Work Text:
Rahangnya mengeras. Kesal.
Perasaan tadi kaga segede itu.
Junghwan tidak pernah, sama sekali tidak pernah mempermasalahkan styles seperti apa yang ingin Youngjae pakai. Hip, coquette, casual, chic, edgy, formal, whatever you name it. He clearly knows that Youngjae pull off any look.
Seingat Junghwan pagi tadi ketika mereka semua lagi sesi briefing, robekan celana Youngjae tidak sebesar dan setinggi itu. Ah sial, pahanya kemana - mana.
Junghwan makin bete ketika teringat tanda - tanda yang ia bubuhkan di sekujur paha Youngjae sudah memudar, bahkan tidak terlihat sama sekali. Setidaknya kalau terlihat orang lain, mereka akan paham kalau paha itu sudah ada Tuannya.
Huft.
Sesi istirahat 15 menit ini Junghwan gunakan untuk datangi Kasihnya yang lagi duduk sendirian di salah satu sofa waiting room, “Sayan–uhuk–Youngjae. Ganti buruan. Ngapain masih dipake sih, robeknya udah kemana - mana,”
“Uhm..? Oh celananya? Iya tadi pagi pas lagi dipake dance enggak sengaja ketarik jadi robeknya makin gede hehe,”
“Yaudah, buruan ganti sekarang.” titahnya penuh perintah.
“Nanggung ah Kak, tinggal 1 sesi doang terus kelar nih rehearsal nya,” balasnya sambil scrolling ponselnya, masih belum sadar perubahan mood dari Junghwan.
Junghwan menunduk, mencoba untuk menyamakan tinggi badan mereka, “Paha kamu kemana - mana.”
Youngjae refleks mendongak dan sialnya langsung bertatap sama mata Junghwan yang rupanya sudah total memicing kesal. Duh, gemeter dikit enggak ngaruh.
“A-apa sih Kak! Kan enak robeknya gede jadi sejuk, toh tinggal bentar lagi terus kita balik hotel,”
“Oh atau kamu sengaja emang pengen umbar - umbar?” tangan Junghwan tau - tau sudah mendarat di paha kanan Youngjae yang memang sudah tidak tertutup kain jeans saking besarnya robekan celana itu.
Meremas marah. Youngjae bisa lihat paha kanan nya kini memerah berbentuk tangan lebar Junghwan.
“Kamu sengaja ya? Pengen bikin orang - orang berfantasi punya kesempatan buat kayak gini ke kamu?” Sial. Remasan tangan Junghwan makin naik ke pusat tubuhnya.
“K-kak stop! Jangan rese, kita masih di ruang publik,” larangan adalah perintah, bukan?
Kedua tangan Junghwan yang ada di masing - masing paha Youngjae, diam - diam bergerak pelan untuk masuk semakin dalam, hanya butuh hitungan detik kedua telapak tangannya berhasil menangkup seluruh pantat Youngjae, “Kakak janga-”
“TWS member, silahkan kembali ke stage!”
Youngjae melotot kaget, seolah tertangkap basah dan langsung refleks bangkit berdiri. Ia cuman bisa melirik sedikit takut - takut, “Bye Kak!”
Ah, sial. Padahal tinggal dikit lagi.
Meski bete dan manyun parah, Junghwan juga tidak ada opsi selain balik untuk lanjut rehearsal.
—
“Anjay mulus tuh paha,” Junghwan refleks langsung menoleh ke arah suara, sebelum akhirnya memiting leher Jihoon.
“Merem sekarang!”
“Aduh! Iya ampun Kak, ini merem nih merem, gelap nih dunia,”
Di lain waktu, giliran Kyungmin yang menyulut emosinya. Junghwan bisa lihat mereka berdua sedang duduk di tangga, menunggu rehearsal lagu berikutnya. Iya sih, memang choreonya duduk. Tapi karena duduk, justru bikin paha & betis Youngjae makin kemana - mana.
Ia bisa lihat Kyungmin yang memang sudah lelah kini tiduran di paha Youngjae. Bahkan mendusal ke paha Youngjae. Di. Paha. Telanjang. Youngjae.
Astaga, Junghwan rasa dia bisa naik darah detik ini juga.
“Cihuy! Abis ini gue ya Kak pengen pegang juga,”
Sial untuk Dohoon yang belum berhasil kabur, eh sudah tertangkap jeweran Junghwan.
“AMPUUUUUN,”
—
“Rehearsal done. Terimakasih, selamat beristirahat!”
Finally,
A long day comes to an end. Sejujurnya rasa dongkol masih nempel di hati Junghwan. Tapi ia bertekad buat nyari ribut sama Youngjae nanti di kamar hotel saja.
Tapi pucuk dicinta ulam pun tiba, Junghwan baru aja keluar dari changing room saat melihat Youngjae gantian melesat masuk ke salah satu bilik, ganti baju rehearsal ke pakaian yang lebih nyaman.
Ceklek
Mata Youngjae melotot seiring tubuhnya bergerak cepat untuk balik badan, melihat siapa orang jahat yang menyusup masuk ke bilik ruang gantinya.
Oh sial, ternyata Kasihnya.
Itu Junghwan, yang baru saja menutup rapat pintu bilik nomor 2 yang Youngjae pilih.
“Sumpah Kak jangan aneh - aneh masih banyak staf lalu lalang…”
Bagai domba yang disudut pemangsa, dan itu pula yang terjadi ke Youngjae yang malang.
Junghwan melangkah semakin maju, buat tubuh Youngjae menabrak kursi tinggi yang juga turut hadir di bilik ganti. Dengan segera Junghwan angkat tubuh si cantik supaya duduk manis di kursi.
Tanpa menunggu apapun, kedua tangannya segera merayap masuk melalui celah robekan di celana Youngjae.
Kreeeekk
“Kak?!” Youngjae panik. Jelas, siapa sangka Junghwan justru semakin merobek celana Youngjae, niatnya supaya tangannya bisa patroli tanpa celah dan terhalang.
“Sobek aja semua sekalian, lagian nggak guna. Nggak bisa nutupin apa-apa juga.”
“Tapi kan-”
Kreeeekk
“Kakak?!”
Kini celana nya sudah robek compang-camping, bahkan paha dalam nya bagai diobral terlihat menggiurkan tentunya di mata Junghwan.
Si Kakak bawa kedua kaki Youngjae untuk melingkar erat di pinggangnya, lalu bubuhkan cium di seluruh wajah sang Kasih.
Cup Cup Cup Cup Cup Cup
Kepalanya aktif miring ke kanan, lalu ke kiri, cari posisi paling enak untuk akhirnya cium bibir Youngjae.
“Kalau masih berani pake celana kayak gini lagi, aku nggak segan buat robek di depan orang - orang. Aku serius,”
Apasih. “Suka - suka aku dong! Kalau nggak boleh pake yang compang - camping kayak gini, yaudah besok aku pakai hotpants aja sekalian,”
What a brat. Alih - alih jadi peacemaker kayak biasanya, Youngjae justru pilih buat siram bensin ke api yang berkobar terang.
Junghwan pilih diam, pandangi rupa si Cantik yang bersungut kesal. Mungkin badmood dan lelah jadi alasan. Di dalam bilik ganti yang sempit, suasananya jadi terasa terlalu sunyi. Hanya suara gesekan kain ketika baju ditarik, ditambah detak jantung yang entah kenapa terdengar lebih jelas dari biasanya.
“Ide bagus,” hening sesaat, “Pake aja hotpants nya, aku kasih tanda sekalian biar kaki kamu ada motifnya.”
“EHHHH?!” itu teriak Youngjae.
Junghwan tarik kaki kanan Youngjae ke atas, kaitkan tungkai nya ke bahu lebarnya, buat badan nya yang sedang duduk jadi semakin melorot dan secara reflek cengkram erat kaus Junghwan kalau tidak mau jatuh. Buat tubuh mereka semakin menempel tanpa celah.
Merasa terancam, ia meminta pengampunan.
“Kak maaf maaf maaf iya besok nggak bakal pake yang begini lagi. Janji,”
“Apology accepted. Tapi hukumannya tetep jalan ya,” dan bisa-bisanya Junghwan tersenyum lebar dan manis sekali padahal kelakuan nya sehabis itu sungguh jahanam.
“mmm~ slrp”
Ia jilat kaki Youngjae dari betis diatas bahunya, hingga ke paha dalamnya.
cup cup cup cup cup cup cup
Kedua tangan Junghwan tangkup seluruh pantat Youngjae, ia remas keras buat lenguhan Youngjae keluar tanpa bisa ditahan.
“AAHNNNnn-…” nafasnya tercekat. Berbuat di bilik sempit & ada kemungkinan terciduk oleh orang - orang buat Youngjae makin pening.
Kesadarannya mulai terkumpul kembali saat ia mulai rasakan gigitan Junghwan di betisnya,
“Ahh-Kak ampunhh, stopph udah udahh pleaseehh-,”
Lagi - lagi, larangan adalah perintah, bukan?
Junghwan pilih cuek, lanjutkan tinggalkan tanda kemerahan di sekujur kaki, berikan gigitan kencang di pangkal pahanya.
DUK!
Saking nikmatnya buat Youngjae lempar kepalanya kebelakang, buat kepalanya terbentur dinding tak terelakkan. Menutup matanya erat, sembari sebelah tangannya menutup mulut,
“nghh… hhhk…hahhff,” mencoba menahan suara pecah yang nyaris lolos. Sedang tangan satunya menjambak tapi juga mendorong kepala Junghwan untuk semakin memakannya.
Buat Junghwan tersenyum makin lebar, tau manusia didepannya sudah tolol.
“Mmff…en–nyam… hhmm~slrrpp,” Youngjae harap harap cemas berdoa semoga suara lahap Junghwan tidak terdengar sampai luar.
intermezzo.
Junghwan kini kejar bibir Youngjae yang bengkak sebab terlalu kencang digigit, upaya sia - sia menahan suaranya sendiri.
Bibir mereka bertabrakan cepat, “mmph— mnhh…”, sedikit kasar tapi sarat perasaan. Suara kain bergesekan, “srrp…ahhh-”, ketika tangan mencengkeram baju erat-erat.
Napas Youngjae terputus-putus di sela ciuman,
“hahh… nnnh…”, bercampur dengan gumaman samar, “mmm~”.
Sesekali bibir terlepas sebentar, meninggalkan bunyi basah, “slrp… tchh”, hanya untuk Junghwan kembali sosor lebih cepat, lebih menuntut.
Dunia terasa mengecil jadi hanya ruang sempit itu, dipenuhi suara kecil,
“hahh… mmphh… slrp…”, tangan Youngjae gemetar di bahu Junghwan, jantung berdebar seakan habis marathon.
Kedua pasang bibir kembali bertemu, “mmphh— mnhhh…”, lebih kasar, lebih tergesa. Jemari Youngjae bergetar mencari rambut si Kakak, sementara tangan Junghwan menarik pinggang, menahan agar jarak tak kembali tercipta.
Kepala mereka miring, berganti sudut dengan tergesa, bunyi basah “slrp… tchhh” terdengar setiap kali bibir terlepas sebentar. Napas pecah, “haaah… hahhh…”, lalu kembali ditelan dalam ciuman berikutnya.
Bahunya bergetar, badannya mulai mengejang. Suara lirih lolos di sela ciuman, “mmm… nnnhh…”, samar, penuh emosi. Sesekali lidah terlepas dengan bunyi kecil, “lep… slrp”, membuat intensitas kian mengikat.
Semua terasa meledak dalam ruang sempit itu, napas, detak jantung, bunyi kain, “hnnhh… mmphhh…”. Singkat, terburu-buru, tapi cukup untuk membuat mereka berdua lupa bahwa dunia di luar masih terus berjalan.
Menemukan kanvas baru, Junghwan beralih menyantap leher Youngjae dengan tetap menahan kaki kanannya di atas bahunya.
Ia tarik tank top Youngjae makin kebawah, persiapkan kanvas yang lebih lebar untuk bibir tebalnya. Mulai tinggalkan oleh - oleh keunguan sepanjang tulang selangka.
Youngjae terhuyung pelan, mengistirahatkan kepalanya ke dinding. Napasnya masih kacau, “hahh… hhahhh… hfff…”, dada naik turun cepat seperti baru saja habis lari. Tangan gemetar sedikit saat mendorong bahu Junghwan menjauh.
Di sisi lain Junghwan mundurkan sedikit tubuhnya, ingin melihat hasil karya nya yang cantik rupawan.
Matanya susur sepanjang betis, ke paha, ke tulang selangka dengan tank top yang sudah melorot, hingga berakhir ke wajah ayu merah merona, bak menelanjangi sang Kasih.
Tak kapok, Junghwan kembali genggam betis Youngjae, menenggelamkan wajahnya di betis penuh motif itu,
Cup Cu-
Ceklek
Youngjae menahan nafasnya tak berani menengok. Sedang Junghwan yang tak mau waktunya diganggu, bahkan tak sudi untuk angkat wajahnya sekedar melihat siapa pelakunya,
“Tutup pintunya dari luar.”
“Siap, Kak.”
Cekrek!
Bunyi khas camera disusul cahaya flash memantul singkat. Youngjae melotot kaget, dan dengan segera menoleh untuk melihat si pelaku,
itu Hanjin.
Yang di tangan kirinya genggam baju, sepertinya ingin ganti. Dan tangan kanannya masih mengacungkan ponsel pintarnya ke arah Junghwan dan Youngjae yang lagi berbuat.
Ceklek
Dan pintu tertutup begitu saja, lalu suara melengking Hanjin merdu mengudara,
“SIAPAAAA MAU LIHAAAAT?!”
