aku tidak bisa, Peien-a….”
“Aku langsung luluh. Suaramu itu candu.”
Namun, semua rencana pada tempo lalu mendadak sirna. Suara Peien yang bernyanyi indah itu seakan-akan membutakan pikiran dan pendengarannya saat itu juga. Jiang Heng dibuai rasa candu oleh suara dan juga sosok wajah Peien yang menurutnya sempurna.
Makanya Jiang Heng bertekad untuk mendekati Peien bagaimanapun caranya. Mendaftar sebagai barista kafe, menaruh alat penyadap di kamar pemuda itu, serta ia pula yang mengirimkan berbagai pesan-pesan obsesi pada Peien.
“Aku ingin menyimpanmu hanya untukku seorang.”
Perkataan Jiang Heng sontak membuat tubuh Peien merinding.
“Aku ingin membuatmu ikut menjadi bagian diriku. Sebagai anak kegelapan.”
Gila.
Jiang Heng gila. Dia tidak waras.
Sontak Peien langsung mengayunkan pisau kecil yang dipegangnya saat ini ke arah Jiang Heng. Sayangnya pria itu berhasil menghindar. Keahlian Jiang Heng sebagai pembunuh bayaran memang tidak patut diragukan lagi.
Jiang Heng berdecak. Lantas ia merampas kasar pisau kecil yang mengincar tubuhnya sejak tadi. Tangannya menarik kedua pergelangan tangan Peien dengan kuat. Dibawanya Peien menuju ke ruangan lain. Lalu dihempaskannya tubuh ramping yang sangat dipujanya itu begitu saja. Jiang Heng berjalan menuju sudut ruangan dengan langkah berat.
“Peien, coba lihat dia.”
Tiba-tiba Jiang Heng mendorong seseorang hingga sosok itu terjatuh tepat di hadapan Peien. Sosok laki-laki dengan kondisi kedua tangannya yang terikat ke belakang, serta lakban hitam yang menutup mulutnya. Matanya menatap Peien dengan pandangan memohon untuk dibebaskan. Peien membulatkan kedua matanya begitu menyadari bahwa sosok itu merupakan orang ternama, ia kerap melihat wajahnya di televisi. Sosok malang itu merupakan juru bicara dari petinggi perusahaan farmasi yang sebelumnya telah dibunuh oleh Jiang Heng di taman.
“Orang ini merupakan salah satu pengacau yang bersuara di dalam video milikmu. Harusnya kamu membunuh dia, bukan?”
Peien menggeleng kencang, tapi gagal karena Jiang Heng tiba-tiba menampar pipi kanannya dengan kencang. Mata pria itu berkilat marah.
“Dia itu pengacau, Peien! Suara yang muncul di videomu itu yang membuatmu ragu! Ragu akan hubungan kita berdua!”
“Itu salahmu!” Peien berteriak kencang. Tingkahnya berhasil membuat Jiang Heng menggeram marah. Secara tiba-tiba ia menarik leher Peien, lalu mencekik rahangnya seraya tangannya yang lain mengambil sesuatu yang ada di sakunya. Sebuah bungkus obat.
Obat yang langsung ia telankan pada Peien.
Delapan detik merupakan waktu yang super singkat untuk membela diri. Namun, sayangnya obat tersebut berhasil membuat penglihatan Peien memburam secara cepat.
Lidahnya terasa panas akibat obat tersebut. Saraf-saraf tubuhnya terasa seperti tersetrum.
Apa ini?
Bisa-bisanya ia melihat sosok wajah Jiang Heng pada orang yang disekap itu. Orang lain yang saat ini duduk bersimpuh dengan kondisi seluruh tubuhnya yang terikat itu benar-benar mirip seperti Jiang Heng. Akal logika Peien mendadak hilang begitu saja. Tangannya mengambil pisau yang tergeletak di lantai, lalu membiarkan pisau yang ia bawa itu menodai tubuh orang yang tak berdaya itu.
Orang yang disekap oleh Jiang Heng itu langsung mati saat itu juga.
Peien menatap orang yang tergeletak tidak bernyawa di lantai dengan pandangan kosong.
Baru akhirnya ia menyadari kalau sosok malang itu bukanlah Jiang Heng. Bibirnya ternganga kecil. “Apa yang aku lakukan…” ujarnya.
Suaranya penuh gemetar. Bahkan kaki-kakinya sudah lemas tidak sanggup untuk menopang tubuhnya yang mulai hilang kendali. Akhirnya tubuh Peien ambruk jatuh terduduk ke lantai.
Kepalanya mendongak mengarah pada bulatan lensa kecil yang ada di hadapannya. Sinar bulan yang terang tiba-tiba merangsek masuk tepat bertabrakan dengan wajahnya yang semula dalam keadaan gelap, kemudian menjadi terlihat jelas. Luka goresan yang menyilang di mata kanannya, disertai dengan bercak-bercak darah yang menghiasi wajahnya dengan manis itu terekam jelas dalam lensa.
Sinar infra merah yang menyala di sisi lensa menjadi saksi bahwa kamera itu merekam semua peristiwa hari ini.
Manik hitamnya membulat ketika indra pendengarannya menangkap suara sirine yang entah saat ini terdengar berbunyi indah bagi Li Peien untuk yang pertama kalinya. Sudut bibirnya tertarik semakin ke atas. Senyuman lebar yang terbit di wajahnya yang berbalut darah itu menampilkan rasa puas, tapi juga sorot mata yang sendu.
Ini akhir, ya?
“Kerja bagus, Li Peien.”
Sosok yang bersembunyi di sudut ruangan itu bertepuk tangan ringan. Jiang Heng berjalan menghampiri Peien. Direngkuhnya pinggang itu, sebelum Jiang Heng mempertemukan bibir keduanya dalam ciuman sensual. Bibirnya melumat bibir Peien dengan ganas, bahkan menggigitnya yang membuat Peien merintih. Tak hanya itu, Jiang Heng menjilati dan mencium lembut seluruh permukaan wajah Peien yang dipenuhi oleh luka dan bercak darah berkat ulahnya tadi. Kemudian Jiang Heng menyudahi ciumannya, tapi membiarkan kening keduanya saat ini saling menempel.
Netra tajam Jiang Heng yang sekelam langit malam itu menatap Peien dengan seringai keji.
“Tikus polisi itu akan menangkapmu sekarang,” bisik Jiang Heng di telinganya. “You wanna stay here?“
Peien menggeleng kencang. Seringai Jiang Heng melebar kejam.
“Jadi mau ikut denganku?”
Peien mengangguk dengan sorot mata kosong. “Aheng, bawa aku pergi sekarang.”
“Pilihan bagus, kelinci kecilku.” Senyuman lebar disertai gelak tawa yang terdengar rusak itu membuat Jiang Heng merengkuh pinggang Peien semakin erat. Dikecupnya perpotongan leher Peien yang kini mulai menyandarkan kepalanya dengan lemas di pundak Jiang Heng.
“Aku akan memperlihatkanmu bagaimana cara menjadi bagian dari kegelapan. Seutuhnya.”
.
.
.
END
