Actions

Work Header

Dikerjain Anak Majikan

Summary:

apa yang akan terjadi kalau ART dan anak majikan ditinggal berdua di rumah selama seminggu penuh?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"mas juyeon," yang tengah menungging bertumpu pada tembok dapur hanya bisa terpantul pasrah. celana pendeknya diturunkan sebatas paha, sedang putingnya menyembul tak tahu malu dari balik tanktop ketat.

"nanti kedengeran ibu," wonbin namanya, ART di rumah juyeon yang sudah menjadi bulan-bulanan si anak majikan untuk membuang mani. kapan pun dan di sisi rumah mana pun sudah mereka jadikan tempat penyalur nafsu.

juyeon, si anak majikan bahkan tak ada rasa takut kala menyetubuhi ART yang baru tiga bulan bekerja itu. disaat orang tuanya ada di dalam rumah, ia masih asik menunggangi yang tubuhnya begitu nikmat berapa kali pun dikerjai, justru ia merasa terpacu untuk bergerak semakin liar.

“salah sendiri pake baju begini,”

juyeon semakin mempercepat gerak pinggulnya diburu waktu, tak peduli dengan wonbin yang menahan nyeri pada  area kewanitaannya karena tak diberi ruang untuk menyesuaikan. mulutnya dibekap oleh telapak besar si anak majikan agar tak menimbulkan banyak suara dengan lubang yang terlampau sesak disumpal tegang sebesar tongkat baseball.

"kamu tau gak?" masih. juyeon masih menggerakkan pinggulnya mencari pelepasan, "minggu depan- seminggu penuh papah sama mamah pergi ke luar kota. sisa bina sama mas juyeon di rumah ini,"

juyeon menghentak beberapa kali, suara yang keluar dari bilahnya bercampur geram seksi yang didengar wonbin begitu indah penyalur getar pada setiap bagian tubuh.

"kita main seminggu penuh ya cantik," kalimat terakhir telak juyeon lontarkan bersamaan dengan leleh putihnya dalam lubang wonbin. si gadis menerima dengan desah yang tertahan telapak besar, pahanya tak berhenti bergetar menampung pelepasan.

diberi nikmat pada waktu tak menentu sudah cukup membuatnya hilang akal karena juyeon sering kali di luar kendali, maka wonbin hanya bisa pasrah dengan nasib yang akan menimpanya seminggu ke depan.

Day 1

entah sudah berapa lama wonbin dibiarkan terlentang di tempat tidur tanpa sehelai benang yang menutupi. terlebih tak ada siapa pun yang menyentuhnya, pandangnya gelap tertutup dasi dengan pergelangan tangan yang dijadikan satu dan diikat tepat di tengah kepala tempat tidur.

“mas juyeon,” wonbin terus memanggil, namun tak ada suara yang menyahut. gadis itu dapat merasakan kalau anak majikannya itu ada bersamanya sekarang, melihat tubuhnya yang mulai bergerak tak nyaman karena tersumpal vibrator yang tak bergetar.

“mas juyeon,” panggil wonbin sekali lagi kala mendengar langkah yang mendekat, tak ada yang menyahut namun pusarnya dengan tetiba disentuh ringan oleh ujung jari.

wonbin membusur sempurna, ia semakin sensitif dengan minimnya cahaya yang masuk. sentuh ujung jari kini kian naik sampai pada payudaranya yang tak besar, namun tetap terasa pas untuk tubuh kecil dan ramping milik si gadis cantik.

wonbin membusungkan dada bentuk refleks, desah yang ia lantunkan seperti simpuh memohon sentuh. ia ingin disentuh tepat pada tonjolan yang mengeras, sayang jari tersebut hanya membuat gerak memutar pada sekitar kecoklatan.

mulut wonbin terbuka seakan mengais apapun itu yang dapat dikecapnya detik itu juga, si gadis begitu haus akan belai, sedang sentuh ringan malah tak lagi dirasanya pada tubuh. wonbin menggeliat mencari, aksinya diberi usap telapak besar pada rambutnya lembut. si anak majikan menunduk, berbisik tepat di samping telinga yang begitu ingin dituntaskan hasratnya.

“bina boleh keluar, tapi dari vibrator aja ya,”

wonbin menggeleng ribut merasa tak sanggup, bibirnya kelu berucap dibalas juyeon dengan suara desis menenangkan, "shh.. bisa kok cantik," lalu tanpa peringatan pemuda itu menyalakan getar paling kecil.

lagi, yang lebih kecil membusur sempurna. pinggulnya ikut digerakkan ribut selaras dengan gerak vibrator di dalamnya. juyeon membiarkannya mencari pelepasan sendiri, senyum puas terpatri pada wajah tampannya. yang justru lebih menarik perhatian juyeon sekarang adalah ketiak mulus milik si gadis, alasan paling utama mengapa selatannya menegak sempurna dan perlu menyalurkan hasrat.

wonbin berteriak kala satu jilatan panjang diberi juyeon pada ketiaknya, “mas juyeon jorok,” si gadis berusaha lepas, namun juyeon masih asik menjilati. wajahnya semakin dibenamkan bersamaan dengan getar vibrator yang ia perbesar.

si gadis yang masih melihat gelap hanya bisa merasakan, tangannya masih tergantung di atas dengan juyeon yang masih asik menjilati ketiaknya, salah satu lengan besar juyeon memberi remasan kencang pada dada, memilin lalu mencubit kasar tonjolan coklat yang begitu keras.

segala aksi yang diberi juyeon justru membuat wonbin tak tahan untuk menyentuh titik sensitif di bawah sana yang jika ditekan tombolnya maka muncrat segala isi yang tertampung.

“mas juyeon sentuh, bina dikit lagi keluar,”

pinta wonbin begitu frustasi namun sialnya juyeon sama sekali tidak memberi. maka gadis itu hanya bisa berharap dari getar vibrator di dalam tubuhnya yang sejujurnya tak memberi banyak nikmat melebihi jilat juyeon pada ketiaknya.

sengaja. wonbin tahu juyeon sengaja menghindari kemaluannya. maka fokus wonbin kini dipusatkan pada getar di bawah sana dengan dada yang sedikit dicondongkan ke kiri, tepat di mana juyeon berdiri, seakan meminta untuk lebih banyak dijilati sampai ke dadanya.

seakan tahu, juyeon akhirnya memberi jilatan menggelitik pada puting si gadis, lalu menyesap seperti kehausan padahal tak akan ada apapun yang keluar dari sana. sedang wonbin mulai menggerakkan pinggulnya ribut, berusaha membuat vibrator bulat berwarna pink masuk semakin dalam dan menyentuh titik nikmatnya.

"ahh!" wonbin melenguh puas, kala benda bergetar itu mengenai titik terdalam. sedikit lagi, ia bisa menuntaskan hasratnya malam itu yang tentu tak akan pernah cukup jika tak disetubuhi sungguhan oleh pria gudang kenikmatan.

"mas juyeon, bina pipis," seninya mengalir tak seberapa deras, bahkan keluar malu-malu seperti dipaksakan. wonbin mengerang karena merasa tak cukup, entah kapan gadis itu akan diberi yang bisa memuaskan tubuhnya yang begitu mendamba.

Day 2

“hari ini mas juyeon mau liat bina keluar karena ini,”

juyeon menggerakan dildo tak seberapa panjang juga besar ke wajah si gadis. malam ini wonbin dapat melihat cahaya, hanya saja lengannya masih terikat ke atas. tak lagi diberi pinta membuat wonbin ingin berteriak frustasi, entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh si anak majikan, ia seakan senang mengerjai wonbin banyak-banyak.

wonbin tak tahu apa yang akan membuat pemuda itu luluh, ia yakin bahkan sampai dirinya bersimpuh memohon, juyeon tetap tidak akan memberinya, malah hanya akan semakin senang mengerjai.

pelumas sudah dibalurkan pada benda karet, sebelum digoda pada liang wonbin dengan kakinya yang semakin terbuka lebar. lenguhan wonbin tanda pinta dipercepat, sedang juyeon tersenyum melihat si gadis yang ekspresi wajahnya seakan siap melakukan apa pun untuk mendapat hujam nikmat.

wonbin mendesah puas kala juyeon berhasil mendorong masuk dildo dengan mudah. tubuhnya masih digerakkan tak nyaman ingin lebih, benda karet tersebut tak cukup mampu menyulut api dalam tubuhnya. namun setidaknya rasanya jauh lebih baik dari kemarin yang pelepasannya hanya dibantu benda bulat kecil.

"lebih enak kan dari kemarin?" wonbin mau tak mau mengangguk, benda karet digerakkan juyeon maju dan mundur terlampau pelan sengaja menghindari titik terdalam, "yang isi lebih berasa hari ini," pinggul wonbin ditahan kala mulai digerakkan berlawanan arah, lalu si gadis mengerang sejadinya.

"mas juyeon," manja, wonbin mengeluarkan jurus menggodanya, setidaknya ia meminta untuk dipercepat, ditekan titik nikmatnya. namun juyeon lah yang memegang kendali, maka tak ada jawab selain, "nanti ya cantik, belum waktunya,"

"kapan?" suaranya bergetar karena menahan ingin juga karena gerak juyeon yang menyiksa di bawah sana, "kalau bina bisa keluar karena ini, nanti mas juyeon kasih," maka wonbin mau tak mau menurut, karena semakin gadis itu protes maka juyeon bisa jadi tak menyanggupinya.

seperti kemarin, fokusnya kini dipusatkan pada gerak menyiksa dari dildo di bawah sana. manik keduanya bertemu dengan juyeon yang tersenyum puas dan wonbin menatap begitu sayu, ia masih berusaha menarik yang lebih tua untuk berlaku lebih.

mata bulat yang begitu manis juga bibir tebal yang mengkilap sedikitnya membuat juyeon tergerak, maka gerak selanjutnya dari si pemuda mendapat desah keenakan dari wonbin, "mas- ahh!" juyeon menyentuh klitorisnya, tepat ketika dildo tersebut ditekan telak menyentuh titik terdalam.

“bisa keluarkan?” wonbin mengangguk, lalu kini gerak pinggulnya mengikuti bagaimana lihainya tangan juyeon mengerjainya. benda karet dibuat maju dan mundur sesuka hatinya, juga gerak memutar pada klitorisnya sudah cukup membuat wonbin kini pening keseluruhan.

wonbin bisa jadi keluar kapan saja jika terus diberi gerak pada tiap-tiap titik sensitif di sekitar kemaluannya, “terus mas,” pinta si gadis begitu dekat.

maka kala pinggulnya dibawa terangkat, dengan juyeon yang menekan kuat dildo menyentuh nikmat di dalamnya, juga permainan pada klitorisnya yang semakin gila, wonbin akhirnya menyembur tak ada habisnya.

lolong nama juyeon dirapal wonbin begitu keras sebelum diganti deru napas lelah. ada perasaan puas karena sudah keluar namun perasaan cukup tetap belum menghampiri. pada akhirnya wonbin hanya bisa menunggu lagi.

Day 3

malam ini kaki wonbin sudah dibuka begitu lebar, menunggu untuk disetubuhi oleh si anak majikan. sore tadi kala menyapu, juyeon sudah janji akan memberinya lebih dari kemarin. maka ia menunggu malam datang dengan debar jantung gaduh, akhirnya- akhirnya pintanya dipenuhi malam ini.

langkah kaki juyeon semakin dibawa mendekat, atasannya sudah tanggal menyisakan celana training panjang warna hitam. pemuda itu menggigit kasar bibirnya kala melihat bagaimana wonbin tersajikan di depan mata begitu indah tanpa helai benang. lalu bibir tebal si gadis dicumbu habis, bengkaknya begitu menggoda juyeon untuk semakin ganas melahapnya. 

“mas juy- ahh!” wonbin kesulitan berucap kala sesap juyeon mulai turun ke lehernya. tangannya sudah sibuk menggerayangi tubuh yang lebih kecil, memberinya usap lembut yang membuat wonbin merasa nyaman didekapnya.

kecupnya terus turun, kala sampai pada noktah coklat, dada wonbin membusung, memberi akses lebih banyak untuk juyeon menyesap putingnya bergantian, sesekali disatukan lalu kembali dilumat bersamaan. rasa pening yang berlebih membuat wonbin menarik wajah juyeon untuk kembali mempertemukan bibir keduanya, merasa yang manisnya masih begitu candu sekalipun sering menyesap tembakau.

tangan si gadis kini mulai turun untuk menyentuh gundukan yang membesar. ciuman keduanya tetiba terputus kala juyeon menarik diri, "kenapa? hari ini bina dikasih kan, mas juyeon?" tanya wonbin manja, tangannya sudah mengelusi milik juyeon dari balik celana training.

"hari ini-" juyeon menggantung kalimatnya diikuti kecup pada sisi wajah si cantik, "hari ini mas juyeon bakal kobelin bina,"

“itu aja?” kali ini yang lebih kecil tidak takut protes. dua hari tidak diberi sudah cukup membuatnya tersiksa dan ia tak sanggup jika harus menambah hari lagi hanya untuk mengemis minta disetubuhi.

“hari ini, itu dulu ya cantik,” curang. juyeon tak hentinya mengecupi wonbin, membuat gadis itu merasa cukup diberi sayang. wonbin tidak mengangguk juga tidak menggeleng, ia pada akhirnya hanya pasrah karena tahu kalau juyeon tidak akan merubah pikirnya.

juyeon tak henti memberi usap pada paha wonbin, kakinya semakin dibuka lebar kala usap juyeon mulai masuk ke paha dalam, bibirnya digigit menggoda waras yang lebih tua seakan memaksa juyeon untuk menyentuh yang sudah begitu basah di antra dua pahanya.

juyeon dapat dengan jelas melihat bagaimana vagina wonbin begitu mengkilap, “becek banget,” katanya dihadiahi lenguh wonbin, rasanya begitu gatal sampai pinggulnya tak henti bergerak mencari sentuh juyeon. lalu setelah tiga hari tak disentuh langsung, si pemuda pada akhirnya membawa jarinya untuk merasa yang lelehnya terlihat mengintip, bermain dengan lendir dari kemaluan wonbin yang sudah begitu banyak.

“mas tolong-“

mulut si gadis terbuka tanpa suara kala juyeon dengan mudahnya melesakkan satu jarinya ke dalam. hisap kencang dari dinding liang wonbin menyambut jari panjang juyeon, membuat si pemuda semakin senang untuk berlama di dalam, ia sengaja menghindari titik nikmat yang sudah jelas dihapalnya di luar kepala.

satu jari, namun sudah cukup membuat wonbin berkeringat deras begitu keenakan. diisi dengan jari si anak majikan melebihi nikmat dildo karet kemarin. maka hanya dengan gerakan maju dan mundur tak seberapa cepat dari juyeon, si gadis sudah menahan yang akan keluar dari tubuhnya.

juyeon dengan tetiba menambah satu jarinya untuk terbenam, tubuhnya dibawa bangkit dengan wajah yang didekatkan pada dada wonbin untuk menyusu rakus. pekik terdengar dari bilah yang lebih tebal, ia tidak bisa menahan desahnya, lolos begitu mudah tiap juyeon bergerak tak seberapa banyak di dalamnya.

“mas juyeon tambah lagi,”

namun yang gadis itu dapat adalah jari juyeon yang ditarik. iya merengek mencari, seakan hidupnya kali ini bergantung pada jari-jari juyeon di dalamnya. juyeon menjauh, pemuda itu bangkit dan mencari sesuatu di lemari. saat menemukannya raut wajah yang wonbin tangkap begitu bahagia, ia tak mungkin tak tahu apa yang dibawa si pemuda, benda itu didekatkan pada wajahnya yang begitu merah menahan ingin.

“buka kakinya,” perintahnya telak dengan wonbin yang masih tak percaya dengan benda yang baru saja juyeon perlihatkan, anal beads dengan bulat sekitar 6 buah. lalu wonbin ingin mengerang keras karena libidonya seperti dipacu, seakan ada seseorang yang baru saja memantik api dalam tubuhnya.

juyeon menahan kaki wonbin untuk terbuka semakin lebar dengan kedua tangannya, cincin kerutnya diberi pijat oleh jari juyeon yang sudah licin, “mas masukin ya cantik,” lalu satu buah dari anal beads ditekannya masuk ke lubang anal.

wonbin melempar kepala ke belakang, lubang belakangnya tak pernah disentuh, dindingnya juga pasti begitu rapat. maka rasa kala ada yang memaksa masuk begitu sakit bukan main, wonbin masih belum menemukan nikmat karena rasanya masih asing diganjal sesuatu di belakang.

"mas!"

wonbin memekik karena gilanya juyeon adalah jarinya kembali dimasukkan ke lubang vagina si gadis, maka dua lubangnya kini diisi. dinding pemisah antara liang belakang dan depan begitu tipis, membuat juyeon dapat dengan jelas merasa bagaimana bulatnya benda yang menekan liang belakang si gadis.

juyeon memperhatikan bagaimana ragam ekspresi diperlihatkan wonbin, erang putus dan bulir keringat menghiasi wajah cantiknya. yang lebih tua lalu menambah dua lagi bulatan untuk terbenam lebih dalam di lubang belakang, bersamaan dengan jarinya yang ditambah dua di lubang depan.

dua tangan juyeon bergerak begitu selaras, menghentak jari dan menekan masuk anal beads satu persatu. air mata nyeri menetes kala empat bulat berhasil ditelannya, liangnya berkedut mengundang desis dari juyeon yang jarinya semakin terapit.

menurut juyeon, wonbin sekarang melebihi cantik biasanya, begitu puas ekspresinya menikmati bagaimana pekerjaan memberi nikmat dari juyeon dilakukan di bawah sana.

wonbin dibuat kacau, warasnya seperti dirampas oleh hentak juyeon pada dua lubangnya yang jelas mengenai titik nikmatnya bersamaan. wonbin tak pernah merasa analnya merenggang sebegini hebat, kala satu bulat lagi dipaksa juyeon untuk ditelan rakus liang hisapnya, ia menjerit sejadinya.

"satu lagi ya cantik,"

gelengan putus asa untuk menahan juyeon dan gilanya seperti tercekat di tenggorokan, tiap gerak tiga jari dan sumpal lima bulat di kedua lubangnya seperti menutup saluran pernapasan. wonbin berusaha mengais kepayahan melawan segala gerak juyeon, namun tenaganya tak pernah sanggup untuk mengimbangi si pria.

"m-mas sebentar,"

satu bulat kembali terbenam dan lengkung tubuh wonbin adalah yang paling sempurna dari pada malam-malam lalu. wonbin dibiarkan oleh juyeon untuk bernapas sebentar, sebelum pria itu telak menekan ujung anal beads untuk tetap setia mengisi lubang si gadis. 

lalu juyeon seperti kesetanan, pemuda itu menambah kekuatan ekstra pada tangannya untuk terus bergerak asal di dalam liang wonbin. jarinya tak tahu aturan, maju atau mundur, atas atau bawah, memutar atau menghentak, semua dilakukan begitu acak dan wonbin berhasil menjerit karena menahan nyeri.

aaah, mas- nggh,” suaranya melengking tinggi, deras seninya keluar tanpa aba-aba dengan juyeon yang tanpa ampun masih mengocok liangnya brutal. wonbin pening keseluruhan, gadis itu sudah tak ada tenaga sama sekali hanya untuk sekedar menahan gerak juyeon.

derasnya wonbin membuat juyeon tegak keseluruhan, begitu menyulut birahi dan mengundang panas tubuhnya untuk berpusat pada tegang. lalu pemuda itu tanpa peringatan membuka celananya, mengocok sebentar miliknya sebelum ia berdiri dan menepuk tegaknya pada bibir tebal wonbin.

“ah anjing, buka mulutnya,”

gadis itu patuh membuka lebar mulutnya, menahan bagaimana berat milik juyeon di mulutnya. wonbin melahap utuh, menggerakkan kepalanya maju dan mundur sampai hampir tersedak. detik selanjutnya, kepalanya ditekan cukup dalam, hingga kepala tegang menyentuh pangkal tenggorokan, bersamaan dengan kedut yang wonbin rasa di dalam mulutnya.

lalu dengan sedikit hisap yang lebih muda, cairan putih hangat mengalir langsung ke tenggorokannya. tak ada pilihan lain selain menelan. dan wonbin tak pernah tidak puas mendengar bagaimana geram juyeon begitu indah mengalun dalam telinganya, membuatnya semakin semangat untuk menelan habis mani yang keluar tanpa ingin ada yang tersisa.

Day 4

di ruang tamu, berat wonbin sudah menumpu pada paha juyeon. sehabis makan malam, yang lebih tua membawa wonbin pada ciuman panas, berakhir keduanya yang kini tanpa helai benang dengan dekap hangat di sofa ruang tamu. paggutan basah tak hentinya diberikan dengan tangan juyeon yang ke sana kemari meraba tiap-tiap inci dari tubuh si ART.

satu jari sudah terbenam di dalam wonbin, bergerak maju dan mundur menggoda liang yang suaranya sudah begitu becek karena basah. otot vaginanya diketatkan untuk semakin menjepit si pemberi nikmat. wajah keenakannya membuat juyeon menambah satu lagi jarinya untuk terjepit.

"nghh mas," wonbin bergerak tak bisa diam. gadis itu seakan mencari yang bisa memenuhi liangnya yang selama tiga hari terus diberi latihan perenggangan.

“shh kamu mau apasih?” juyeon kewalahan menumpu tubuh wonbin yang terus bergerak, pinggulnya dicengkeram kuat dengan jari yang perlahan dikeluarkan oleh pemiliknya.

“mas, jangan dikeluarin,” protes wonbin, lalu ranum tebalnya dibawa juyeon kembali pada pagutan dalam, protesnya dibungkam oleh lidah yang menjelajah ke rongga mulut. tubuh yang lebih kecil kini dibawa perlahan dan dibaringkan pada sofa, memudahkan juyeon untuk mengontrol pergerakan si gadis.

kaki juyeon bertumpu di antara dua paha wonbin, ciuman keduanya kini terputus diganti tatap, “mau apasih cantik,” beceknya ditepuki pelan, lalu jari besar milik juyeon hanya menggoda pada pintu liangnya tak berusaha masuk dan sungguh wonbin ingin menangis karena begitu ingin diberi.

“masukin mas, kobelin bina kayak kemarin,” lalu juyeon tersenyum dan langsung mendorong tiga jarinya terbenam dengan mudah. wajahnya dibawa untuk mendekat ke dada wonbin, menyusu kuat pada puting coklat dengan jari yang sama sekali tidak hilang fokus untuk bergerak liar menyenangkan liang si gadis.

"lagi," yang lebih kecil berucap cukup pelan, tak sadar kalau tubuhnya masih belum puas dengan tiga jari di dalamnya sekarang, "lagi? mau dimasukin lagi?” juyeon memperjelas dan wonbin dengan kesadaran penuh mengangguk semangat.

sejujurnya wonbin tak tahu sejauh mana lubang vaginanya bisa merenggang, namun gadis itu kepalang ingin, ingin sekali diisi penuh apapun itu bahkan- bahkan oleh lengan besar si anak majikan, ia ingin dipenuhi, ingin napasnya tercekat karena dipaksa merenggang, menerima yang bahkan dua kali lebih besar darinya itu. wonbin melenguh, memikirkannya saja sudah membuat akal gadis itu semakin berantakan.

"bina tiga hari kemarin udah jadi anak pinter buat mas juyeon,"

"bina mau apa hm?” juyeon menngecupi sisi wajahnya, “mau ngerasain semua jari mas juyeon? sampai ke tangannya? iya cantik?" kali ini mata bulat si cantik ditatap begitu lekat, lalu wonbin kembali melenguh begitu terangsang memikirkannya.

paha wonbin kian terbuka dengan tiga jari juyeon di dalam sana yang dilebarkan, mulut si gadis terbuka tanpa suara, nikmat yang ia rasa membuat kepalanya begitu pening. lalu satu jari lagi berhasil ditambahkan untuk menyenangkan si gadis.

empat, empat jari dan wonbin seperti dibawa melayang ke langit ke-tujuh. wonbin tak pernah tahu kalau liangnya dapat menelan jari-jari juyeon yang terlampau besar. sesak mulai menghampiri dadanya dan ia tak pernah menyangka kalau rasanya bisa semenyenangkan ini.

jari juyeon begitu sulit bergerak di bawah sana, dinding wonbin mengapit segala pergerakannya. pelan namun pasti, yang lebih tua mulai bergerak maju dan mundur, saat di dalam empat jarinya berusaha untuk merenggang, dan wonbin hanya bisa meremat kuat pundak kokoh pria di atasnya.

“mau semuanya? bener?” dan jawaban yang diterima juyeon masih anggukan, kali ini lebih pelan dari sebelumnya namun yakinnya tetap sama.

maka juyeon terus melakukan perenggangan pada liang wonbin dengan empat jarinya, saat ia rasa cukup, empat jari tersebut memberi sedikit ruang untuk jari terakhir masuk.

aksi yang lebih tua membuat wonbin membuka mulutnya tanpa suara, tangannya berusaha menahan pergerakan juyeon yang semakin menekan masuk, getar tubuhnya begitu hebat menahan nyeri, namun juyeon tak berniat menghentikan aksinya.

lenguh panjang dari wonbin terdengar nyaring, ia mulai menangis bersamaan dengan lima jari juyeon sampai setengah telapaknya memenuhi liangnya. cukup, penuhnya sekarang sudah cukup membuat akalnya hilang.

“bina, tangan mas juyeon udah masuk semua,” wonbin mengintip dan gadis itu merespon dengan erang, jari juyeon di dalamnya seperti mencekik lehernya menahan untuk mengais udara.

”penuh banget mas,” sungguh. rasanya benar-benar penuh, "u- udah," kata wonbin kepayahan dan juyeon paham, ia tak lagi mendorong. jarinya hanya diam di sana, sama sekali tak berniat untuk bergerak. sedikitnya pemuda itu merasa kasihan dengan bagaimana wajah wonbin sepenuhnya merah menahan nyeri.

saat deru napas wonbin lebih tenang, juyeon membawa jarinya untuk bergerak di dalam. sedikit menekuk lalu diluruskan kembali, begitu terus sampai liang si gadis menimbulkan suara kecipak kotor.

“mas udah,” wonbin tak bisa menahan lagi, pening bukan main akibat dipaksa merenggang begitu hebat. dan malam ini juyeon memilih menurut, jarinya ditarik keluar dengan perlahan.

tubuh si gadis masih terus bergetar, wonbin belum mencapai pelepasannya yang juyeon yakin sebenarnya sudah di ujung tanduk. maka si pemuda kini membawa tubuhnya turun untuk sejajar dengan kemaluan si gadis dan wonbin tak mau menolak karena ia ingin segera mencapai nikmatnya.

basah liang wonbin digoda oleh jari sebentar, sebelum dilebarkan sisinya agar liangnya yang merenggang lebih terlihat sebelum juyeon memasukkan lidahnya. mencolek dinding yang menempeli dengan benda tak bertulang, begitu lihai mengerjai yang sudah kepayahan bahkan hanya untuk mengambil napas.

“ahhh!” wonbin menjerit karena begitu banyak menerima stimulasi berlebih. lidah juyeon begitu mahir menggodanya, memberi gerak memutar untuk merasa dan menampung becek wonbin, mengecapnya tanpa rasa jijik yang mana membuat wonbin semakin mengapit kepala si pemuda di antara dua pahanya.

puas dengan liang si gadis, juyeon kini menggoda daging yang menyembul di atas kemaluannya. ujung lidahnya digerakkan ringan mencolek yang begitu sensitif. perut wonbin seperti melilit, ada sesuatu yang kini berkumpul di bawah perutnya.

“mas juyeon udah,” wonbin mencoba menjauhkan tubuhnya dari juyeon, namun pemuda itu selalu berhasil menariknya kembali.

klitorisnya dilumat tiada ampun, seakan juyeon sudah menunggu diberi apapun itu yang akan keluar dari tubuh wonbin pada menit selanjutnya. wonbin tak lagi bisa menahan, gerak lidah juyeon pada vaginanya membuatnya hilang akal.

yang lebih kecil mengangkat pinggulnya karena terlampau sensitif, namun juyeon semakin gila menyesap klitorisnya, membuatnya seperti tersengat aliran listrik dahsyat. lalu saat tubuhnya terlalu lelah untuk menahan, seninya menyembur tak bisa berhenti.

ngaahh- mas,”

juyeon sempat menjauh karena kaget disembur begitu hebat, namun mulutnya dapat dengan cepat mencari sumbernya kembali. menyedot habis yang masih menyisa seperti kehausan. seninya mengalir langsung ke tenggorokan dan hal itu membuat akal wonbin hilang keseluruhan, seakan nyawanya baru saja diambil karena sensitifnya terus-terusan dikerjai.

wonbin pening karena keenakan, tangannya refleks menahan wajah juyeon untuk tetap berada pada kemaluannya, “mas juyeon jorok,” ucapnya tak lagi ada akal. pahanya masih terus bergetar, dengan juyeon yang baru saja mengelap wajah dan mulutnya yang seluruhnya sudah mengkilap karena air seni.

“seksi banget kamu cantik, keluarnya banyak banget hm, enak?” tepuk pada vaginanya mendapat lenguh putus-putus dari si gadis. ia mengangguk karena setuju, juyeon selalu berhasil membuat tubuhnya merasa ingin lagi.

wonbin hampir pingsan, terlampau banyak dihujam nikmat membuat energinya ikut tersedot habis. ia ingin sekali segera diberi yang sungguhan, ingin liangnya segera disembur kental hangat dari putih si anak majikan, namun tubuhnya tentu tak akan sanggup menerima setidaknya untuk malam ini.

Day 5

tangan wonbin kini dikalungkan pada tubuh yang lebih tinggi. pinggang rampingnya didekap begitu erat, ranumnya terus-terusan ditarik juyeon untuk berada pada cumbuan panas. lalu dalam sekali hentak tanpa melepas pagutan, juyeon membawa kaki si gadis untuk mengalung di pinggangnya.

wonbin begitu ringan, tak ada kesulitan bagi juyeon untuk menumpu seluruh beratnya. ranum tebalnya masih setia diberi sesap oleh juyeon, dibiarkan semakin bengkak dengan aksinya yang membuat wonbin kesulitan memasok udara.

bohong kalau juyeon bilang ia tak ingin segera menyetubuhi si gadis. melesakkan tegaknya yang bisa jadi dalam sekali hentak sudah terbenam keseluruhan dalam liang yang kemarin dengan rakusnya memberi pijat pada hampir keseluruhan pergelangan tangannya. namun- selalu ada namun dalam aksi yang lebih tua, juyeon begitu senang mengerjai wonbin yang tubuhnya selalu sanggup menerima segala rangsang yang ia beri.

tangan juyeon menangkup bokong si gadis, memberi remas dan tepuk tak begitu kencang pada dua bongkah padat, sesekali sisinya dibuka semakin lebar hanya untuk menggoda cincin kerut dengan telunjuknya. wonbin melenguh di antara ciuman keduanya, membuat juyeon semakin senang menggodanya.

"bina sayang,"

ciuman keduanya sesekali terputus karena sesap juyeon beralih ke tengkuk si gadis, menghirup dalam aroma tubuhnya yang terlampau memabukkan. lalu wajahnya kembali ditarik wonbin untuk merasa ranumnya lagi, terus seperti itu sampai wonbin tak tahu lagi seberapa basah ia di bawah sana, bibir wonbin diberi celah hanya untuk memasok udara, matanya terpejam begitu nikmat dirangsang lidah dan bibir juyeon pada tiap-tiap inci leher sampai pundaknya.

jari-jari juyeon kini mencolek vagina wonbin, "basah banget," si gadis menyembunyikan wajahnya pada ceruk yang lebih tua, malu karena sudah begitu ingin hanya karena cumbuan sang anak majikan. lalu juyeon hanya menggoda di luar liang depan dan belakang secara bersamaan dengan kedua tangannya.

lenguh wonbin dibarengi tubuhnya yang tak bisa diam, membuat juyeon kewalahan menahan berat si gadis. keduanya lalu ambruk ke kasur dengan posisi wonbin yang kini berada di atas si pemuda.

"mas-hhh," selangkanya didudukkan tepat pada gundukan dari balik bokser juyeon, digesekkan beberapa kali dengan lengan yang menumpu pada dada pemuda di bawahnya. 

empat hari tak diberi dan disapa tegang membuat wonbin begitu sensitif, gesek antara kepala tegang dan bibir vaginanya sekalipun terhalang pakaian sudah cukup membuat paha wonbin kesulitan menahan getar. lalu kala gadis itu melihat bagaimana wajah juyeon berubah menjadi merah keenakan membuat ia yakin kalau ingin tak hanya dirasa oleh dirinya seorang.

juyeon menghentak beberapa kali, terhalang celana dalam membuat gesek kemaluan keduanya semakin nikmat, semakin gila, dan wonbin tak pernah merasa sebegini terangsangnya hanya karena gesek kemaluan keduanya. celana dalam wonbin sedikitnya sudah tercetak noda basah dan juyeon merasa ada rembas hangat yang jatuh ke boksernya.

"bina pipis?"

yang ditanya melenguh, sebelum menganggkat pinggulnya sedikit lebih tinggi untuk jauh dari gesek memabukkan, "tadi keluar sedikit, ini lagi bina tahan,"

juyeon refleks menggeram dan menggigit bibirnya, tak menyangka perkataan yang lebih kecil terdengar begitu jorok pun seksi di waktu yang bersamaan. pening keduanya begitu ingin untuk segera dipertemukan, dan wonbin kegirangan saat melihat bagaimana juyeon menarik pinggulnya untuk kembali memberi pijat pada kemaluannya yang terlampau becek.

"ah anjing,"

mendengar serapah seperti sirine bagi wonbin untuk semakin gencar menggesek, keduanya senang bermain, keduanya senang menggoda, maka wonbin tak ingin berhenti sampai ia merasa puas. si gadis lalu mengeluarkan tegang juyeon dari balik bokser, milik juyeon diberi pijat sebentar sebelum diposisikan kembali berada pada kemaluannya. wonbin memastikan kalau tegang tak menyentuh bibir vaginanya langsung, hanya dari balik celana dalam beceknya.

aksinya sukses membuat kepala juyeon terlempar ke belakang. digesekkan pada sekitar klitoris dan pintu liang membuat keduanya mendesah bersamaan. lalu wonbin membuat gerak memutar dengan pinggulnya, sensasi gila yang begitu keduanya senangi. pinggul wonbin dicengkram juyeon kuat, membantu yang lebih kecil semakin liar bergerak, mengantar keduanya pada nikmat dunia.

"mas juyeon juga gak tahan kan? ayo masukin," 

lalu dalam sekali hentak juyeon membalik keadaan, tubuh wonbin kini terkukung di bawahnya, "lu gila," kata juyeon sebelum melepas bokser dilanjut celana dalam keduanya, kaki wonbin diangkat sampai hampir terlipat dua, memperlihatkan dua liang berkedutnya yang begitu cantik.

vaginanya lalu ditepuki dengan tegang juyeon, refleks pinggul si gadis bergerak untuk menggoda yang kepalanya sudah terlihat begitu banyak mengeluarkan precum, bibir tebalnya digigit untuk menggoda juyeon agar lebih cepat menyetubuhinya, dibalas juyeon dengan remas kencang pada dadanya.

"mas!" wonbin memekik keras, "kok di belakang?" ia protes kala kepala tegang malah menyundul liang belakangnya, juyeon tak menjawab, fokus mendorong masuk miliknya ke lubang belakang wonbin.

si gadis mau tak mau menerima, kepalanya mulai terlempar ke belakang dengan tubuh yang melengkung. anal beads kemarin tak ada apa-apanya dibanding besar tegang juyeon sekarang. sehingga liangnya butuh merenggang lebih banyak agar milik juyeon dapat masuk.

“sempit banget,” juyeon semakin menekan, wonbin mengintip bagaimana dinding lubangnya menempeli tegang yang begitu besar. terlampau pelan untuk ia telan membuat wonbin membuka lebar mulutnya tanpa suara yang keluar.

wonbin bernapas lega kala milik juyeon terbenam sepenuhnya, rasa gatal mulai menghampiri vaginanya karena tak disentuh. lalu ia membawa dua jarinya untuk bermain pada klitorisnya yang sudah sensitif, menghilangkan rasa gatal akibat tak lagi diberi nikmat.

sigap juyeon menyingkirkan tangannya, dicekeram kuat oleh si pemuda tepat di atas kepalanya, “gak boleh pegang,” lalu wonbin hampir merengek, “bina gak bisa keluar kalo mas mainnya di belakang,” protes wonbin malah mendapat hentak kuat dari juyeon.

refleks yang lebih muda mengerang nyeri, benda tumpul menekan tepat prostatenya, “enak?” lagi, juyeon menghentak sekali lagi membuat tubuh yang lebih kecil sedikit terpantul.

“enak kan? bina pasti bisa keluar,”

lalu kalimat juyeon seakan senandung bagi wonbin. rasanya begitu menyiksa karena ia tidak dibiarkan menyentuh beceknya, namun laun gadis itu dapat merasakan bagaimana nikmat kala prostatenya terus-terusan diberi hujam. wonbin melenguh keenakan, mulai ikut bergerak selaras dengan tempo pinggul juyeon.

ahh! iya gitu cantik,” wonbin mengetat begitu hebat, tangannya meremas payudaranya sendiri untuk merangsang permainan, lalu kembali disingkirkan oleh juyeon dan diganti oleh tangannya. remasnya sama sekali tidak memperlambat tumbuknya di bawah sana. justru semakin kencang bersamaan dengan alun desah wonbin yang semakin vokal.

juyeon menggeram tertahan tepat di pundak wonbin, remas wonbin lebih kuat pada bagian belakangnya membuat juyeon merasa tegangnya bisa jadi putus kalau ditempeli sebegini hebatnya.

“bina, mas mau keluar,” juyeon yang lebih dulu menyerah, remat oleh liang belakang jauh lebih memabukkan. pemuda itu hanya butuh beberapa kali lagi hentak untuk mengelurkan putihnya.

“di dalem mas,”

geram kencang menjadi tanda bahwa wonbin sudah merasakan leleh hangat di dalam tubuhnya, membuat si gadis ikut menyemburkan seninya deras. wonbin puas karena akhirnya diisi oleh mani, belum lagi melihat bagaimana juyeon begitu tampan dengan wajah yang memerah keenakan karena berhasil diberi nikmat olehnya.

juyeon masih menetralkan deru napasnya karena hari ini dirinya keluar begitu banyak. memang pada akhirnya pemuda itu yang akan merindukan remat liang wonbin pada tegangnya. sehingga dibenamkan pada liang penghisap tak berapa lama sudah cukup membuatnya sampai pada nikmat dunia.

sejujurnya juyeon akan selalu memiliki tenaga lebih untuk menyetubuhi si gadis, namun kalau diberikan sekarang damba keduanya mungkin bisa jadi tak puas di kemudian hari. maka juyeon memutuskan untuk tetap pada rencana awalnya.

“besok ya cantik,” katanya mengecup sisi wajah si gadis, “besok mas janji bakal pake memek bina gak berenti,” dan wonbin hanya bisa mendesah pelan, mengangguk menyetujui.

Day 6

hari keenam, juyeon meminta wonbin untuk minum air putih yang banyak dan menahan inginnya untuk buang air kecil. sebelum telungkup di tempat tidur, wonbin minum air putih dari gelas panjang, pahanya sempat bergetar karena kandung kemihnya terasa penuh, namun sebisa mungkin masih ditahannya kuat.

punggung yang lebih kecil dikecupi, diberi jilat panjang juyeon dari tulang ekor sampai ke lehernya. lenguh wonbin teredam bantal empuk, si gadis selalu suka dengan permainan menjilat yang juyeon lakukan. kecup juyeon semakin turun, hingga pada bongkah padat tak ada lagi pergerakan. wonbin memiringkan kepalanya untuk melirik si anak majikan, yang ternyata terngah terpaku dengan bagaimana tubuh wonbin begitu cepat membawa miliknya untuk tegak sempurna, putih, mulus, bersih, dengan bercak merah muda manis dibeberapa sisinya.

"cantik banget," satu tamparan mendarat tak seberapa kencang, lalu diikuti tamparan lain, lagi, lagi, lagi, suaranya kian nyaring dan wonbin menjerit kegirangan.

pipi bokong si gadis dilebarkan, memperlihatkan liang kerutnya yang bersih begitu memikat, satu jari didorong juyeon masuk hanya untuk ia keluarkan kembali, merasa bagaimana liang belakang wonbin kini sudah lebih mudah merenggang melebihi hari kemarin.

detik selanjutnya wajah juyeon dibenamkan di antara dua bongkah kenyal milik wonbin. lenguh panjang lolos begitu mudah. pemuda itu menghirup dalam aroma yang menyeruak dari sana tanpa ada rasa jijik. wonbin merinding, aksi juyeon membuat darahnya berdesir semakin ingin. basah dari jilat juyeon dirasakan wonbin mulai dari liang depannya sampai ke belakang, terus diulangi sampai lenguh pelan berubah erang keenakan.

wonbin bergetar, tanpa ia tahu sedikit demi sedikit seni keluar perlahan. lalu vaginanya ditekan kuat oleh telapak juyeon agar berhenti menyembur, “jangan keluar dulu,” katanya sesekali menepuk. wonbin menarik napas panjang, menahan seninya yang bisa jadi kapan pun akan mengalir kalau warasnya tak lagi bisa ditata.

sungguh, liang vaginanya semakin gatal, ingin rasanya cepat disentuh oleh apapun itu. si gadis sedikit bergerak, membuat area wanitanya bergesekan dengan seprai tempat tidur.

dalam sekali hentak juyeon membalik tubuh wonbin, kakinya dibawa untuk terangkat dan disampirkan pada bahu tegapnya. lenguh halus terdengar dari bilah tebal si gadis kala juyeon mengusapi paha dalamnya, memberi betisnya beberapa kali kecup basah memabukkan.

gilanya si anak majikan sekarang adalah mengulum jari kakinya, “mas juyeon jorok!” pekik wonbin mencoba menarik kakinya, namun cengkeram juyeon kian kuat pada pergelangan kakinya. ia semakin asik memberi hisap pada masing-masing jari kaki wonbin.

ragam ekspresi yang juyeon perlihatkan begitu menggoda, hisap juga jilatnya sukses merangsang wonbin, membuat vaginanya semakin gatal dan terus mengeluarkan lendir. jilatan panjang ia lakukan mulai dari pergelangan kaki naik ke betis sampai paha dalam, lalu menjilat lama pada vaginanya yang basah, terus naik sampai ke pusar dan dadanya, lehernya diberi sesap kuat sebelum mendarat di ranum tebal si gadis. semua dilakukan pemuda itu dengan tempo yang terlampau lambat dan dalam satu jilatan tanpa putus.

wonbin mendekap juyeon untuk memperdalam ciuman, keduanya bercumbu seperti kesetanan, lalu tubuh wonbin dibawa untuk duduk dipangkuan yang lebih besar, tangan besarnya mencari basah di antara paha si gadis, memberinya usap dan tepuk yang dihadiahi wonbin dengan erang tertahan.

