Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-06-12
Words:
3,070
Chapters:
1/1
Kudos:
12
Hits:
53

aku, kamu, dan dewi madoka.

Summary:

puja dewi madoka*, karena telah berjasa mempertemukan chanyeol dengan kyungsoo.

Notes:

p.s. this fic is using indonesian jokes and slangs, and most probably not suited for automatic translation.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

*puja dewi madoka = frasa populer di kalangan penggemar franchise puella magi madoka magica, utamanya pengagum karakter utamanya, kaname madoka. frasa ini sering digunakan dalam konteks humor atau sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan dan peran penting madoka, yang (spoiler alert) di akhir cerita menjadi dewi bagi orang-orang yang putus asa.


mendung menggantung di langit pagi comifuro hari pertama. chanyeol menarik napas panjang sambil memarkirkan motornya, malas-malasan menyeret langkah ke arah venue. kartu tenant booth-nya ia tunjukkan sekilas ke panitia di gerbang masuk.

pandangan mata chanyeol sempat melirik ke arah antrean yang sudah mulai mengular. beberapa orang balik menatapnya—mungkin karena tinggi badannya, atau mungkin karena kostum pink mengembang dan wig kuncir dua yang ia kenakan.

“hei! yeolie!” suara familier memanggil dari arah booth. jongdae, rekan satu booth-nya, tengah berjibaku menegakkan banner bergambar karakter-karakter puella magi madoka magica. ia mengenakan kemeja putih polos dan celana kain hitam, kontras dengan chanyeol yang tampil nyentrik dengan kostum dominan pink-nya.

yo, dae!” seru chanyeol ceria. ia berputar satu kali di depan jongdae dengan anggun bak chika idol negeri matahari terbit sedang teater-an. “gimana, penampilanku hari ini? glamor nggak?”

jongdae ngakak, “buset, cakep banget! kayak boneka hidup, sumpah. tapi... tinggi amat, kayak madoka versi mecha!”

“wkwk bodo amat.” chanyeol nyengir lebar, “aku pede banget hari ini. aura magical girl-ku 300%.”

iya, di booth kantor mereka yang menangani media impor, chanyeol memang bagian cosplay. lebih tepatnya, crossplay. hari ini, ia jadi madoka—rok renda pink, wig kuncir dua, dan riasan manis. ia sudah biasa. hidup bareng kakak perempuan dan ibunya yang hobi dandan-dandanan membuatnya akrab dengan lip tint dan bedak tabur sejak remaja. dan memang... wajahnya cantik, meski badannya menjulang setinggi 185 cm.

kerumunan mulai masuk ke hall. comifuro resmi dimulai. mereka berdua kembali ke posisi masing-masing.

“bro, wig-mu agak miring tuh,” kata jongdae sambil nyengir.

“oh! thanks.” chanyeol langsung mengecek pantulan dirinya di cermin booth dan membetulkan wig-nya. “nanti istirahat keliling yuk. kutraktir merch.”

beberapa jam berlalu hingga akhirnya giliran istirahat. shift mereka digantikan oleh kru berikutnya. jongdae dan chanyeol melenggang keluar dari booth, berjalan beriringan di tengah keramaian. jongdae masih dalam outfit formal, sedangkan chanyeol tetap dengan kostum madoka lengkap dengan sepatu hak rendah.

masing-masing menggenggam iced americano di tangan.

“katanya mau traktir merch, yeol?” jongdae menyeruput kopinya. “mau ke mana nih?”

“enggak tahu... liat-liat aja dulu.” chanyeol memindai hall dengan mata berbinar, “aku pengin nemu keychain madoka yang rare.”

keychain? ngikut aja dah sampai nemu titipan abang gue, gue mah kagak ngerti dunia perwibuan.” jongdae mengangkat bahu, menatap layar ponselnya, “katanya booth 3b-12, tapi di mana tuh...”

“eh! dae, lihat tuh!” chanyeol berhenti mendadak, menunjuk salah satu booth di deretan doujin, “itu juga ada booth madoka!!”

banner besar dengan ilustrasi madoka dan homura terpampang mencolok. gambar digitalnya halus, warna pastel yang lembut. mata chanyeol berbinar kagum.

“gambarnya cakep banget, ya ampun,” gumamnya. ia mendekat tanpa pikir panjang, jongdae mau tak mau mengekor.

di display ada sample doujin, pin karakter, dan gantungan kunci. chanyeol mengambil satu sample doujin dan mulai membacanya sambil berdiri. sampulnya menampilkan madoka dan homura berpegangan tangan, dahi bersentuhan.

“dae, ini gambarnya gila sih. pewarnaannya mulus banget. tarikan garisnya enak dilihat. lembut tapi kuat!” puji chanyeol dengan semangat, “tapi... hmm?”

ekspresinya berubah saat membaca isi ceritanya.

“eh? loh? kok homura gini? ini... ini nggak make sense deh. nggak mungkin homura ngelepasin tangan madoka begini. dia tuh devoted banget. ini karakterisasinya nggak nyambung!”

“yeol...” jongdae menyenggol pelan, merasa nggak enak sendiri mendengar chanyeol mengkritik blak-blakan begitu. “mending kamu jangan...”

“bentar, bentar, ini aku penasaran—”

mas.”

suara berat dan tenang memotong ocehan chanyeol. ia menengok ke bangku penjaga booth itu dan langsung membeku. seorang cowok kecil, putih, baby face, berkacamata bulat, bibirnya manis—terlalu manis. dan ekspresinya sekarang? datarnya bikin nyali ciut.

“kalau nggak suka sama doujin buatan saya,” ucap cowok itu dingin, “nggak usah komentar macam-macam.”

chanyeol tercengang. jongdae cepat-cepat menarik lengan temannya dan membungkuk sopan, “maaf ya, mas. temanku emang suka kelewat jujur.”

mereka cepat-cepat menjauh.

“yeol!” jongdae langsung ngomel saat mereka duduk di kursi food court, “itu tadi nyaris dikeroyok massa lo. apa-apaan dah lo?”

chanyeol masih melamun, tatapannya kosong. “dae...”

“apa lagi?”

“cowok tadi... tipeku banget.”

jongdae terdiam sejenak, lalu meledak, “hah?! wkwkwkwk—gila lo!”

“astaga, jangan ketawa!” chanyeol menutupi wajahnya.

“ya gimana gak ketawa? lo baru aja ngeritik doujin orang di depan mukanya, trus langsung jatuh cinta?”

“aku nggak tahu itu dia yang bikin...”

“ya terus kalau tahu juga? dia tetep bakal ilfeel ngeliat madoka segede tiang listrik gitu nyolot di booth-nya!”

“duh...” chanyeol mengerang frustasi. “aku pengen beli doujin-nya deh. sebagai permintaan maaf.”

“dan biar bisa ngobrol sama dia lagi, ya kan?” jongdae menyipitkan mata.

“...iya.”

sepuluh menit kemudian setelah beli jajan, mereka kembali berdiri di depan booth yang sama.

“hai!” sapa chanyeol ceria, melambaikan tangan dengan awkward. cowok berkacamata itu hanya melirik.

“maaf yang tadi... aku nggak tahu kalau itu buatan kamu.” chanyeol menggaruk tengkuknya.

“kalau tahu pun, emang bakal lebih sopan?” balas si doujinka, nada suaranya masih sama tajamnya.

“haha... ya... maksudku, aku nggak suka ceritanya, tapi gambarnya keren banget! asli, teknik warnanya bagus banget, detil rambutnya juga, dan garis ekspresi karakternya...”

“-harganya udah tertera di label harga,” potong si cowok.

“o-oh, oke.” chanyeol langsung membuka dompet. membayar. menerima doujin dengan kedua tangan.

“makasih ya... dan maaf banget soal tadi.”

mereka melangkah pergi.

jongdae hanya bisa geleng-geleng. “lo niat banget sih.”

chanyeol memeluk doujin yang baru dibelinya. “aku nggak tahu kenapa... tapi aku harus ketemu dia lagi besok.”

 

---

 

belum sampai esok hari—menjelang comifuro ditutup sore itu—chanyeol sudah kembali lagi ke booth doujin madoka yang tadi. masih dengan kostum lengkap madoka, wig pink kuncir dua, dan sepatu berhak kecil, ia berdiri di depan booth yang kini dijaga oleh seorang cewek berambut pendek.

matanya celingukan.

“permisi, mbak…” tanya chanyeol sambil mendekat, “cowok berkacamata yang tadi jaga di sini, ke mana ya?”

“cowok kacamata?” cewek itu mengernyit, “oh—kak kyungsoo maksudnya? kakak kenalannya kak kyungsoo, ya?”

“eh—nggak, nggak… aku cuma…” chanyeol belum sempat menjelaskan, cewek itu sudah berdiri dan melambai ke arah lorong masuk area tenant.

“kak kyungsoo~!”

chanyeol mengikuti arah pandangnya, dan betul saja—cowok berkacamata itu muncul dari balik pintu area staf. tapi begitu matanya menangkap sosok chanyeol yang berdiri di depan booth, ia langsung... berbalik arah.

“eh—eh?” chanyeol refleks mau melambaikan tangan juga, tapi urung. ia berdiri canggung, tangan menggantung di udara.

mungkin dia... kabur karena nggak mau ketemu aku?

cewek penjaga booth menghela napas kecil. ia menatap chanyeol dengan wajah waswas, “maaf, kak... kakak bukan temennya kak kyungsoo ya?”

chanyeol menggaruk kepala yang masih dilapisi wig. “aha—nggak sih. tadi siang aku ke sini, terus... sempat komen soal doujin-nya. komennya agak… nyolot. aku udah minta maaf, tapi kayaknya dia masih kesel. aku ke sini mau minta maaf langsung lagi.” ia jujur saja, sekalian pasrah.

“ohhh...” cewek itu mengangguk-angguk, “iya sih, kak kyungsoo emang gitu orangnya. pemalu banget kalau ketemu orang baru. tapi kayaknya dia udah nggak marah kok, bawaannya aja keliatan kaku.”

“beneran? tapi tadi dia kabur...”

“haha, kak kyungsoo tuh gitu kalo grogi. kabur sambil bawa air minum juga udah biasa kok.” cewek itu nyengir, lalu menambahkan, “kalau mau minta maaf beneran, dateng aja lagi besok. kak kyungsoo jaga booth lagi kok.”

chanyeol memanyunkan bibir, “ish… ini aku diusir halus, ya? pembeli adalah raja loh?”

“enggak dong~” cewek itu tertawa, “perasaan kakak aja!”

“ya udah, besok aku ke sini lagi,” gerutu chanyeol sambil mundur perlahan, “makasih ya, mbak…”

yang penting, sekarang chanyeol tahu namanya.

kyungsoo.

namanya aja udah... manis banget.

 

---

 

sementara itu, setelah chanyeol dan jongdae pergi… kyungsoo kembali ke booth-nya dengan langkah pelan, mengendap-endap seperti pencuri. wendy, yang kini duduk menjaga booth, melirik santai.

crossdresser-nya udah pergi kan ya, wen?”

wendy mengangkat alis, “dia tadi ke sini nyariin kakak loh.”

kyungsoo nyaris tersedak udara, “hah?! terus... bilang apa dia? balik lagi enggak?”

“udah pergi. dia cuma mau minta maaf, katanya ngerasa bersalah udah ngomong gituan soal doujin kakak.”

kyungsoo menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. “astaga... aku kira dia mau ngatain lagi. takut.”

“lah, kenapa malah kakak yang takut?” wendy nyengir, “orangnya minta maaf, lho.”

“nggak tahu... lihat dia tuh, bawaannya jadi pengen ngelihatin terus. tapi takut dibilang creepy.”

wendy menyipitkan mata penuh curiga, “hmm~ naksir?”

“bu—bukan!” kyungsoo buru-buru membantah, pipinya memerah. “itu loh! karena dia pakai kostum madoka! dan aku suka madoka!”

“iya, iyaaa.” wendy tertawa pelan. dalam hati, ia baru ingat—belum bilang ke kyungsoo bahwa orang tadi bakal balik besok. ah, tapi... biarin aja deh. biar surprise.

 

---

 

malamnya, chanyeol duduk di kamar kos, membuka paper bag doujin yang ia beli dari booth kyungsoo. ia mengeluarkan isi dalamnya—doujin full color yang sudah dibungkus rapi, dan satu kartu nama kecil.

di kartu nama itu tertera:

do & co.
ilustrasi & doujin: @dodo_kyung
contact only via twitter

chanyeol langsung membuka twitter dan mengetik username itu. setelah scroll selama setengah jam, ia menganga. banyak retweet cewek-cewek seksi bergaya anime, preview gambar doujin dengan gaya manis... dan mayoritas reply-nya dari... cewek semua.

ia mendesah panik. lalu menelepon jongdae.

“dae…”

“hmm?”

“gimana ya kalau cowok itu straight?”

“hah? maksud lo si kyungsoo tadi?” jongdae terdengar malas menanggapi, “emangnya kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?”

“akun twitter-nya... isinya ritwit cewek-cewek moe, terus banyak mutual cewek juga. hiks.”

“ya emang dia doujinka, kan? circle-nya emang kebanyakan cewek. wajar dong?”

“iya sih...”

“jangan-jangan yang lo bilang ‘cewek seksi’ itu preview doujin-nya sendiri...”

chanyeol terdiam.

“...iya.”

“enggak waras.” jongdae langsung menutup telepon.

chanyeol menatap layar ponselnya. profil kyungsoo yang terpampang di situ, dengan icon chibi madoka tersenyum manis.

…tapi emang manis banget sih,” gumamnya, mengelus layar.

 

---

 

hari kedua comifuro dimulai dengan langit cerah dan sinar matahari yang terik. tapi tak ada yang bisa mengalahkan semangat chanyeol pagi itu. ia sudah hadir lebih pagi dari jadwal jaganya. hari ini, ia mengenakan kostum madoka dari arc berbeda—rok tetap mengembang, tapi dengan wig panjang menjuntai dan pita yang lebih besar. chanyeol berdiri mematut diri di depan kaca booth-nya, membetulkan posisi wig dan memoles bedak tipis di bawah mata.

“yeol, lo kenapa sih? kan jaganya baru siang.” jongdae melirik dari bawah sambil menyapu lantai booth. “dateng pagi-pagi cuma buat dandan?”

“mau ngapelin doujinka manis~” jawab chanyeol santai, membetulkan lengan kostumnya sambil senyum-senyum.

“...astaga. lo stres, ya?”

“doain aku dapet line dia hari ini~” chanyeol berseru sambil kabur.

“lah—eh?! ke mana lo?!” jongdae mendongak, tapi cowok berkostum madoka itu sudah lenyap ke tengah keramaian.


---

 

“haaiii~” chanyeol menyapa cerah dengan senyum menawan, berdiri di depan booth doujin yang sama seperti kemarin. kyungsoo ada di sana, jongkok sambil menyusun stok doujin baru. mendengar suara itu, ia menegang sejenak.

“be-belum buka, mas,” ujar kyungsoo buru-buru, matanya menghindar.

“nggak beli kok,” kata chanyeol, “aku mau... minta maaf lagi, sama ngajak ngobrol.”

“saya lagi sibuk...” balas kyungsoo, kaku.

“chanyeol,” potong chanyeol sambil mengulurkan tangan, “namaku chanyeol.”

kyungsoo mendesah, terpaksa menyambut uluran tangan itu, “kyungsoo.”

chanyeol memperhatikan wajah lawan bicaranya dengan saksama, “kamu enggak mau lihat aku? aku salah banget ya sampai kamu enggak mau tatap aku?”

kyungsoo tersentak. ia menggaruk tengkuk pelan, lalu menatap ke arah lain, “bukan... cuma... saya emang enggak terlalu suka ngobrol lama-lama. agak... kikuk.”

“oh...”

chanyeol masih menatapnya penuh perhatian, ia mendongakkan dagu sedikit. “tapi aku sadar dari tadi kamu natap aku lho, lumayan tajam juga.”

“eh—eh?!” kyungsoo panik, “maaf! ngg... penglihatan saya jelek, jadi kalau ngobrol suka harus natap terus biar bisa lihat ekspresi orang. tapi saya takut dibilang aneh.”

chanyeol nyengir, “padahal boleh kok natap aku terus.”

ha?”

“sayang dong aku udah dandan susah-susah gini, nggak ada yang merhatiin~”

kyungsoo tak bisa menahan diri—tertawa lepas, “pfft—kepedean banget sih!”

suara tawanya ringan, jernih. chanyeol terpana sejenak.

“jadi... kita baikan?” tanya chanyeol sambil mengedip.

“emang kita musuhan?” balas kyungsoo, tersenyum.

mereka tertawa lagi.

 

---

 

pagi itu, selama kyungsoo berjaga, mereka banyak mengobrol—tentang madoka, teori multiverse, tentang karakter favorit mereka, bahkan tentang desain panel doujin yang kyungsoo gambar sendiri. chanyeol, meski cerewet dan sering melantur, nyambung banget kalau bahas anime.

“kalau aku, ya... sebenernya ngerti kenapa kamu bikin madoka-nya kayak gitu di doujin kamu,” kata chanyeol sambil duduk nyender di sisi booth, “tapi aku tetap nggak rela homura segitunya...”

“itu karena kamu nge-ship madoka sama homura, kan?”

“banget. sampai ke neraka dan balik lagi.” chanyeol menjawab dengan 1000% keseriusan.

kyungsoo terkekeh.

mereka ngobrol juga soal pekerjaan. tentang bagaimana chanyeol bisa nyasar kerja di perusahaan distributor anime, dan kyungsoo yang awalnya ilustrator lepas lalu pelan-pelan serius nerbitin doujin.

“serius banget loh kamu sama hobimu, salut.”

“biarin. hobi juga bisa jadi ladang rezeki, tahu.”

chanyeol juga sempat berkenalan dengan teman-teman circle kyungsoo—beberapa cewek yang jaga booth gantian. semua langsung terlihat geli tapi terhibur dengan interaksi mereka berdua. rayuan chanyeol pun muncul setiap sepuluh menit sekali, “kalau kamu karakter puella magi madoka magica, kamu pasti homura-nya ya. cool, misterius, overprotective.”

kyungsoo hanya geleng-geleng dengan senyum malu, “tau dari mana deh aku overprotective, kayak udah kenal lama aja.”

“itu, belain anak (doujin) sampai segitunya.” chanyeol beralasan, “...dan aku madoka yang suka ke tempat yang sama tiap hari cuma buat lihat homura.”

stop. gombalnya level doujin banget itu.”

 

---

 

siang tiba. jongdae datang dengan wajah jutek, “yeol, waktunya shift. ayo minggir dari booth orang. jangan bikin malu pakai wig panjang gitu masih betah nempel.”

“duhhh... padahal baru mau bahas timeline alternate universe…” chanyeol berdiri dengan lesu, lalu menatap kyungsoo sambil tersenyum, “aku balik lagi nanti ya.”

kyungsoo hanya mengangguk kecil, tapi matanya mengikuti chanyeol cukup lama sampai cowok tinggi itu menghilang dari pandangan.

