Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-09-02
Updated:
2023-09-02
Words:
2,578
Chapters:
1/?
Comments:
5
Kudos:
5
Hits:
153

Tidurlah, Kazuma-san

Summary:

Makoto hanya tahu bahwa dia mencintai Kawamura Kazuma, namun beberapa hal baik memiliki harganya tersendiri.

Notes:

Terinspirasi dari lagu dengan judul Maafkan Aku oleh Enda U.
Beberapa bait saya cantumkan dalam cerita.
Sangat disarankan mendengar lagunya saat Anda membaca cerita ini.

Penulis cerita tidak mendapat keuntungan materiel dari cerita yang dibuat.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

“Tidurlah, Sayangku, mentari tlah menunggu, sambutlah pagi nanti dengan hati tersenyum. Bermimpilah, Cinta, dengan segenap rasa, kini tibalah saatnya kita harus berpisah …”

.

Hasegawa tersenyum melihat layer televisi di depannya, matanya tertuju pada seorang pria bertubuh mungil yang berdiri di tengah dua pria lainnya. Ya, yang dia tatap adalah kekasihnya, Kawamura Kazuma.
Kawamura adalah penyanyi dalam sebuah grup trio, dengan Riku dan Yoshino Hokuto sebagai rekannya. Tiga tipe suara yang berbeda berpadu dalam sebuah grup, mereka akhirnya memasuki masa keemasan setelah bertahun-tahun berjuang bersama. Bahkan, Kawamura mulai mendapat banyak perkerjaan selain bernyanyi, seperti bermain peran atau muncul dalam sampul majalah. Semua kerja kerasnya terbayar pada saat ini.
Hal ini tentu membuat Hasegawa bahagia, namum juga merasa getir pada saat yang sama.
Beberapa hal baik harus memiliki bayaran di belakangnya. Seiring dengan naiknya popularitas Kawamura, semakin banyak pula orang yang mengaguminya. Laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak, mereka mencintainya.
Kawamura selalu menunjukkan sikap dewasa, sopan, dan tenang. Dia adalah teladan bagi banyak orang. Dia tidak segan menegur atau bahkan meminta maaf jika beberapa hal tidak berjalan dengan semestinya. Bagi penggemarnya, dia adalah panutan.
Segala sisi Kawamura dicintai oleh penggemarnya. Namun, Hasegawa tidak yakin mereka akan menerima Kawamura yang dicintainya. Benar, Kawamura seorang gay.
Kekasih Kawamura hanyalah manusia biasa yang bekerja di sebuah kafe. Kafenya bahkan bukan tempat yang sangat besar hingga dikenal banyak orang. Kekasihnya hanyalah lelaki pemalu yang dengan berani mencintai seorang bintang sepertinya.

.

