Actions

Work Header

Belajar Bersama Mama dan Papa

Summary:

Eunseok dan Anton diajari hal baru oleh Papa dan Mama.

Notes:

PERHATIKAN TAGS DENGAN SAKSAMA SEBELUM MEMBACA. IF YOU ARE UNCOMFORTABLE WITH THEM, PLEASE LEAVE THIS WORK, EXIT DOOR IS ON THE LEFT.

 

JOROK. PORNO. INCEST. PEDOFIL.

 

JOROK BANGET SUMPAH

 

Met baca. Moga suka

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tangan mungil Eunseok ia tarik pelan hingga si sulung terduduk di samping kanan, Anton duduk di sebelah kiri, lalu Wonbin ia seret hingga mengangkang di bawah kakinya yang selonjoran. Tangan besarnya mengurut batang kontolnya yang keras lagi, padahal baru saja muncrat. Kejantanannya ia goyangkan pelan, lalu ia lirik bergantian kedua buah hatinya.

 

“Kakak sama Adek tau nggak ini apa?”

 

Hening sejenak.

 

“Ngg.. p-penis, Pa..” Eunseok menjawab ragu-ragu.

 

Ia pernah diajar Miss Tari saat elementary school. Kelasnya hanya sekali pertemuan, tapi Eunseok akhirnya jadi tahu kalau laki-laki dan perempuan punya alat kelamin berbeda. Eunseok ingat ditunjukkan gambar anatomi yang nama-namanya sulit untuk dihafal, juga ilustrasi alat genital perempuan dan laki-laki. Yang berbentuk seperti segitiga dengan lipatan adalah vagina, sama dengan miliknya. Yang berbentuk seperti belalai adalah penis, sama seperti milik Anton yang tidak sengaja ia perhatikan usai sekolah.

 

Tapi benda lonjong yang sedang Papa mainkan berbeda dengan animasi maupun penis kecil Anton. Besar sekali ukurannya. Eunseok bisa melihat ada urat-urat yang timbul, juga ujung berbentuk jamur yang mengeluarkan pipis lengket. Lucu, pikir si sulung.

 

“Itu burung, tauuu. Adek juga udah tau, Pa. Kata Miss, cowok kayak Adek punyanya burung, kalau Kakak namanya apem,” si bungsu membalas tidak mau kalah. Ia juga sudah belajar dari guru yang sama, tapi yang ia ingat hanya panggilan versi imut dan sopannya.

 

Sungchan tersenyum kecil. Dua buah hatinya sudah tahu tentang genital beda gender. Tinggal ia yang meneruskan untuk ajarkan fungsinya yang benar pada dua bocah yang bangkitkan nafsu bejatnya ini. Batang kontolnya ia kocok sebentar, lalu dilepaskan. Pelernya berdenyut dan berayun sendiri, saking keras dan sangenya dia. Ia melihat sekilas ke dua bocah yang memperhatikan kontolnya dengan pandangan takjub.

 

“Pinter anak-anaknya Papa. Tapi kalo di rumah ini namanya kontol, Nak. Bukan burung.” Tangannya mengusap pucuk kontol yang makin banyak keluarkan lendir bening.

 

“Coba diulang, Sayang,”

 

“Kontol, Pa,” dua anaknya berujar bersamaan.

 

Sungchan tersenyum bangga. Kakinya ia tekuk sedikit, ujung jempol kakinya ia arahkan ke liang memek berlendir Wonbin. Istrinya meringis keenakan. Wanita lacur ini kesenangan dilecehkan depan kedua anak mereka.

 

“Kalau yang ini namanya memek. Sama kayak punya kakak. Kakak sama Adek cuma boleh bilang ini memek dan kontol kalau lagi di rumah sama Mama Papa aja. Ngerti?”

 

Dua anaknya mengangguk pelan. Mata keduanya terpaku ke jempolnya yang tidak berhenti lecehkan memek Wonbin. Memek lonte istrinya merekah merah dan kian mengucur lendirnya. Wajah cantiknya mengerut keenakan, bibirnya ia gigit pelan, buat Eunseok dan Anton khawatir.

 

“Mama sakit? Papa, Mama kesakitan. Jangan digituin Mamaku..” Eunseok berseru pada kedua orang tuanya.

 

Ah. Anak polosnya. Tak tahu saja sang Mama tengah menahan desah.

 

“Gak sakit, Sayang. Mamamu keenakan ini, suka dia diginiin sama Papa. Iya, kan? Desah yang bener pecun, biar anak-anakmu tahu kamu lagi enak.”

 

Wonbin melepas gigitan bibirnya, desahnya meluncur memenuhi udara kamar. Pekikan nikmat yang berusaha ia tahan sedari tadi.

 

“Ahh.. gesekin lagi. Memek aku becek ahhh.. Mama nggak sakit, Nak. Enak banget dilecehin Papa. Masukin jempolmu, Pa. Entotin pepek pecunku oughh…” Wonbin berujar menenangkan dua anaknya, sekaligus tunjukkan pada buah hatinya bahwa dirinya tengah didera enak.

 

Dua anaknya otomatis memercayai sang Mama. Perhatian keduanya tetap terpatri pada gerakan kurang ajar jempol Sungchan, yang kini mencolok liang kawin Wonbin. Jempol biadab itu keluar masuk dengan gerakan cepat, hasilkan bunyi kecipak becek dan lendir kawin yang makin meler. Wonbin mendesah nyaring, tak lagi menahan diri, putingnya ia pelintir untuk menambah rasa nikmat.

 

“Ahhh.. anjing, cepetin lagi, Pa. Gatel banget memekku, ngentot!”

 

“Liat kan, Nak. Mama lagi keenakan, memeknya lonte suka dilecehin kayak gini. Tuh, lendir kawinnya makin keluar karena mama seneng disumpel jempol Papa,” Sungchan menjelaskan panjang lebar pada dua bocah polos itu.

 

Ada kata-kata yang tidak Eunseok dan Anton pahami dari obrolan nafsu kedua orang tuanya. Tapi yang pasti, Mama senang vaginanya dimasuki jempol Papa. Dan entah kenapa obrolan dan tingkah kedua orang tuanya buat Eunseok duduk gelisah. Suhu tubuhnya naik, kakinya ia silangkan karena rasa gatal yang muncul pada pangkal pahanya, perutnya geli seperti ada yang menggelitik dari dalam. Anton yang duduk di sebelah Sungchan juga ikutan menggeliat tak nyaman dalam duduk, paha gempalnya tumpang tindih.

 

Sungchan mengerling dan menyadari gelagat aneh dua bocahnya. Ia tersenyum miring, dua tangannya yang bebas membelai lembut pipi Eunseok dan Anton. Tindakan tiba-tibanya justru buat gelenyar aneh kian kuat.

 

“Kenapa, Kakak? Kok nyilang gitu kakinya?”

 

Eunseok terdiam, tak berani bersuara. Kakinya menyilang makin rapat. Entah kenapa rasa malu muncul dalam dirinya. Karena si sulung tak menjawab, Sungchan beralih pada Anton. Ia menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan pada Eunseok.

 

“Geli, Papa. Burungnya Adek gatel, geli,” Anton menjawab apa adanya. Tangan gempalnya menjalar turun dan meremas selangkangannya, mencoba hilangkan rasa aneh yang tak nyaman itu.

 

Oh, anjing. Dua anaknya bernafsu melihat tingkah biadab Sungchan dan Wonbin.

 

Ia tahu jawabannya, tapi dua bocah bodoh ini harus dibimbing pelan-pelan agar memahami reaksi tubuh yang tak wajar mereka rasakan di usia semuda ini. Tangannya yang hinggap di pipi Anton merayap ke bahu, lalu mengelus perut lembut anaknya, dan berakhir meremas paha sekal si bocah. Perlakuannya buat Anton makin gelisah.

 

“Tangannya digeser coba, Dek. Pahanya dilebarin, Sayang. Papa mau ngecek burungnya Adek kenapa.”

 

Anton menurut. Saat himpitan pahanya dilebarkan, belalai yang ukurannya hanya seukuran jempol Sungchan ternyata sudah berdiri tegak. Pucuk kecilnya memerah dengan lendir yang keluar sedikit dari lubang kencing mungilnya. Kontol Sungchan berkedut, bibirnya ia gigit gemas. Pun Wonbin yang memeknya cengap-cengap melihat itil kecil si bungsu konak.

 

Tangan yang berada di paha berpindah ke tengah selangkangan Anton. Ia menyentuh biji zakar kecil yang membengkak dan meremasnya lembut. Anaknya tersentak kaget karena sentuhan intim yang tiba-tiba. Jari telunjuknya mengusap itil kecil Anton dan menggaruk main-main ujung kulup yang kuyup. Anton menggelinjang geli, tangan kecilnya berusaha menepis tangan Papa Sungchan dari kemaluannya, tapi tenaganya tidak sanggup geserkan tangan si orang dewasa.

 

“Jangan digaruk, Pa. Nanti luka hngg..” ia merengek kecil.

 

“Ini lagi Papa periksa, Nak. Gak akan luka, kok. Itil Adek berdiri gini karena nafsu liatin Mama Papa. Adek suka liatin Papa mainin memek pecunnya Mama,” Sungchan menjawab dengan nada serius

 

Itil? Bukan burung? Atau kontol kayak yang Papa bilang? Kok, ganti lagi namanya?

 

Otak mungilnya dibuat bingung dengan nama kelaminnya yang berganti nama. Sungchan yang mengerti kebingungan si bungsu, menjawab dengan telaten. Anton ia tarik agar naik ke sebelah pahanya, dekat sekali dengan pangkal selangkangannya. Tangannya menggoyang batang kontolnya yang makin ngaceng.

 

“Adek bingung, ya? Yang gede kayak punya Papa namanya kontol, Nak.” Pucuk kontolnya yang berlendir ia arahkan untuk menyentuh ujung titit mungil Anton. “Kalau kecil gini, shhh.. cocoknya dibilang itil, gak pantes disebut kontol. Ahh..” Sungchan menjawab di tengah desah karena dua pucuk kontol yang bergesekan. Tabrakan pucuk kelamin tak hanya buat Papa keenakan, tapi Anton juga ikut bergetar nikmat.

 

“Nghh.. Papa, udah. Geli, udahan, Pa.. Anghh..” Paha sekalnya bergetar, pantat bocahnya sampai terangkat dari duduknya saking tidak mampu menahan serangan yang asing untuk tubuh belianya. Kemaluannya makin gatal, cairan lengket yang dikiranya karena luka digaruk, keluar makin banyak. Si bocah dungu keenakan karena dilecehkan itil mungilnya pakai pucuk kontol sang Papa.

 

Wonbin yang sudah tak dapat perhatian jempol suaminya, kini duduk dengan kaki mengangkang, jari-jarinya mencolok liang melernya sendiri. Eunseok yang duduk di sebelah sang Papa juga menggeliat makin tak nyaman.

 

“Enak kok, Dek. Adek geli karena enak, Nak. Tuh, itilnya ileran terus. Tandanya Adek suka, sama kayak Mama kalau dilecehin memeknya.” Pucuk kontolnya makin kasar menabrak dan menggosok ujung itil Anton. Badan mungilnya meliuk tak nyaman di atas pangkuan.

 

“Ughh.. iyahh enak, Pa. Enak, gelihh ahh..”

 

“Mama, itil adek geli enak anghh.. udahan, Pa..”

 

Tapi Sungchan tidak berhenti. Malah menambah rangsangan dengan garukan telunjuknya, Anton belingsatan, pucuk itilnya ngilu karena dirangsang jari dan kontol Papanya. Ngilu tapi enak, pinggul mungilnya tanpa sadar mengejar jari Sungchan. Badan bocahnya yang tidak kuat lagi didera tonjokan gairah di kemaluan kecil, akhirnya menyerah. Kandung kemihnya seperti diisi penuh dan minta dimuntahkan. Anton ingin ngompol sekarang juga. Ia mencoba berdiri dari belitan tangan Papa di pinggangnya, ingin beranjak ke toilet.

 

“Paahh.. ampun, udah. Anghh pengen pipis, Papa. Nanti Adek ngompol di kasur shh..”

 

“Pipis di sini, Nak. Gak apa-apa, jangan malu. Adek bakalan pipis enak, Papa gak akan marah, Sayang. Ayo ompolin Papa,” Garukan berganti jadi cubitan dan pilinan pada pucuk itil Anton, bahu kecil anaknya ia kecup penuh nafsu.

 

Dan Anton menyerah. Perut mungilnya mengencang, pahanya bergetar, seluruh badannya kejang-kejang.

 

“AHH.. ITIL ADEK PIPIS, PA.. NGOMPOL ENAK ANGGHH..”

 

Cairan kencing bening muncrat dari pucuk itil bengkaknya. Tubuh belum pubernya jelas belum bisa hasilkan peju seperti orang dewasa saat orgasme. Sensasi ngompol nikmat itu buat ia pening, pandangannya mengabur, telinganya berdengung kencang. Ia bis rasakan kecupan pelan Papa di pipi dan lehernya, tangan lebar Papa mengusap-usap kepalanya penuh sayang.

 

“Pinter. Anaknya Papa pinter, udah bisa pipis enak sekarang.”

 

“Capek, ya? Rebahan aja, Sayang. Papa mau bantuin Kakak.” Sungchan berujar dan menurunkan Anton dari pangkuan. Perhatiannya kini beralih pada putri cantiknya yang memerah padam.

 

“Kenapa, Kak? Papa nanya dari tadi lho, kok gak dijawab, Sayang?” ia bertanya lembut sambil membelai pipi Eunseok.

 

“Gatel juga, ya? Boleh Papa lihat memeknya Kakak?”

 

Eunseok hanya mengangguk malu-malu. Sungchan melebarkan paha anaknya hingga terlihat ceruk senggamanya yang lembap. Bukan lembap. Tapi becek, basah, banjir. Lendir memek Eunseok keluar banyak sekali. Putrinya terangsang melihat ia lecehkan sang adik dan Mama. Tak ingin berlama-lama, jari panjangnya ia gosokkan ke belahan memek Eunseok, buat anaknya mendesis pelan.

 

“Banyak banget, Kak. Becek gini memeknya. Suka ya liat adek sama Mamamu Papa lecehin? Hm?” ia mencuil lendir dengan telunjuk dan memasukkan ke mulutnya sendiri.

 

Eunseok yang melihat itu makin berkedut memeknya. Sungchan terkekeh berat. Anaknya benar-benar bernafsu. Tinggal ia bimbing agar menjemput enak, lalu diajarkan untuk puaskan kontolnya, juga memek istrinya. Dua bocah dungu nan polos ini akan ia jadikan mainan seks ‘tuk puasi nafsu binatangnya.

 

Tangan lebarnya menangkup memek tembam Eunseok sekali, dan kembali ia gasak belahan memek remaja itu dengan telunjuknya, jempolnya memainkan itil yang menegang karena gairah. Sungchan menghela napas berat, mencabuli memek perawan anaknya saat Eunseok sadar adalah hal yang selalu ia dambakan. Dan batang pelernya makin keras di bawah sana.

 

“Enak, hm? Papa udah lama pengen ngucekin memekmu, Kak. Papa napsu sama Kakak. Kamu bikin Papa sange, Sayang. Kontol Papa ngaceng gara-gara kamu.”

 

Sange? Ngaceng? Bahasa Papanya terdengar asing di telinganya. Rasa penasaran buat ia bertanya dengan lantang.

 

“Sange itu apa, Pa? Ngaceng juga, artinya apa?” tanyanya lugu.

 

“Sange itu artinya Papa napsu sama Kakak, Papa terlalu sayang sama Kakak sampe pengen mainin memek Kakak kayak gini, nih.” Gosokannya makin kasar. Tangannya yang bebas turun ke kontol kerasnya dan meremasnya main-main.

 

“Kalau ngaceng itu artinya kontol Papa keras kayak gini, Nak. Semua karena kalian berdua. Ahh.. anjing!”

 

Ngentot, lah!

 

Kontol jumbonya ingin memerkosa memek kecil Eunseok sekarang juga. Pasti enak sekali dijepit dinding perawannya. Ugh, bangsat. Karena tidak tahan, ia menunduk lalu menjilat naik turun lipatan memek remaja sang anak. Jempol dan telunjuknya ikutan mencubit, menggosok, dan memelintir kelentit bengkak putrinya. Mulut beringasnya menyeruput lendir memek si remaja. Eunseok merintih nikmat karena kelamin remajanya dicabuli sang Papa.

 

“AHH! Papaahh, kotor, Pa. Nghh.. geli. Jangan dimakan memek Kakak ughh..”

 

“Ngilu ininya Kakak, Pa. Udahh, jangan dicubitin Hnnh..”

 

Sungchan menghentikan jilatan, tapi dua jarinya tidak berhenti beri rangsangan pada kelentit bocahnya Eunseok. Paha anaknya bergetar karena dilecehkan. Ia bertanya nafsu di sela-sela tingkah berengseknya, “Ini apa, Kak? Tau gak namanya apa?”

 

“Hnggh.. Gak tau, Papa. Ud—”

 

“Itil. Ini namanya itil. Papa lagi mainin itilnya Kakak biar makin keluar lendir kawinnya Kakak. Biar Kakak bisa pipis enak kayak Adek.”

 

Eunseok mengangguk mengerti. Bilah bibirnya terbuka untuk menyerukan isi kepala, “Itil Kakak jangan dicubit, Pa. Ngilu, sakit.”

 

“Nanti enak, Kak. Percaya sama Papa. Habis ini Kakak enak, terus minta nambah ke Papa.”

 

Belum juga dijawab seruan ngawurnya, ia kembali melahap pepek sang anak. Kali ini sedotannya makin kasar, seolah ingin mengeringkan hingga tetes terakhir lendir memek putrinya. Namun yang terjadi tentu saja lubang kawin Eunseok terus-menerus sekresikan cairan nafsu. Tubuh remajanya bahkan terjatuh dan rebahan sepenuhnya di atas kasur.

 

“Pa, anjing! Buruan colokin memek Eunseok. Anghh, mau liat anak kita nangis enak dikobelin Papanya sendiri. Fuckhh!” Wonbin menitah penuh birahi. Lubang memeknya meler luar biasa, empat jarinya keluar masuk dengan brutal.

 

Sungchan masih asyik melamot bilah pepek anaknya, lendir kontolnya kian ileran membasahi seprai di bawahnya saking enaknya memakan lubang kawin buah hatinya. Anton yang tadinya rebahan usai meraih orgasme pertama seumur hidupnya, kini ada dalam posisi duduk. Mata bulatnya bergantian melihat Papa yang sedang mencabuli Kakaknya, juga Mama yang menyodok lubang memek dengan jari-jari kurusnya. Anak lanang itu gatal lagi.

 

Eunseok yang dihajar terus-terusan di lubang memek dan itilnya, mulai rasakan enak yang papanya bilang. Pinggulnya terangkat, seolah mengundang lidah bejat Papa untuk menggauli memek bocahnya lebih dalam lagi. Memek mudanya kedutan dan menjepit erat lidah Papa saat daging tidak bertulang itu menusuk lubang perawannya, padahal belum seluruhnya masuk. Jepitan jari-jari Papa di itil bengkaknya makin nakal, Eunseok jadinya meracau saru tanpa sadar.

 

“Mnhh.. Paah, suka. Kakak suka diginiin nghh. Memek Kakak enak, Pa. AHH!” Eunseok membalas di tengah desah. Pekik terakhirnya untuk sentilan kencang pada itilnya.

 

Sungchan menggeram dengan bibir tersumpal memek Eunseok, ia menyentil kelentit bengkak anaknya sebagai tanggapan senang akan racauan cabul si bocah. Ia memberi jarak sejengkal dan meludahi lubang mungil itu dua kali. Ludahnya sendiri ia aduk di atas liang berlendir itu. Telunjuk kanan yang terbebas ia lumuri dengan liur, lalu diusap dengan gerakan memutar di lubang senggama putrinya. Jari tebal dan panjangnya menerobos masuk ke liang yang belum pernah dijamah siapa pun. Anaknya terlonjak panik saat merasakan benda asing menginvasi liang kecilnya.

 

“Pahh, perih. Jangan ditusuk pake jari.. Sakit.”

 

Tapi Sungchan jelas mengabaikan permintaan Eunseok. Jarinya mendesak liang kawin itu perlahan. Baru separuhnya yang masuk, tapi gigitan dinding memek itu kencang sekali. Ia bisa bayangkan kontol kekarnya yang dijepit liang kawin bocah cantiknya, pasti sedap sekali. Karena makin bergairah, dan ingin buat anaknya rasakan nikmat dari jemarinya, ia celupkan seluruh panjang telunjuknya dalam memek si bocah. Eunseok memekik ngilu saat diperawani jari biadab Papa.

 

“AH! PA! KELUARIN, SAKIT! GAK MAU!” jeritannya memenuhi kamar orang tuanya. Ia mencoba menjaga jarak dari jari Papa, tapi remasan kencang pada pinggang rampingnya buat ia tak bisa bergerak ke mana-mana.

 

Sungchan mendiamkan jarinya sebentar. Lidahnya ia julurkan untuk menjilat, lalu mengeyot itil Eunseok, upaya untuk menenangkan si bocah.

 

“Sshhh.. gak sakit, Nak. Kakak suka dijariin. Memeknya makin meler gini, sayang. Tahan sebentar, nanti enak, kok.”

 

Jari yang bersarang dalam liang kawin anaknya ia tekuk, lorong senggama Eunseok ia garuk-garuk hingga berdenyut dan menyempit—gerakan alami saat mulai terangsang dan ingin menjepit benda lonjong yang menusuknya.

 

“Jari Papa dijepit memeknya Kakak, nih. Memek kamu yang gak mau lepasin jarinya Papa, Sayang. Kayak lonte.” Liurnya meluncur kencang ke memek anaknya.

 

Liang memeknya perih, tapi rasa gatal bercampur geli sedap yang menggelitik buat ia meliuk-liuk tidak nyaman. Papa yang meludahinya, juga panggilan lonte yang bahkan ia tak tahu artinya apa buat ia makin becek. Ia suka perlakuan Papa, kedutan memeknya mengetat membungkus telunjuk Papa.

 

Lubang elastis itu mulai meregang dan memberi jalan untuk jarinya keluar masuk. Eunseok yang dientoti jari Papa mulai rasakan nikmat yang dijanjikan, ia bahkan tak sadar kini ada dua jari yang memerkosa memek laparnya. Lendir kawin mengucur tanpa henti. Entotan jari-jari Papa di memeknya makin beringas. Jari-jari yang ditekuk, kemudian diganti gerakan menggunting di dalam liang memek menstimulasi gairah mudanya beranjak naik. Yang ia rasakan hanya enak, enak, dan enak. Mulutnya melengkingkan pekik enak karena dicolok jari-jari bengis Papanya.

 

“Ohh, Papaah.. Haah.. Garukin, gatel. Memek Kakak gatel, Pa. Mau diisi jari ngghhh..” Eunseok merintih nikmat. Lututnya naik sampai dada, kedua tangannya terselip di bawah lipatan lutut. Posisinya buat jari Papa makin gampang keluar masuk.

 

“Enak, kan? Ini Papa enakin memek pecunmu pake jari. Anak bangsat, memekmu bikin sange.” Ludahnya jatuh lagi ke tempik bocor sang anak.

 

Eunseok menggeliat diludahi dan dikata-katai oleh Papa. Ujung kakinya tak sengaja menyenggol kontol keras Papa. Matanya melirik turun, ia jadi ingat kelamin Anton tadi digesek benda keras itu, bibirnya tanpa sadar digigit pelan.

 

Sungchan yang menyadari arah pandang si bocah, menyeringai dan berseru cabul setelahnya, “Mau digesek kontol Papa? Memeknya mau ciuman sama kontol sangenya Papa, iya?”

 

Eunseok mengangguk ribut. Dasar bocah tolol. Ia malah setuju dilecehkan batang kontol Papa kandungnya. Sungchan berlutut kian dekat dengan selangkangan anaknya, paha Eunseok ia kangkangkan lebar. Pucuk kontol kerasnya ia arahkan mencium itil anaknya, lalu turun menggosok lipatan memek si bocah, kocokan jarinya tidak berhenti.

 

“Kontol Papa sekeras ini karena kamu, Nak. Anak-anak Papa bikin Papa sange pengen cabulin kalian tiap saat. Rasain nih, nih!” Kontolnya ia tampar ke memek remaja Eunseok. Si bocah yang terangsang menyambut dengan kedutan dalam memek.

 

“Anghh.. pukulin lagiih.. Mhhh, Papah, pukulin lagi itil Kakak pake kontol unghh,”

 

Bangsat. Anjing. Ngentot.

 

Anaknya baru dilecehkan jari dan digesek kontol saja sudah sebinal ini tingkahnya. Apalagi dijejali batang kontolnya tiap hari. Bisa jadi pecun beneran si bocah. Sungchan mengabulkan pinta liar anaknya. Kontol kerasnya ia tepuk kencang ke itil bengkak putrinya, kadang ia gosok buntalan sensitif itu dengan brutal. Kocokan pada memek dan pukulan pada itil bengkak buat tubuh muda nan sensitif si sulung tidak bertahan lama dalam permainan gairah. Perutnya tergelitik, denyut memeknya makin cepat, napasnya terengah kecil, Eunseok merasakan gulungan aneh yang mengumpul di perut bawahnya, dan dengan kocokan yang makin brutal, ia muncrat banyak.

 

“Kocokin sampe muncrat, Pa. Anak pecun kesenengan dicolok bapaknya sendiri ngghh ngentot!” Wonbin berseru jorok. Ia juga mengencangkan kocokan pada memeknya sendiri.

 

“ANGH! PAH! ANHGG PIPIS AAARHGH—”

 

Eunseok squirting. Badan mungilnya kejang-kejang, bola matanya memutar ke belakang, jari-jari kakinya menekuk karena dihantam gairah. Memek mudanya menyemprotkan cairan orgasme yang basahi perut dan kasur di bawahnya, bahkan wajah dan perut Papa ikutan terciprat. Cairan birahinya belum juga berhenti mengucur, namun kepala kontol Sungchan malah menggesek memek sensitif itu dengan brutal.

 

“Cukup, Pa. Mnghh… Gak kuat, ohh ngghh.. jangan digesek lagihh..”

 

“Papa sange, Nak. Pengen entotin kamu, Cantik. Bangsat! Kontol gue ngaceng brengsek ahhh!”

 

Sungchan ingin mengoyak lubang mungil Eunseok dengan batang kontolnya, tapi ia tahu si bocah akan menjerit kesakitan kalau diperkosa sekarang. Lagi pula, ia juga ingin dua lonte kecilnya tahu cara memuaskan syahwat binatangnya dengan mulut-mulut mungil mereka. Ia menarik istrinya hingga bersimpuh depan kontol tegangnya, punggungnya ia sandarkan ke kepala ranjang, kedua kakinya selonjoran dan terbuka lebar, pertontonkan kontolnya yang mengacung tegak.

 

“Deketan, Nak.”

 

Dua tubuh mungil kembali duduk rapat sekali di kedua sisi tubuhnya. Bibir mungil istrinya ia usap penuh nafsu, bilah bawahnya ia tarik turun.

 

“Kakak, Adek, tadi udah dienakin Papa, kan? Sekarang giliran kalian belajar gimana caranya muasin kontolnya Papa, ya, Sayang.” Dua bocah dungu hanya mengangguk patuh.

 

“Julurin lidahmu, lonte,” titahnya pada Wonbin.

 

Istrinya menurut, lidahnya melet. Sungchan meludah kencang hingga mendarat di lidah Wonbin. Lalu sekali lagi, dan sekali lagi. Ia meraih rahang Wonbin hingga kepala sang istri bertumpu pada perut berototnya. Genangan liurnya ia kobok, lalu didorong masuk dengan jarinya. Wonbin otomatis mengisap jari-jari Sungchan. Wajah eloknya dihadiahi liur yang berlabuh di mata dan pipinya. Istrinya mengerang pelan direndahkan seperti itu.

 

“Pecun bajingan. Sepongin kontolku, lonte.”

 

Wonbin menggeser tubuhnya ke bawah hingga kepalanya berhadapan dengan kontol ngacengnya Sungchan. Kontol suaminya ia genggam dan remas gemas. Lidahnya terjulur dan menjilati lendir kawin yang mengalir banyak karena gairah yang membumbung. Lubang kencing suaminya ia tusuk-tusuk pelan. Matanya mengerling pada dua anaknya yang mengamati tingkah binalnya. Ia tersenyum kecil, lantas lidahnya menjulur dan menjilati batang perkasa Sungchan. Biji peler prianya juga ia manjakan dengan sedotan mautnya. Ia kembali ke pucuk kontol, kemudian menelan seluruh batang pejantannya, kepalanya naik turun dengan lihai.

 

“Lihat, Nak. Kalau mau ngenakin Papa, kontol Papa harus disepongin, diisep kayak gini. Mama kalian lonte, jadi udah tau cara muasin Papa. Anhh.. ngentot!”

 

Sedotan Wonbin pada kontolnya makin kencang karena direndahkan di depan anak-anaknya. Getaran dan geraman tertahan sang istri buat kontolnya berdenyut ribut.

Eunseok yang memperhatikan dan masih juga bingung dengan kosakata orang tuanya bertanya pelan pada Papa, “Lonte itu apa, Pa? Kenapa Mama dibilang lonte, Kakak juga dipanggil gitu.”

 

Sungchan tersenyum sayu, sebelah tangannya naik dan mengusap pipi merona Eunseok, dan menjalar ke bibir merah putrinya. “Lonte itu orang yang suka memeknya dimainin, suka memeknya dienakin, dilecehin. Kayak Mama. Kakak suka gak memeknya dienakin Papa?”

 

Eunseok meneguk ludah mengingat kembali sensasi dibuat keenakan oleh Papanya. Bayangan tadi mengirimkan sinyal yang langsung menuju liang tempiknya. Ia mengangguk pelan atas tanya sang Papa.

 

“Suka, Pa. Enak.”

 

“Berarti Kakak juga lonte, pecun. Soalnya cuma lonte yang seneng dilecehin memeknya. Ngerti?”

 

“Adek gimana? Seneng itilnya dimainin Papa? Enak, gak?”

 

“Enak, Pa. Tapi ngilu, tapi tapii Adek suka, kok” Anton menjawab lugu.

 

Sungchan tertawa berat. Dua pecun kecil mau-mau saja dibodohi Papanya yang bejat. “Sama aja berarti. Adek, Kakak, Mama, semuanya lonte. Lonte enaknya Papa,”

 

Eunseok beringsut kian dekat ke Papanya, tangan Papa melingkari pundak sempitnya dan memberi sentuhan ringan. Ia mengusak kepalanya ke dada kekar Papanya, matanya memperhatikan Mama yang makin beringas mengisap kontol Papa. Pipi Mama sampai cekung, buat Papa mengumpat kasar ke udara.

 

“Anjing! Kempotin lagi pipimu, pecun! Ahh.. keras banget kontolku, bangsat!”

 

Liang memek kecilnya berlendir lagi. Eunseok duduk dengan paha yang menyilang dan bergesekan dengan paha kekar Papa. Gerakan gelisahnya buat Sungchan melirik ke arahnya. Mata bundarnya menatap balik ke tatapan sayu sang Papa, yang kini ia tahu karena sedang bernafsu. Lidah kecilnya ia julurkan keluar.

 

Bangsat.

 

Sungchan mengetatkan rahangnya. Ia mengerti apa yang sang buah hati inginkan, tapi ia ingin dengar si bocah meminta dengan mulut menggodanya.

 

“Mau apa? Kenapa melet gitu lidahnya, hm?”

 

Lidahnya ia masukkan lagi, tanya sang Papa dijawab polos, “Mau diludahin juga. Katanya Kakak lonte. Kakak suka diludahin memeknya. Lidah Kakak juga mau diludahin kayak Mama, Pa..”

 

“Melet, anjing.” Eunseok menurut, lidahnya kembali terjulur keluar. Ludah biadab Papanya mendarat tepat di lidahnya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Papa bahkan meremas rahangnya dan meludah tepat ke kerongkongan sempitnya.

 

“Telen.” Hanya satu kata, tapi Eunseok menurut bagai anjing kecil. Ludah sang Papa ia telan. Mulutnya terbuka, lidahnya keluar, menunjukkan pada Papa bahwa saliva si lelaki dewasa sudah ia telan habis.

 

“Lagi, Pa,” Eunseok mencicit kecil.

 

Duh, anak lonte. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Rahang mungil Eunseok kembali ia cengkeram, liurnya membasahi muka putrinya. Lidah kecil Eunseok keluar, ingin menampung liur Papanya. Ia mendapatkan keinginannya, karena gumpalan saliva sang Papa kini menggenang di rongga mulutnya.

 

“Pecun kecil. Senengnya nelen ludah Papamu. Mulutmu Papa pake buat ngenakin kontol, ya?”

 

Eunseok menjilat bibirnya tanpa sadar, lalu menjawab pelan, “Mau, Pa.”

 

Tangan lebarnya menjepit dagu mungil si sulung dan didongakkan ke atas, wajahnya mendekat ke wajah ayu anaknya. Ia tanamkan kecupan basah penuh dengus nafsu di dahi, turun ke hidung, lalu kedua pipi merona Eunseok. Perhentian akhirnya adalah bibir menggoda putrinya. Pinggiran bibir merah itu ia kecup pelan, lantas menjalar ke bilah bibir yang tertutup rapat. Eunseok mengerjap pelan karena dicium di bibir. Papa dan Mama sering menciumnya dan Anton, tapi hanya sebatas di pipi dan dahi, atau anggota tubuh atasnya yang lain. Tidak pernah di bibir. Ciuman Papa buat perutnya tergelitik.

Sungchan memperdalam ciumannya, kali ini bibir mungil anaknya ia isap pelan. Lidahnya menggedor bibir Eunseok agar mau terbuka.

 

“Buka mulutnya, Sayang. Papa mau sayang-sayangin kamu.”

 

Kala liang mulut putrinya terbuka, ia menyesap bergantian bibir atas dan bawah Eunseok. Lidah terampilnya menerobos masuk dan menjelajahi isi mulut anaknya. Langit-langit sensitif ia jentikkan dengan ujung lidahnya, buat anaknya mengerang pelan. Lidah dan liur si sulung ia isap rakus. Ciumannya terputus karena Eunseok sesak napas, benang saliva menjuntai dari dua bilah bibir yang menjauh.

 

Melihat adegan mesra yang tidak wajar antara suami dan putrinya, Wonbin makin semangat memompa batang kontol Sungchan dengan mulutnya. Anton yang duduk di samping Papa terlihat mencebikkan bibir. Ia iri dengan perlakuan Papa pada Kakak. Anton juga mau. Tangan Papa ia tarik-tarik untuk mendapatkan perhatian. Usahanya berhasil, karena Papa memusatkan atensinya pada si bungsu.

 

“Adek juga, Pa. Mau disayang, mau dikasih ludahnya Papa juga hngg…” Anton merajuk manja.

 

Bajingan. Anak lanangnya iri ternyata. Ingin juga direndahkan seperti pecun jalanan oleh sang Papa. Kepala mungil itu ia tarik dan dikecup seluruh wajahnya, bibir bejatnya melumat bibir mungil Anton. Jarinya menarik turun bibir bawah si bungsu.

 

“Buka.”

 

Anton yang paham karena sudah diberi contoh, membuka mulut dengan patuh. Mulut biadab Papa memakan habis bibir mungilnya, seluruh isi mulutnya diobrak-abrik. Lidah Papa keluar masuk menusuk liang mulutnya. Saat kepala Papa menjauh, ia pikir sudah selesai, namun liang mulutnya malah dihadiahi liur kental sang Papa. Ludahan kedua jatuh di sudut bibir, yang berikutnya di pipi gembilnya, lalu dua kali ludahan yang tergelincir ke dalam kerongkongan mungilnya.

 

“Lonte-lonte pinternya Papa. Hahh… lihat tuh, Mama rakus banget nelen kontolnya Papa. Kontol ngaceng karena tingkah pecun kalian.”

 

Wonbin mengeluarkan batang peler Sungchan dari mulutnya. Batang tegang sang suami ia beri kecupan basah yang diseret, memanjakan seluruh kontol keras itu. Ia beri satu isapan kuat pada pucuk kontol, lantas bertanya pada dua bocah kesayangan.

 

“Kakak sama Adek mau nyoba sepongin kontol Papa? Mama ajarin biar pinter. Sini, Nak.”

 

Eunseok dan Anton bagaikan kena pelet. Dua bocah tolol merangkak turun dan berlutut di depan selangkangan Papa. Tubuh mungil keduanya mengapit badan Mama yang memberi ruang agar keduanya mudah menggapai batang kontol Papa. Sungchan mengangkangkan kakinya selebar mungkin agar tiga pereknya bisa masuk dalam sela-sela paha kekarnya. Tiga kepala itu berdempetan dekat sekali dengan kontol perkasa Sungchan.

 

Sebelum membimbing dua anaknya agar tahu cara puaskan batang kontol papa kandung mereka, Wonbin mengecup dan melumat bibir Eunseok dan Anton bergantian. Ia juga ikut meludahi bibir keduanya, yang disambut senyuman dan erangan kecil. Kontol gagah suaminya ia genggam dan kocok pelan. Ujung kontol Sungchan ia tempelkan ke pipi, lalu ke bibir Eunseok yang terkatup rapat.

 

“Ciumin, Kak. Sayangin kontol Papamu.”

 

Eunseok memberi satu kecupan kilat yang terkesan ragu-ragu, bibirnya dibuat melembap dengan lendir kontol Papanya. Pucuk kontol yang membengkak dan memerah terlihat lucu dan membuat memeknya becek. Ia melirik ke arah Mama, bertanya tanpa kata apakah yang ia lakukan sudah tepat. Wonbin hanya tersenyum dan mengangguk, tangannya membelai pelan rambut putrinya. Eunseok memberi kecupan sekali lagi, lalu bibir mungilnya terbuka dan mengemut kepala kontol Papa dengan lembut.

 

“Hahh.. Asu! Baru palkon yang masuk aja udah anget, Kak. Batang kontol Papa pasti keenakan disepong mulut lacur kamu, Sayang.”

 

Eunseok nyaris melahap seluruh kontol Sungchan, tapi Wonbin merebut kontol sang suami dan mengarahkan ke mulut mungil Anton. Si bungsu yang cepat belajar, segera mencium pucuk kontol Papa, lantas ia sesap pelan—persis yang dilakukan sang Kakak tadi. Papa menggeram dan mendesah berat.

 

“Babi. Enak banget palkon gue diemutin bocah ghh..”

 

“Ma, ajarin nyepong yang bener. Kontolku mau dipuasin pake mulut bocah-bocah pecun ini.”

 

“Papa kalian bejat, Nak. Maunya disepong mulut anak kecil, mulut anak kandungnya sendiri,” Wonbin mengadu cabul pada dua anaknya.

 

Liurnya ia buang ke batang tegak itu. Lidahnya menjilat naik turun kontol sang suami. Ia beralih kedua bocah dan menitah, “Julurin lidah kalian, Sayang. Jilatin urat-urat kontol Papa.”

 

Eunseok dan Anton menurut. Keduanya meniru perlakuan sang Mama pada batang kontol Papa. Urat-urat kontol yang menonjol dijilat oleh lidah-lidah bocah yang tak sepatutnya menjilat alat kelamin Papa kandung. Lidah tiga pecun binal memanjakan kontol keras Papa. Kala lidah mama naik dan menusuk lubang kencing Papa, Eunseok dan Anton juga mengekor. Lidah-lidah muda mereka bergantian menusuk lubang kencing Papa yang makin banyak mengeluarkan lendir bening. Sungchan mendesah dan mendesis diberi rangsangan oleh istri dan anak-anaknya.

 

“Isepin, pecun. Kontol Papa pengen disepong. Buruan, ngentot!”

 

Ketiganya yang dihardik sang pejantan, langsung patuh dan menurut. Wonbin yang paling ahli, melumat kontol Suaminya dalam sekali turun. Ia kembali naik dan mencabut batang besar itu dari mulutnya, pucuk kontol Sungchan ia gesekkan ke bibir Eunseok yang otomatis terbuka.

 

“Lipetin bibir kamu ke dalam, Kak. Masukin pelan-pelan kontol Papa. Jangan kena gigi ya, Sayang.”

 

Eunseok mengulum bibirnya ke dalam, deretan giginya ia tutup dengan belah bibirnya. Kontol Papa dimasukkan ke dalam mulut kecilnya dengan bantuan dorongan tangan Mama. Kontol gagah Papa yang masif menerobos dengan perlahan. Ia bisa mendengar helaan napas berat Papa dari atas sana. Tangan mungilnya Mama arahkan untuk menggenggam sisa batang yang belum masuk. Rambutnya yang menjuntai ke bawah, disampirkan Mama dalam satu gulungan agar tidak menghalangi pandangan.

 

“Mainin lidah kamu, Kak. Jilatin dari dalam biar Papa enak.”

 

“Turun lagi, Sayang. Jangan tegang, makan sampe abis kontol Papamu.”

 

Eunseok berusaha turun sebisa mungkin. Tapi kontol Papa yang terlampau panjang dan besar buat ia kesulitan dan tersedak kala dipaksa turun makin ke bawah. Matanya berair, ia nyaris muntah karena kewalahan melahap kontol gede Papa. Wonbin tersenyum kecil, ia kembali menawarkan diri untuk memberi contoh agar Eunseok bisa memuaskan kontol Sungchan dengan benar.

 

“Susah, ya? Mama contohin sekali lagi, ya. Kakak liat gimana Mama nyepong kontol kerasnya Papa.”

 

Wonbin mengulum mulai dari ujung kontol, lalu separuh batang tegang ia isi dalam mulutnya. Pompaan kepalanya bergerak melahap naik turun dengan tempo pelan, sisa batang yang tak masuk, ia kocok dengan tangan bebasnya. Ia melirik ke dua bocahnya, yang sepertinya mulai dapat gambaran cara yang benar menelan kontol. Kontol sang suami ia lomot hingga seluruhnya bersarang dalam mulut, wajahnya berada dekat dengan pangkal paha Sungchan. Tangan kekar sang suami menekan kepalanya agar tak bergerak, pinggulnya menghantam naik dengan gerakan kasar. Wonbin mengucurkan liur dan air mata, tapi ia tak menghindar seinci pun. Sudah biasa diperkosa brutal oleh kontol bejat Sungchan.

 

“Ngentot! Bangsat. Bini lonte, sedep banget mulutmu. Kempotin pipimu, Ma Ahh…”

 

Papa makin kesetanan merudal mulut Mama. Pipi Mama dicekungkan seolah ingin memeras batang kekar Papa. Air mata dan liur mengalir dari mata dan mulut Mama, tapi wanita cantik itu terlihat bahagia, pun Papa yang sepertinya tidak peduli akan keadaan istrinya. Nikmat disepongi mulut lacur istrinya buat ia tak hiraukan hal lain selain kejantanannya.

 

Wonbin menjauhkan kepalanya dari kontol Sungchan, lantas si sulung ia arahkan untuk melomot batang keras sang Papa kandung. Eunseok yang baru mendapati arahan eksklusif dari Mama, langsung mempraktikkan dengan baik. Ia menelan separuh kontol Papanya sendir, kepalanya naik turun memompa peler tegang sang Papa. Bagian yang tak masuk ia remas dan kocok pelan. Rongga mulutnya ia lebarkan sebisa mungkin, kepalanya turun makin dalam, ia tersedak dan nyaris muntah. Tapi sebagai murid yang pintar, Eunseok tak langsung menyerah, ia mengulangi apa yang dilakukan Mama tadi.

 

Batang kontol Sungchan masuk sampai mengenai anak lidah Eunseok. Ia tak memaksa, tapi lonte mudanya yang memasukkan sampai ujung, hidung putrinya menempel dengan pangkal pahanya. Tidak sanggup menahan diri, ia menghajar mulut putrinya dengan batang kontolnya. Ia bergerak bagai binatang buas, pinggulnya keluar masuk seperti orang kesetanan.

 

“Anjing! Anjing! Memek ngentot! Mulut pecun! Ahhh..”

 

“Bangsat! Anak kita pinter banget nelen kontol, Ma! Eunseok anjing, Papa pake mulutmu sampe robek ghhh…”

 

“Oh.. anak lacur, mulutmu sedep banget.”

 

Sungchan memakai mulut anaknya tanpa ampun. Ia tidak peduli si remaja menangis dan meraung dalam kuluman—yang justru buat kontolnya bergetar nikmat. Liur anaknya mengalir dari celah bibir, mukanya merah sepenuhnya. Ia meludahi kening putrinya sebagai bentuk terima kasih dan penanda bahwa si pecun kecil adalah betina miliknya.

 

Eunseok yang dijadikan bahan onani sang Papa sangat berantakan kondisi wajahnya. Ia menepuk keras paha Papa saat pasokan oksigennya makin menipis. Untungnya sang Papa mau berbaik hati mencabut kontol keras itu dan membiarkan ia terbebas. Ia menghirup udara sebanyak mungkin. Tangannya terjulur dan mengusap batang tenggorokannya yang perih selepas diperkosa kontol Papa.

 

Tak mau sang suami terputus rasa enaknya, giliran Anton yang dijejali dengan batang kontol. Si bungsu membuka mulutnya lebar-lebar, tapi diameter kontol gendut Papa lebih besar. Mulut sempitnya disumpal paksa dengan kontol gagah itu. Mama membantu dengan mendorong kepalanya pelan, ia meniru yang ia ingat dari sesi sang Kakak dan Mama. Anton melahap kontol Papa sebisa mungkin, kepala mungilnya bergerak pelan memompa batang kontol Papa kandungnya.

 

Sungchan yang sange berat dan tak tahan, akhirnya menekan kepala anak lanangnya hingga seluruh kontolnya tertelan liang mulut si bocah. Anton panik dan tersedak hebat, tapi Papa bangsatnya tidak memberi ia celah untuk menghindar. Kulit kepalanya perih karena tancapan kuku dan jambakan kasar Papanya.

 

“Mulut bocah emang paling enak! Bangsat, anjing lacur. Papa sange sama kalian. Papa entot mulutmu, pecun. Ohhh.. anak lonte, makan kontol gue Ahh—”

 

“Mulut kecilmu Papa rusakin, Nak. Anjing gue perkosa mulut lacur lu, bangsat!”

 

Sungchan meracau buas, ia memerkosa mulut Anton dengan bengis. Kontolnya keluar masuk dengan kejam. Anton menangis hebat karena rasa sakit yang mendera, tapi ia juga tahu Papanya sedang enak. Itil bocahnya ikutan mengacung naik karena dilecehkan oleh Papanya sendiri. Wonbin yang merasa kasihan dengan sang buah hati, menarik kontol sang suami untuk ia isap. Tapi Eunseok mencaplok batang kontol Papa lebih dulu. Mamanya menggigit bibir gemas melihat tingkat pecun anak sulung.

Eunseok memompa kontol Papa, kali ini lebih luwes dari sebelumnya. Pipinya ia cekungkan dan meremas batang keras itu. Ia melirik saat Mama mendorong kepala Anton untuk mengisap biji zakar papa yang menggantung bebas secara bersamaan. Papa meraung nikmat karena kelaminnya dikerjai oleh tiga lacurnya.]

 

“Pecun! Anjing, isepin biji peler Papa, Sayang. Ngentotthh! Batang kontol enak banget disepong anak sendiri. Ohh… lacur-lacur goblok, gue kontolin tiap hari kalian. Brengsek!”

 

“Anak-anak tolol! Mulutnya dipake bapaknya sendiri malah kegirangan. Suka dijejelin kontol, hah? Makan nih! Bangsat!”

 

Wonbin memosisikan kepala dua anaknya hingga berdempetan, ia merangkak naik dan duduk di sebelah sang suami. Tangan Sungchan menekan kepala Anton untuk kembali menelan kontolnya, lalu dicabut dan dijejalkan ke mulut Eunseok. Begitu seterusnya, dua mulut anaknya ia pakai ganti-gantian sebagai lubang onaninya.

 

“Bangsat! Ohh… mulut anak kecil gak ada lawan, anjing! Kontol! Batang kontol gue dienakin terus, bajingan argghh..”

 

“Seneng kamu, Pa? Seneng akhirnya bisa merkosa mulut anak-anakmu sendiri. Udah kayak lonte kelakuan mereka.”

 

Wonbin meludahi mulut suaminya. Yang diludahi makin terbakar gairah. Tentu saja ia senang. Papa tolol mana yang tak bahagia dimanjakan batang kontolnya oleh dua lubang mulut anak-anaknya. Sungchan balas meludahi Wonbin, istrinya ia bawa untuk berciuman panas. Puting tegangnya dipelintir yang lebih muda, yang berseru vulgar ditelinga.

 

“Pejuin anak-anak kita, Pa. Kasih makan pejumu biar makin jinak kayak lonte jalanan.”

 

Wonbin merangsang puting dan menjilat ketiak suaminya. Sungchan yang sudah di ujung, menitah dua bocahnya untuk menjulurkan lidah, “Meletin lidah kalian, lonte! Satuin lidahnya, anak-anak pecun!”

 

Eunseok dan Anton menurut, lidah-lidah bocah mereka dijulurkan dan menempel satu sama lain, kepala mereka pun sama melekatnya. Papa mengocok batang kontolnya di hadapan mulut mereka berdua.

“Ohhh.. Anjing bangsat… Ahhh Papa mau bucat, lontehh! Meletin lidah, ngentot kontol gue hampir bucat ahhh!!

 

“Telen peju Papa, anjing. Lonte-lonte biadab, makan nih peju gue. AHHH AHHH MUNCRAT NGENTOT!”

 

Air maninya menyemprot kencang di atas lidah anaknya, bahkan ada yang ikutan masuk ke dalam rongga mulut. Pucuk kontolnya ia biarkan di depan dua lubang onaninya sampai tembakan terakhir. Napasnya tersengal hebat, perutnya masih terlonjak karena baru saja menuntaskan syahwat. Ujung kontolnya ia gosokkan ke lidah-lidah nakal yang masih setia tejulur.

 

“Telen, Nak. Biar kalian makin jinak. Lonte-lonte murahan harus nelen peju Papa sampe abis. Papa cinta kalian, Sayang.”

 

Dua anaknya menarik lidah dan menelan lendir kawin sang Papa. Rasa asin dan agak amis tidak menghentikan keduanya untuk menelan sampai habis.

 

“Asin, tapi enak, Pa.”

 

“Huum, Adek mau lagi, kapan-kapan boleh kan, Pa?”

 

Sungchan tertawa bengis. Tingkah durjananya akhirnya buahkan hasil. Darah dagingnya ketagihan pejunya sendiri. Ia menarik kedua bocah agar duduk lagi di paha kekarnya. Ia mengecupi bibir kedua anaknya dan menjilat pejunya sendiri. Wajah Eunseok dan Anton ia dekatkan, dua anaknya disuruh berciuman. Keduanya pasrah dan meniru apa yang Papa dan Mama lakukan pada bibir-bibir mereka tadi. Wonbin juga ia bawa dalam ciuman dalam. Kepala mereka berempat mendekat, lidah terjulur keluar dan saling membelit. Sungchan mengakhiri ciuman, atensinya beralih pada istri cantiknya, “Giliran memek kamu yang dipuasin, Ma.”

 

Wonbin menggigit bibir dan mengangguk antusias. Badannya ia rebahkan, kakinya mengangkang lebar. Ia menanti giliran untuk dimanjakan suami dan anak-anaknya.

 

Sungchan menunduk di samping istrinya, jari-jarinya mencubit dan memilin pentil tegang Wonbin. Ia menyuruh kedua anaknya mendekat dan melihat bagaiman ia melecehkan payudara Mama mereka.

 

“Mama seneng dipelintir kayak gini, apalagi dikenyot pake mulut. Pasti meler memek Mama pecun kalian, Nak.” Tangannya menjalar ke bawah, dan benar saja, memek Wonbin kembali becek karena dilecehkan putingnya.

 

“Nih, lihat, kan. Langsung basah, lendir memeknya langsung keluar. Lonte sangean emang beda.” Muka istrinya ia ludahi.

 

Ia menggamit tangan Anton dan meletakkan di payudara Wonbin yang menganggur.

 

“Cubitin, Dek. Kayak gini. Kakak juga sini, Nak.”

Dua anaknya ia perintahkan untuk melecehkan pentil si Mama kandung. Wonbin menggeliat keenakan, bibirnya ia gigit dan jilat karena gairah. Ia mengerang saat Sungchan meludahi toketnya dan diikuti dua anaknya. Lidah laknat sang suami turun dan memberi gerakan memutar pada pentil mengacungnya.

 

“Jilatin kayak gini, Sayang. Abis itu dikenyot gini hmmpp..” Papa memberi contoh pada buah hatinya. Ia bergeser dan beri akses untuk Eunseok menguasai sebelah payudara sang Mama. Dua anaknya menjilat dan mengeyot puting sang Mama dengan semangat. Wonbin mendesis nikmat karena perlakuan dua anaknya.

 

Akibat mengeyot puting Mama, Eunseok dan Anton juga merasakan gatal yang sama di puting muda mereka. Yang paling muda yang menyuarakan keinginan gairahnya.

 

“Papa, nenen Adek gatal. Boleh diisep juga?”

 

“Kakak juga, Pa.”

 

Ughh. Dua bocah laknat. Siapa yang bisa menolak kalau disuruh melamot puting anak-anak mungil ini. Dua anaknya direbahkan di kedua sisi sang istri, kepala keduanya tetap menempel di dada sang Mama, mulut tak berhenti menyedot puting sang Mama.

 

Sungchan berlutut di tengah paha Wonbin, kedua tangannya dengan adil memilin kedua puting Anton dan Eunseok. Dua anaknya mendengung dalam kuluman, hasilkan gelenyar nikmat untuk sang Mama. Ia menunduk dan meludahi puting Eunseok lebih, dulu. lidah bejatnya menoel-menoel puting putrinya hingga pemiliknya tersentak geli.

 

“Gelihh, tapi enak, Pa”

 

Ia tak menjawab, kepala Eunseok ia arahkan untuk menyusu lagi pada Wonbin. Susu mengkal anaknya ia sesap, ujung pentil ia gigit-gigit kecil, lantas ia berusaha memasukkan seluruh bongkahan sedang itu dalam mulutnya. Tangannya yang bebas memilin-milin puting Anton. Ia lalu beralih ke putranya, dan memberi perlakuan serupa pada kedua puting si bungsu. Usai melecehkan puting anak-anaknya dengan mulut dan tangan, ia menyeret kedua bocah hingga berada di depan memek Wonbin. Memek yang melahirkan dua bocah ini.

 

“Papa ajarin buat muasin memek lacurnya Mama.”

 

Satu jarinya menerobos dengan mudah ke lubang vagina Wonbin, disusul tambahan tiga jari. Jari-jari laknatnya mengocok memek meler istrinya. Ia mengeluarkan jarinya, lalu menggamit tangan Eunseok untuk dimasukkan jari-jari remajanya ke liang Wonbin. Sungchan menuntun anaknya agar mengobeli memek Mama kandungnya.

 

“Memek lacur enaknya dikobeli gini, Kak. Terus dikontolin. Pasti jerit-jerit enak sampe muncrat.”

 

“Kamu juga bisa colokin memek pake jari-jarimu, Kak. Dibantu Papa Mama atau Adek juga boleh.”

 

“Isepin itilnya Mama, Kak.”

 

Sungchan menekan kepala putrinya ke lembah memek Wonbin, mulut anaknya segera mengenyot buntalan sensitif itu. Wonbin menjerit nikmat karena itilnya diisap Eunseok.

 

“Ahhh… lagi, Kak. Lagi, Sayang. Isepin itil Mama yang kenceng!”

 

“Uhh, enak banget mulut lacurnya Kakak, itil mama keenakan.”

 

Eunseok makin semangat menyesap itil Mamanya, tapi ia harus berpuas diri, karena posisinya diganti Anton. Tangan adiknya dituntun Papa untuk mencolok liang kawin Mama, dari yang awalnya empat jari, berujung seluruh kepalan tangan gempal Anton menerobos masuk ke memek mama kandung.

 

“Pecun! Mama pecunmu seneng diisi tangan anaknya sendiri. Enak memekmu diperkosa tangan Adek, hm?”

 

“Anghhh! Anggh! Bajingan kamu, Pa. Enak banget, Adek. Tangan Adek ngenakin memek Mama ughh!”

 

Kepala mungil Anton ditekan Papa untuk melamoti itil Mama, tangan kecilnya tetap dituntun keluar masuk liang tempat lahirnya itu. Wonbin berteriak kegirangan karena fantasi liarnya satu per satu jadi nyata.

 

“Lonte! Anak lonte, isepin memek Mamamu, bangsat!”

 

Eunseok jadi gatal melihat Mama dienakin seperti itu, ia membawa wajahnya mendekat. Lidahnya dan Anton bekerja sama mengerjai kelentit bengkak Mama Wonbin. Wanita jalang itu menjerit liar karena dimanjakan dua bocah.

 

“Brengsek! Enak banget dilamotin lonte-lonte kecil! Nghh.. puasin memek Mama, Nak..”

 

Kenyotan di itil dan rojokan dan lian memeknya makin intens, Wonbin yang menahan birahinya dari tadi tidak kuat berlama-lama menahan orgasme. Muncratnya sudah di ujung.

 

“Ahh ahhh anjinghh! Mama muncrat, pipisshhh anghh!”

 

Ia menyemproti wajah dua anaknya dengan cairan memek. Eunseok dan Anton kembali dipaksa Papa untuk mencium dan menjilati wajah masing-masing dari kucuran cairan cintanya Mama.

 

Wonbin masih sensitif, tapi Sungchan sudah mengambil posisi di tengah pahanya. Dua anaknya diminta duduk mengangkang di kedua sisi Wonbin.

 

“Lihat, Nak. Papa mau nunjukin gimana sayangnya Papa ke Mama. Kontol papa mau ngentotin memek Mama. Ini caranya bikin anak, cara Mama Papa bisa punya kalian, sampe kalian bisa lahir.”

 

“Memek lonte Mamamu dientot pake kontol ngacengnya Papa. Kayak gini, ughh! Ngentot!”

 

Ia melesakkan kontol kerasnya dalam sekali sentak ke memek istrinya. Keduanya menggeram nikmat. Sungchan menghunjam kontolnya keluar masuk dalam liang meler Wonbin.

 

“Ini cara Papa muasin memek Mama. Harus disumpel kontol gede, dientot keluar masuk sampe lower memeknya.. Ghhh”

 

“Ahnn.. Pah, anjing enak banget. Perkosa memekku nghh, kasarin! Kasarin biar dua lonte ini tau enaknya disodok kontol bejatmu nggh!”

 

Hantaman batang kontolnya makin kasar, itil bengkak istrinya ia kucek dengan kejam. Lolongan kenikmatan dan kecipak kelamin memenuhi udara. Ia menunduk dan mengenyot payudara Wonbin, lalu menekan wajah Eunseok dan Anton untuk gantian menyusu pada sang Mama.

 

Ia melirik ke selangkangan kedua bocahnya. Memek Eunseok mengilap karena lendir memek, itil kecil Anton berdiri karena dilanda gairah. Dua anaknya bernafsu melihat kedua orang tua kandung saling ngentot.

 

“Suka ya liat Mama Papa ngentot? Sampe sange memek dan itil kalian, hm?”

 

Eunseok melebarkan kedua pahanya, memamerkan memek merekahnya. Tangannya mengusak itilnya yang mengacung keras.

 

“Gatal, Pa nghh.. Gatel liatin Papa nusukin Mama,”

 

“Kucekin sampe meler itil dan memeknya Kakak.”

 

Anton juga mengangkang, tangan gempalnya meremas gundukan itil mungilnya yang ngaceng. “Adek juga ngaceng, ya? Itilnya keras gara-gara liatin Papa merkosa memeknya Mama. Lacur.”

Sungchan memajukan badannya, ia meludahi itil Anton dan memek meler Eunseok. Entotannya pada memek Wonbin tetap konstan, istrinya meringis geli. Bibir wanita itu terbuka dan menyuarakan keinginan laknat lainnya.

 

“Pahh, aku pengen lamotin memek Kakak, pengen ngenyotin itilnya Adek..”

 

Ia mengabulkan keinginan gila Wonbin. Eunseok diminta menduduki muka Mamanya, si anak manis tentu saja patuh. Wonbin segera menjilat lipatan memek anaknya naik turun. Dengan posisi begini, lidah bangsatnya menerobos masuk makin dalam. Itil bengkak si bocah ia gigit dan sesap kencang.

 

“Mamahh ouggh.. Pah, memek Kakak dienakin Mama nghh”

 

“Nghh.. jilatin terus, Mahh! Ohh, jangan ahh, jangan di situ. Kotor, Ma,” Eunseok berseru kaget saat lidah Mama menjilati lubang pantatnya.

 

“Gak kotor, Nak. Pantat kamu juga bisa dienakin kayak memek. Rileks, Sayang,” Sungchan yang menjelaskan karena Wonbin terlalu sibuk memakan anal Eunseok.

 

Usai dengan Eunseok, Anton diseret Papa agar mengangkangi muka Mama. Itil kecilnya diemut dan ditelan habis oleh mulut biadab Mama. Ia terlonjak geli saat lidah Mama menjilat dan mengentoti bukaan analnya dengan lidah. Si bocah kecil menjerit enak.

 

“Mahh! Ughh.. pantatnya Adek gatal nghh.. Geli digituin unhh..”

 

“Enak, Pa. Pantat Adek enak dimakan Mama..”

 

Sungchan menggeram buas, dua pecun kecilnya tinggal selangkah lagi menjadi lonte beneran. Ia menerobosi liang kawin Wonbin makin gila. Anton dan Eunseok telah kembali ke posisi awal di samping Wonbin.

