Work Text:
Suara gesekan antara kulit dan dinding itu terdengar. Kaki melangkah sedikit demi sedikit. Xavier berjalan dengan tangannya yang berpegangan pada dinding.
“Sylus…?” Panggilnya.
Sebuah bayangan besar nan tinggi terlihat dari remangnya cahaya lentera yang terletak di sudut lorong. Langkahnya berat, menunjukkan bahwa pemilik langkah adalah orang yang kuat, atau mungkin sosok yang kuat?
“Matahari bahkan belum terbit, Tuan.”
Suara berat membalas panggilan Xavier, terdengar mencibir. Xavier meraba-raba sekitarnya, mencari sumber suara.
“Kamu di mana?”
Mendengus, naga itu datang menghampiri Xavier. Menyentuh lengannya.
“Di sini.”
Xavier segera menggenggam tangan Sylus erat. Si naga hanya diam, seolah-olah ini hal biasa. Naga yang harusnya menyergap kaisar di depannya, kaisar yang telah menghancurkan tempat tinggalnya. Mengusik ketenangannya.
Sylus menatap mata Xavier yang melihat ke arah depan, kosong. Mata yang dulu menatapnya tajam selagi tangannya mengoyak sayap Sylus. Memaksanya diam di ruang tahanan. Tanpa sayap, tanpa sumber energi, tangan dan kaki yang terbogol tentunya membuat si Naga penjaga bukit itu tidak bisa melawan.
Sang pangeran bahkan dengan mudah membangun kediaman untuknya di bukit. Kediaman di mana dia menyekap Sylus, memperlakukannya seperti budak. Tapi kediaman yang dulu hidup kini terlihat mati.
Semuanya sejak Xavier menyerang kerajaan laut. Sylus yang waktu itu sudah diberi sedikit kelonggaran dengan hanya memborgol tangannya, kini dapat bergerak kesana kemari. Ia bahkan sempat bertatap-tatapan dengan mata biru Xavier sebelum dia berangkat. Kuda dipacu dengan tujuan menyerang kerajaan laut berlandasan sifat tamak kerajaannya.
Tapi Xavier dan prajuritnya lupa. Kerajaan yang dilindungi oleh dewa laut, dewa tak kenal belas kasih. Sylus yang duduk di teras kerajaan melihat segerombolan pajurit yang hanya tersisa seperempat dari awal, kembali dengan wajah ketakutan. Xavier sendiri tidak sadarkan diri di atas kudanya.
Dua hari berlalu, Xavier terbangun tapi penglihatannya tetap gelap. Penasehat kerajaan mengatakan dirinya terkena kutukan dewa laut. Hari demi hari dengan kondisi Xavier sekarang yang dirinya sendiri kesulitan, para pelayan meninggalkannya. Satu persatu dari mereka berpamitan atau bahkan ada yang langsung pergi tanpa kabar, kembali ke kerajaan utama.
Mungkin keluarga Xavier sudah mengutus calon raja baru dari selir ayahnya. Hingga pelayan terakhir, sang koki berpamitan. Xavier yang mendengarnya meraih benda di dekatnya, secangkir teh yang disajikan oleh sang koki. Ia melemparkan asal, tak peduli akan bahayanya.
Sylus yang sedari tadi berdiri di samping Xavier menatap sang koki. Dagunya bergerak seolah menyuruhnya untuk segera pergi sebelum Xavier semakin mengamuk.
Xavier semakin emosional sejak kehilangan penglihatannya, mungkin dirinya sendiri masih tidak menerima. Saat pintu itu tertutup, benda-benda di ruangan terangkat, melawan gravitasi. Sylus sudah terbiasa dengan hal ini. Bukan sekali dua kali Xavier meluapkan emosinya sampai-sampai menggunakan kekuatannya.
Raungan terdengar, Xavier merintih. Benda-benda di sekitarnya sudah berjatuhan. Tubuhnya meringkuk, bergetar.
“Sylus…” Isakannya terdengar, memanggil sang Naga. Bahkan di saat semua pelayannya pergi meninggalkan Xavier tanpa penjaga sama sekali, Sylus tidak meninggalkannya apalagi menyerangnya.
“Sylus… ?” Suara tenang Xavier memanggil. Menyadarkan Sylus dari lamunannya. Sylus tidak sadar Xavier telah meraba-raba wajahnya. Jemarinya sampai kepada dua tanduk Sylus, merasakan salah satunya yang patah akibat perbuatannya.
“Apakah ini masih sakit?”
Sylus mendengus, tertawa. Tangannya menyingkirkan tangan Xavier.
“Jika Tuan bangun di pagi buta hanya untuk menyentuh-nyentuh wajah saya, lebih baik saya tidur.” Kata Sylus.
“Tapi kamu kan tidak tidur malam.”
Sylus tertawa lepas, tangan besarnya melingkar di pinggang Xavier.
“Jadi apa yang tuan ku inginkan?”
.
Deru nafas Xavier terdengar tergesa-gesa. Tangannya meraba tubuh Sylus tak sabaran. Dikecupnya leher Sylus, memberinya tanda. Turun ke dada, ke perut, hingga ke bagian bawah Sylus. Sebelum bibir lembutnya itu menelusuri tubuhnya, tangannya sudah lebih dulu.
Sylus merasa aneh. Tapi mungkin karena penglihatannya yang telah tiada, Xavier jadi lebih banyak menyentuh tubuhnya. Ah, kalau begini rasanya-
“Tunggu- tuan-!!!”
“Kamu suka disentuh, ya?” Lengket, bahkan Xavier belum sempat memasukkan penis Sylus ke dalam mulutnya.
“Sylus…” Desahnya.
Jemarinya memasuki lubang Sylys, mempersiapkannya. Kepalanya mengusap-ngusap dada Sylus sebelum sampai ke samping telinganya.
“Teganya… kau tahu aku tidak dapat melihat wajah erotismu itu lagi. Setidaknya hiburlah aku dengan suaramu.”
Sylus mendengus. “Banyak mau.”
Tapi Sylus menurut, melepaskan tangannya dari mulutnya. Mendesah saat Xavier menumbuk titik nikmatnya. Sylus tiba-tiba membalikkan posisi mereka. Mengukung Xavier.
“Lama.”
“Ah… Sylus-”
Hangat dirasakan penis Xavier saat Sylus perlahan memasukkannya ke dalam anusnya. Tubuhnya pasrah saat Sylus mulai menungganginya. Memasukan dan mengeluarkan kemaluan Xavier di dalam dirinya. Mencari kenikmatannya sendiri.
Dulu Xavier sering melakukannya pada Sylus. Toh posisi Sylus adalah budaknya. Ia bisa sesuka hati memakai Sylus untuk memuaskan nafsunya. Tapi Sylus sendiri seperti tidak masalah. Wajahnya saat bersenggama itu sangat erotis menurut Xavier. Wajah yang seolah meminta untuk dibuat submisif.
Tangan Xavier perlahan terangkat, mencari wajah Sylus. Tangan Sylus yang tadinya di perut Xavier, menyambutnya. Menunduk, mengecup telapak tangan Xavier sebelum membawanya ke pipinya.
“Aku penasaran ekspresi apa yang kamu tunjukkan sekarang.”
“Tuan tak perlu memikirkannya, biarkan budak ini memuaskan hasratmu.”
.
Xavier terbangun, merasakan hangatnya matahari menyapa wajahnya. Langkah kaki terdengar pun dentingan sendok yang terkena mangkuk.
“Sarapan.” Ujar Sylus sambil menaruh nampan berisi makanan dan segelas air itu di depan Xavier. Xavier mengubah posisinya menjadi duduk. Sylus dengan telaten membawakan meja kecil dan menata hidangannya.
“Terima kasih.”
Xavier meraba mangkuk di depannya. Menyuap makanan dengan perlahan. Masakan Sylus bukan yang terbaik, tapi tetap enak. Xavier tak pernah protes dengan hidangan Sylus.
“Buka mulut mu.” Kata Xavier sambil menyodorkan sesendok makanan ke udara. Dia tidak tahu di mana posisi Sylus sekarang. Sylus tertawa. “Tak perlu, Tuan. Aku tak makan itu”
“Ini perintah.”
Mendengus geli, Sylus memakannya yang berujung dikeluarkannya dari mulutnya.
“Manis- kenapa buburnya manis?”
“Kamu masih ga bisa bedain gula dan garam?” Gantian sekarang Xavier yang tertawa. Sylus dengan wajah masam segera meraih mangkok Xavier, berniat menggantikannya dengan makanan baru.
“Tidak perlu.” Tangan Xavier memegang mangkuknya. “Ini tidak masalah.” Sylus hanya melihatnya, bibirnya tertarik ke atas. Setidaknya hubungan mereka membaik, bukan? Alasan Sylus tetap di sisi Xavier karena dia sadar sejak tinggal di Kerajaan ini bahwa dirinya suka dengan kehadiran makhluk lain di sisinya. Walaupun dia dijadikan budak tapi mendengar ada tanda kehidupan selain dari dirinya membuatnya… senang?
Rasa sepi di gua yang biasa ia rasakan tak mau terulang. Pun Sylus tak mau Xavier merasakannya. Tuannya yang manis. Entah berapa sakitnya saat sayapnya dirobek atau tanduknya yang patah akibat perbuatan Xavier, Sylus mengabaikannya. Mata merah itu melirik kepada Xavier yang memakan bubur buatannya dalam diam. Matanya menatap kosong ke depan.
Sylus mengalihkan pandangannya, menyentuh belakang lehernya yang panas. Jantung naga sialan, batinnya. Degup jantungnya sangat kencang, rasanya benda itu dapat keluar dari dadanya sekarang juga. Kacau. Naga penjaga bukit itu jatuh hati kepada sang pangeran.
Berminggu-minggu berlalu. Sylus bersyukur mantan pelayan Xavier tidak menjarah isi istana. Mungkin dia takut dengan Sylus. Berkat itu, Sylus dapat memasak dengan bahan yang tersisa. Beruntung juga buku resep ditinggalkan oleh mantan koki. Sylus jadi belajar setiap harinya.
Pagi ini Xavier melangkah keluar ruangannya. Merasakan hangatnya sinar matahari di pagi hari. Kakinya menyentuh rumput dengan nyaman. Aneh. Sylus biasanya sudah datang menghampirinya ketika mendengar suara langkah kakinya.
Berjam-jam berlalu, Xavier akhirnya kembali memasuki ruangannya dengan meraba sekitar. Sylus muncul kembali di waktu sore. Xavier menoleh ke sumber suara langkah kaki.
“Kemana saja kamu?”
“Jalan-jalan.” Sylus kembali menata meja dan makanan. Kali ini campuran nasi dan telur yang sudah Sylus aduk rata mengingat Xavier tidak bisa melihat makanannya.
Xavier tidak menanyakan lebih lanjut walaupun hidungnya menangkap bau anyir.
Pertama kali dalam waktu mereka bersama, Sylus meminta agar mereka tidur bersama. Dengan dalih agar ia tahu kapan Xavier memerlukan bantuannya. Tidur di satu alas kasur yang sama, Xavier memeluk Sylus erat. Wajahnya dia benamkan di dada Sylus. Sylus sendiri membalas pelukan Xavier. Dagunya ia letakkan diatas rambut Xavier. Matanya tidak tertutup, melainkan dia fokus melihat ke dimana terdapat dua benda putih berukuran cukup besar. Menyipit, degup jantungnya riuh.
Sylus berdiri di depan istana melihat pemandangan di depannya. Setitik namun yakin, itu adalah kawanan prajurit. Entah dari kerajaan mana atau bahkan bisa jadi itu kerajaan Xavier sendiri. Sylus tahu hal ini akan terjadi. Istana megah yang hanya dihuni pangeran buta dan satu budaknya, siapa yang tidak tertarik untuk memilikinya.
“Sylus.”
Sylus membalikkan tubuhnya, menghadap Xavier yang berdiri di pintu. Tangannya memegang dinding sebagai penunjuk jalannya.
“Aku merasakan derap langkah kaki kuda.”
Sylus tidak menjawab, dia kembali melihat ke arah dimana segerombolan prajurit itu datang. Semakin dekat, semakin jelas bahwa mereka membawa prajurit lebih dari cukup untuk mengalahkan seekor naga yang terluka. Sylus bahkan ragu, apakah dia bisa melindungi istana ini?
Sylus berbalik, menarik tangan Xavier. Dia dudukan Xavier di sudut ruangan, tempat kasurnya berada.
“Diam di sini.”
Sylus menuju sudut ruangan lainnya, mengambil dua benda putih itu dengan perlahan menaruhnya di sisi Xavier. Menyelimutinya dengan kain.
“Apa ini, Sylus?”
Tangan Xavier meraba kedua benda putih itu, merasakannya. Perasaan Sylus bercampur aduk melihat pemandangan di depannya. Entah hangat atau nyeri di dadanya yang mendominasi. Apakah Sylus bisa melindungi istana ini? Apakah Sylus bisa melindungi keluarga kecilnya?
Tidak menjawab. Sylus berjongkok di depan tuannya. Tangannya yang kasar itu meraih pipi Xavier, menariknya mendekat. Mengecup keningnya disaat ekor berisisiknya itu melingkari telurnya dan Xavier.
Berdiri, Sylus langsung bergegas keluar ruangan dan mengunci pintu. Mengabaikan suara gedoran saat Xavier berhasil meraih pintunya. Bisa tak bisa, Sylus harus melindungi istana ini.
Maka ia berdiri di depan pintu istana, menyambut kehadiran mereka. Suara langkah kaki kuda berhenti. “Tuan Naga.” sang pemimpin bersuara. Sylus hanya menatap tajam.
“Apa yang anda lakukan disini?”
Sylus menjawab, mengintimidasi.
“Harusnya aku yang bertanya apa yang dilakukan manusia-manusia rendahan seperti kalian di rumahku?”
Sang pemimpin menaikkan tangannya, menyuruh prajuritnya untuk menahan serangan.
“Tuan naga, maksud dan tujuan kami ke sini untuk mencari pangeran. Juga bukankah rumah anda ada di balik bukit?”
“Pangeran buta itu? sudah ku makan. Maka dari itu istana ini milikku.” Jawab Sylus sambil membuka mulutnya, menunjukkan taringnya. “Jadi apakah kalian mau jadi santapan berikutnya?”
.
Xavier menyerah menggedor-gedor pintu. Dia tak bisa begini, dia harus cari cara. Tapi apa daya. Semuanya terlihat gelap. Dia bahkan tidak dapat menemukan dimana letak pintu itu setelah dia berputar-putar ruangan.
Telinganya jelas mendengar suara pertarungan di depan istananya. Xavier juga sering terjun dalam perang, walaupun tidak melihat dia tahu bahwa pasukan yang dilawan Sylus sangat banyak.
Lantai dan dinding istana bergemuruh, bergoyang. Langkah kaki besar terasa menggetarkan daratan di sekitarnya. Raungan naga terdengar.
“Sylus… ?”
Sylus pasti sudah menunjukkan wujud naga aslinya. Bentuk naganya mungkin lebih besar dan lebih kuat. Tapi itu juga menguntungkan pihak lawan dimana pasukan panah mereka dengan mudah meluncurkan panahnya. Walaupun hampir tidak ada yang mengenainya karena sisiknya tapi beberapa panah juga tetap masuk, menembus kulitnya.
Erangan naga membuat dada Xavier berdenyut sakit. Tidak boleh diam saja. Dia harus melakukan sesuatu. Andai saja dia bisa melihat.
“Tunggu-”
Bukankah penasihat kerajaan mengatakan dirinya terkena kutukan? Berarti asal kutukannya diangkat, Xavier bisa melihat lagi bukan? Xavier bersimpuh, entah dimana sifat pangerannya yang selalu berdiri teguh, angkuh itu. Xavier tidak peduli lagi.
Dia memohon maaf kepada sang dewa laut.
.
Mengerang, Sylus sudah kembali ke wujud setengah manusianya. Luka di mana-mana. Sylus bahkan tidak dapat menggerakkan badannya. Di sekitarnya tumbang puluhan prajurit yang entah menyentuh angka ratusan atau tidak.
Sylus merasakan tubuhnya di balik, menghadap si pemimpin. Bibirnya tertarik miring, cerdik sekali. Si pemimpin menggunakan seluruh prajuritnya sebagai umpan.
“Kalau kau mati bukan hanya istana ini yang ku kuasai, bukan? Bahkan seluruh bukit ini milikku.” Dia mengeluarkan pedangnya, mengarahkannya ke jantung Sylus.
Tertawa lemah, Sylus memasang wajah meremehkan. “Teruslah bermimpi.”
Sylus tak boleh mati seperti ini. Setidaknya dia harus menumbangkan si pemimpin juga agar Xavier selamat. Agar Xavier dan anaknya selamat. Ekornya bergerak perlahan, selagi tangannya menahan pedangnya. Dia harus menusuk dengan ekornya.
Sadar akan pergerakan lain, sang pemimpin menarik pedangnya dari tangan Sylus. Mata Sylus membulat, mulutnya terbuka mengerang sakit. Dia melihat ekornya terbuang jauh, ekornya telah ditebas oleh pedang khusus si pemimpin.
“Tenanglah, sedikit lagi kau tidak akan merasakan sakit.”
Diantara penglihatannya yang buram, Sylus dapat melihat pedang yang berlumuran darah itu kembali mengarah ke dadanya. Sylus tak bergerak lagi, tak melawan.
Apakah Xavier bisa bertahan tanpa dirinya?
Sebelum pedang itu tepat menancap ke dadanya, Sylus melihat pedang lainnya menahanya. Sebelum akhirnya semuanya gelap.
.
Sylus membuka matanya, hangat. Mata merahnya melihat ke sekitar. Ini ruangan Xavier. Sadar dirinya belum mati, Sylus mengubah posisinya menjadi terduduk. Tapi suara dentuman pelan di sebelahnya membuatnya sadar akan sesuatu yang dia jatuhkan.
“Hiks-hung…” Suara rengekan kecil terdengar.
“A-wawa!” suara lainnya terdengar dari pangkuan Sylus.
Sosok kecil yang tadi merengek kini menangis kencang. Mengundang suara kaki dari luar yang datang ke ruangan itu. Pintu di buka, terlihat Xavier membawa centong sayurnya.
“Bukannya papa sudah bilang jangan ganggu mama-” Mata biru dan merah itu beradu. Centong sayur itu jatuh begitu saja ke lantai. Xavier segera terduduk di depan Sylus, menyentuh wajahnya.
“Sylus?” Tangannya gemetar.
Segera dia bawa sylus kedalam dekapannya. “Oh, dewa. Aku kira aku kehilangan kamu selamanya.” Sylus masih terpaku, bingung. Xavier melepaskan dekapannya, kembali menatap wajah Sylus. Tangannya meraba-raba wajahnya. Bahkan si biru sudah meneteskan air mata.
“Berapa lama?” Tanya Sylus.
“Empat- lima bulan? Entahlah aku sudah berhenti menghitungnya.”
Lima bulan? Sylus melirik bocah yang dari tadi terhimpit oleh mereka di acara dekapan melepas rindu keduanya.
“A-wawa!!!” Mata birunya menatap keduanya sebal. Sylus menoleh ke sasampingnya. Bocah lainnya yang tadi merengek itu kini menatap keduanya bingung. Mata merahnya beradu dengan milik Sylus.
Oh- mereka sudah menetas-
“Tuan! Dapur kebakaran!” Suara wanita terdengar mengetuk-ngetuk pintu dan memasuki ruangan. Itu koki terakhir yang mengundurkan diri. Kenapa dia masih di sini? Suara orang menyapu terdengar di luar.
Xavier menggaruk leher belakangnya, canggung. “Tolong buatkan makanan baru.”