Pertemuan Kawamura dan Hasegawa terjadi tanpa disengaja.
Siang itu, pada shift Hasegawa, tiga orang pria masuk ke dalam kafe tempatnya bekerja. Satu pria berbadan kekar dan dua pria berbadan mungil, di mana satu pria mungil memiliki rambut pirang dan satunya memakai topi hitam. Mereka bertiga memilih duduk di tempat yang sedikit tertutup dari pelanggan lainnya.
Hasegawa yang saat itu senggang segera menghampiri meja tersebut. Ketiga pria itu memakai masker, Hasegawa bahkan sama sekali tidak bisa melihat wajah pria yang memakai topi. Namun, dia sudah terbiasa, beberapa pelanggan sangat menghargai privasi.
“Selamat siang, silakan daftar menunya. Silakan panggil saya apabila sudah siap memesan ...” Hasegawa tersenyum dan menyerahkan daftar menu pada masing-masing orang.
Pria dengan badan kekar menjawab terima kasih dengan suara lantang, sementara pria rambut pirang menjawabnya dengan anggukan.
Terkahir, pria yang memakai topi baru mengangkat wajahnya yang sejak duduk terfokus pada layar teleponnya saat Hasegawa menyodornya daftar menu padanya. Saat itulah mata mereka bertemu, hanya saja topi pria itu terlalu turun hampir mencapai matanya, Hasegawa bahkan tidak yakin pria itu membalas tatapannya.
Setelah pria bertopi menerima daftar menu, Hasegawa mempermisikan diri untuk meninggalkan meja.
Lima menit berlalu ketika meja dengan tiga pria tadi memanggil Hasegawa kembali. Hasegawa yang bersiap mencatat pesanan mereka merasakan tatapan dari pria mungil dengan topi, mungkin itu hanya perasaanya, Hasegawa tidak berani memastikan.
“Permisi, bisa saya catat pesanan Anda sekalian?” Hasegawa mengangkat pena dan kertas.
“Caffe latte …” Pria pirang mejawab terebih dahulu.
“Americano!” Pria kekar di sampingnya menjawab kemudian.
“…”
Hasegawa menunggu, namun tidak mendapat sahutan selanjutnya. Terheran, dia mengangkat pandangannya untuk melihat satu-satunya pria yang belum memberi keputusan, dan itulah kedua kalinya pandangan mereka bertemu.
Melihat pria itu masih membisu, Hasegawa tersenyum canggung.
“Ano, permisi …”
Hasegawa melihat pria kekar menyenggol pria bertopi dengan kakinya.
“Americano …”
“Ah, baik. Pesanan ini atas nama?”
“Ri-“
“Kawamura!”
Hasegawa terlonjak kaget. Bukan hanya dia, pria kekar yang baru akan mengucapkan nama dan pria pirang di sampingnya juga mengalami hal yang sama.
“Ah, Kawamura-san? Baik, mohon ditunggu …” Hasegawa mempermisikan diri kembali dan pergi dari meja tersebut. Namun, bahkan dengan langkahnya yang semakin menjauh, Hasegawa merasa tatapan seseorang di sana masih mengiringinya.

.

Setelah hari itu, beberapa kali Hasegawa mendapati bahwa pria bernama Kawamura berkunjung ke kafe tempatnya bekerja kembali. Seringnya seorang diri, terkadang bersama dua orang yang sama. Entah kebetulan atau bagaimana, Hasegawa selalu senggang saat Kawamura datang sehingga dia sering melayani pesanan Kawamura, atau bahkan jika bukan Hasegawa yang melayaninya, Kawamura selalu memanggil Hasegawa untuk meminta bantuan saat Hasegawa melewati meja Kawamura.
Untungnya Kawamura tidak menatapnya seperti saat pertama dia kemari, atau Hasegawa akan merasa takut padanya. Perlahan tanpa disadari, Hasegawa mulai akrab dengan Kawamura. Hasegawa bahkan akan langsung menebak pesanan Kawamura seperti, “Kawamura-san, pasti hari ini Americano kan?”, yang akan dijawab dengan kekehan geli Kawamura dan ucapan “Tepat sekali!” dengan suara yang lembut.
Lucunya sampai saat ini Hasegawa masih belum melihat wajah asli Kawamura tanpa masker. Posisi duduk Kawamura yang tersembunyi tidak membuat Hasegawa bisa melihat wajahnya ketika dia menikmati minumannya.
Sampai suatu siang, setelah beberapa percakapan Kawamura tiba-tiba bertanya pada Hasegawa.
“Hasegawa, apa dirimu tidak mengenal siapa aku?”
Hasegawa menatapnya bingung. Seberapa keras dia mengingat, dia tidak punya kenalan bernama Kawamura selain pria di depannya.
Saat itulah Kawamura melepas maskernya. Ini pertama kalinya Hasegawa melihat wajah Kawamura. Wajahnya lucu, kontras dengan suaranya yang dalam, wajah itu terlihat imut. Dengan mata berbentuk almond dipadukan hidung mungil bulat yang lucu. Hanya saja, meski Hasegawa terpesona, otaknya masih tidak mengenal siapa pria di depannya.
“Setidaknya jika bukan wajahku, apa dirimu tidak merasa pernah mendengar suaraku?” Kawamura melanjutkan.
Hasegawa melihat bahwa gigi Kawamura sangat cantik dan rapi, dan merasa dari segala hal, gigi Kawamura jauh lebih menarik. Namun tetap saja, dia tidak mengenal siapa pria ini.
“Ano …”
Melihat pria di depannya masih kebingungan, Kawamura mengulurkan ponselnya dengan layar menyala. Pada layar tersebuh Hasegawa melihat foto Kawamura bersama dua pria lain yang sering bersamanya. Ketiganya berdiri di atas panggung dengan latar belakang bertuliskan “The Rampage”.
Hasegawa menganga dengan tidak elitnya.
Sejujurnya, Hasegawa pernah mendengan nama grup vocal The Rampage, namun musik bukanlah minatnya, jadi dia tidak pernah merasa harus repot-repot mencari tahu tiap grup musik yang ada.
Tiba-tiba Hasegawa merasa tidak nyaman, dia takut menyinggung Kawamura. Sebab dengan fakta tadi, tentu Hasegawa masih tidak mengenal Kawamura.
“Maafkan aku, aku …”
“Tidak apa-apa! Bagaimanapun kami belum menjadi grup yang terkenal untuk bisa dikenal semua orang!” Kawamura menyela pemintaan maafnya yang terdngar sangat menyedihkan. Bahkan suaranya terdengar ringan dan menyenangkan, dia bahkan terkekekh kecil. Namun justru membuat Hasegawa semakin merasa tidak enak.
“Bukan, bukan begitu!” Hasegawa membalas dengan panik. “Aku bukan orang yang suka menikmati musik, bahkan daftar lagu di gawaiku sangat ketinggalan zaman! Musik yang kudengarkan hanya berputar di lagu-lagu itu, bukan karena Kawamura-san belum terkenal atau semacamnya! Itu benar-benar salahku! Tolong maafkan aku …”
Melihat reaksinya yang panik, Kawamura tertegun untuk selanjutnya tertawa dengan keras. Hasegawa terdiam, merasa bodoh dan malu.
“Baiklah, aku akan memaafkanmu jika dirimu mendengarkan satu album kami. Aku akan bertanya lagu apa yang Hasegawa sukai pada pertemuan kita berikutnya!”
Hasegawa mengangguk dengan patuh.
Dari sanalah Hasegawa mulai mendengarkan lagu-lagu The Rampage. Suara ketiga orang ini sangat bagus, namun sekali lagi, Hasegawa bukanlah orang yang suka mendengarkan lagu, ditambah genre yang dibawa The Rampage bukanlah genre yang biasa dia dengarkan. Namun demi janjinya pada Kawamura, dia mendengakan banyak lagu The Rampage dan mencoba menemukan satu lagu yang menarik untuknya.
Tidak terasa seminggu hampir berlalu sampai Hasegawa melihat Kawamura kembali. Kawamura datang ketika shift Hasegawa hampir selesai.
Ketika Hasegawa bermaksud memberi tahu Kawamura tentang lagu yang dia dengarkan, Kawamura menyela ucapannya dengan berkata “Aku akan mendengakan pendapat Hasegawa setelah aku selesai dengan hidanganku dan membayarnya!”
Hasegawa menutup mulutnya rapat. Itu artinya Hasegawa harus menunggu sedikit lebih lama dan tidak bisa langsung pulang setelah shift-nya berakhir.
Setengah jam kemudian, Hasegawa telah selesai bekerja dan mengganti pakaiannya. Hasegawa yang baru keluar dari pintu karyawan melihat Kawamura berdiri dan bersiap membayar pesanan. Hasegawa menghampirinya.
“Kawamura-san, sudah selesai?”
“Hmm, ayo kita berjalan sebentar …”
“Baik.”
Perjalanan mereka diisi oleh Hasegawa yang menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Kawamura hanya tersenyum dari balik maskernya dan sesekali terkekeh kecil saat Hasegawa terlalu menggebu-gebu. Hasegawa berjanji akan terus mengawasi dan mendukung The Rampage di masa depan.
Di akhir perjalanan mereka, tiba-tiba Kawamura berkata, “Beri aku kontak LINE-mu, akan kuberitahu kapan kami akan mengadakan konser kecil agar dirimu bisa mengosongkan jawal dan datang untuk menonton kami …”
Sebenarnya Hasegawa merasa tidak perlu, namun entah karena dia merasa tidak enak atau terlalu baik hati, dia mengiyakan saja dan bertukar informasi LINE dengan Kawamura. Dari sana Kawamura meminta dirinya berhenti memanggilnya ‘Kawamura’, dan mulai memanggilnya ‘Kazuma’. Kawamura sendiri memanggil dirinya Makoto.
Mereka lebih terhubung sejak saat itu. Entah siapa yang memulai, hubungan antara waiter cafe dan pelanggannya berubah menjadi hubungan sepasang kekasih.
Kawamura juga meminta Hasegawa untuk pindah ke tempat tinggalnya, agar mereka lebih mudah untuk bertemu dan saling melepas rindu. Kawamura ternyata adalah pria manja yang gemar memeluk Hasegawa, dia akan memeluk pria yang setengah kepala lebih tinggi darinya itu dan menggosokkan wajah ke dadanya.
Sebelum tidur Kawamura akan memandangi wajah Hasegawa yang memiliki posisi tidur seperti bayi. Bermain-main dengan hidung Hasegawa dan dengan gemas berkata bahwa dia sangat ingin menggigit hidungnya. Akhirnya Hasegawa harus menarik Kawamura ke pelukannya dan mendekapnya dengan erat agar Kawamura berhenti bermain dan berbicara aneh-aneh. Kawamura yang sudah tertangkap akan berhenti dan menggunakan tangan serta kakinya untuk memeluk Hasegawa seperti boneka. Hal ini terjadi hampir setiap hari sampai-sampai Hasegawa berpikir bahwa Kawamura sengaja melakukannya agar dia bisa tidur dipelukannya.

.

“Makoto, aku pulang …”
“Selamat datang di rumah, Kazuma-san …”
Hasegawa merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh Kawamura yang ambruk di pelukannya. Kawamura menutup matanya dan mulai menghirup aroma tubuh Hasegawa dalam-dalam, seakan ini adalah obat untuk rasa lelahnya seharian.
Hasegawa membiarkan Kawamura menikmati waktunya, baru setelah dirasa beban di tubuhnya semakin berat, Hasegawa memanggil Kawamura yang akan tertidur sambil berdiri.
“Kazuma-san, jangan tidur! Bangun dan bersihkan dulu dirimu! Sudan makan malam? Kalau belum aku akan memesankan sesuatu untukmu …” Hasegawa mengguncang tubuh Kawamura lembut.
“Hmm, aku tidak tidur dan sudah makan dengan Riku-san serta Hokuto tadi …” Kawamura menjawab namun belum mengangkat dirinya dari tubuh Hasegawa.
“Kalau begitu bersihkan dirimu dan segera tidur, pasti lelah sekali kan?” Hasegawa mencium puncak kepala Kawamura.
“Beri aku satu ciuman dan aku akan mandi!” Kawamura mengangkat wajahnya dan menatap Hasegawa.
“Tidak, aku tidak akan mencium anak yang belum mandi!” Hasegawa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
“Makoto …” Kawamura menatap Hasegawa dengan mata berkaca, bagaikan puppy yang ingin dimanja pemiliknya. Kawamura jenis ini yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun kecuali kekasihnya yang lebih muda,
Hasegawa tersenyum lembut dan mendekatkan wajah. Kawamura sendiri tersenyum senang karena keinginannya terkabul lalu mulai menutup mata. Namun, ciuman yang dia tunggu tidak kunjung tiba, hampir saja dia membuka mata ketika sentuhan hangat jatuh di dahinya yang tertutup poni.
Hasegawa menciumnya lama. Rasa hangat di dahi menjalar sampai pada hatinya. Kawamura entah mengapa ingin menangis, dia memeluk Hasegawa lebih erat.
Hasegawa perlahan melepaskannya.
“Nah, aku sudah mencium anak yang tidak mau mandi ini, apa sekarang energinya sudah kembali terisi? Kalau iya, segeralah mandi karena aku tidak tahan dengan anak yang bau …” Hasegawa menjauh dengan senyum main-main.
Kawamura terpana sesaat lalu cemberut. Hasegawa sangat tau bagaimana cara menghadapinya.
“Baiklah Hasegawa-sama yang lebih mencintai kebersihan daripada kekasihnya sendiri …”
Kawamura mulai berjalan ke kamar sembari bercerita kegiatannya hari ini. Mulai dari pemotretan dan wawancara untuk majalah. Menjawab pertanyaan yang sebenarnya pernah ditanyakan sebelum-sebelumnya, seperti apa kesannya tentang dua anggota The Rampage yang lain, atau tipe gadis seperti apa yang dia sukai.
“Aku akan suka dengan gadis yang memakai piyama berbulu saat tidur …” Hasegawa tiba-tiba menimpali.
“Katakan, kau menjawab begitu karena aku baru memakai piyama seperti itu kemarin!” Kawamura menatap Hasegawa cemberut.
Hasegawa tersenyum.
“Maa, aku memang suka melihat seseorang memakai piyama berbulu, kebetulan saja kekasihku memakainya kemarin. Lagipula aku baru tahu kalau Kazuma-san juga menyukai piyama model begitu …” Hasegawa mencoba membela diri. “Lagipula jawaban seperti itu lebih mudah diberikan daripada menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengan fisik.”
“Aku hampir menjawab bahwa tipeku adalah seseorang yang lebih tinggi dariku, dengan hidung tinggi, mata kecil, garis rahang cantik, dan seseorang yang tetap tampan meski tanpa riasan apapun di wajahnya …”
“Itu aku kan?” Hasegawa mengonfirmasi dengan percaya diri.
“Tepat sekali …” Kawamura tidak repot-repot menyangkal. “Tapi Riku-san bilang jawaban seperti itu terlalu bahaya, maka aku menggantinya dengan orang yang sopan dan memiliki rambut panjang!”
Kawamura masih terus berbicara seiring dengan tubuhnya yang masuk ke kamar mandi. Hasegawa menatapnya dengan sendu.
Jika kekasihnya adalah perempuan, lebih mudah baginya untuk memberi kecurangan kecil seperti ini dan memasukkannya dalam pekerjaanmu. Hanya pada kenyataannya, kekasih Kawamura adalah laki-laki. Penafsiran yang beragam akan berbahaya untuk karirnya.
Mereka tidak tinggal pada tempat dimana mereka bisa dengan bebas mengungkapkan orientasi yang mereka miliki. Tidak semua orang memahami perbedaan yang ada pada setiap manusia. Tentu ada yang mendukung, namun tetap saja komentar jahat dari berbagai orang lebih mudah diberikan seiring dengan penggunaan SNS yang bisa diakses siapa saja.
Bagi pribadi yang kuat, mereka akan berusaha tidak mempedulikannya dan terus melangkah maju. Sebaliknya, mereka yang tidak sekuat itu mungkin akan mengakhirinya, hanya saja kita tidak tahu apa yang akan mereka akhiri.
Hasegawa termasuk orang yang paling tahu bagaimana Kawamura sangat mencintai pekerjaannya. Bagaimana dia berjuang dari bawah, penuh pengorbanan dan rasa sakit agar dia bisa berdiri di posisinya saat ini. Kawamura adalah orang yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya. Dia tidak akan terlihat lemah di depan siapapun. Loyalitasnya pada pekerjaan tidak perlu diragukan. Sampai terkadang membuat Hasegawa khawatir sebab Kawamura terlalu keras bekerja. Dua rekannya pasti juga melakukan hal yang sama.
Hasegawa sendiri adalah orang yang paling tahu bagaimana Kawamura mencintainya. Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Kedewasaan Kawamura dalam menghadapinya bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Hasegawa hanyalah bocah egois yang sangat mencintai dirinya sendiri, Kawamura yang perlahan mengajarinya untuk mencintai dan memahami orang lain. Kawamura pernah berkata bahwa mereka pasti adalah saudara atau kekasih di kehidupan sebelumnya, karena Kawamura bisa menerima apapun yang Hasegawa bawa di hidupnya, begitupun Hasegawa pada Kawamura.
Kawamura tahu kekasihnya bukanlah orang yang rendah diri, dan lucunya dia bangga pada hal itu. Disaat orang lain merasa kesal pada sikapnya yang terlalu perfeksionis, Kawamura justru menganggap itu hal yang imut dan berkata dengan bangga bahwa dia juga orang yang seperti itu. Kawamura mengetahui segala hal tentang Hasegawa.
Namun, yang tidak diketahui Kawamura adalah, bahwa saat ini, untuk pertama kalinya sang kekasih yang selalu penuh dengan kebangaan hati merasa tidak percaya diri.

.

“Mako … Makoto … Maa-kun!”
Hasegawa terkesiap, Kawamura memanggilnya keras sekali.
“Ah, maaf, Kazuma-san sudah selesai?” Hasegawa tersenyum meminta maaf, dia berdiri dari duduknya di tempat tidur dan menatap Kawamura.
“Humm, apa yang Makoto pikirkan sampai melamun begitu?” Kawamura berjalan dengan menggosok rambutnya yang setengah kering.
“Tidak ada …” Hasegawa menggeleng. “Ingin langsung tidur?”
“Tapi aku ingin Makoto memelukku terlebih dahulu!”
“Aku akan memeluk Kazuma-san sambal berbaring! Kemarilah, Kazuma-san pasti lelah!”
Hasegawa membaringkan tubuhnya dan menepuk ruang kosong di sampingnya.
Kawamura terheran, tidak biasanya Hasegawa menanggapi sikap manjanya secara langsung. Meski begitu, Kawamura tetap merasa senang. Pria mungil itu segera berjalan menghampiri kekasihnya yang menunggu, jatuh dan berguling di tempat tidur, berakhir dalam dekapan lengan Hasegawa.
Kawamura tersenyum dan sekali lagi menghirup aroma Hasegawa yang sangat dia kenal. Balasannya adalan elusan lembut di kepala dan tepukan di punggungnya. Hasegawa mengecup puncak kepalanya.
“Tidurlah, Kazuma-san tidak berharap aku menyanyikan lagu pengantar tidur kan?” Hasegawa bertanya dengan jenaka.
“Nyanyikan saja! Aku suka suara Makoto saat bernyanyi!”
“Hanya Kazuma-san yang aneh dan tahan mendengar nyayianku, Kazuma-san bahkan tidak pernah mentertawakanku …”
“Karena aku menyukainya!”
“Maka dari itu Kazuma-san aneh!”
Kawamura hanya mendengus geli, dia memeluk Hasegawa lebih erat.
Sunyi menguasai mereka, namun tiada satupun dari mereka yang ingin memecah suasana damai ini. Hasegawa merasakan seseorang dalam dekapannya perlahan menjadi rileks dengan pernapasan yang mulai melambat. Kawamura tertidur.
Hasegawa melonggarkan dekapannya dan menatap wajah ayu Kawamura. Dipandanginya dengan sayang, dari alis, mata, hidugnya yang kecil, dan bibirnya yang tipis. Hasegawa merasakan sengatan di hidungnya, matanya memanas.
“Kazuma-san, aku mencintaimu! Sangat mencintaimu! Maafkan aku …” Suaranya lirih. Hasegawa membawa wajah Kawamura dalam dekapan dadanya. Sekuat mengkin menahan suaranya agar tidak pecah dan gemetar di badannya.

.

“Tidurlah, Sayangku, mentari tlah menunggu, sambutlah pagi nanti dengan hati tersenyum. Bermimpilah, Cinta, dengan segenap rasa, kini tibalah saatnya kita harus berpisah …”

Notes:

Haruskah saya membuat dari sudut pandang Kawamura?

Akhirnya setelah sekian lama rehat menulis, saya mencoba kembali dengan suasana dan tempat yang baru.
Tulisan ini sangat jauh dari kata rapi, namun saya jamin penulisannya datang dari hati.
Terima kasih kepada Enda U atas lagunya yang menggerakan hati, terima kasih kepada Hasegawa dan Kawamura yang memberi saya inspirasi.
Meskipun tidak sempurna, saya harap cerita ini dapat dinikmati.