 

“Jepitin memekmu, pecun! Kencengin, aku mau muncrat dalam memekmu. Anggh, bangsat!”

 

“Sini, Nak. Liat Papa buntinging Mama kalian ughh.. ngentot! Muncrat lagi anjinghhh bangsat!”

 

“Anghh! Pipis, anjing…. Aku ngompol, Pah Ohh—”

 

Pejunya muncrat dalam memek istrinya. Badan sensitifnya terlonjak karena muncrat enak. Wonbin juga mengucurkan cairan memeknya. Gairah keduanya belum surut, memek Wonbin masih kebas karena orgasme yang berdekatan, tapi suamin biadabnya malah mengisi liang memeknya dengan itil kecil Anton. Kemarin hanya lubang kencingnya yang dimanjakan oleh titit kecil putranya. Hari ini giliran lubang tempat lahir si bocah. Memeknya yang masih sensitif otomatis menjepit itil anaknya dengan kencang. Tubuh mungil Anton tersentak kaget, mata bulatnya membola kaget.

 

“Nghh.. enak, itil Adek enak dalem memeknya Mama,”

 

Sungchan yang berdiri di belakang putranya mendekap erat tubuh ringkih itu. Puting putranya ia pilin kecil, memberi stimulus tambahan. Kontolnya yang masih keras bergesekan dengan belahan pantat lembut si kecil. Putrinya ia bawa untuk di atas perut Wonbin. Itil keduanya bersentuhan, ia menyuruh anak dan istrinya saling menggesekkan itil bengkak mereka.

 

“Pah! Anjing kamu nghh.. Enak banget itil sama memekku dientot dua lonte nghh..”

 

“Unghh! Papah, gatel banget, Pah ngghh.. Mau digarukin kayak tadi anghh… Mau jari sama kontol ahhh…”

 

Wah. Anjing. Eunseok merengek ingin diperkosa sang Papa.

 

Ia beranjak dari belakang Anton. Eunseok ia seret dari atas Wonbin. Ia kangkangkan kaki si lonte kecil, mulut jahanamnya meludahi dan melahap memek anaknya, jarinya ikut menerobis masuk. Kali ini tanpa perlu hati-hati seperti pertama kali. Tiga jarinya bersarang dan keluar masuk memek putri kandungnya. Eunseok mendesah dan menjerit ribut.

 

“Anhh, enak! Memek Kakak enak dicolok Papahh unghh! Mau dibikin pipis lagihh uhh!”

 

“Lonte bajingan kamu, Nak. Udah tau mancing nafsu bejatnya Papa biar merkosa kamu.” Ludahnya meluncur ke memek cengap-cengap Eunseok.

 

Anton yang sama gatal dan bergairah melihat Kakaknya dilecehkan, ikutan ditarik agar berbaring di samping Eunseok. Kedua kakinya dirapatkan dan dinaikkan oleh Papa. Lubang pantat plontosnya diludahi liur Sungchan. Lidah bejat si Papa turun dan mengentoti bukaan anal perawannya. Anton merintih gaduh karena dirangsang di tempat terlarangnya.

 

“Papahh… geli, hihihi.. enak ngghh! Pantat Adek dijilat enakkh.”

 

“Bocah-bocah pecun. Papa perkosa kalian malam ini, anjing!”

 

Jari telunjuknya menggesek bukaan anal Anton, lalu berupaya masuk inci demi inci ke lubang mungil itu. Anton menggeliat panik, tapi pantatnya dicengkeram kuat oleh Papa. Ia berteriak kesakitan saat telunjuk Papa berhasil masuk sepenuhnya.

 

“AHH! PERIH! KELUARIN, PA!”

 

“Tahan, pecun! Ini lagi Papa longgarin biar muat diisi kontol.”

 

Makin larut, makin saru dan kasar omongannya. Jarinya ia diamkan sebentar, tak benar-benar tega menyiksa anaknya yang baru pertama kali dibobol pakai jari. Ia mulai menggerakkan jarinya pelan saat dirasa Anton sudah bisa diajak melanjutkan kegiatan mesum ini. Telunjuknya dijepit erat oleh lubang perawan Anton, lidahnya memberi rangsangan nikmat dengan menjilati pinggiran anal, dan menyesap itil kecil si bocah.

 

“Nghhh… Paah.” Anton menggeliat naik turun. Gerakannya malah buat jari Papa bersarang makin dalam.

 

“Papa entot boolnya Adek, ya. Papa lebarin biar muat dientot kontol gedenya Papa.”

 

“Huung, gatel di dalem, Pa. Tolong digarukin ughh..”

 

“Pecun kecil.” Dan jarinya keluar masuk dengan tempo pelan, lantas menjadi cepat dan kasar. Jari-jarinya ditekuk dan menggesek dinding anal si bocah lonte. Ketika telunjuk panjangnya kenai satu titik sensitif di dalam sana, Anton melenguh bagai kerbau tolol.

 

“Unghh.. ungghh enak.. Lagih, mau lagihh,”

 

“Papahh.. kenain yang tadihh.. Onggh!”

 

“Di sini? Papa benyekin biji enakmu, ya. Enak tempat enaknya dihajar? Anak tolol kesenengan dilecehin prostatnya.”

 

Anton menggeliat bagai cacing kepanasan, buntalan sarafnya ditonjok jari-jari keji Papa, yang kini jumlahnya jadi tiga. Itilnya gatal dan makin membengkak, ia makin belingsatan saat merasakan isapan pada belalai kecilnya. Ternyata Kakaknya dipaksa Mama untuk melahap itilnya.

 

“Unghh, Kakak.. Adek enak, Kak. Enak! Anghh! ANGH!”

 

Itil kecilnya muncrat di dalam mulut Kakak Eunseok, yang menelan habis cairan gairah adik kandung. Kocokan Papa pada lubang analnya sudah terlepas. Ia merasakan liur mengalir di lubang analnya, saat dilihat, pelakunya adalah Mama. Mulut wanita cantik itu sedang menjilat lubang analnya bersama dengan Kakak.

 

Eunseok menungging dan menjilat adiknya karena penasaran. Di belakang sana, Papa sedang menjilati memek dan pantatnya. Ia meringis perih saat rasakan satu jari menusuk lubang boolnya. Bibirnya ia gigit kencang. Tak terlalu sakit, karena Papa mengalihkan rasa sakit dengan mengobel memek berlendirnya. Ia mendesah saat mulai rasakan enak dari rojokan di lubang anal, juga pada memeknya.

 

“Onghh! Pahh.. Enak banget dientot jari nghh!” mulut mudanya meracau kasar, hasil menguping ucapan saru Papa dan Mama.

 

“Iyah? Enak memek sama boolnya dientot gini? Diperkosa sama Papa memang enak, Nak. Abis ini memekmu yang Papa entot.”

 

“Ugh! Mau, mau dientot sampe pipis kayak Mama. Gak tahan, Papahh..”

 

Hah. Pecun bajingan.

 

Sungchan menelentangkan Eunseok, kaki si muda meregang lebar. Belahan memek putrinya ia gosok kasar dengan pucuk kontol bengkaknya. Pasangan anak dan papa mendesah pelan, enaknya pertemuan dua kelamin yang belum menyatu punya sensasi sedap tersendiri.

 

“Papa masukin, Kak. Perawanmu Papa ambil.”

 

Pucuk kontolnya merangsek ke liang memek perawan Eunseok. Putri cantiknya meringis perih, rasa sakit si sulung agak teralihkan dengan isapan adiknya di itil, juga isapan Mama di pentil tegaknya.

 

Kontol perkasanya ia masukkan pelan-pelan hingga seperempatnya, kala kepala kontolnya dijepit lorong memek anak kandungnya, ia tak tahan dan merudal seluruh panjang kontolnya dalam liang kawin si sulung.

 

“Bangsat! Memek perawan bocah emang beda, anjing! Gigit banget bajingan.”

 

“PAH! Pelanhh, pelan-pelan. Gede banget, memek kakak penuh shhh..”

 

“Iya, Sayang. Makasih udah ngasih perawanmu buat Papa. Anak cantiknya Papa. Papa sayang banget sama kamu, Kak,” ia berujar di depan bibir anaknya. Belahan merah itu ia lumat dalam pagutan mesra, lidahnya merodok rongga mulut si kecil.

 

Ia mulai menggoyang pelan pinggulnya, putrinya tak lagi meringis perih. Yang keluar malah rintihan dan desahan enak. Pinggul kecilnya bahkan terangkat untuk menyambut batang bejatnya. Anak pecunnya mulai menikmati diperkosa batang kontol papa kandung.

 

“Ugh! Enak banget, Pahh! Memek Kakak sesek diisi kontol.”

 

“Memek kamu emang gunanya buat diisi batang kontol, Sayang. Kamu dilahirin untuk nyerahin memekmu biar diperkosa Papa. Kayak gini nih! Nih!”

Kontolnya melesak kasar. Seluruh batangnya ia tanamkan, lalu ditarik hingga pucuknya sampai di bukaan memek, lalu dihunjam kencang ke dalam liang kawin Eunseok.

 

“Ngerti gak? Hm? Ngerti gak, pecun?! Jawab anjingh! Baru digenjot bentar udah teler aghh!” Muka anaknya ia ludahi dengan kasar.

 

Eunseok tak bisa menjawab, yang ada di otak mungilnya hanya rasa nikmat, nikmat, dan nikmat karena diperkosa kontol Papa. Ia bahkan tidak menyimak pertanyaan Papanya, tubuhnya terlampau kepayahan dihantam gairah dari pompaan batang peler si papa kandung.

 

“Anggg! Anghh! Kontol enak.. Memek aku unghh dientot Papah..”

 

“Mamahh, Kakak diperkosah ahhh diperkosa enak ahh!”

 

Pecun tolol. Diperkosa enak, katanya. Mana ada bocah tiga belas tahun yang merengek keenakan karena diperkosa batang kontol Papa kandungnya sendiri. Sungchan dan Wonbin berhasil buat anaknya berubah jadi lonte haus kontol.

 

“Lonte goblok! Diperkosa malah teriak keenakan. Ahh! anjing, memek bocah baru puber emang paling cocok diperkosa kontol gini anjing.”

 

“Ohh enaknya ngentotin anak sendiri. Pecun kecil ketagihan batang kontol bapaknya sendiri.”

 

Sungchan sange luar biasa, mulutnya tidak bisa disaring. Nikmatnya jepitan memek anak-anak, apalagi memek putri kandungnya sendiri buat warasnya tergilas dan menguap dibawa angin. Ia mengawini putrinya bagai anjing kesetanan. Liang memek anaknya sampai melebar karena dijebol kontol perkasanya.

 

“Pahhh! Unhh.. Gak tahan, mau keluar. Pipis enak unggh pengen muncrat, Pah.”

 

Sungchan makin beringas menggenjot liang memek Eunseok. Desahan berat keduanya menggema di dalam kamar. Anaknya menggeliat di bawah kungkungan badan kekarnya.
Batang kontolnya merogol liang yang tak lagi perawan sampai bunyi kecipak terdengar jelas di kuping keduanya, juga kuping istri dan putranya—yang sedang mencabuli satu sama lain, Anton mengisap memek Mama, dan Wonbin mengentoti liang anal putranya dengan jari-jari lentiknya.

 

Eunseok makin berada dalam titik tertinggi gairahnya, ia makin didorong dalam jurang gairah seiring dengan hunjaman kasar batang kontol Papa yang repetitif di liang kawinnya. Satu tusukan terakhir dan ia hilang dan jatuh dalam kubangan orgasme. Badan ringkihnya kejang-kejang, matanya memutih saking enaknya, jari-jari kakinya menekuk, seprai dibawahnya ia remas kencang. Eunseok muncrat hebat karena diperkosa Papanya sendiri.

 

“AHHH! ANGHH! Ngompol! Muncraath! Kontol Papa bikin pipis onghhh!”

 

Batang kontol Sungchan makin memberat, biji testisnya mengencang. Ia juga akan bucat sebentar lagi.

 

“Eunseok, sayang. Papa bucat dalem memek kamu ugh! Makan nih peju Papamu sendiri! Ohh anak pecun gue buntingin, bangsat! AHH!”

 

Maninya mengucur deras dalam memek Eunseok, bahkan sampai meluber keluar saking banyaknya. Perut kekarnya terlonjak keenakan, napasnya terengah-engah, kepalanya jatuh terkulai di ceruk leher putrinya. Usai gelombang gairahnya surut, ia mencabut kontolnya yang masih keras. Iya. Batang kontolnya belum puas mengeluarkan mani. Masih ada lacur kecilnya yang menanti diperkosa.

Ia mengecup sayang seluruh wajah anaknya dan membisikkan kata-kata cinta pada si sulung, yang terkapar lemas di atas tempat tidur. Badan berpeluhnya mendekat ke arah istri dan putranya yang sedang mengejar gairah. Anak bungsunya dipaksa istri biadabnya untuk mengentoti liang memek melernya. Karena itil si kecil tak bisa beri kepuasan yang diinginkan, Anton diminta mencolok lubang memek Mama dengan kepalan tangannya, itil kecilnya menusuk lubang kencing wanita yang melahirkannya itu.

 

“Ahh, Pa. Enak banget dientotin Adek nggh! Memek perekku melar di-fisting anak sendiri!”

 

“Kamu mau merkosa Adek, ya? Bentar unghh, biarin aku muncrat pake tangannya lonte bangsat inihh”

 

“Yang becus, Dek. Ngghh Mama mau muncrat, anjing. Anak lontehh, colokin yang kasar pepekku, bangsathh”

 

Sungchan yang kasihan melihat istrinya tak kunjung dapat puncak nikmat karena gerakan amatir anaknya, akhirnya ikut membantu. Kepalan tangan anaknya ia gerakkan dengan kasar dalam liang senggama Wonbin, bahkan sampai lewat batas pergelangan tangannya ikutan masuk. Wonbin memekik histeris karena memek pecunnya dikerjai nikmat oleh tangan anak kandungnya.

 

“Ngentoth! Anjing ngentoth! Perkosa memekku, anak bangsathh. Anak pecun onghh, kerjanya bikin nafsu unngghh!”

 

“Anjing!. Perek kecil gue muncrat! ANTON AHHH ANAK BANGSATH FUCKKH!!!”

 

Muncratnya membasahi muka mungil Anton, juga perutnya sendiri dan seprai di bawahnya.

 

Sungchan tak repot-repot menunggu istrinya mengatur deru napasnya. Putranya ia rebahkan dengan paha yang terbuka lebar. Ia menunduk dan menjilat sebentar lubang pantat yang cengap-cengap menyambut lidahnya. Sungchan meludahi kerutan analnya banyak sekali hingga liurnya menggenang di lubang pantat soi bocah. Lendir kontol dan peju sisa-sisa muncratan sebelumnya ia lumuri ke liang perawan Anton. Pucuk kontolnya menggesek pelan dan mendorong ke dalam. Lubang panas Anton menjepit kepala kontolnya dengan erat. Ia sudah kepalang nafsu, tak ingin membuang waktu lama, lubang anal Anton ia rojok dengan keseluruhan panjang kontolnya.

 

Anton meraung kesakitan diperkosa batang bejat Papa. Pelupuk matanya basah. Sungchan menjilati air mata anaknya, dan mencumbu seluruh wajah cantik putranya. Lidah kejinya diseret turun, lantas menjilat dan mengulum pucuk susu Anton. Si kecil terdistraksi dengan rangsangan di dada ratanya. Tangan gempalnya naik dan menangkup wajah tampan Papa. Bibirnya manyun minta dicium. Sungchan mencumbu mesra mulut bocah kecil itu. Lidahnya merangsek dan menginvasi tiap sudut rongga mulut anaknya.

 

Batang kontolnya ia genjot pelan, dinding anal Anton mencengkeram kuat pelernya. Lubang anaknya rapat sekali, tidak heran ia mendamba untuk memerkosa liang panas itu. Memerkosa lubang kawin anak kecil memang hal paling menggairahkan. Rapat dan ketatnya tidak tertandingi.

 

Ia menaikkan tempo hunjamannya. Matanya turun dan melihat penyatuannya dan Anton. Anjing. Gairahnya meletup-letup melihat liang memek Anton menelan kontolnya. Ia meludah ke penyatuan biadab itu. Giginya bergemeletuk melihat betapa cocok lubang pantat bocah lonte ini disumpal kontol dan dihiasi liur.

 

“Ngentot! Bool rapet enak banget, hahhh!”

 

“Memek bocah pecun. Nelen batang kontol Papa sampe abis uggh!”

 

“Papa entot memek perawan kamu, Dek. Bocah laknat, mancing napsu Papa tiap hari buat ngentot memekmu ahhh!”

 

“Pahhh unghh… Adek punya memek? Ahh ahh” Anton bertanya lugu di sela-sela genjotan liar Papa.

 

Sungchan mendesah berat. Bocah tololnya ini perlu diajarkan satu-satu agar paham maksud perkataan bejatnya.

 

“Iya. Fuckkh! Adek punya memek. Yang bisa diisi kontol namanya memek, Sayang. Memek pecun minta diperkosa. Ohhh!”

 

Anton mengangguk paham. Bibir celakanya membuka dan suarakan keinginannya, “Papahh, isi memek Adek pake peju unghh! Mau diisi peju. Nenen Adek mau dikenyot lagi, Pa.”

 

Pecun kecil tukang mancing. Jangan salahkan Sungchan jika lubang anal Anton robek. Anak lacurnya sendiri yang minta diperkosa dan disemprot peju.

 

“Mau peju? Lonte bajingan. Anak lacur, ini kamu lagi diperkosa. Ughh anak tolol! Malah minta diisi peju bapaknya.”

 

“Papa buntingin memek kamu, ya? Kalau mau peju berarti harus siap hamil. Biar Papa entot perutmu pas buncit!”

 

“Mauh unggh.. enak, Paah. Mau..”

 

Anton membalas bodoh, tak paham apa yang ia inginkan dan hal bejat apa yang Papanya pinta. Rojokan Papa pada liang memeknya makin kasar, mukanya diludahi, itil kecilnya dicubit-cubit enak, pentilnya dikenyot sampai bengkak. Otak dungunya berhenti berfungsi, karena isinya hanya lonjakan gairah, isinya hanya bagaimana ia menuntaskan gatal di lubang pantat dan itil mungilnya.

 

“Pahhh.. Garukin terus, benyekin tempat enaknya Adek! Ahhh kenain terus Papahh!”

 

“Ityil ngghh ityil Adek enyak, Pa. Mau enyak ungh..” lidahnya melemas, bicaranya jadi cadel. Si lonte kecil ingin dienakin lagi itilnya.

 

Sungchan menggeram buas. Anak bangsat benar-benar memancing nafsu bejatnya. Batang kontolnya merogol lubang memek Anton dengan serampangan.

 

“Anak lonte! Nih, makan kontol gue, bangsat! Lubangmu Papa perkosa sampe lecet, ngentot!”

 

“Anghh enyak unghhh pipishhh, Adek pipissh Papah Anghh…” Anton muncratkan lagi cairan bening dari lubang itilnya. Badannya menggelepar keenakan. Matanya menyilang juling, liurnya mengalir dari sudut-sudut bibir, lidahnya melemas keluar seperti anjing tolol habis diperkosa.

 

“Ughh.. anjing. Lacur tolol, gue mau bucat. AHHH MAKAN NIH PEJU. ANJING KECIL KAMU, BANGSAT! AHH BUCAT AHH!”

 

Pejunya muncrat dalam lubang memek Anton. Ia melolong buas, muncrat dalam memek anak kandungnya memang terlalu nikmat sensasinya. Deru napasnya memenuhi kamar yang sunyi. Ia menunduk dan melumat bibir anaknya yang pelupuknya mulai memberat. Istrinya juga ia kecup dan lumat. Dua bocah cilik ditidurkan di tengah ranjang. Ia dan Wonbin berpelukan mesra di pojok kiri tempat tidur, bahu sempit istrinya dia cium penuh kasih sayang.

 

“Makasih, Ma. Makasih udah ngelahirin anak-anak yang bisa ngenakin Papa.”

 

“Sama-sama, Papa.”

 

Keduanya terlelap menyusul Eunseok dan Anton yang lebih dulu tiba di alam mimpi. Dua anak kecil itu kelelahan usai mendapat pelajaran berharga dalam hidup mereka. Pelajaran yang akan menggerogoti waras dan tubuh mereka sampai mati. Karena Papa dan Mama biadab mereka tidak akan berhenti di hari ini saja.

 

***

Notes:

Mohon tanggapannya, warga. Kudu dilanjut apa sampe di sini aja perjalanan kite-kite bersama keluarga kecil ini??

Series this work belongs to: