Actions

Work Header

Masih Jadi Musuh

Summary:

Anton dan Wonbin di Kamar Mandi Sekolah

Notes:

masih 1 timeline sama cerita sebelumnya (katanya musuh, tapi kok?)

enjoy reading ^_^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“liat tuh, Wonbin bikin ulah lagi!”

Suara teriakan terdengar dari luar kelas, bikin Anton spontan nengok ke sumber suara. Duh, dia lagi. Anak-anak sontak pada keluar kelas, mau lihat pertunjukan apa lagi yang dibuat sama kakak kelas mereka, Park Wonbin. Sementara Anton tetap bersikap acuh tak acuh, memilih untuk menelungkupkan kepalanya di atas meja seakan tidak tertarik.

“gila ton, dia abis ngasih puisi buat karina anak ipa 1. Kayaknya sih puisi cinta,” Yushi teman sekelasnya, duduk dihadapannya, menceritakan apa yang dia lihat tadi.

“oh, gitu” Anton menjawab dengan masih menelungkupkan kepalanya di atas meja.

“lu kenapa sih kayak gak tertarik gitu? Orang-orang sekarang lagi pada ngomongin Wonbin semua” Yushi menatap Anton heran.

Yang ditanya hanya menanggapi dengan diam. Dia mengangkat kepalanya dengan ekspresi malas dan lapar yang terpancar dengan jelas dari wajahnya.

Pada saat jam istirahat, Anton bergabung dengan teman-temannya untuk pergi ke kantin. Seperti yang udah dijelaskan, Anton adalah murid yang terlihat biasa-biasa saja selayaknya anak sekolahan pada umumnya.

“ton, nitip soto ya kayak biasa!” ujar Sohee, teman sebangkunya. Anton mengangguk dan pergi untuk mengantri.

Bruk

Seseorang menyenggol bahunya, ngebuat es teh yang dipegang orang itu tumpah, ngebasahin seragam dia. Anton nengok ke arah orang itu, dia baca nametag yang ada diseragamnya, Hong Seunghan. Oh, temennya Wonbin rupanya.

“kalau jalan, pake mata dong!” teriak Seunghan tiba-tiba.

“yang nabrak gua duluan perasaan lu deh kak, jadi siapa yang salah?” balas Anton sambil ngelirik kebawah, ke arah orang yang abis neriakin dia.

“oh, lu berani?” Seunghan tarik kerah seragamnya, namun sebelum dia bisa bereaksi, ada orang lain yang menarik tangannya Seunghan.

“udah-udah, minta maaf seunghan, tadi kan emang kamu yang nabrak karna gak liat jalan” itu Wonbin, pahlawan kesiangan kita semua. Seunghan melepaskan genggaman Wonbin -dengan sedikit kasar- lalu pergi bergitu saja meninggalkan mereka.

“maafin seunghan ya, nih pake sapu tangan buat bersihin seragam kamu,”

Anton diam.

“atau mau pake seragam aku? Aku ada seragam olahraga di loker”

“gak usah, gak apa-apa” Anton tarik longgar dasinya, marah. Sebelum berjalan menjauhi Wonbin, dia kembali berbicara “urusin dulu tuh anggota lu kak,”

Dengan langkah terburu-buru, Anton keluar dari kantin, diikuti oleh Sohee dari kejauhan, yang kayaknya ngebuat rencana mereka batal untuk makan di kantin. Pinjemin seragam dia? kayak bakal muat aja.

Habis ada kejadian tadi, orang-orang dikantin pada berbisik. Kacau, Anton anak kelas 11 berani ngomong kayak gitu dihadapan Wonbin?

 

 

“ton, gak apa-apa?” Sohee bertanya dari luar pintu kamar mandi.

“duluan ke kelas aja sohee, nanti gua nyusul” jawab Anton.

“beneran, ya?”
“iya, santai aja”

Dengan itu, Anton mendengar langkah kaki Sohee menjauh. Dia menghela napas dan membuka bajunya yang- terasa lengket sekali.

Tok tok

“Sohee gua beneran gak apa-apa, ke kelas duluan a-”

“ini aku” sahut suara dari luar pintu.

ceklek

Pintu kamar mandi dibuka, menampakkan Park Wonbin dengan seragam di tangannya. sebelum Anton bisa bicara, Wonbin langsung menyela, “aku minjem punya jaehee”

Wonbin langsung aja masuk ke bilik kamar mandi.

Di mata Anton, Wonbin seperti binatang liar yang buas. Dia hanya suka memangsa, bukan dimangsa. Seperti sekarang, di kamar mandi sekolah. Genggamannya pada rambut yang lebih tua membuat mata itu mengintai Anton, seperti hendak memangsa targetnya. Anton suka itu.

Wonbin berdiri tegak di depannya, matanya yang tajam melirik ke arah Anton. Rambutnya yang hitam mengalir liar dibelakangnya. Dia menggerakkan tangannya perlahan-lahan menuju bahu Anton, membelai dengan lembut sebelum tiba-tiba menarik dan merenggut bibirnya dengan kasar. Anton menahan napasnya, merasakan kesenangan dan ketegangan saat dirinya menjadi mangsa dari sentuhan kasar Park Wonbin. karena demi tuhan, mereka lagi di kamar mandi sekolah.

Ini adalah permainan yang mereka mainkan, dimana Wonbin menunjukkan kebuasannya dan Anton yang menikmati peran lemahnya, Anton membiarkan Wonbin mengambil kendali,

Tangan Anton tidak tinggal diam, ia sibak seragam yang lebih tua, menampilkan kulit mulusnya, jemarinya menelusuri lekukan tubuh Wonbin. Anton merasakan detak jantungnya berdegup kencang ditengah ketegangan yang tercipta di dalam kamar mandi itu. Matanya terus memandang Wonbin, mencari tanda-tanda keinginan dan nafsu dibalik ekspresi wajahnya yang datar.

Wonbin merangkul Anton dengan erat, memaksanya mendekat. Wonbin menggerakan bibirnya perlahan, tersenyum ditengah-tengah ciuman mereka. Lalu Wonbin mengendurkan rangkulannya, dengan suara serak ia berkata “kamu tadi berani banget Anton, tapi sekarang kamu kayak anak kucing yang kehilangan induknya”

Anton merasakan adrenalin memenuhi tubuhnya, dia tahu permainan ini akan berakhir dengan satu pihak menyerah. Di balik pintu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Namun, di saat-saat seperti ini, mereka sepenuhnya tenggelam dalam dunianya sendiri, mengabaikan segala hal di sekitar mereka.

Anton penuh dengan perasaan campur aduk, dengan penuh kepastian ia membalas senyum licik yang terpampang di wajah sang predator. Tanpa berkata apa pun, Anton meraih tangan Wonbin dan mengalungkan tangan itu dilehernya, mengangkat tubuh itu dan menyudutkannya di belakang pintu. Sentuhan mereka yang intens menciptakan gelombang listrik yang melintasi tubuh mereka berdua. Anton berhasil mengubah posisi dominasi, membuat Wonbin terdiam sejenak karena kejutan, membuat keduanya semakin terjerat dalam permainan yang mereka ciptakan sendiri di kamar mandi sekolah itu.

Tangan Anton menelusup dibalik seragam Wonbin, ia pelintir puting yang udah mulai tegang itu. “ah hngh” aksi tersebut sukses buat Wonbin melenguh. Wonbin balas dengan memberi kecupan-kecupan di leher Anton, berusaha tidak meninggalkan tanda. Mereka berada dalam gerakan yang saling melawan namun juga saling mendukung, menciptakan dinamika yang begitu menarik.

Situasi semakin panas ketika Wonbin mendekatkan bibirnya ke telinga Anton, mengirimkan bisikan-bisikan yang menggelitik dan memicu sensasi yang mendalam di dalam diri Anton. Dia menikmati perannya sebagai objek yang terombang-ambing dalam kuasa Wonbin.

Anton secara impulsif menghentakkan tubuh mereka berdua, membuat kedua penis yang dalam balutan celana itu beradu, “Ah!” Wonbin menahan desahannya, ia gigit bibirnya kencang. Anton tidak biarkan itu, ia lumat kedua belah bibir itu kasar, penisnya tegang.

Dry humping. Dalam ciuman itu, desahan tertahan Wonbin keluar, dengan hentakan-hentakan tak beraturan yang diberikan Anton, “Ah! Nghh-AH!” Wonbin menjerit, penisnya juga tegang. Membuatnya mendongakkan kepalanya dan memperlihatkan pandangan sayu menahan nikmat. Mereka terdiam saat langkah kaki yang mendekat berhenti tepat di depan kamar mandi, namun ketika orang yang berjalan tersebut menjauh dari kamar mandi, Wonbin dan Anton kembali memandang satu sama lain dengan senyum yang kini tidak lagi bersembunyi.

Tiba-tiba, Wonbin merenggangkan jarak di antara mereka, menyiratkan akhir dari permainan tersebut untuk saat ini. Wonbin mengubah ekspresinya menjadi santai, sementara Anton mengatur kembali rambutnya yang sedikit berantakan akibat permainan tadi. Napas mereka masih terengah-engah, sementara tatapan mereka tetap terkunci satu sama lain dengan keinginan yang tersembunyi dibaliknya.

Dia tersenyum dengan puas, merasakan hasrat yang memenuhi di antara mereka. "Kamu selalu menarik untuk dimainkan, Anton," ucap Wonbin.  Anton hanya mengangguk, memberikan senyuman samar sebagai tanggapannya. Mereka tahu bahwa permainan mereka belum berakhir, dan ketegangan yang mereka rasakan hanyalah awal dari sesuatu yang lebih dalam dan menggairahkan di antara mereka.

Keesokan harinya, Anton datang ke sekolah seperti biasa. Dia berjalan menuju kelasnya sambil menggunakan earphone, melintasi lapangan sekolah. Dari kejauhan, Wonbin dan teman-temannya memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Namun ada satu yang pasti,

“punyaku” gumam seseorang diantara mereka.

 

Notes:

terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca ceritaku.
salam hangat •ᴗ•

let's be friends
twitter

Series this work belongs to: