Work Text:
“Mbak, istirahat duluan aja, Adek sebentar lagi tidur, kok.”
“Tapi, Pak –
“Gapapa Mbak, istirahat aja.”
“Baik, Pak, saya permisi dulu, ya.”
Malik tersenyum simpul, lanjut memfokuskan perhatiannya pada si kecil. Caldien beberapa hari ini sangat rewel, jujur. Entah kenapa tak bisa kalau ia tinggal sebentar, pasti gaungan tangis terdengar begitu saja. Mungkin, tebaknya, ikatan emosional dirinya sebagai sesosok ibu pada sang anak tak akan pernah salah. Beberapa hari ini memang sungguh berat, terlebih seminggu terakhir dari absennya sosok sang suami, yang sedang menghadiri urusan bisnis di luar kota.
Benar kata Jaka, memang bukan pertama kali ia tinggalkan Malik dengan perihal yang sama. Namun tetap saja, perasaan sendu tak dapat terbendung, terutama sekarang telah hadirnya insan baru di antara mereka dalam wujud karunia bernama anak. Hasil cinta mereka yang diberi nama, Caldien Putra Kartawihardja.
Ia mengaku berbohong. Sudah tak dapat dibendung dengan hitungan jari jumlahnya, bermaksud agar sang suami di sana tidak terlalu khawatir. Kadang, ia membenci dirinya sendiri. Benci kenapa ia terkesan cengeng, rapuh, bahkan terlalu bergantung pada kehadiran Jaka di sisinya. Jaka itu sibuk, pengusaha dengan usaha di mana-mana yang setiap harinya harus ia kontrol. Berbeda dengannya, pekerjaannya yang didominasi hanya lewat jaring media sosial dan jujur tak bisa disebut sebagai sebuah pekerjaan pasti. Terkadang, hal itu membuatnya rendah diri berdiri di samping Jaka.
Tanpa sadar, air matanya jatuh begitu saja. Disusul tangisan Caldien pada gendongan yang apakah mungkin, ikut merasakan deritanya. Ia hapus cepat air matanya dan kembali ia goyang-goyangkan pelan tubuh si kecil.
“Shhhh, Sayang, Sayangnya Pipi.”
Tangisan itu tak berhenti dan kian mengencang. Malik menghela napas, ia beralih duduk di sofa ruang tamu. Sekarang pukul dua belas lewat, ia tak enak hati terus-terusan mengganggu istirahat para pekerja di rumahnya. Kembali ia seka air matanya yang turun, diciuminya lembut kedua pipi Caldien.
“Adek lapar? Mau susu?”
Rengekan itu tak berhenti. Ia buka kancing piyama satinnya pun ia tanggalkan atasannya. Ia terdiam sejenak, refleks memegangi dadanya yang terasa sakit. Dua hari terakhir kian parah, Caldien mendadak susah untuk minum ASI, disusul demam yang pagi ini baru saja turun. Malik gigit bibir bawahnya, kembali menahan tangis saat ia sodorkan putingnya dan ditolak mentah-mentah oleh si kecil.
“Sayang … mau susu botol?” Tangannya meraba-raba botol susu di sebelahnya, namun kembali ditolak oleh sang anak.
Kepalanya terasa pening. Tiga hari terakhir ia kurang tidur lantaran Caldien terus-terusan rewel tak tahu waktu sehingga kesempatannya untuk pergi beristirahat hanya sedikit. Mungkin sekarang demam Caldien malah berpindah ke dirinya. Disusul ia merasa tak enak badan dan hilang nafsu makan, namun ia berpesan pada Bi Asih agar tak memberitahu Jaka.
Terus-terusan ia ayunkan perlahan tubuh Caldien. Kondisi rumahnya yang sekarang sepi, membuat suara tangis itu memenuhi pendengarannya. Bahkan, ia tak sadar bahwa pintu dibuka pelan, di sana Jaka berdiri menenteng tas kerjanya.
Netra Jaka membulat, melihat sang suami dan anaknya yang masih belum tidur di tengah malam. Padahal niatnya memberi kejutan atas kepulangannya, ia malah disambut dengan gema tangis sang anak.
“Kak Malik?”
Malik sama sekali tak menoleh, hingga Jaka sentuh pelan bahunya dan dihadiahi oleh netranya yang berkaca-kaca. Diusak rambut dan ia kecup sayang dahi Malik, sebelum beralih menghapus jejak air matanya yang sebagian telah mengering.
“Sini, Caldien biar sama aku. Kamu istirahat sana.”
Diambilnya lembut sang anak dari gendongan Malik. Tangan mereka bersentuhan, Jaka merasakan bagaimana hangatnya tubuh sang suami. Malik diam tak beranjak atas perintah Jaka. Ia tatap kosong sang suami yang beralih menenangkan si kecil. Perlahan, dengungan di telinganya memudar, berganti dengan suara sunyi detak jarum jam.
“Pinter anak Papa.” Dikecupnya dahi Caldien sayang. Ia beralih ke Malik, tersenyum lembut, “Ayo naik, Adek biar istirahat di kamar.”
Malik masih memberi tatapan kosong meski Jaka sudah memindahkan anak mereka ke ranjang kecilnya. Ia berdiri di balik pintu tak bergeming hingga ia rasakan jemari Jaka menelisik di antara jemarinya, menggenggamnya erat. Jaka kecup sayang pipi sang suami, “Atasan piyamamu ketinggalan di bawah, aku ambilin yang baru, ya?”
Malik mencicit, membawa jemari sang suami menyentuh dadanya.
“ … Adek mogok minum.”
Jaka menarik napas panjang, sebelum ia gendong tubuh sang suami. Malik melotot, Jaka bawa dirinya ke ruang streaming game-nya. Tubuhnya duduk menghadap Jaka di pangkuannya, di atas sofa merah yang baru saja mereka beli tiga bulan lalu. Jaka genggam lembut pinggangnya dan mengecup lehernya lembut yang ia beri akses dengan sandarkan diri pada bahu sang suami.
Ia merintih, merasakan gigitan lembut di lehernya. Ia bahwa salah satu tangan Jaka yang menahan pinggangnya pergi ke dadanya. Tubuhnya merinding hebat, saat ia rasa jemari sang suami mengusap-usap lembut putingnya. Ia mendesah, masa menyusui membuat dadanya menjadi jauh lebih sensitif dari yang sebelumnya. Usapan di putingnya masih berlanjut, membuat jemari Malik beralih menurunkan celananya di bagian depan, membebaskan penisnya yang menegak.
“J-Jangan berhenti ….”
Jaka lepas semua tangannya dari pinggang Malik dan beralih menggunakannya untuk mengusap kedua puting sensitif itu. Malik melenguh, beralih mengalungkan lengannya ke leher Jaka lantaran topangan tubuhnya yang melemas. Jaka goda kedua puting mencuat itu dengan mengusap halus bagian pinggir hingga menekan lembut di tengahnya, ia buat Malik terus mendesah lantaran ia beralih menjilatnya dengan sensual.
Pelukan Malik di lehernya kian mengencang. Ia rasa tubuh sang suami menegang.
“A-Aku –
Tak lama tembakan sperma dari penis Malik mengenai perutnya, diikuti aliran air susu yang keluar dari kedua dadanya. Jaka raih penis itu, membantunya mengeluarkan tuntas hasratnya. Malik merengek, lanjut melenguh pelan di tembakan terakhir pada penisnya. Ia raup oksigen sebanyak-banyaknya, berusaha menyeka air susu yang merembes dan ditepis halus oleh Jaka.
“That’s okay, it’s how your body reacts, sayang.”
Malik lanjut tertawa. “Tau darimana? Kan yang hamil aku?”
“Aku baca di internet kalau ASI bocor waktu klimaks itu wajar, Sayang.” Ia curi kecup sayang di bibir Malik. “Let’s take a quick bathe then i’ll help your breast feel better.”
Gelengan diberikan Malik. “Kamu langsung tidur aja, yang kotor di sini cuma aku.” Beralih ia pandang simpati kantung mata sang suami yang kian menggelap. “Pasti capek banget, kan? Habis perjalanan jauh.” Ia usak sayang surai cokelat Jaka yang warnanya kian memudar itu.
Jaka tak menjawab itu, kembali dicurinya kecup sayang dari Malik. “I’m so proud of you, Sayang. Thanks for taking care of Adek alone and I’m sorry for burdening you.”
“I think I’m the one who should said sorry instead because I failed of being a Dad –
“Sayang.” Ditangkupnya rahang Malik sayang. Kembali ia disambut dengan netra berkaca-kaca itu. “It’s our first time being a parents, right? Mistakes always happens and that’s so. Nggak ada yang namanya gagal jadi orang tua, Kak Malik, karena ruang untuk belajar selalu terbuka. If you already knew where the part that seems kinda wrong, it means you already learn.”
Malik lantas tersenyum. Cantik, cantik sekali hingga Jaka tak dapat alihkan pandang. Kembali mereka satukan tautan bibir dengan lembut, sama-sama mereka pejamkan mata dengan setetes air mata yang jatuh bukan sebagai tanda sedih, namun luruhan beban yang beranjak pergi.
Ia lepaskan tautan itu perlahan. Tawanya menguar, menghentikan gerakan tangan Malik yang hendak membuka kancing celana kerjanya.
“Mau apa, Pipi?” tanyanya dengan jenaka.
Malik mendengus. “Ih ngeselinnya balik ….”
“Kamu demam loh, Sayang, mandi lanjut istirahat aja, yuk?”
“Nggak mau kah dienakin ….”
“Kapan-kapan lagi bisa, Sayang.”
“Jadi nyusu nggak?”
“Y-Ya kalau kamu nggak keberatan kan di kamar –
“Aku maunya ngasih kalau sambil dientot.”
“Sayang mulutnya?”
“Ya udah kalau nggak mau.” Malik beralih cemberut, menggoda Jaka dengan meremas dadanya dan mengalirkan air susu.
“ … berdiri dulu, aku lepas baju.”
Malik tersenyum. Ia ikuti Jaka dengan menanggalkan bawahannya. Kini mereka berdua telah telanjang bulat. Jaka kembali duduk di sofa, menepuk pahanya agar Malik kembali naik ke pangkuan. Malik raih lubrikan di laci sebelah dan ia balurkan ke penis sang suami sebelum kembali naik ke pangkuannya.
Jaka bantu lebarkan pipi pantat sang suami, ia dorong perlahan ujung penisnya masuk, sebelum netranya membulat saat Malik dorong kuat hingga masuk dengan sempurna.
“Sayang? Nggak sabaran banget?”
Malik tertawa. “Nggak ada kamu aku latihan pake dildo?” Berlanjut ia sodorkan dadanya pada sang suami yang di mana puting kirinya langsung disedot dengan mulai menghentakkan pinggang.
Malik mendesah, jemarinya yang kosong beralih meraih penisnya sendiri untuk dipompa mengikuti ritme dan meraih dadanya yang sebelah kanan, hentakkan Jaka membuat dadanya yang menganggur sakit sehingga ia pijat perlahan dan air susunya mengalir, turun membasahi pahanya sendiri dan ke tubuh Jaka. Suaminya beralih tanpa aba-aba, melepas tautan mulutnya dari puting kirinya ke puting kanan, beralih meremas-remas puting kirinya yang masih mengeluarkan sedikit ASI.
Malik mendesah, merasa pelepasannya mendekat. Ia gunakan jemarinya yang menganggur untuk meremas bahu Jaka, menyalurkan stimulasi rasa yang ia terima. Tubuhnya menegang, tembakkan sperma mengarah ke perut Jaka. Kembali ia berusaha ambil oksigen, saat ia kedua putingnya kian disedot Jaka dengan kuat dan pelepasan suaminya kian dekat. Tautan mulut Jaka di tubuhnya terlepas saat ia rasa cairan hangat memenuhi tubuhnya. Mereka berdua sama-sama tergolek lemas, Malik sandarkan tubuhnya pada Jaka. Detak jantung keduanya terdengar dengan ritme yang sama.
Ia angkat kepalanya dan kembali ia temukan bibirnya pada ciuman hangat. Setelah tautan terlepas, mereka lantas tertawa.
“Kita kotor banget deh, Hubby,” komentar Malik lantaran tubuh mereka berdua dipenuhi oleh campuran cairan sperma dan air susu.
“I think it’s the craziest and dirtiest one, deh.”
“Mmmm, jadi susuku kotor, nih?”
“ … nggak kok, enak.”
“HUBBY???”
