Actions

Work Header

I Love f̶r̶e̶e̶ ̶f̶o̶o̶d̶ You!

Summary:

Semua orang menyukai makanan gratis tetapi tidak semua orang saling menyukai. Tapi tidak untuk Namjoon dan Yoongi.

Work Text:

Listen to this songs

“Laper ga sih?” tanya Namjoon, si pria jangkung yang kini tengah merebahkan diri di atas sofa.

“Makan di luar aja kali ya.” jawab Yoongi, si pria pendek yang baru saja kembali dari dapur setelah mengambil segelas air.

“Malesss.. tempat makan banyak yang full booked pasti.” Namjoon mendengus pasrah. Hari ini adalah hari valentine, dan di sini mereka, malam-malam kelelahan dan kelaparan. Namjoon ingin saja makan di luar, tetapi malas sekali jika harus berkeliling mencari tempat makan yang tidak penuh direservasi oleh semua pasangan yang merayakan hari ini. Kalau saja ia juga punya pasangan…

“Justru bagus ga sih? Udah yuk, kita keluar. Kalo penuh, tinggal cari tempat lain. Gue yang nyetir.”

“Kan emang selalu lo yang nyetir.” Namjoon melihat teman sekamarnya itu sudah beranjak dari tempat duduk, entah mengapa kelihatannya pria itu senang sekali hari ini. Berbeda dengan Namjoon yang malas sekali bahkan untuk sekedar menggeser pantat.

“Kesempatan bagus ini. Udah ayok bangun.” tangan Namjoon ditarik Yoongi yang sudah rapi mengenakan kemeja beserta celana panjangnya. Pilihan baju yang mencurigakan untuk seorang Min Yoongi yang lebih suka celana pendek dan kaos kebesaran bahkan untuk pergi ke luar rumah.

“Lo bayarin ya..” kata Namjoon yang kembali membalikkan badannya sebelum masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.

Namjoon memilih baju biasanya. Tidak serapi dan seformal temannya itu. Yang penting makan gratis, dimana saja, ia ikuti saja.

— - — - —

Dua pria itu kini duduk di sudut restoran dengan lilin dan bunga yang menghiasi meja mereka; tidak lupa alunan musik romantis di belakangnya. Mata Namjoon berpendar ke sekitar, 80- tidak, 95% yang ada di restoran ini adalah pasangan! 4% nya adalah pegawai restoran, dan 1% nya adalah mereka (itu pun kalau pegawainya tidak ada yang memiliki hubungan spesial sesama pegawai lainnya).

Ini adalah tempat ketiga setelah mereka berkeliling mencari tempat makan yang tidak penuh karena reservasi. Tetapi masalahnya, dia sudah menyarankan temannya itu untuk makan di pinggir jalan saja, namun pria itu terus datang ke tempat makan seperti ini. Jadi di sinilah mereka, berdua, satu-satunya pengunjung yang bukan pasangan, makan di tempat yang penuh dengan pasangan.

Namjoon menatap Yoongi curiga. Pasalnya pria itu seperti sudah merencanakan sesuatu. Apalagi dengan pilihan outfitnya yang super tidak biasa itu. Harusnya dia cepat menyadari dan setidaknya berusaha menyamakan. Sekarang ia duduk di restoran yang cukup fancy dengan kaos dan celana pendek saja. Sedikit memalukan.

Yoongi, pria yang punya ide pertama kali untuk datang ke tempat seperti ini tampak tenang membaca buku menu. Sangat tenang, sampai Namjoon tidak tahu apakah temannya ini benar-benar datang ke sini hanya untuk makan dan mentraktirnya makanan mahal atau punya rencana lain. Kenal bertahun-tahun membuatnya hafal dengan setiap gerak pria di hadapannya ini; tapi mungkin tidak malam ini.

Namjoon menghela nafas, lelah. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk bertanya, “jadi lo bawa gua ke sini tujuannya?”

“Makan.” jawabnya singkat tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dari buku menu.

Tidak puas, Namjoon kembali bertanya, “lo serius makan di tempat kaya gini? Gua tau lo punya banyak duit, tapi lo liat sendiri kan ini tempatnya-”

Namjoon berhenti seketika ketika pria yang diajaknya berbicara itu menutup buku menunya dan ikut mencondongkan tubuhnya, lalu menyeringai. “Gue kepikiran ide gila.”

“Ha ide apaan..” Namjoon tertawa khawatir.

“Lo liat kan mereka semua pasangan?” Namjoon mengangguk. “Mereka ke sini itu pasti karena ngincer promo juga.”

“Maksud-”

“Valentine! Tempat ini dan banyak tempat lainnya suka kasih promo ke pasangan di hari valentine, bahkan makanan atau minuman gratis.”

“Ya tapi kan kita bukan pasangan.” Namjoon tidak mengerti akan kemana arah pembicaraan ini.

“Itu dia. Jadi..” Yoongi menggantung kata-katanya dan menatap namjoon penuh seringaian.

“Jadi?”

Tiba-tiba Yoongi menggeser kursinya lalu berdiri. Pria itu seperti sengaja menggeser kursinya dengan banyak tenaga hingga terdengar bunyi gesekan yang sangat kencang, hingga perhatian beberapa pengunjung tertuju pada mereka. Lalu tanpa diduga, Yoongi berjalan ke arah Namjoon dan mulai berlutut. Namjoon yang tidak siap dengan segala rencana gila pria itu seketika mematung. Restoran yang semula penuh dengan suara obrolan, seketika menjadi sunyi.

“Kim Namjoon,” katanya dengan suara mantap. “Sudah 10 tahun kita menjalani pertemanan dari bangku sekolah, kuliah, sampai kita udah punya pekerjaan masing-masing. Sudah 3 tahun kita menjadi roommate, total sudah 13 tahun kita selalu bersama. Tiada hari tanpa kita jalani kehidupan tanpa keberadaan satu sama lain. Dan ke depannya, gue ga bisa bayangin hidup tanpa ada lo di sisi gue.”

Yoongi membuka sebuah kotak berisi cincin yang Namjoon sangat kenali itu adalah cincin milik Yoongi sendiri.

Will you marry me?

Seisi restoran langsung bersorak. Ada yang entah sejak kapan sudah mengeluarkan ponsel untuk merekam. Juga pegawai resoran yang menghentikan kegiatannya dan memandang mereka dengan senyum antusias.

Namjoon membeku.

Ia tahu ini hanya akting, tetapi ketika melihat Yoongi berlutut dihadapannya dengan sebuah cincin dan kata-kata termanis yang pernah seseorang katakan padanya, membuatnya terasa semakin nyata.

Hal ini juga memunculkan perasaannya yang entah sejak kapan ada dan selalu ia tolak keberadaannya.

“Aku…” Namjoon membuka mulut, suaranya tercekat.

Tanpa bisa dihindari, kata itu meluncur begitu saja.

Yes.

Yoongi tersentak. Seolah tidak mengira Namjoon benar-benar menjawab serius.

Sorakan dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Pelayan segera datang membawa minuman gratis dan pencuci mulut istimewa. “Selamat atas lamaran kalian!” katanya ceria. Juga dari pengunjung yang menyalami mereka dan menawarkan makanan gratis untuk mereka.

Yoongi tertawa kecil dan duduk kembali. “Well… kita berhasil dapat makanan gratis.”

Namjoon ikut tersenyum kecil, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tidak percaya juga dengan dirinya yang rasanya terlalu serius menanggapi yang seharusnya menjadi lelucon.

Mereka melanjutkan makan dalam diam, hanya diselingi suara obrolan dari meja lain dan alunan musik lembut di latar belakang. Tapi di antara mereka, ada sesuatu yang berubah — sesuatu yang tidak bisa mereka abaikan begitu saja.

Yoongi melirik Namjoon. Temannya itu menunduk, mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa benar-benar makan. Biasanya, Namjoon akan tertawa atau mengomel panjang lebar kalau mereka melakukan hal konyol seperti ini. Tapi sekarang…

Yoongi merasa ada yang salah.

“Joon..” panggilnya pelan.

“Hm?” Namjoon mengangkat kepalanya. Wajahnya memiliki ekspresi yang Yoongi tidak yakin apa itu.

Yoongi menghela nafas. Ia tahu mungkin ia harus mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Tidak mengerti mengapa seperti ada yang berbeda. Yang jelas, melihat Namjoon seperti ini membuatnya merasa tidak nyaman.

Sorry…” kata Yoongi akhirnya.

Namjoon kebingungan. “Kenapa tiba-tiba minta maaf?”

Yoongi mengangkat bahu, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entahlah.. Mungkin karena gue ngerasa… gue udah keterlaluan?”

Namjoon tersenyum kecil, tapi matanya tidak benar-benar tersenyum. “Yoongi, gua tau banget ini bercanda. Gua nggak marah, kok.”

Tapi Yoongi bisa merasakan ada sesuatu di balik kata-kata itu.

“Lo yakin?” tanyanya hati-hati.

Namjoon mengangguk cepat. “Iya... Kita kan temen. Gua ngerti kalo lo cuma mau makanan gratis. Karena siapa sih yang ga suka makanan gratis?”

Yoongi tertawa hambar. “Iya sih… makanan gratis.”

Lalu, keheningan lagi.

Yoongi tidak tahu kenapa, tapi dadanya terasa aneh. Seharusnya dia merasa puas — rencananya berhasil. Mereka dapat makanan gratis, restoran heboh, semua orang bersorak. Harusnya ini lucu. Harusnya mereka sudah bisa pulang sambil menertawakan kejadian ini.

Tapi yang ada di kepalanya sekarang hanyalah wajah Namjoon ketika ia bilang “Ya.”

Yoongi tidak pernah membayangkan Namjoon akan menjawab seperti itu. Tidak pernah mengira bahwa teman yang sudah bertahun-tahun bersamanya bisa terlihat sejujur itu saat mengatakan kata sederhana itu.

Ia merasa bersalah.

Atau… lebih tepatnya, ia merasa bingung dengan dirinya sendiri.

Akhirnya, Namjoon yang memecah keheningan. “Ayo pulang.”

Yoongi hanya bisa mengangguk dan mengikuti Namjoon keluar dari restoran.

— - — - —

Setelah keluar dari restoran, Namjoon dan Yoongi berjalan berdampingan di trotoar kota yang diterangi lampu jalan. Udara malam terasa sejuk, tapi suasana di antara mereka sedikit canggung.

Biasanya, Namjoon akan mengomentari betapa konyolnya ide Yoongi tadi. Biasanya, mereka akan tertawa dan membahas bagaimana reaksi orang-orang saat melihat “lamaran pura-pura” itu.

Tapi malam ini berbeda.

Yoongi melirik ke samping, melihat Namjoon yang berjalan dengan kepala sedikit tertunduk. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Joon,” panggil Yoongi pelan.

“Hm?” Namjoon tidak langsung menoleh.

“Lo beneran nggak apa-apa?”

Namjoon tersenyum kecil, tapi Yoongi bisa melihat bahwa senyum itu tidak mencapai matanya. “Gapapa. Cuma agak kaget sedikit aja tadi.”

“Kaget kenapa?”

Namjoon terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ya ga nyangka aja lo beneran ngelakuin itu. Dan ga nyangka juga sama reaksi gua sendiri tadi.”

Yoongi mengangkat alis. “Maksudnya?”

Namjoon menghela napas, menghentikan langkahnya. Yoongi ikut berhenti, menatapnya dengan penuh perhatian.

“Gua tau itu cuma lelucon,” kata Namjoon, suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. “Gua tau lo cuma mau makanan gratis buat kita berdua.”

Yoongi menunggu kelanjutannya.

“Tapi pas lo beneran berlutut… pas lo mulai speech kecil lo itu dan lo nanya…” Namjoon tertawa kecil, lebih ke arah menertawakan dirinya sendiri. “Gua sadar kayanya gua pengen itu jadi kenyataan.”

Yoongi merasa dadanya menegang. Ia membuka mulut, tapi Namjoon sudah lebih dulu melanjutkan.

“Gua suka sama lo, Yoongi.”

Yoongi membeku.

“Ga tahu sejak kapan, tapi gua ngerasain ini udah lama,” kata Namjoon pelan. “Dan tadi… gua jawab ‘ya’ nya agak terlalu serius. Reflek aja tadi.”

Yoongi menatap Namjoon, mencoba mencari sesuatu di wajahnya — mungkin tanda kalau ini hanya balasan dari leluconnya. Tapi yang ia lihat hanya kejujuran.

Sorry kalo ini buat lo ga nyaman, buat kita ga nyaman,” lanjut Namjoon. “Gua cuma… cuma pengen jujur.”

Yoongi tetap diam. Ia tidak pernah berpikir sejauh ini. Selama ini, Namjoon adalah teman terbaiknya — orang yang selalu ada untuknya, yang selalu mendukungnya, yang selalu membuat segalanya terasa lebih mudah.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya, Yoongi sadar bahwa mungkin… ia telah menganggap semua itu terlalu remeh.

“Gue nggak tau,” kata Yoongi akhirnya.

Namjoon tersenyum kecil. “Gua juga nggak nyangka bakal ngakuin ini.”

Mereka berdiri di sana, di bawah lampu jalan yang temaram.

Yoongi tahu ia harus mengatakan sesuatu. Tapi ia juga tahu bahwa ini bukan sesuatu yang bisa ia jawab dengan main-main.

Jadi, alih-alih menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengulurkan tangannya.

Namjoon menatapnya bingung. “Apa?”

Yoongi tersenyum sedikit. “Pulang.”

Namjoon ragu sejenak, tapi akhirnya menerima uluran tangan itu.

Mungkin mereka belum tahu ke mana perasaan ini akan membawa mereka. Tapi untuk malam ini, berjalan berdampingan seperti ini sudah cukup.

— - — - —

Pagi berikutnya, Namjoon terbangun dengan perasaan aneh yang masih menggantung di dadanya. Ia menatap langit-langit kamarnya, mengingat kembali kejadian tadi malam — lamaran pura-pura itu, pengakuannya, dan genggaman tangan Yoongi saat mengajaknya pulang.

Yoongi tidak menolak perasaannya. Tapi dia juga tidak memberikan jawaban. Sekarang, Namjoon bertanya-tanya apakah itu berarti sesuatu… atau justru tidak berarti apa-apa.

Namjoon menghela napas panjang sebelum akhirnya bangun dari tempat tidur. Ia tidak bisa terus memikirkan ini tanpa berbicara dengan Yoongi.

Di kamar sebelah, Yoongi menatap langit-langit kamarnya sama. Ia hampir tidak bisa tidur memikirkan kejadian semalam.

Setelah sekian lama berteman, ini pertama kalinya Yoongi merasa canggung dengan Namjoon. Biasanya, mereka bisa bicara tentang apa saja — tentang musik, tentang makanan, bahkan tentang hal-hal tidak penting sekalipun.

Tapi sekarang, hanya ada satu hal yang memenuhi pikirannya.

“Aku suka kamu, Yoongi.”

Yoongi menutup mata dan mengacak rambutnya dengan frustrasi.

Ia tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata itu. Tidak bisa mengabaikan ekspresi Namjoon saat mengatakannya. Tidak bisa melupakan betapa seriusnya suara Namjoon waktu itu.

Yang lebih parah? Ia juga tidak bisa mengabaikan sesuatu yang aneh di dadanya. Sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya… apakah selama ini dia hanya menganggap Namjoon sebagai teman?

Atau mungkin, tanpa sadar, ia telah melihat Namjoon lebih dari itu?

Sial.

Yoongi menghembuskan napas panjang. Ia tidak bisa terus seperti ini.

— - — - —

Sayangnya, tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka berdua mengenai hari itu.

Hari-hari setelah kejadian itu terasa berbeda. Tidak ada yang berubah secara drastis antara Namjoon dan Yoongi — mereka masih saling berpapasan, masih bercanda, masih berbagi cerita seperti biasa.

Tapi di antara interaksi mereka, ada sesuatu yang terasa lebih… hati-hati.

Yoongi lebih sering memperhatikan Namjoon tanpa sadar. Menyadari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia pikirkan — cara Namjoon mengusap tengkuknya saat gugup, bagaimana ia selalu memiringkan kepala sedikit saat mendengarkan orang berbicara, atau bagaimana suaranya terdengar lebih lembut saat mereka hanya berdua.

Dan Namjoon… meskipun ia berusaha tidak mengharapkan apa pun, ia tetap bertanya-tanya. Apakah ia masih mempunyai harapan?

— - — - —

Yoongi tidak tahu sudah berapa lama ia memikirkannya.

Mungkin sejak malam Valentine itu, sejak ia melihat ekspresi Namjoon yang terlalu jujur untuk sesuatu yang seharusnya hanya lelucon. Atau mungkin sejak jauh sebelum itu, sejak ia menyadari bahwa di antara semua orang yang pernah ada dalam hidupnya, hanya Namjoon yang selalu bertahan di sisinya.

Jadi malam ini, ia memberanikan diri mengajak Namjoon untuk makan di luar, sekaligus ingin menyampaikan sesuatu. Dia memilih restoran yang tenang. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu berisik. Ia ingin berbicara tanpa gangguan, ingin memastikan bahwa perasaannya sampai dengan jelas.

Dan ketika akhirnya ia berkata, “Gue juga suka sama lo, Namjoon,” dunia terasa berhenti.

Namjoon menatapnya dengan mata yang membulat, jantungnya berdetak kencang. Ia menunggu sesuatu — mungkin tawa kecil, mungkin tambahan kalimat seperti “Bercanda!” yang sering dilakukan Yoongi sebelumnya.

Tapi kali ini, tidak ada.

Hanya Yoongi yang menatapnya dengan penuh kesungguhan, tangannya terulur ke atas meja, menunggu.

Namjoon menelan ludah, merasakan gelombang emosi yang terlalu besar datang menghantam. Ia tidak tahu kapan ia mulai menggenggam tangan Yoongi, jari-jarinya yang sedikit gemetar berusaha merasakan kehangatan yang nyata di hadapannya.

“Yoongi…” Suaranya hampir seperti bisikan.

Yoongi tersenyum kecil. “Gue serius.”

Dan Namjoon percaya.

Ia membalas genggaman itu lebih erat, membiarkan hatinya melunak dalam kehangatan yang selama ini ia tolak untuk akui. Mereka tidak berbicara lebih lanjut, hanya saling menatap dalam kebisuan yang tidak canggung.

Namun, saat itulah seorang pelayan datang dengan senyuman lebar.

“Selamat malam! Karena kalian pasangan yang makan malam di sini, restoran kami punya promo spesial valentine yang kami perpanjang hingga akhir bulan! Gratis dessert untuk merayakan cinta kalian!”

Dunia Namjoon seketika runtuh.

Ia menegang.

Tangannya yang tadi menggenggam erat tangan Yoongi, kini perlahan melemah.

Yoongi mengerutkan kening. “Namjoon?”

Namjoon menatapnya, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ia menarik tangannya perlahan, seolah kehangatan yang tadi ia rasakan tiba-tiba menjadi sesuatu yang asing.

“Jadi ini?” suaranya bergetar.

Yoongi mengerutkan kening. “Apa?”

Namjoon menggeleng pelan, tawanya hambar. “Ini kayak… malam itu lagi.”

Yoongi semakin bingung. “Malam apa?”

Valentine,” jawab Namjoon singkat, suaranya tajam. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan perasaan yang tiba-tiba terasa menyesakkan di dadanya. “Kamu ingat waktu itu, kan? Kamu pura-pura melamar aku buat dapetin makanan gratis?”

Yoongi membeku. Ia baru sadar apa yang terjadi.

“Tunggu, ini beda — “

“Beda gimana?” Mata Namjoon terlihat berkilat. “Kita duduk di sini, lo bilang suka ke gua, gua percaya sama lo, dan beberapa detik kemudian… pelayan datang dengan promo pasangan?” Ia tertawa kecil, tapi suaranya terdengar penuh kekecewaan. “Lo pikir gua bodoh?”

Yoongi merasa napasnya tercekat. “Namjoon, gue gak tahu kalo ada promo ini di sini. Gue nggak nyangka sama sekali — “

“Tapi tetep kejadian,” potong Namjoon cepat. Ia menundukkan kepala, jemarinya mengepal di pangkuannya. “Dan sekarang gua nggak tahu mana yang bener, mana yang nggak.”

Yoongi ingin mengatakan sesuatu — ingin meraih tangan Namjoon lagi, ingin membantah, ingin menjelaskan.

Tapi bagaimana caranya?

Bagaimana ia bisa membuktikan bahwa ini benar-benar kebetulan, bahwa ia tidak pernah berniat mengulangi kesalahan yang sama? Bagaimana ia bisa membuktikan bahwa kali ini perasaannya sungguhan?

Kesunyian yang menggantung di antara mereka terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Namjoon akhirnya menghela napas dan berdiri.

Sorry, gua harus pergi,” katanya, suaranya terdengar jauh.

“Namjoon — “

It’s okay,” potongnya. Ia tersenyum, tapi senyum itu penuh kepahitan.

Lalu ia pergi.

Yoongi tidak mengejarnya.

Bukan karena ia tidak mau, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kalah oleh sesuatu yang seharusnya tidak bisa ia lawan: kebetulan yang terlalu menyakitkan.

— - — - —

Keesokan harinya, mereka tidak bertemu.

Yoongi tidak pulang malam itu. Tidak ada pesan atau panggilan seperti biasanya jika pria itu memilih untuk menginap di tempat lain. Namjoon pun tidak bertanya keberadaan dan keadaan Yoongi semalam. Tidak punya tenaga untuk itu.

Namjoon tahu, ini bukan salah Yoongi. Ini salahnya. Dia yang terlalu berharap, dia yang terlalu yakin, dan juga dia yang terlalu takut. Takut kehilangan rasa percaya pada orang yang selama ini paling dia percaya. Jadi dia butuh waktu untuk berpikir. Mungkin Yoongi juga.

— - — - —

Tiga hari berlalu.

Saat Namjoon akhirnya melihat Yoongi lagi, itu bukan pertemuan yang ia harapkan.

Yoongi tengah duduk di sofa ruang tamu saat ia baru saja pulang. Biasanya, ia terlihat santai dan tenang. Tapi kali ini, ia tampak lelah. Pandangannya kosong, tangannya memegang kaleng kopi yang isinya bahkan belum disentuh.

Namjoon ingin berjalan ke arahnya.

Tapi ragu.

Bagaimana kalau Yoongi masih marah? Bagaimana kalau Namjoon hanya akan mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan?

Tapi sebelum ia bisa mengambil keputusan, Yoongi menoleh.

Mata mereka bertemu.

Dan sebelum Namjoon bisa berpaling, Yoongi sudah berdiri dan berjalan ke arahnya.

Namjoon menahan napas.

Saat Yoongi berdiri di hadapannya, mereka hanya saling menatap untuk waktu yang terasa terlalu lama.

Lalu akhirnya, Yoongi berbicara.

“Lo bener,” katanya pelan. “Gue salah.”

Namjoon terkejut. “Huh?”

“Gue bener-bener ga tau soal promo itu,” ulang Yoongi, suaranya masih tenang, tapi terdengar getir. “Tapi gue ngerti kenapa lo ragu. Gue ngerti kenapa lomikir gue mungkin cuma main-main lagi.” Ia tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Dan itu salah gue sendiri, kan? Karena gue yang bikin lo gak bisa percaya lagi sama gue.”

Namjoon membuka mulutnya, ingin membantah, ingin mengatakan bahwa itu tidak sepenuhnya benar — tapi ia tidak bisa.

Karena sebagian dari dirinya memang berpikir seperti itu.

Yoongi melanjutkan, “Tapi gue ga bisa kalo cuma berhenti di sini. Gue gak bisa terima kalau kita harus berakhir cuma karena kesialan bodoh yang bahkan bukan salah kita.”

Namjoon menundukkan kepala, jari-jarinya mencengkeram tali tasnya.

“Joon.” Yoongi mengambil napas dalam. “Gue bisa ngulangin semua ini, kalau itu yang lo mau.”

Namjoon menatapnya, bingung. “Maksud lo?”

“Gue bisa nyatain perasaan gue lagi,” kata Yoongi, serius. “Di tempat lain, di waktu lain, dengan cara yang beda. Tanpa ada promo, tanpa ada kesialan. Gue bakal pastiin gak ada satu pun yang bakal bikin lo ragu.”

Yoongi melangkah mendekat.

“Lo cuma perlu bilang kalau lo masih mau dengerin gue. Masih percaya sama gue.”

Jantung Namjoon berdetak lebih kencang.

Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Tapi saat ia menatap mata Yoongi, sesuatu dalam dirinya melembut.

Ia mengingat genggaman tangan mereka di restoran malam itu. Ia mengingat cara Yoongi menatapnya, bagaimana suaranya terdengar begitu tulus.

Dan ia sadar — kesalahpahaman ini bukan tentang apakah Yoongi serius atau tidak.

Ini tentang dirinya, apakah ia masih mempercayai Yoongi lagi.

Yoongi masih menunggunya. Tatapannya tidak memaksa, tapi penuh harapan.

Namjoon menutup mata sejenak, mengambil napas panjang.

Lalu, dengan suara yang nyaris berbisik, ia berkata, “Gue mau dengerin.”

Yoongi menghela napas lega, seolah beban besar terangkat dari pundaknya. Tapi ia tidak langsung berbicara. Ia menatap Namjoon lama, seolah memastikan bahwa ini nyata.

“Gue ga tau udah dari kapan,” kata Yoongi akhirnya. “Mungkin dari dulu kita selalu bareng. Mungkin pas gue sadar kalo lo satu-satunya orang yang selalu ada di sisi gue tanpa alasan.” Ia tersenyum kecil, meski matanya terlihat lelah. “Atau mungkin sejak malam valentine itu, pas gue liat ekspresi lo waktu gue pura-pura ngelamar.”

Namjoon menunduk, mengingat momen itu. Ia tidak pernah menyangka Yoongi akan memperhatikan.

“Gue ga bisa pura-pura lagi ga tau apa yang gue rasain,” lanjut Yoongi. “Gue ga bisa pura-pura anggep lo temen biasa. Dan gue ga mau kehilangan lo, Joon.”

Yoongi mengulurkan tangannya. “Jadi kalau lo masih percaya sama gue, kalau lo masih mau… gue mau kita mulai dari awal. Tanpa kebetulan sialan, tanpa kesalahpahaman.”

Namjoon menatap tangan Yoongi yang terulur.

Ia bisa pergi. Bisa memilih untuk tetap ragu, tetap takut, tetap mempertahankan jarak.

Tapi jika ia melakukannya, apakah ia benar-benar siap kehilangan Yoongi?

Jari-jarinya gemetar saat ia mengangkat tangannya sendiri, perlahan menyentuh tangan Yoongi.

Yoongi mengeratkan genggamannya. Hangat. Nyata.

“Gua takut,” bisik Namjoon.

Yoongi tersenyum tipis. “Gue juga.”

Mereka saling menatap. Tidak ada kata-kata lebih lanjut. Hanya keheningan yang dipenuhi dengan pemahaman.

Dan untuk pertama kalinya, Namjoon memilih untuk percaya.

— - — - —

Hari-hari berikutnya terasa aneh.

Tidak ada perubahan besar — mereka masih berbicara seperti biasa, masih bertukar lelucon bodoh, masih saling mengomentari lagu atau film yang mereka tonton.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Tatapan Yoongi terasa lebih lama dari biasanya. Sentuhan kecil — seperti ketika Yoongi menepuk pundaknya atau menyentuh jemarinya secara tidak sengaja — terasa lebih berarti.

Dan bagi Namjoon, rasanya seperti berjalan di atas tali tipis.

Ia ingin percaya. Ia ingin membiarkan dirinya menikmati perasaan ini tanpa takut, tanpa berpikir berlebihan.

Tapi sesekali, bayangan ketakutannya kembali menghantui.

Bagaimana jika semua ini hanya sesaat? Bagaimana jika Yoongi akhirnya menyadari bahwa ia tidak benar-benar menginginkan ini?

Dan yang paling menakutkan: bagaimana jika Namjoon yang akhirnya menyerah?

— - — - —

Suatu malam, mereka duduk di studio musik kecil di rumah mereka yang sering Yoongi gunakan untuk bekerja dari rumah. Namjoon sudah terbiasa melihat Yoongi mengutak-atik keyboard, menggubah melodi, memainkan nada dengan jemarinya yang lincah.

Tapi malam ini, Yoongi tidak bermain musik.

Ia hanya duduk di depan piano, menatap tuts-tutsnya tanpa suara.

Namjoon memperhatikannya dari ambang pintu.

“Yoongi,” panggilnya pelan.

Yoongi tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Gue takut.”

Namjoon terdiam.

Yoongi menghela napas, lalu menoleh ke arahnya. “Gue bilang ke lo kalo gue juga takut, kan?”

Namjoon mengangguk.

“Gue takut kehilangan ini,” lanjut Yoongi. “Takut kalau kita gak akan berhasil, takut kalau suatu hari nanti salah satu dari kita nyerah.”

Namjoon menelan ludah. “Gua juga.”

“Tapi gue lebih takut lagi kalo nanti gue bakal nyakitin lo.”

Kata-kata itu membuat napas Namjoon tercekat.

“Gue ga mau buat lo ragu lagi,” kata Yoongi, suaranya pelan tapi tegas. “Gue ga mau lo ngerasa gue cuma main-main dan ga serius.”

Namjoon berjalan mendekati Yoongi, lalu duduk di sampingnya di bangku piano.

“Kita ga tau ke depannya, Yoongi,” katanya. “Lo ga nyakitin hati gue sekarang. Gue yang ragu buat percaya.”

Yoongi menoleh, menatapnya dalam-dalam. “Tapi lo percaya sekarang?”

Namjoon mengulurkan tangannya, dan Yoongi langsung menggenggamnya.

“Iya,” jawab Namjoon, yakin. “Gue percaya.”

Mereka tidak butuh kata-kata lebih lanjut.

Malam itu, tanpa perlu janji besar atau momen dramatis, mereka memilih satu hal yang lebih penting:

Untuk terus berjalan bersama, apapun yang terjadi.

— - — - —

Yoongi masih menggenggam tangan Namjoon. Hangat, erat, dan nyata.

Di dalam studio kecil itu, hanya ada mereka berdua. Sunyi, tapi bukan kesepian.

Mata Yoongi masih menatap Namjoon dengan intensitas yang sulit dijelaskan. Tidak ada ragu di sana, hanya ketulusan dan sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang sudah lama ada tapi baru sekarang berani ditunjukkan.

Jantung Namjoon berdetak lebih cepat.

Ia tidak tahu siapa yang lebih dulu bergerak.

Apakah Yoongi yang menariknya lebih dekat, atau dirinya sendiri yang akhirnya berhenti berpikir dan membiarkan hatinya mengambil kendali?

Yang ia tahu, napas mereka semakin dekat.

Dan sebelum ia sempat mempertanyakan apa pun, Yoongi menengadah dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Namjoon.

Lembut.

Hati-hati, seolah Yoongi memberi kesempatan bagi Namjoon untuk mundur jika ia ingin.

Tapi Namjoon tidak mundur.

Ia memejamkan mata dan membalasnya, jemarinya tanpa sadar mencengkeram kaus Yoongi.

Mencari pegangan. Mencari sesuatu yang nyata.

Dan Yoongi membalas genggamannya, bibirnya bergerak lebih dalam, lebih yakin.

Ciuman itu bukan sesuatu yang penuh gairah atau terburu-buru. Tidak ada desakan, tidak ada tergesa-gesa.

Hanya perasaan.

Hanya mereka berdua yang akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari.

Ketika akhirnya mereka menjauh, Yoongi tidak langsung melepas Namjoon.

Jidat mereka masih bersandar satu sama lain, napas mereka masih berkejaran.

Yoongi tersenyum kecil. “Lo percaya sekarang?”

Namjoon tertawa pelan, pipinya terasa panas. “Baru aja kita ciuman, terus lo masih nanya itu?”

Yoongi terkekeh, lalu mengecup kening Namjoon sekilas sebelum akhirnya bersandar kembali. “Cuma mau pastiin.”

Namjoon menghela napas panjang, masih belum bisa menenangkan detak jantungnya yang liar.

Tapi ada satu hal yang ia sadari.

Ia tidak takut lagi.

— - — - —

Pagi datang lebih cepat dari yang mereka sadari.

Yoongi masih terlelap di sofa studio, sementara Namjoon duduk di lantai, bersandar di dekatnya, menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membaca apa pun.

Ia tidak bisa tidur.

Bukan karena tidak nyaman — studio ini sudah seperti kamar kedua bagi Yoongi, dan Namjoon sudah terbiasa menghabiskan waktu di sini. Tapi pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian semalam.

Ciuman itu.

Bibir Yoongi di bibirnya. Hangat, pelan, dan nyata.

Bukan pertama kali ada seseorang yang menciumnya, tapi ini pertama kali ia merasa seolah hatinya benar-benar jatuh tanpa bisa dikendalikan.

Ia melirik Yoongi yang masih terlelap.

Pria itu terlihat lebih damai saat tidur, napasnya teratur, rambutnya sedikit berantakan.

Namjoon tersenyum kecil.

Tapi senyuman itu hanya bertahan sebentar sebelum perlahan-lahan berubah menjadi raut cemas.

Karena sekarang, semuanya nyata.

Tidak ada lagi ruang untuk pura-pura atau menghindar. Tidak ada lagi alasan untuk menyangkal apa yang sudah mereka mulai.

Dan Namjoon takut.

Takut karena untuk pertama kalinya, seseorang benar-benar memiliki hatinya.

— - — - —

“Kenapa dari tadi natap gue?”

Suara Yoongi yang serak karena baru bangun membuat Namjoon terlonjak kecil.

Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya, berpura-pura fokus ke layar ponselnya. “Gak.”

Yoongi menyipitkan mata, masih setengah sadar. “Gak, apanya?”

Namjoon menghela napas. “Ya gapapa.”

Yoongi menggerakkan tubuhnya malas, lalu menatap Namjoon dengan lebih serius. “Lo lagi kepikiran sesuatu.”

“Gak.”

“Bohong.”

Namjoon mendesah panjang, menutup matanya sebentar. Ia harusnya tahu, Yoongi terlalu pintar untuk dibohongi.

Yoongi menunggu, tidak mendesak, hanya menatapnya dengan sabar.

Akhirnya, dengan suara lebih pelan, Namjoon berkata, “Gue takut.”

Yoongi menaikkan alis. “Takut kenapa?”

Namjoon menoleh, menatap mata Yoongi dalam-dalam. “Kalau semua ini nggak bertahan lama.”

Yoongi terdiam.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya pria itu menarik tubuhnya ke depan, bersandar pada lututnya, lalu menatap Namjoon dengan serius.

“Namjoon,” panggilnya.

Namjoon menelan ludah, jantungnya berdebar tidak karuan.

“Kalau kita takut terus, kita nggak akan ke mana-mana,” kata Yoongi akhirnya. “Gue juga takut, tapi gue tahu satu hal — gue nggak mau kehilangan lo.”

Namjoon menggigit bibirnya.

Yoongi mengulurkan tangannya, menunggu. “Jadi, kita jalan aja bareng-bareng, ya?”

Namjoon menatap tangan itu.

Lalu, dengan sedikit ragu tapi akhirnya yakin, ia menyambutnya.

Yoongi tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya, Namjoon merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.