Work Text:
Biasanya kalau lagi terik-teriknya begini, Heeseung bakal masih mejamin mata dan nikmatin mimpi indahnya dia yang only God knows what he's dreaming (sampai celananya kadang becek parah, but that's for another discussion), namun kali ini situasi yang dialaminya beda. Si Libra itu lagi ngadem depan kipas dalam setelan paling tinggi, rambut udah lepek parah nempel ke sana-sini di jidat basah dan penuh minyaknya.
Belum lagi badannya yang udah bau asem, baju udah entah di mana letaknya karena sebelumnya dia lepas duluan, saking nggak tahannya sedari tadi.
Semua karena teriknya panas Jakarta hari ini.
Tapi, jangan salah paham, Heeseung biasanya nggak gini, suer. Hari sial ini emang dia milih buat bermales-malesan aja, alasannya dengan jelas karena terik gilanya matahari hari ini bakal bikin usaha dia buat tetap wangi, bersih, dan kering malah sia-sia. Alhasil dengan keputusan implusifnya, si Libra berpikir, mending sekalian aja seharian loyo gini, dah.
Untuk sekian kalinya, helaan nafas terdengar lagi dari bibirnya yang udah ikut basah karena liur, akibat berulang kali menjilat bibir, karena segitu frustrated si pemilik rambut coklat abu itu.
Mata bulatnya yang entah kenapa bisa bergenang air mata melirik ke arah jam, masih pukul 2. Otak dia berputar logis, kalo dia mandi sekarang... Nanti gerah lagi. Tapi, kalo dia gak mandi sekarang, gak tahan banget.
Karena sumpah, beneran sepanas itu!
Akhirnya setelah otak mungilnya berkerja ketas buat bikin pilihan. Yang Heeseung pilih justru menuju buat memegang ponselnya, dan buka aplikasi X yang sering dia buka itu. Posisi si Libra ini meringkuk nyaman ke dalam lutut dan masih di depan kipas, genggaman tangan pegang erat ponselnya, lalu jempolnya ia buat sibuk scroll-scroll sosial media itu dengan asal. Entah beneran kebaca sama dia semua cuitannya, atau dia cuma iseng aja gerakin jarinya acuh.
Yang lewat, ya, paling cuma cuitan lucu, momen viral, video kucing, thread review barang, terus—
Bokep.
Duh, anjing. Jempol si Heeseung yang tadinya buat scroll cepet ponselnya itu, langsung berhenti, begitu dengan napasnya yang tertahan. Gimana bisa ada video bokep lewat padahal ini bukan akun alter dia, ya, kalau bukan karena ada mutual dia yang retweet pasti. Pupilnya membesar sembari irisnya itu terpaku batu pada video tersebut, menonton video dengan kualitas tinggi itu, yang mulai get in his head.
Akibat kepalang bete, dan udah terpuruk karena panas hari ini. Kewarasan dia hilang ke buang bersama buliran keringat yang mengucur terus. Heeseung akhirnya memencet asal video tersebut untuk menonton sekalian dengan suaranya.
Videonya, berisi cewek yang kemungkinan Latina, lagi di depan kaca dengan selangkangan terbuka lebar, asik mainin klitorisnya sambil sesekali masukin dua jari ke dalam lubang memeknya yang cengap-cengap. Suara desahan erotis yang sebenernya Heeseung tau cuma dibuat-buat udah menggema dalam kamarnya, pas si cewek berteriak kenceng karena nyubit klitorisnya yang bengkak itu, Heeseung langsung reflek nelen ludah bahkan ikut berjengit ngilu. Paha lengket dia terkatup erat saling bergesek. He had done that before.
Dan tanpa sadar juga, bukan cuma pelipis dan punggungnya yang basah, tapi memek Heeseung ikutan bereaksi denger desahan tersebut. Heeseung visibly shifted in his seat, as slicks unconsciously drips out of his pussy. God, he's so easy just from a porn video.
Heeseung menerjapin matanya berkali-kali, si cewek dalam video, sekarang berfokus nusukin jarinya dalem-dalem ke memeknya sendiri, maju mundurin pergelangan tangannya dengan cepat. Desahannya makin keras. Suara kecipak juga semakin jelas dengan paha si cewek mulai gemeter dan gak bisa diem.
Ternyata bukan cuma si cewek yang gak bisa diem, Heeseung gigit bibir bawahnya kuat-kuat, paha dia pun masih dia kapit erat-erat karena mulai ngerasain sendiri memek dia kedut-kedut.
After realizing how his south is drowned in slicks, Heeseung huffs out a frustrated sigh—God it's uncountable at how many times he had sighed today. Jemari Heeseung yang nganggur di bawa buat sisir ke belakang surai lepeknya.
Kemudian tanpa sadar diri, celana dan dalemannya udah hilang entah kemana dia lempar asal. Pandangan Heeseung turun ke memeknya sendiri yang literally glistening di kamar redupnya itu, perlahan dia lebarin pahanya, memek basahnya itu terkena angin kipas di depannya.
Selain ngerasa lega karena paha dia yang daritadi pengep akhirnya kena angin, dia sekarang balik lagi dengan rasa frutasinya karena dia bukan cuma kegerahan,
—Tapi sange juga, anjiiiing!
Tapi, tapi ya. Jangan salah, meski dasarnya Heeseung gampang sange, si lelaki tinggi dan berbadan kurus itu sejujurnya gak pernah lebih dari genjotin bantal sendiri. Dia selama ini cuma berani gesekin memeknya di balik celana dalam dengan bantal, tangan cukup panjangnya itu gak pernah namanya masuk ke dalam atau gesekin klitorisnya.
Sad, I know. But he's scared okay!
As much as horny he is, he never thought to go that far.
That's a lie btw, he did had thought about it.
──────────
Riki ngebanting pintu kosnya, helaan nafas gusar keluar dari mulut bau asap buatan tiramisu yang sehabis beres dia hirup di jalan sebelum balik tadi. Dia dudukin dirinya di kasur sampai berbunyi gedebug kenceng, dan saking kenceng dan hebohnya dia jatuhin diri, kepala dia sampe kejedot tembok di belakangnya.
"Anjing!" Riki nengok ke tembok dengan alis bertaut, seolah-olah temboknya bisa langsung tunduk dan minta maaf sama Riki.
Lagi dan lagi, helaan nafas terdengar dengan kasar, kepala Riki akhirnya disenderin ke bantal hampir kempesnya itu. Riki rebahin dirinya dengan nyaman masih dengan baju setelan abis beres latihannya. Biasanya, jam terik gini dia milih buat sibukin diri di tempat latihannya, nonjokin punching bag dan berlatih atau ngelakuin semacamnya bersama pelatih miliknya. Tapi karena pelatih dia tetiba ada urusan dadakan, alhasil Riki disuruh pulang aja daripada mendep di tempat latihan. Gimana gak bete coba si pirang?
Bosen, Riki cuma bisa natap langit-langit kamar gelapnya yang emang suka lampunya di matiin. Karena pemikiran dramatis konyol dia akan ketakutan mati kebosenan, alhasil dia milih buat bangun dan bikin es sirup dingin aja yang bisa legain tenggorokannya di dapur kosannya. Daripada dia makin bete karena gerah, haus juga, makin jengkel.
Riki membuka pintu kamarnya, kemudian beranjak untuk turun tangga sambil melewati beberapa pintu kos lainnya tertutup rapat, bahkan ada yang dikunci diliat dari pot atau kain lap di depan pintu. Tapi ada satu pintu nggak ketutup rapat. Dan sayangnya, kamar di sini semuanya tipis banget suaranya, kebuka dikit itu kamar, kedengeran sampe 2 pintu itu suara.
Tipis, kan, kamar kosnya? Jadinya kedengeran jelas suara orang lagi.. Ngedesah?
Hah, anjing?
Siapa ngocok siang bolong gini? Riki langsung pelanin langkahnya saat udah nutup pintu kamar.
Kakinya yang tak terbalut kain apapun dia jalankam perlahan ke arah pintu tersebut yang nggak ditutup dengan bener itu. Dan persis seperti dugaan telinganya aja, suara desahan yang terdengar desperate, even sounds like its in a edge of pain and frustration tersebut, makin jelas.
Dia gak bisa ngeliat isi kamarnya, karena pintunya cuma gak ketutup dengan rapat, bukan kebuka lebar buat liat kamarnya. Tapi semakin dia denger suaranya, makin gak asing...
"Uffhh—mmrnngh.." there it is, suara desahan tertahan itu, seolah-olah si pemilik suara sedang kesakitan.
Entah mau lagi sange atau kesakitan, Riki yang emang blunt and nonchalant as he is, abruptly swings the door open without any care. Or he just doesn't have any manners actually.
And damn, wow.
Di depannya ada sosok yang ia kenal jelas. Bahkan cukup terkenal namanya dengan reputasi baik. Yaitu si Kak Heeseung yang dia lebih kenal sebagai si pemilik wangian yang enak diendus, dan rambut sering diwarnain. Biasanya si Kakak itu ramah menyapa penghuni kos atau balik ke dalam kamar dengan banyak bawaan ditangannya.
Yet, right now he's such a fucking mess, and the room stinks with his slick. He's fully naked, riding a fucking pillow, with one hands seemingly playing with his pussy that he knows, he just knows is so fucking soaked. All while furrowing his eyebrows and mouth that is incapable of closing with how much noises he's making.
Ngedenger suara langkah dan pintu terbuka, Heeseung whipped his head towards the door faster than anyone, and he's panting like a damn dog, eyes crazed with panics that visibily grows in his bubble.
"Rik..? Riki?" Heeseung merasa badannya gemeter, dan makin panas, bener-bener panas, saat mata berkaca-kacanya mendapati pemandangan salah satu anak kosnya di depan pintu yang sudah tertutup.
Heeseung nggak tau sekecil apa dia keliatan dimata Riki, tangannya yang sempat menekan dan nyoba gesek-gesek klitorisnya tadinya jadi terhenti, dan mulai gemeter. Si Libra itu ketakutan dan panik setengah mampus sampe ngeblank parah, anyone can tell.
Satu, dua menit hening. Heeseung tak berkutik karena dia gak bisa coba buat sembunyi dari tatapan tajam si pemilik rambut pirang itu gimana pun. Selimutnya dilipat rapih di pojok, spreinya udah berantakan, bantal yang lain juga udah di mana-mana, cuma satu yang sekarang lagi dia naikin. Heeseung semakin dibuat gemeter dengan tatapan Riki yang gak bisa diprediksi.
Hanya terdengar suara napas dua orang tersebut, satunya bernapas dengan cepat dan kaya orang asma. Sementara satunya lagi mengeluarkan napas dengan tenang.
"Riki...—" "Kak, gua bantuin mau gak?"
Usai coba buka situasi yang sedang parah sekarang ini, suara lirih Heeseung justru terpotong dengan balesan Riki, yang bikin otaknya kopong. Napas Heeseung tercekat, iris matanya begerak sana sini mencoba cari titik lucu lawakan si Riki, namun nyatanya Riki's totally dead serious, ekspresinya datar, tapi penuh sama kesangean, obvi.
"B-bantu..? Bantu apa.." cicit Heeseung yang beneran masih tremor, dia udah ngeblank kaya orang tolol. Nanya pertanyaan retoris disituasi sekarang.
Mata tajam Riki mengamati setiap inci badan telanjang Heeseung, menonton tetesan keringat yang turun terjun di kulit mulusnya itu. Setiap sudut gak ada yang lepas dari tatapan mata keranjangnya itu. Heeseung gimana gak makin goblok ditatap gitu, berasa ditelanjangin padahal udah telanjang.
Ditambah, sebelum kejadian Riki masuk, Heeseung udah kepalang mau nangis aja rasanya. Dia udah hampir setengah jam nyoba cara enakin dirinya sendiri dan berhasil nihil. Gesekin diri ke bantal, naikin bantal, kucek-kucek memeknya, goyangin pinggulnya brutal. Bahkan pas dia nyoba gaya dia biasanya, masih kurang rasanya.
Heeseung cuma ngerasa geli, dan dia lelaki haus.
Haus banget akan friksi yang bisa buat dia lega. Sekarang.
Apalagi dengan situasi kini yang entah dia gimana jelasin atau selesaiin, udah makin goblok dan dongo kepalanya itu. "Bantu.." Riki's voice lingers, he approaches Heeseung with desire, needs, and wanting that he didn't know had.
Tapi semuanya emang karena sange aja, makanya Riki ngerasa sesek napas juga sekarang.
Mendekati Heeseung masih dengan posisi sama, mata penuh sama air mata, iris bulat menyedihkan itu natap Riki lemes. "Bantu, ngelanjutin yang lu lakuin tadi, Kak," Riki dudukin dirinya di samping Heeseung yang masih telanjang kaya orang tolol. Berbanding balik dengan Heeseung, si pirang justru terlihat santai.
"Tadi kan lu main sendiri, sekarang gua bantu, mau?" Kedua alis Riki menaik tinggi, membuat kerutan di dahinya tertekan dan membuat garis kerut jelas, unexpectedly Heeseung keens and drips at that sight.
You can always judge a book by its cover. But you can't never expect, that Riki actually smell the slicks dripping out of Heeseung.
"Gimana..? Caranya?" Heeseung gigit bibirnya sendiri, mata genitnya starting to consume every part of Riki, and then it dips down at the tent of his pants that's already hanging low.
Talk about biiig.
"Maunya gimana?" Riki tanya balik, menunggu jawaban si Libra itu dengan sabar.
Bukannya ngejawab, pinggul Heeseung malah gerak sendiri perlahan maju mundur, kedua tangannya memeras bantal di bawah selangkangannya, paha dia mengapit kuat-kuat bantal tersebut. And shit, Riki actually drips a bit from the sight alone that he's witnessing right now.
Suara napas Heeseung terdenger pendek dan ngos-ngosan makin kenceng, apalagi Riki natepnya makin dalam, penuh arti dan intens.
Intens banget..
Terlalu intens. Heeseung bener-bener bisa ngerasain dia ngeluarin cairan lagi dari memeknya yang sempet kering karena dia berhenti. Terlalu intens. Heeseung merasa kakinya gemeter semakin mata tajam itu menusuk setiap kulitnya.
"Unh, unh, unh—" Heeseung nggak tau sejak kapan, tapi yang pasti tangan Riki udah ada dipantatnya yang basah karena keringet, ngeremes kuat dan sesekali menampar kencang sampai bunyi nyaring, Heeseung selalu ngedesah keras saat kulitnya ditampar. Liurnya menetes jorok kaya anjing nunggu makanan dengan laper.
Heeseung sendiri juga nggak tau sejak kapan liurnya udah menetes terus-terusan dari mulutnya, lidahnya melet kaya orang gila, matanya udah nggak fokus ke mana. Dia beneran kaya anjing laper, ya?
Lagi, Heeseung ngerasa tolol karena nggak tau sejak kapan tapi tangan Riki udah menyusup ke selangkangannya perlahan, kukunya menyilet setiap kulit licin Heeseung. Badan besar Riki menutupi punggung Heeseung sepenuhnya, tangan satunya masih setia dipantat si pemilik rambut coklat abu yang lepek, dan nggak karuan itu. "Emang gini doang enak, Kak?" tangan Riki belum kunjung juga menyentuh satu hal yang Heeseung butuhkan, tangan besar itu hanya menari di dalam paha Heeseung, mengelus pelan. Kontras jelas dengan goyangan Heeseung yang mulai tak sabaran.
"Uhhf—mm mm mmh, nnnggakh—uh uh uh!" Heeseung susah payah coba bales dengan suara gemeter dan gak jelas. Dia sendiri udah acuh kalo Riki gak denger ucapan dia dengan jelas. Yang da peduliin sekarang itu akibat dia lagi totally nervous dan sange, pinggulnya gak bisa berhenti nekenin klitorisnya ke bantal yang bentuknya udah gak karuan.
Heeseung denger suara Riki ketawa, anjing, makin sange.
And as you predicted, Heeseung sped up his riding, hips desperately moving with no rhythm. "Sini sini.." Riki narik kedua bahu Heeseung untuk nyeder ditorso dia, kepala Heeseung otomatis dongak dan nyender lemas gak bertenaga juga di pundak keras Riki. "Gua mainin yang bener. Kasian lu capek goyang doang cuma gemeter," lanjutnya, munculin seringaian sialan yang sesungguhnya bikin Heeseung makin sange.
Damn, Heeseung is mad horny.
Bantal tersebut ditarik dari bekapan paha Heeseung, Heeseung ngerengek saat friksi sedikit yang daritadi dia rasakan hilang, Riki pun mencium pipi lengketnya pada rengekan tersebut. Kemudian telapak tangan besar itu menarik selangkangan Heeseung agar melebar. Sampai terlihat lah memek yang udah basah kacau. Becek parah. Mana klitorisnya udah bengkak, warna memeknya pink merona, bersih bening, basah di mana-mana.
Lalu tanpa basa basi atau minta ijin dengan sopan, jari tengah gak sopan Riki melusup nurun ke memek basah tersebut, membuat Heeseung bereaksi berjengit dipangkuannya. Lucunya lagi, refleks Heeseung malah makin melebarkan kakinya, sampai menempel pada badan sendiri.
"Becek banget sih, hmm? Asik banget mainin diri lu, Kak?" jari tengah Riki menggesek pelan klitoris bengkak itu, memutarkan jarinya di sana, menekan-nekan sambil kuku pendeknya itu sesekali menggaruk. Mendapati memeknya dimanjakan, bola mata Heeseung berputar ke dalam, desahannya tertahan ditenggorokan seolah-olah dia dicekek.
"Gua baru kali ini nemu memek sebecek ini, Kak." lidah panjang Riki ikutan tak diam, benda lunak itu menjilati daun kuping Heeseung, membasahi dengan liurnya itu. "Emang tadi gimana aja mainnya? Kok bisa sebecek ini?" tanya Riki.
"Ummnh, tadi.. Tadi kaya tadi.. Dikucek-kucek.." lirih Heeseung submisif, suaranya cempreng diiringi desahan manja. Riki tertawa kecil mendengarnya.
Jemari Riki bergerak memutar cepat lagi, dan menggesek sambil menekan, "Kaya gini?" "Annhgg! Iyah! Iyaa—" Heeseung hampir teriak hanya pada gerakan kecil Riki.
"Tapi-, tapi kurang.. Kurang enak.." lanjut Heeseung, tangan basahnya memeras erat bisep Riki tanpa malu. Heeseung geserkan kepalanya agar menghadap si dominan dengan jelas dan melas. Tatapan dan raut mukanya sengaja ia buat untuk merayu. Riki lets out an amused expression, "Iya? Kurang? Terus Kakak tadi kobel-kobelin juga gak memeknya?" plak! Bersamaan dengan pertanyaan Riki, telapak besar itu menampar kejam memek basah tersebut.
"Ah!" Heeseung mengigit bibirnya, alisnya dia tautkan kuat. "Ng.. Nggaahh.. Nggak berani, Riki.." Si rambut pirang lagi-lagi tertawa, telapak besarnya mencakup memek tembem Heeseung dalam satu telapaknya, Heeseung squirms at that.
"Oh nggak berani? Kalo gitu aku jilatin aja mau gak memeknya?" Usai pertanyaan Riki, memek Heeseung langsung banjir cairan lagi, membasahi tangan si yang lebih muda masih di sana. Riki langsung menjilati bibirnya pada pandangan yang bikin ngiler kacau.
"That turns you on, huh?"
And Riki doesn't need to know the answer to that. Cus the next step, he's on his back laying down comfortably. Comfortably with Heeseung's pussy grinding down his face. Slick smearing his face all over, his breathing uneven as he's unable to sucks in air there, well he does prefer to suck Heeseung's clit more anyway.
Lidah lincah Riki menari asal di sana, menjilati bersih seluruh permukaan memek tersebut, kemudian lidahnya menjilat ke atas, memutar dan menekan klitoris Heeseung dengan mahir, mengemut kasar biji bengkak tersebut. Bola mata Heeseung putih, alisnya tertaut ke atas dengan ekspresi erotisnya melebihi bintang porno, desahan berisiknya menyaingi cewek di X yang buat dia sange tadi. Bibirnya terus-terusan nyelipin nama Riki kaya doa, doa buat bikin dia enak terus.