 

---

 

sore itu, booth doujin kembali sepi. kyungsoo duduk menyender ke kursi, memijat pelipis dan melepas kacamatanya sejenak. wendy melirik dari kursi sebelah, “menghela napas terus, kak. bisa-bisa disangka mau lahiran loh.”

“sembarangan.” kyungsoo mendesis pelan.

“pusing, kak? mau kubeliin minum?”

“enggak, cuma... haaaaaah.” kyungsoo mengembus napas panjang lagi.

wendy ikut mendecak. “tuh kan, nafas panjang lagi.”

kyungsoo menumpukan dagu di atas meja display, “wen... menurut kamu, crossplayer tadi tuh orangnya gimana?”

“kak chanyeol?” wendy berpikir sebentar, “baik, ramah. beliin kita semua boba, tuh.”

“bukan soal itu...”

“ohhh~” wendy menatap penuh selidik, “kakak naksir, ya?”

“enggak!” kyungsoo cepat-cepat menyangkal, “cuma... kagum aja. dia berani cosplay madoka, dengan outfit kayak gitu. pink, imut. banyak cowok gak bakal berani kayak gitu.”

matanya tampak berkilat. entah karena kekaguman... atau sesuatu yang lain.

“jadi... kagum?” tanya wendy lagi, sambil nyengir.

“kelihatan segitunya, ya?”

“enggak tahu, kak. aku kan nggak mau sok tahu~” jawab wendy, bahunya terangkat tinggi.

kyungsoo mendengus, “kalau chanyeol... maksud dia ke aku tuh apa ya?”

“nggak tahu juga. aku nggak mau sok tahu~” ulang wendy dengan nada centil.

“arrgh... ngeselin.”

wendy hanya terkikik senang, sementara kyungsoo kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

 

---

 

sepanjang hari itu, chanyeol tidak terlihat lagi di booth doujin madoka—mungkin sibuk berjaga di booth utamanya. tapi kyungsoo? hampir setiap lima menit ia melirik ke arah lorong, pura-pura mencari pengunjung, padahal... jelas-jelas ia sedang mencari sosok tinggi dengan wig pink dan senyum lebar. wendy, yang duduk di sebelahnya, sudah tidak tahan lagi.

“kak, mau aku jagain booth dulu? kakak keluar sebentar cari angin... atau cari seseorang?”

tawaran itu kyungsoo tolak mentah-mentah, “terus kalau udah ketemu, mau ngapain?” tanyanya skeptis.

“ya nggak tahu, emang kakak maunya ngapain?” wendy membalas enteng.

“...nggak ngapa-ngapain juga. ya udah sih. emang nggak penting.” kyungsoo menyandarkan diri ke kursi.

wendy menggeleng, memutar bola matanya, “jangan nyesel loh, kak. kalau udah keluar dari sini, susah ketemunya lagi.”

kyungsoo mengangguk pelan. dan ya, awalnya ia pikir ini cuma kekaguman sesaat. rasa hangat yang timbul dari percakapan satu pagi. tapi semakin waktu berlalu, semakin banyak helaan napas kosong ia buang, semakin jelas bahwa ini bukan cuma sekadar kagum. selama ini, ia kesulitan berteman. dibilang dingin, tatapannya katanya bikin takut. tidak semua orang tahan ditatap lekat olehnya. tapi chanyeol... tidak keberatan. chanyeol malah meminta untuk ditatap. dan senyumnya... senyum itu tinggal di kepala kyungsoo, terus-menerus.

“kak?” suara wendy membuyarkan lamunan panjangnya, “udah jam delapan malam, yuk beberes.”

“hah? jam delapan?!” kyungsoo panik melihat arlojinya, ia langsung menoleh ke koridor yang sudah mulai sepi. “aku... aku mau cari chanyeol...”

wendy mengangkat alis, “ih, baru sekarang niat nyari?”