“ah anjing becek banget,” juyeon berucap di depan bilah tebal wonbin, semakin tersulut panas karena rangsang yang diberikan begitu nikmat.

pinggul wonbin tak bisa diam kala merasa milik juyeon terus menyundul vaginanya dari balik celana dalam si pemuda, tubuh yang semakin dirapatkan juga gerak pinggul yang semakin gila membuat wonbin menarik milik juyeon untuk keluar dari sarangnya.

geram seksi lolos dari bibir si pemuda, membuat wonbin tersenyum miring dan mulai menggenggam kuat milik juyeon, sebelum tangannya dibawa naik dan turun. keduanya saling menggoda, juyeon dengan dua jari yang mulai mendorong masuk ke liang wonbin dan si gadis yang sudah mengurut tegak si pemuda.

ibu jari juyeon mencari klitoris wonbin, memberi gerakan menggesek kencang yang sukses membuat perut wonbin melilit nyeri menahan seninya yang siap menyembur, “mau pipis,” ucapnya dengan napas putus-putus, begitu sulit barang untuk mengambil napas.

akhirnya. akhirnya yang menjadi inginnya pun diberikan, juyeon mengarahkan tegangnya di depan pintu liang vagina. wonbin membuka mulutnya tanpa suara, pinggulnya terangkat untuk ia bawa semakin turun agar tegang dapat ditelannya secara sempurna.

“turun pelan-pelan cantik,” pandu juyeon mendapat lenguh panjang dari si gadis.

lalu kala penis si pemuda terbenam sepenuhnya di dalam liang, wonbin menyembur seninya begitu deras, “ngahh!” suaranya begitu cabul karena nikmat dari tegang sungguhan milik si anak majikan adalah yang ia damba melebihi hari-hari sebelumnya, maka kala diberi tubuh wonbin seakan tak mampu bertahan lebih lama.

"belum mulai, tapi kamu udah kencing banyak banget," keduanya melenguh bersamaan, seni wonbin tak hentinya menyembur, membasahi tubuh bagian bawah keduanya, mengalir terus sampai rembas ke seprai, "tahan, jangan dikeluarin semua," juyeon memberi gerak mengurut pada pinggul yang lebih kecil, menunggu sampai getar tubuh wonbin lebih tenang.

wonbin merasa milik juyeon begitu besar, padahal ia sudah direnggangkan oleh lima jari sampai ke pergelangan si anak majikan, namun menelan tegangnya sekarang masih begitu sesak dirasanya. besar juyeon yang menyumpal seluruh liangnya sudah cukup membuat tubuh wonbin ingin mengelurkan seni lagi, ia yakin pelepasan keduanya tak akan berjeda lama.

ahh- mas aku gerakin,” wonbin membuat gerakan memutar oleh pinggulnya, juga memberi pijatan pada tegang juyeon di dalam tubuhnya dengan otot liang. sahut geram dan lenguh keduanya membuat persatuan di bawah sana terasa semakin panas.

wonbin bergerak naik dan turun, membawa tegang milik juyeon untuk keluar lalu memasukkannya kembali. semua geraknya dilakukan begitu pelan agar mereka sama-sama merasa puas. tangannya yang bertumpu pada pundak si pemuda sekaligus menahan pinggulnya untuk bergetar lebih banyak. juyeon hanya menyaksikan, merekam bagaimana ekspresi memikat diperlihatkan si gadis terus-terusan seakan begitu sulit baginya untuk meninggalkan nikmat dunia.

lalu satu gerakan mendorong membuat tubuh wonbin kini terbaring. kakinya diangkat juyeon begitu tinggi, si pemuda bertumpu dengan lututnya, pinggulnya diangkat sepenuhnya agar tegangnya dan liang wonbin masih sejajar. dua kaki wonbin dicengkeram bak kemudi, lalu detik selanjutnya gerak yang lebih tua begitu gila sampai wonbin menjerit dihujam nikmat.

masuk terlalu dalam mencolek yang terdalam, warasnya luruh entah kemana. panas tubuhnya sudah berpusat di kemaluan, terus digesek juyeon dengan tegang berkedut yang membuat vaginanya mulai nyeri karena masih menahan pelepasan.

“mas juyeon- ngh! bina boleh keluar?” pintanya begitu manja, dan juyeon tak pernah sebegini inginnya disiram kencing si gadis tanpa henti, “boleh cantik, keluarin yang banyak,”

lalu tekan juyeon pada bagian di antara perut dan vaginanya sukses membuat si gadis mengeluarkan cairan ringan yang tertampung terlampau banyak dalam kandung kemihnya. mengalir deras terpercik begitu kotor membangkitkan gairah keduanya.

juyeon semakin tinggi mengangkat pinggul wonbin, hingga si gadis hampir terlipat dua, menyebabkan seninya ikut mengucur membasahi wajah cantik. jorok, wonbin merasa begitu jorok karena baru saja merasa seninya sendiri, namun debar girang di dadanya sama sekali tak bisa ia tahan.

wonbin tak pernah menyangka kalau dirinya akan senang diperlakukan seperti bintang porno yang terus mengucur kencing padahal sudah dihujam kesekian kali.

“kencing terus cantik,” juyeon masih setia bergerak di dalam, sesekali telapak besarnya menepuk vagina wonbin yang masih menyembur seni. laun semburnya melemah dengan lenguh lega dari si gadis. wajah serta rambutnya sudah kuyup keseluruhan, dan juyeon tak pernah merasa seseorang bisa sedemikian memikat menyulut libidonya untuk terus bergerak.

juyeon menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah wonbin. entah pikiran gila dari mana, si pemuda memberi jilatan panjang pada sisi wajah wonbin, merasa seni si gadis dari wajahnya yang cantik berakhir dengan keduanya yang mempersatukan bibir dalam cumbuan panas.

"mas u-udah," wonbin menahan pinggul juyeon kepayahan, gadis itu terpantul pasrah, namun juyeon seakan baru saja dihinggapi hewan liar. maka penisnya dikeluarkan keseluruhan hanya untuk ia masukkan kembali dengan hentak kuat dan bunyi nyaring akibat kulit keduanya yang bertemu.

tiba-tiba tubuh si gadis dibalik dalam sekali hentak, pinggulnya terangkat begitu tinggi, posisi menungging memperlihatkan jelas dua lubangnya yang becek. lalu tanpa rasa jijik juyeon menjilat dari liang depan sampai liang belakang dalam satu jilatan panjang tanpa putus.

milik juyeon yang masih tegang sempurna menerobos masuk kembali ke liang vagina si gadis. tempo geraknya tak melemah dibanding menit sebelumnya. terus menghentak titik terdalam dengan kuat, wonbin tak yakin tujuan pemuda itu hanya untuk mencapai putih, yang lebih tua jelas ingin wonbin mengingat dan semakin mendamba segala gerak memabukkannya.

lalu tiga jari juyeon dengan berani didorong masuk ke lubang belakang wonbin, "AH MAS!" si gadis menjerit, dua lubangnya diisi penuh, matanya mulai memutar ke belakang keenakan. wajahnya terjatuh ke bantal dengan genang basah akibat seninya.

"seksi banget sayang, enak?" juyeon terus menampar bokong wonbin dengan tangan kanannya, sedang tangannya yang lain masih sibuk bergerak liar di lubang belakang si gadis. bokong wonbin sudah berubah kemerahan, ia hanya bisa mengerang tak beraturan dicampur jerit yang semakin membuat juyeon bergerak tak kenal henti.

pinggul wonbin bergetar hebat, lalu hangat kembali dirasa keduanya mengalir dari liang si gadis. lagi, gadis itu kembali membuang seninya, mengucur deras membasahi tubuh keduanya dan jatuh ke seprai. genang air seni di kasur mulai mengeluarkan bau pesing, namun sama sekali tak membuat juyeon menghentikan permainannya.

“ah bangsat,” pemuda itu menyaksikan dengan pinggulnya yang masih bergerak memutar, si gadis sudah begitu lemah, tubuhnya tak yakin sanggup menerima gerak juyeon di dalam vaginanya yang sudah merah merekah. sedang warasnya berusaha untuk tetap merekam bagaimana permainan panas keduanya malam ini mirip seperti video porno yang sering ditontonnya.

“bina pinter banget bisa tahan sampai hari ini,” diberi puji membuat wonbin semakin erat mencengkeram milik juyeon di dalamnya, menyalurkan nikmat yang hampir seminggu terakhir terus wonbin terima.

juyeon menarik miliknya keluar keseluruhan, pinggul wonbin masih ditahan untuk tetap pada posisi hanya untuk ia lebarkan kemaluannya, melihat bagaimana menggodanya karya yang sudah ia torehkan pada kemaluan yang lebih kecil.

lalu kala cengkeram juyeon menghilang dari pinggulnya, tubuh wonbin langsung jatuh ke tempat tidur. si gadis meringkuk terlihat begitu ringkih, tahu harinya tidak akan berhenti sampai di sini. ia memasok napas begitu panjang, menetralkan debar jantungnya, dan mempersiapkan diri untuk gila juyeon selanjutnya.

"tunggu sebentar," juyeon berdiri, mengambil dildo yang beberapa hari lalu keduanya gunakan untuk menyenangkan permainan. juyeon mengambil lendir wonbin dengan telapak tangannya untuk ia baluri pada permukaan benda karet.

kaki wonbin dibuka begitu lebar, terlihat banyak bercak kemerahan ditubuh si gadis. cantik, wonbin selalu bisa menyulut gairah bercintanya, lalu dildo di tangan juyeon mulai dibawa masuk ke lubang vagina si gadis. terlampau sensitif karena begitu banyak dikerjai, wonbin merespon dengan getar, maniknya menatap lekat juyeon yang setannya masih memengaruhi, "mas u-udah," ucapnya kesulitan.

lalu juyeon mengusap surai lepek si gadis, mengecupi pipinya lembut, "kencing sekali lagi ya cantik," katanya sambil berbisik, gerak dildo di bawah sana diberi juyeon begitu pelan.

"sampai bina kencing sekali lagi dan mas juyeon keluar," satu jilatan panjang pada cuping telinga dan kecup pada pipi sebelum juyeon melanjutkan, "abis itu udah, janji," manik si gadis ditatap penuh damba, lalu wonbin mengangguk menyerah, wajahnya dikecupi juyeon sebelum dibawa untuk kembali luruh dalam lumat basah.

maka setelahnya juyeon mempercepat gerak dildo pada liang wonbin, gilanya dildo tersebut ditarik keseluruhan dan berpindah ke lubang belakang, ditarik lagi keseluruahn lalu berpindah ke lubang depan, begitu terus sampai dua lubang si gadis semakin merah dan bengkak.

wonbin bisa saja jadi lebih gila kalau tak lagi diberi sungguhan, ia ingin segera menuntaskan, benda karet sama sekali tak membuat si gadis puas, “mas juyeon masukin,” pintanya manja, tangannya meyangga kakinya untuk terangkat dan terbuka semakin lebar.

juyeon tanpa berpikir lebih lama kembali melesakkan tegaknya pada liang depan si gadis. sedang benda karet dibiarkan tersumpal di lubang belakang. wonbin menjerit keenakan, tubuhnya melengkung sempurna, diisi dua benda di kedua lubangnya membuat gadis itu siap menyembur detik itu juga.

ngahhh- mas juyeon,”

wajah wonbin dilihat juyeon terlampau merah, ia tahu yang lebih kecil tengah menahan pelepasan. maka juyeon menyangga beratnya dengan lutut, tubuhnya dibawa sedikit lebih terangkat sebelum menggempur liang becek si gadis bak hewan liar.

terus, terus, temponya sama sekali tak melemah, erang dan geram keduanya memenuhi kamar yang pendinginnya sama sekali tak terasa. geraknya hilang kendali hanya untuk menjemput putih juyeon yang sejak tadi belum keluar.

cengkeram otot liang wonbin melemah membuat benda karet lepas, lalu juyeon membawanya kembali masuk “tahan di dalem,” refleks wonbin mengetatkan otot liangnya baik depan maupun belakang, membuat geram juyeon semakin kencang karena dijepit oleh dinding si gadis.

good girl, pinter banget cantik,”

juyeon melipat tubuh wonbin menjadi dua. penisnya kian menancap di dalam, pinggulnya semakin mudah digerakkan semakin gila. terus, juyeon mulai tak peduli dengan erang sakit yang diterima wonbin karena penisnya menekan kuat begitu dalam, ditambah sumpal dildo di lubang belakang membuat dua liangnya terasa begitu dimanja, dibuka begitu lebar siap memakan habis apapun yang masuk ke dalamnya.

hentak juyeon dengan pinggulnya diikuti erang keenakan si pemuda membuat wonbin kembali siap mengeluarkan seninya. lalu entah pada hitungan keberapa, wonbin tak lagi bisa menahan seninya, terlampau deras membuat penis juyeon dan dildo terlepas dari cengkeram liangnya.

"mas juyeon," nama juyeon tak hentinya wonbin sebut dengan lena.

sedikit lagi, si pemuda lalu kembali masuk, sedikit lagi ia hampir sampai. maka hentak juyeon diiringi sembur seni wonbin yang tak henti membuat ia akhirnya berhasil menghangatkan liang merah merekah di gadis.

beberapa kali hentak dilakukan juyeon untuk mengosongkan dirinya dalam wonbin, entah berapa banyak yang dapat juyeon keluarkan karena leleh di dalam lubang si gadis tak henti menghangatkan dinding vaginanya. juyeon ambruk menimpa wonbin, tegaknya masih di dalam hangat si gadis, diberi gerakan mengurut oleh dinding yang sudah tersiram putih.

“mas mau pipis,” ucap juyeon pelan di samping telinga wonbin. yang lebih kecil tak sempat bereaksi saat air yang lebih ringan membasahi liang, bercampur dengan mani dan seninya yang sudah merembas ke seprai biru tua.

keduanya masih mengeluarkan desah pelan keenakan, merasa bagaimana sensitifnya kemaluan mereka. bau pesing sudah mulai tercium akibat permainan gila, bercak basah bagai pulau kecil terlihat di tengah tempat tidur karena keduanya yang tak henti mengeluarkan seni. jorok, kotor, tak ada pikiran lain selain ingin segera membersihkan diri.

“besok mas mau ajak temen-temen mas kesini, biar bina banyak yang pake,”

tak sempat berpikir apalagi menjawab, wonbin hanya melihat hitam setelahnya.

Notes:

Thank you for reading. Find me on X

Series this work belongs to: