Work Text:
“Bis sekolah keparat!” remaja berambut coklat itu bergumam kecil. Gelisah, ia tidak bisa berhenti menyalakan smartphone-nya untuk memastikan waktu datangnya bis sekolah-- yang semestinya sudah datang sedari tadi. Terlintas di pikirannya untuk mangkir dari tempat penyiksaan yang dipanggil sekolah itu. Tapi pikiran itu cepat hilang ketika ia mengingat amarah sang bunda saat tahu putranya telah bolos lebih dari 10 kali semester ini. Mual rasanya jika ia harus mendengarkan omelan tentang bagaimana ia terancam tidak lulus jika ia tetap bolos. Jadi, dengan berat hati ia mengikuti keinginan bunda tersayangnya itu.
Yang tadinya hanya 10 menit, berangsur berubah menjadi 1 jam. Pada saat ini, sudah bisa dipastikan bahwa ia akan telat jika ia harus berjalan kaki ke sekolah. Pasrah, dengan hati yang dongkol, ia pun menghela nafasnya kencang-kencang agar semua orang disekitarnya tahu bahwa ia sedang kesal. Memang lelaki yang aneh. Dan gundah di hatinya semakin menjadi ketika ia melihat siapa yang baru saja berhenti di tempat pemberhentian bus itu. Lelaki cebol dengan motor sport merahnya yang berbanding jauh dengan ukuran badannya, Chuuya Nakahara.
“Yo, Dazai!” sapa Chuuya dengan senyuman khasnya.
Merasa jengkel dengan kedatangan chuuya, lelaki yang bernama dazai itu pun menghampirinya dengan setengah hati kemana tempat Chuuya-- yang terlihat kelewat sumringah hari ini, berada.
“Mau lu apa?” tanya Dazai cepat, langsung to the point.
“Mau berbuat baik ke lo,”
Seketika Dazai bisa bersumpah kalau sekujur tubuhnya bergidik geli; wajar saja, pasalnya ini pertama kalinya Chuuya berkata demikian setelah mereka 3 tahun ‘berteman’. Memang mereka bukan tipe manusia yang pertemanannya saling mesra dan intim. Bisa dibilang kalau bercekcok adalah cara mereka menunjukan rasa peduli, dan keduanya sadar akan hal itu. Karena itu Dazai merasa was-was akan perubahan sifat yang Chuuya tunjukan hari ini.
“Gua liat lu belum juga berangkat. Udah jam 6.50 padahal,” tersenyum dibalik helmnya, Chuuya sudah bak karakter jahat di sebuah film hollywood yang sedang menggoda sang heroin.
Memberi tatapan jengkel, Dazai menatap culas ke arah Chuuya.
“Lu juga belum berangkat, loh,”
Seketika hening...
“BUKAN ITU MAKSUD GUA!”
Ikut jengkel, Chuuya pun turun dari motornya sembari melepas helm yang ia pakai, lalu berdiri tepat di depan Dazai. Menunjukan mukanya yang masam, Chuuya tatap Dazai dalam-dalam mencoba untuk tidak menggunakan kekerasan untuk membungkam manusia di depannya. Menghela nafasnya, Chuuya akhirnya menenangkan dirinya sebelum menyodorkan helmnya pada Dazai. “Bunda lo minta gua buat mastiin kalau lu gak bolos lagi,” malu dibuatnya karena pernyataannya, Chuuya langsung memalingkan wajahnya.
“Lucu lu, cil,” Dazai terkekeh melihat ekspresi chuuya yang kini sudah kacau akibat rasa malu. Pandangan baru ini entah bagaimana membuat hatinya sangat bahagia; jauh lebih bahagia dari ketika ia pertama kali dipertemukan dengan Mack. Motor kesayangannya yang ia beli pada umur 16; meskipun sebagian cicilan tetap harus ditanggung oleh orang tuanya.
Mengambil helm dari genggaman chuuya, Dazai lanjut mengejek Chuuya.
“Sejak kapan lu jadi nurut sama bunda gua?”
“Kaga anjir! Gua gak enak aja si Mack jadi ditahan bunda lu gara-gara gua,” sahut Chuuya. Kali ini suaranya melembut dan rasa bersalah ketara dalam ucapannya.
“Jadi bawa aja si ‘Ara’ hari ini,” chuuya edarkan pandangannya pada dazai yang sudah berjalan ke motornya yang ia beri nama Arahabaki itu. “Tapi bonceng gua, ya…"
Dengan kalimat terakhir selesai diucapkan. Chuuya bisa merasakan panas di mukanya semakin menjadi dan memaksa dirinya untuk memalingkan muka untuk kesekian kalinya pagi ini.
“Yaelah, mellow banget lu, cil,” mencoba menahan senyumnya saat melihat Chuuya, Dazai memakaikan helm yang ia ambil dari Chuuya kembali pada sang empunya. “Kalau gua suka sama lu gimana nanti?”
Dazai menaiki motor Chuuya dan langsung menoleh.
“Oh iya, lu aja yang pake helmnya. Sayang kalau lu kenapa-kenapa.”
Dan Chuuya langsung berterimakasih kepada dirinya sendiri atas keputusannya untuk membeli helm full face yang sekarang berhasil menutupi mukanya-- yang entah sudah berapa merah itu. Dan jika bukan karena tempat mereka berada sekarang, Chuuya bersumpah ia pasti sudah mencumbu bibir jahil tukang goda di depannya itu; karena memang sejujurnya Chuuya sudah jatuh cinta pada Dazai dari waktu yang lama. Namun, egonya lebih tinggi dari rasa sukanya dan ia berjanji untuk tidak membiarkan dirinya terlihat seperti remaja yang sedang dimabuk asmara ketika sedang bersama Dazai.
“A-apaan sih lu, gak jelas banget, ah,” tercekat nafasnya, Chuuya meremat keras celana abunya, berusaha untuk mengembalikan ketenangannya yang entah pergi kemana, meninggalkannya.
Tapi tentu tidak ada yang terkejut dengan fakta bahwa rupanya Dazai sudah sadar akan perilaku salah tingkah Chuuya-- yang walaupun sudah ia coba tutupi, tapi tetap saja terlihat. Dan hal itu membuat jahilnya semakin menjadi. “Gak jelas gini juga, lu suka, kan?” senyuman jahat pun langsung terbentuk saat ia melihat Chuuya mengernyit dan berhenti seketika.
‘DAZAI SINTING!’ teriak yang lebih pendek dalam hati ketika mendengar godaan yang dilontarkan. Hati dan pikirannya kini sungguh tak karuan; bahkan ada beberapa detik dimana ia yakin bahwa Dazai merupakan seorang empath yang sedari tadi sudah membaca pikirannya. Tapi tentu bukan itu, Dazai hanya lebih pintar dari remaja pada umumnya, karena itu, ia seringkali bolos karena baginya belajar di sekolah hanya sebuah formalitas belaka.
Belum sempat pertanyaan pertamanya dijawab, Dazai langsung melontarkan pertanyaan baru. “Kok berhenti sih jalannya?” kali ini, nadanya sungguh mengejek dan sangat menjengkelkan.
“AAHHH BERISIK LU!” muak, namun ia tidak membenci godaan itu; Chuuya pun akhirnya berjalan cepat dan segera menaiki motornya itu berpikiran kalau mereka akan langsung tancap gas. Tapi jelas bukan Dazai namanya kalau ia tidak mencoba untuk menjahili Chuuya tiap detik mereka bersama.
“Pegangan!”
“Buat apaan, hah?”
“Supaya gak kebawa angin, kan lu kecil,”
‘BUG’ gagal dalam mencoba tidak menggunakan kekerasan karena godaan Dazai, Chuuya akhirnya memukul punggung Dazai cukup kencang. Dan reaksi Dazai?
“Aduh! Jangan pukul punggung gua,” merintih kesakitan, Dazai membalikan badannya menghadap Chuuya. “Kalau gua kenapa-kenapa, gimana caranya gua bisa jadi tulang punggung keluarga kita nanti?” sahutnya yang hanya diakhiri senyum lebar sebelum Chuuya menoyor pelan Dazai agar kembali menghadap kedepan.
“BACOT BANGET DEH, LU! KERASUKAN APA SIH HARI INI?”
“Gak kerasukan apa-apa kok,” Dazai diam sejenak sebelum menarik napas dalam-dalam. “Tapi maaf ya, gua gak bisa balikin perasaan lu.”
Chuuya pun bingung mendengar pernyataan Dazai, memutar otaknya ia berpikir keras, dan akhirnya semuanya ia sadari. Makna dari pernyataan Dazai…
Oh
Oh
Kupingnya pun pengang seketika. Rasa sesak bahkan perlahan tumbuh di dadanya yang membuatnya tanpa sadar mengambil lebih banyak oksigen untuk dihirup. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa hari dimana Dazai tahu akan perasaanya akan berakhir suram seperti ini. Pahit rasanya jika ia harus menggambarkan perasaannya saat mendengar kalimat itu. Dan segalanya yang dingin dari pagi itu pun semakin terasa di badan yang lebih kecil. Cocok sekali untuk orang yang baru saja ditolak cinta pertamanya, bukan?
“Oh, udah tau ya?” pertanyaan retorik itu ia lontarkan sekedar untuk membuatnya merasa lebih baik.
“Yaudah gak apa-apa, gua juga gak mengharapkan apa-apa dari lu.” Bohong, jelas ia menginginkan banyak hal dari Dazai. Keinginan yang amat besar sampai-sampai ia menawarkan diri kepada ibunda Dazai untuk memastikan Dazai tidak bolos, hanya untuk mendapatkan waktu berdua bersama lebih lama. Keinginan yang sama yang membuatnya mencari Dazai di pagi hari dengan harapan pergi sekolah bersama. Dan juga keinginan yang sama yang membuatnya berada di posisi ini, ditolak sang pujaan hati di atas motornya sendiri. Merasa menjadi orang paling bodoh di dunia, Chuuya hanya bisa menundukan kepalanya sembari meremat celananya untuk menahan air yang memaksa keluar dari matanya yang panasnya kian menjadi.
“Yaudah, jalan ya kita. Males kalau telat.”
“Iya.”
Dan begitu saja, mereka pun pergi menuju sekolah, meninggalkan tempat pemberhentian bus yang kini akan selalu Chuuya kutuk dalam kehidupannya. Tempat dimana jika ia tidak datang, ia tidak akan merasakan sakit hati secepat ini. Dan tentu ia akan selalu mengutuk dirinya karena terlalu gegabah saat bertindak, tapi ia juga akan tetap mengutuk bis sekolah yang bisa saja mencegah pertemuan mereka di pemberhentian bis, yang juga bisa mencegah sakit hatinya ini.
Membatin, Chuuya pun menghela. “Bis sekolah keparat...”