“aku kira masih sempat...” kyungsoo melangkah, tapi wendy menahan lengannya.

“beresin dulu, kak. kita yang cewek-cewek jangan sampai pulang kemaleman.”

kyungsoo mengangguk. ia mengerti. tak bisa egois hanya demi mengejar perasaan mendadak yang bahkan ia sendiri belum paham. ia menyimpan niatnya. untuk sekarang.

pukul sembilan malam, comifuro resmi selesai.

booth sudah dibongkar rapi, stok masuk ke kargo, wendy sudah dijemput. kyungsoo berdiri sendirian, kini dengan hoodie hitam dan ransel di punggung, berdiri di tengah area hall yang mulai dikosongkan. tapi... chanyeol tetap tidak terlihat. kyungsoo melangkah lunglai ke parkiran kargo. sunyi. hanya tersisa pekerja bongkar-pasang booth. ia berhenti, lalu—

“haaaaaaaaaaaa!!!” ia berteriak sekuat tenaga.

bukan karena marah. tapi karena kesal pada dirinya sendiri. andai tadi ia menuruti naluri. andai tadi ia keluar booth. andai ia tidak berpikir terlalu lama. mungkin, mungkin saja... ia masih bisa bertemu. tapi meski pahit, ada rasa lega setelah berteriak. namun tiba-tiba...

“um... kyungsoo?”

kyungsoo menoleh cepat.

itu suara yang (baru saja) dikenalnya. di sana—berdiri chanyeol, dengan helm masih menempel di kepala dan hoodie abu-abu menutupi rambutnya yang kini normal. wig sudah dilepas, kostum madoka telah berganti dengan jins dan sepatu sneakers. tapi wajahnya... masih sama. senyum hangat, mata besar yang kini tampak sedikit bingung. imut. jantung kyungsoo berdetak sangat kencang.

“ah... chanyeol.” ia tertawa lega, “kupikir aku sudah nggak sempat.”

“nggak sempat untuk apa?” tanya chanyeol polos, memiringkan kepalanya seperti anak anjing.

kyungsoo menarik napas, lalu memberanikan diri, “untuk bilang... ayo ketemu lagi.”

chanyeol terdiam. matanya membulat, lalu mulutnya ikut membentuk huruf ‘o’.

“ng-nggak mau ya?” suara kyungsoo melemah, gugup.

“tapi kupikir... kamu nggak mau ketemu aku lagi...” ucap chanyeol pelan. senyumnya canggung, menawan, “kamu kan sempat bilang nggak suka ngobrol lama-lama...”

“siapa bilang?” kyungsoo tersenyum kecil, “aku suka kok.”

chanyeol langsung salah tingkah.

“aaahh!! jangan ngomong kayak gitu dong!” ia memekik panik, menutup pipinya yang memerah.

“kenapa?” kyungsoo menggodanya, kali ini dengan percaya diri yang belum pernah muncul sebelumnya.

“pokoknya... jangan...!” chanyeol nyengir, salah tingkah tapi senang.

“jadi... kamu mau?”

chanyeol langsung mengangguk cepat, “mau! ayo terus, terus bertemu!”

ia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya ke kyungsoo, “tolong... masukin kontak kamu...”

kyungsoo menuliskan namanya, lalu kembali menyerahkan ponsel itu.

mereka tertawa. tidak tahu pasti karena apa. mungkin karena lega. mungkin karena senang. mungkin karena ini awal dari sesuatu. lalu saat chanyeol menariknya dalam pelukan, kyungsoo tidak menolak. pelukan itu ringan—hangat—mungkin masih persahabatan. tapi... siapa tahu. dalam waktu dekat, bisa menjadi lebih.

comifuro tahun itu berakhir, tapi kisah mereka baru saja dimulai.

 

Notes:

unpublished fanfic from my high school days hehe. anyways, happy chansoo day!