Actions

Work Header

inangku

Summary:

till adalah inang yang paling sempurna untuk benalu seperti ivan.

(written in lower case, mostly smut with tiny bit of plot, inspired by paratise - ivan)

Notes:

paratise sexy banget. so, i wrote this dengan secepat kilat sambil mendengar lagunya. narasinya lebih baku dibandingkan smut sebelumnya yang kutulis. dialog campur bahasa inggris. also, warning ini ivannya agak twisted dikit. and pls baca tags yah!!

selamat menikmati.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

ivan adalah benalu— eksistensi yang tidak bisa hidup sendiri. ia selalu cari makhluk lain untuk dihinggapi, lalu ia ambil semua yang bisa ia curi. inang pertama ivan adalah orang tuanya yang ia hinggapi sejak ia diambil dari panti asuhan di pinggir kota. tanpa ivan berikan apa-apa, seluruh harta yang mereka punya diwariskan kepadanya.

inang kedua ivan adalah teman-temannya. mereka tawarkan senyum dan bantuan kepadanya hanya karena dirinya adalah benalu bagi orang tuanya. padahal, ivan tak bisa beri balasan selain sepercik status sosialnya sebagai anak adopsi orang kaya. tak ada ruginya, ivan pun tempeli mereka karena mereka senantiasa jilat dirinya tanpa imbalan apa-apa. tawari dia jawaban ujian, kenalkan dia dengan wanita, hingga bawakan makan siang cuma-cuma.

kedua inangnya adalah inang yang baik, tetapi bukan inang yang sempurna untuknya. kedua orang tuanya punya benalu lain yang menempeli mereka — para penjilat yang ingin masuk ke perusahaannya. teman-temannya pun tidak hanya ekori dirinya, tapi orang manapun yang sekiranya punya harta. 

mungkin karena benalu pada dasarnya tidak pernah tahu malu, ia merasa tidak puas dengan apa yang ia punya.

seolah ada yang kurang dari mereka.

ada satu hal. satu hal yang mereka tidak bisa berikan pada ivan.

oleh sebab itu, ivan selalu mencari-cari inang ketiganya yang akan jadi inang abadinya. organisme yang bisa ia sebut rumah tanpa harus berbagi dengan siapa-siapa. yang benar-benar miliknya pribadi dan bisa puaskan segala keinginannya. kalau bisa, ia akan gerogoti hidup inangnya dan buat inang itu menyatu dengan dirinya.

malam itu, ivan temukan jawabannya saat sedang duduk di sebuah bar seorang diri. ia pesan martini dan duduk di tepi sambil dengarkan celotehan luka, si bartender, yang bilang barnya selalu sepi. ivan hanya bisa membalas dengan tawa, bilang bahwa bar ini mungkin akan tutup jika dirinya tidak rutin jadi pelanggan hampir setiap hari.

lalu, tiba-tiba, pemandangannya teralih pada seseorang pria berambut abu yang masuk dengan wajah masam dan tatapan penuh benci. pria itu dudukkan tubuh kurusnya di samping ivan, minta luka buatkan dia minuman paling tajam. rambutnya berantakan, pakaiannya tidak beraturan, dan anting-anting di telinganya buat dia tampak seperti berandalan. ivan hanya mencuri lirik sejenak untuk liat wajahnya yang acak-acakan.

luka mengenali pria itu, memanggilnya dengan satu nama.

“till, ini minumannya.”

till hanya menggerutu kemudian menegak habis semuanya seketika dan menambah lagi satu gelas tambahan. wajahnya perlahan memerah, alisnya mengkerut tampak tidak suka, lalu tidak lama ia menundukkan kepala dan menangis di atas meja. ivan tidak pernah melihat seseorang memakai emosinya begitu mudah. ia pun berakhir tersenyum saja tunjukkan taringnya.

ivan pun mulai ajak dia bicara, perkenalkan diri, tanya-tanya soal kenapa ia sendirian saja. dengan jujur, till bilang ia ditolak cintanya oleh seorang wanita. alis ivan terangkat ketika mendengar jawaban itu. ia hanya bisa tertawa saja lalu menepuk pundaknya sok ramah. pria itu malah semakin sesenggukan dan menghabiskan minumannya yang kesekian.

walau sekilas tampak galak seperti serigala, tapi nyatanya pria itu lugu seperti seekor domba.

entah karena minuman keras yang mereka tegak bersama atau karena malam yang sudah semakin larut, ada rasa senang yang berpacu dalam dirinya saat lihat pria itu merintih dalam lirih. mata mereka bertemu dan ivan bisa lihat bara dalam netra hijau itu. menyala-nyala, penuh amarah dan sedih yang mendalam. berbanding terbalik dengan tatapan ivan yang hampa.

entah bagaimana ceritanya, keduanya berakhir ke luar bersama. 

till rogoh sakunya, keluarkan sebatang rokok dan nyalakan ujungnya. ivan hanya mengawasi pria itu tajam seperti seorang predator yang akhirnya temukan mangsanya. lelaki berambut abu itu pun tawarkan satu padanya, tapi ivan bilang ia tidak merokok. akhirnya, si pria hanya tiupkan asap pada wajahnya hingga ia terbatuk-batuk di pinggir jalan.

till pun akhirnya tertawa—

hangatnya, tatapannya, dan warnanya.

detik itu juga, ivan tahu bahwa till akan jadi inangnya paling sempurna. sumber energi yang akan buat hidupnya jauh lebih berwarna. yang paling penting, pria itu akui kesepiannya bahwa ia tak punya siapa-siapa. maka, ivan bisa miliki dia seutuhnya.

sekilas, mungkin tidak ada yang bisa ivan konsumsi dari pria semacam till — berbeda dengan orang tuanya yang memberi harta atau teman-teman yang berikan ia dukungan yang berguna. akan tetapi, ivan tahu, hanya till yang bisa berikan yang ia cari selama ini dan lengkapi kekurangan dalam dirinya. dan itu sudah lebih cukup baginya.

tanpa pikir panjang, ivan tarik wajah pria itu untuk mendekatinya. rokok yang bertengger di mulut mungil itu terjatuh seketika dan digantikan dengan bibir ivan yang meraupnya. rakus, seperti seorang kelaparan yang menghabisi lauk pauknya tak bersisa.

napas hangat mereka beradu dalam dinginnya malam.

till mendorongnya menjauh, menyebut-nyebut kata “jangan” sambil memalingkan kepala. namun, ivan tidak peduli pada responsnya. ia ingin till dan memilikinya seutuhnya. maka, didorongnya till hingga tubuh itu menyentuh dinding gang remang-remang itu. mata pria itu sayu, ada ketakutan di sana.

ivan pun mencolek dagu dan berbisik di telinganya, “mau ikut aku pulang?”

daripada bermuram sendirian, entah mengapa till pun secara impulsif mengangguk saja pada pria asing yang ia baru kenal satu jam yang lalu. mungkin ia mabuk atau sudah gila, tetapi ia biarkan ivan memagut bibirnya lagi di kursi belakang taksi tanpa tahu malu. lantunan lagu  dari radio mobil seperti seirama dengan panasnya pertemuan mereka. sang supir pun acuh tak acuh seperti sudah biasa mendapati penumpang muda seperti mereka.

apartemen ivan terletak di sebuah gedung tinggi dekat pusat kota. ruang utamanya lebar dan mewah seperti di film-film soal konglomerat kaya, tapi isinya kosong seperti tidak dihuni oleh siapa-siapa. ivan pun menarik till saja dengan mudah ke kamar yang interiornya tak jauh berbeda dengan ruang utama.

si lelaki berambut abu tampak pasrah saat didorong ke kasur. ivan pun pertemukan lagi bibir mereka. kali ini, ia mainkan lidah dan rasakan alkohol yang masih jelas di antara napasnya. sambil melahap till, ia melepas lapisan jaket kulit beserta turtleneck yang ia kenakan. keduanya ia buang sembarangan ke lantai. ia bertelanjang dada, menampilkan barisan otot hasil latihan ke gym dan diet rutinnya.

till hanya melenguh manja, mengintip sejenak tubuh yang jauh berbeda dari miliknya di sela-sela ciumannya. tidak pernah seumur hidupnya ia dicium sebegitu liarnya. ini bukan ciuman pertamanya — tapi ini pertama kalinya ia ciuman dengan seorang pria. rasanya tidak seperti yang ia kira. ini lebih panas, lebih kasar, dan lebih menyiksa seperti oksigennya diambil semua oleh sang pria.

napas till tersenggal saat ivan lepaskan ciumannya.

“do you like it?”

till bohong besar jika bilang ia tidak suka.

ia pun mengangguk.

lelaki yang tubuhnya sedikit lebih besar itu menindihnya, kemudian perlahan menyelipkan tangannya di kaos abu yang till kenakan. jemarinya pas sekali merengkuh pinggang till, lalu bergerak menelusur ke atas hingga mencapai putingnya yang mengeras. yang empunya tersentak sedikit, tetapi tidak menolaknya.

ivan berbisik lagi ke telinganya, kali ini dengan jilatan basah di antara piercing yang ia kenakan, “you are so sensitive.”

till menjawab lemah, “hm~”

mungkin ivan adalah seorang cassanova yang sudah bercinta dengan begitu banyak lelaki lainnya. sebab, ivan tahu bagian mana yang harus disentuh agar lawan mainnya menggelinjang di bawahnya. lidahnya tak henti tinggalkan jejak saliva di kulit putih till baik di leher maupun di dada. till hanya memejamkan mata saja nikmati posisinya. tak butuh berapa lama, dirinya sudah ditelanjangi sempurna dari seluruh pakaiannya.

“look at you.”

mata ivan membidiknya tajam dari atas ke bawah. menatap tubuh yang bersih tak bernoda itu dengan tatapan liar. till temukan tatapannya mengerikan, buat bulu kuduknya merinding seketika. namun, di saat yang sama, ia juga merasa tertarik untuk membalas tatapannya. 

ivan pun mengecup pipi till, “you are beautiful.”

till sedikit tersipu. ia lebih sering dipanggil tampan dan tidak pernah dipanggil seperti itu.

“thank you?”

“belum pernah sama pria kan?” tanya ivan pelan.

till mengangguk lagi.

ya, benar, dia tidak pernah berhubungan dengan pria. jangankan pria, dengan wanita pun ia sebatas berciuman saja dan itu pun tidak sengaja. jadi, ia refleks menutupi dirinya saat tubuhnya terekspos begitu saja. apalagi kejantanannya yang sudah tegang karena ransangan yang ia terima. ia bahkan tidak tahu bahwa tubuhnya bisa bereaksi seperti itu hanya karena sentuhan sesama pria.

lelaki berambut hitam itu tersenyum menatapnya, “then i’ll start with this.”

mungkin till bisa gila karena ivan tiba-tiba saja selipkan lidahnya untuk sentuh miliknya di bawah sana. basah, lincah, bergerak dengan tempo yang tidak bisa till kira. tangannya mencengkram erat surai hitam ivan. ia hanya bisa memejamkan mata nikmati sensasi yang tidak pernah ia rasa.

ini berbeda dengan masturbasi yang ia lakukan sendirian di kamar.

“ah, ivan… ngh…”

semakin till keluarkan suara, lelaki di bawah sana semakin sengaja lakukan gerak luar biasa.

tidak butuh lama, till keluarkan putihnya di mulut ivan. napasnya terengah karena apa yang pria itu lakukan padanya. wajahnya refleks panas saat menatap wajah ivan yang berantakan. lelaki berambut hitam itu muntahkan sperma till di atas telapak tangan, lalu jilati sisa-sisanya di ujung bibir.

“tau kan pria sama pria sex-nya lewat mana?”

till menggeleng. jujur saja, ia tidak tahu sama sekali apa yang harus ia lakukan. ia tidak pernah sama sekali membayangkan hubungan seks dengan pria — setidaknya, tidak sampai detik ini.

mungkinkah dengan masturbasi bersama? 

entahlah… mungkin karena efek alkohol masih ada, kepalanya terasa pusing dan ia malas berpikir. jadi, ia kalungan saja lengannya di leher ivan dan biarkan pria yang lebih ahli pandu alurnya. ia lebih memilih jadi yang menerima.

tawa terbit di wajah ivan menatap polosnya till di bawah kukungannya. mungkin karena lampu kamarnya yang temaram, wajah lelaki berambut abu itu bahkan lebih indah lagi. ada gairah tak tertahan dalam dirinya ketika pria itu menggeleng-gelengkan kepala tidak paham. jantungnya berdetak kencang bersemangat.

ivan akan jadi yang pertama yang akan mejamah tubuhnya yang sempurna. ia akan jadi benalu pertama yang hinggap di inangnya dan tidak perlu berbagi pada siapa-siapa. ia akan jadi yang pertama yang perkenalkan till pada surga— atau mungkin tepatnya pada neraka, karena ia dan till akan segera bergumul dalam dosa.

tangannya yang basah oleh sperma dan saliva bergerak menggapai bagian lubang anal till. hal itu sontak buat sang empunya sedikit terkejut. namun, ivan justru sengaja menekan jarinya yang basah ke luaran lubang itu— membasahinya dengan cairan till sendiri sebagai pelumas.

“nanti aku masuk lewat sini.”

“ah!”

ivan selipkan jari tengahnya masuk. masih dangkal, karena ia tahu till sedang gugup dari pelukannya yang mengerat di leher ivan. ivan pun cium tengkuk till dalam-dalam, ada bau rokok bercampur parfum murahan di sana. ia mulai tekan jarinya masuk lebih dalam, rasakan otot-otot hangat itu mencengkramnya semakin erat.

“you need to relax, baby.”

“rasanya aneh, van.”

“it's okay, i know you can take it.”

till merasa janggal dan tidak nyaman, tapi ciuman dan rengkuhan ivan buat ia pelan-pelan merasa lebih santai. jari panjang ivan pun berakhir masuk seluruhnya ditelan oleh liang till. till memejamkan matanya, mengigit bibirnya karena sensasi aneh di bawah sana. ivan pun gerakan jarinya pelan-pelan untuk cari satu titik nikmat.

“easy, ini perlu direnggangkan biar kamu gak sakit nanti.”

saat jari itu tiba-tiba menekuk, tubuh till langsung tersentak ke belakang. aneh, aneh, aneh. till refleks mendorong ivan agak menjauh darinya. namun, ivan tidak mengindahkan tindakan till — justru sengaja menggerakkan jarinya di titik tersebut. membuat sang empunya menggeliat.

“nggh, ivan, stop…”

ivan tersenyum melihat reaksi pria itu, “tahan ya. i’m going to make you feel good real soon.”

tegas, dan till langsung menurut saja. ia tidak tahan untuk tidak keluarkan desah terlebih saat ivan tambahkan satu jari lagi ke dalam. lelaki berambut hitam itu tekan-tekan titik di dalam sana yang buat rasa nikmat menjalar hingga ke kepala. till menahan napasnya saat bibirnya dicium begitu saja. ivan masih mengaduk-aduk lubang till dan tangan satunya pun mulai mengocok kejantanan lawan mainnya yang sudah kembali ereksi.

“it's okay to scream, you know.”

ivan tambahkan satu jari lagi, menyiapkan si pria untuk terima miliknya. seperti yang sudah ia lakukan sebelumnya, ia telusuri lubang till dan berikan stimulasi di sana. till akhirnya tidak tahan & keluarkan suaranya. tangannya mencengkram pundak ivan erat. rasanya pusing bukan main apalagi sensasi itu dibarengi dengan tangan hangat ivan yang mengocok-kocok penisnya.

“ugh, ce- cepat!”

“call my name, sayang.”

“ivan!”

lagi-lagi, till dapatkan pelepasan keduanya dengan sperma yang berceceran ke perutnya. ivan pun lepaskan jarinya— matanya menatap lubang itu yang mulai menganga untuknya. indah, buat kesabarannya semakin menipis untuk segera lakukan intinya. ia pun turunkan celananya, tunjukkan miliknya yang sudah menegang daritadi. ia mengurut-urutnya pelan sambil menatap netra hijau till.

“aku boleh masukin?”

till tampak lemas, mungkin karena sudah capai orgasme sebanyak dua kali. karenya, ia hanya membalas dengan menciumi ivan lagi dalam-dalam. kakinya ia lebarkan tanpa banyak berpikir panjang, mempersembahkan lubangnya untuk dimasuki oleh sang pria.

“masukin aja.”

“the moment i saw you at that bar, i know i want to be inside of you, till,” bisik ivan.

lagi-lagi, ivan dengan segala kata-kata ajaibnya yang buat till menegang. suaranya dalam, seperti mantra yang menghipnotis till dengan mudah. lelaki berambut hitam itu pun genggam tangan till erat-erat. dalam satu hentakan, ia berhasil masuk sempurna dan satukan tubuh mereka. 

“NGH!”

till hanya memejamkan mata, punggungnya membusur dan tangannya mencengkram erat sprei ivan hingga kusut. padahal ia sudah dipersiapkan oleh ivan sedemikian rupa, tapi tetap saja rasanya seperti tubuhnya terbelah. ivan mulai bergerak pelan semakin menusuk ke dalam. hangat dan ketatnya till membuat ivan merasa seolah-olah lubang itu memang diciptakan untuk ia setubuhi malam ini.

“till… you are so tight,” erangnya pelan.

 “sakit! stop!! nggh!!”

yang di bawahnya hanya mengejang saja, merasakan sakit yang menghujaninya di bawah sana. air matanya tanpa sadar turun, tapi ivan justru menjilatinya seperti pemuas dahaga. tangan lelaki itu semakin erat menggenggam tangannya. mata hitamnya itu menatapnya dengan tenang, seolah memuja.

“shhh, calm down.”

“stop… please. ivan— ugh. aku gak mau…”

ivan menciumnya lagi di bibir, “gapapa, nangis aja.”

“mphhh… ah… ja- jangan…”

pinggul ivan bergerak maju dan mundur menghujam dirinya. mulanya sakit, tapi lama-lama rasa sakit itu berganti menjadi nikmat kala ivan sentuh satu titik itu. seperti listrik menyetrum seluruh tubuhnya, till membelalakkan matanya. mulutnya terbuka lebar dan air matanya lagi-lagi jatuh begitu saja. ia yang mulanya menjerit minta berhenti pun akhirnya menerima saja.

“NNGH! ♡♡”

“is it good? do you feel good getting fucked by me?”

“yes… ah… NGHH! ♡”

till tidak lagi bisa menjawab. kepalanya sudah tidak lagi bisa berfungsi saat tubuhnya sudah dikendalikan oleh nafsu. ivan pun menarik wajah dungunya dan menciumnya lagi lama-lama— tidak peduli ada asin air mata yang terselip di antara saliva. justru, bagi ivan, melihat pria itu dengan mata berkaca-kaca semakin buat dirinya menggebu ingin menjamah.

“you are so pretty when you cry.”

“ngh, ah… ivan ♡”

“cry more for me, till. tell me you like it.”

“nggh! ivan! yes, i like it. ah— fast— faster! ♡♡”

ivan sisir rambut abu pria itu yang berantakan lalu kecup keningnya, “you are so perfect, till. good boy.”

pujian itu buat till memerah. ia suka— dipuji dan diperlakukan seperti ini oleh ivan. entahlah karena nafsu atau apa, ia pelan-pelan ikut gerakan pinggangnya seirama dengan ivan hanya agar lelaki itu bisa capai titik terdalamnya. till tidak menyangka bahwa seks bisa seperti ini. ternyata tidak salah kata orang-orang, bahwa senggama itu bisa terasa seperti surga.

suka, suka, suka.

“NGH! ♡♡♡♡ IVAN!!! ♡♡♡♡”

“AH, TILL!”

till hanya bisa mencengkram erat bahu kokoh ivan, tinggalkan bekas garukan di sana. tubuhnya gemetaran saat ia dan ivan sama-sama capai puncak mereka. keduanya kacau dengan till yang lagi-lagi mengotori perutnya sendiri dan ivan yang menaruh benih-benih langsung di dalam perutnya.

till pun langsung memejamkan matanya karena lelah. sementara itu, ivan memapahnya ke kamar mandi. ia nyalakan keran untuk basuh sisa-sisa pergumulan mereka. tentu saja, soeot matanya tak lepas meneliti tiap detail tubuh lelaki berambut abu itu yang sudah penuh oleh noda cinta mereka.

malam itu, ivan temukan inangnya yang paling sempurna.

berbeda dengan kedua orang tuanya atau rekan-rekannya, inang yang ini sempurna untuk benalu seperti dirinya. bukan hanya sekadar tempat singgah baginya, tapi sebuah organisme yang cocok untuk jadi pasangan simbiosisnya. pria asing ini yang baru ia temui rela buka kakinya untuk ivan, menyebut namanya kencang-kencang, dan menangis untuk dirinya.

yang paling penting, till itu indah dan ivan tak bisa hilangkah wajahnya dari kepala meski ini pertama kalinya mereka berjumpa.

“inangku, mau ya jadi ibu untuk anak-anakku?”

ivan berbisik sambil tersenyum. ia menggigit tengkuk pria yang tertidur itu dengan gigi taringnya. menandai mangsanya.

tangannya pun meraba-raba perut till yang ia yakini sudah akan mengembung beberapa bulan ke depannya. matanya terpejam penuh tenang mengetahui bahwa anak-anaknya akan segera hadir ke dunia melalui pria cantik di dekapannya.

END.

 

Notes:

anu, endingnya agak ngetwist dikit cuz yeah we love a little male pregnancy, no? ❤️