"Puh—puhleasee....Uffhg, Rikii mmngrhh!" Heeseung tremors again with Riki still devouring his pussy, his slick dripping nonstop. And everytime Heeseung's slicks slids down, Riki's tongue is there to catch it. "Mmmnh," Riki growls at the taste of it, "Terus anjing, becekin muka gua." geramnya disela-sela makan tersebut.
"Enggnakh! Ennnak—ahnn.. Anjing! Rik!" Pinggul Heeseung langsung bergerak kasar saat ngerasain gigi Riki menggesek klitorisnya, desahannya nggak karuan, pahanya mengapit kencang muka Riki sekarang.
Lidah Riki masih sibuk nyuruput setiap cairan tumpah Heeseung dari memek yang udah bengkak dan kedut-kedut itu. Riki tau Heeseung bentar lagi mau bucat, jadinya lidah Riki dan mulutnya makin brutal ngerecokin memek si bersurai lepek coklat abu itu, yang lagi asik goyangin pinggul guna nambah friksi lebih pada pinggulnya yang rakus.
Entah gimana bisa Heeseung sampe sekarang gak direkuit buat jadi bintang porno dengan segimana erotisnya dia sekarang. Desahan merdu yang bikin Riki makin laper buat terus nyerang memek basah tersebut. Lidahnya sibuk beri stimulasi ke bagian yang bikin Heeseung sensitif, alias lubangnya sendiri. Bahkan kalau lidah lebar Riki cuma jilat asal, desahannya makin cempreng saking sensitifnya dia dengan lubang perawannya itu.
"Nnrmmgh Riki! Riki, oh oh oh ohhh—" Pada jilatan cepat dan tak beratur Riki, Heeseung mendesah keras dengan suara yang hampir mirip layaknya teriakan kesakitan, walau nyatanya berbanding balik.
Paha si Libra gemetar hebat, bahkan rengkuhan Riki pada paha tersebut harus makin dikencangkan saking tak bisa diamnya si Heeseung.
And he fucking squirts all over Riki's face. Covering him in the golden showers he's been yearning for.
"Mmh fuck, becekin terus bangsat!" Riki mendesah berat, lidahnya sibuk ingin menyicipi setiap muncratan bening Heeseung, menelan sebisanya dan membiarkan sisanya membasahi muka sampai ke leher tersebut.
Dan ketika muncratan tersebut berhenti, Heeseung langsung menjatuhkan dirinya ke depan, menutupi wajah Riki sepenuhnya dengan badannya. Kemudian Riki mengisap sisa pelepasan hebat si Heeseung yang udah terkapar lemas di depan mata.
Lemas, tapi memeknya masih kedut-kedut tuh. (Ya karena mulut lu belum bisa diem, kocak!)
Riki akhirnya memilih bangkit dari baringannya, wajahnya becek nggak karuan seperti beres wudhu, napasnya terpenggal-penggal dan walau mulutnya masih gatal ingin menghabisi memek Heeseung, dia miliki ide lain disela-sela sangenya.
Badannya menindih Heeseung terbaring tengkurap, memek masih terlihat becek kacau, bahkan bengkak. Kedua lengannya ia gunakan untuk mengurung leher Heeseung dalam dekapannya. Napasnya menggelitik telinga si yang sedang lemas, lidahnya bergerak berirama di lehernya, mengisap dan mengigit di sana. Mulai meninggalkan jejak karena sebelumnya terlalu asik makan.
"Umh.." rengek Heeseung hampir tak terdengar, terlalu lemas untuk bahkan berbicara, pahanya masih gemetar.
Sampai-sampai tak sadar bahwa si yang lebih muda sudah mengeluarkan kontolnya yang berdiri tinggi dan keras, urat mencetak jelas karena daritadi menahan dengan sabar, makanya kali ini Riki butuh Heeseung buat gantian meledak.
"Kak, gantian."
