Work Text:
[Sempurna — Andra and the back bone]
Sabtu malam, Tingen, Blacktorn Security Company, Gerbang Chanis
Ini adalah gilirannya menjaga gerbang Chanis. Klein duduk dengan santai dan mengambil buku yang ada di meja.
Cukup menakutkan tinggal disini sendirian, itu sunyi, sepi, dan dingin, tapi suasana itu dipecahkan dengan kedatangan seorang penyair tampan.
"Leonard? Apa kah kau tidak sibuk? Dan apa itu gitar? Untuk apa kau membawanya.."
Leonard Mitchell sang penyair tampan masih berpenampilan seperti biasanya, tapi kali ini ia membawa sebuah gitar yang cukup besar.
"Aku tidak sibuk tapi yang lain iya, jadi aku sedikit bosan"
Leonard dengan diam duduk di kursi samping Klein. mengangkat satu kakinya ke atas kakinya yang lain; dan mulai mengotak ngatik tunning keys gitar yang ia bawa.
Klein hanya membiarkannya dan lanjut membaca. Tanpa ia sadari, tubuhnya mulai lebih rileks, merasa aman mendapatkan seseorang menemaninya disini.
Suasana nyaman terbentuk; sesekali suara petikan dan suara lembar kertas buku yang dibalik menemani suasana nyaman ini.
"Hei Klein, apakah ada lagu yang ingin kau dengar?"
Leonard yang selesai mengubah tunning keys gitarnya tiba tiba bertanya, memecah keheningan di ruangan itu.
Klein menoleh sedikit, memiringkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kau ingin menyanyikannya untukku?"
"Untuk apa lagi aku bertanya?"
Leonard sedikit mendengus sambil mengubah posisi duduknya, ia berhadapan dengan Klein sekarang.
"Jadi?"
"Entahlah, nyanyikan saja aku lagu acak"
Klein mengangkat kedua bahunya, mengalihkan pandanganya kembali ke buku yang ia baca.
"Hmmm, kalau begitu lagu ini saja"
Leonard menundukkan kepalanya fokus dengan gitar ditangannya. Senar dipetik membentuk irama yang pelan.
“𝙆𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖, 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝
𝙠𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨'𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙟𝙖𝙢𝙪”
Leonard mulai bernyanyi, sedikit mengejutkan Klein akan pilihan lagu yang ia nyanyikan.
“𝘿𝙞𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙪, 𝙠𝙪 '𝙠𝙖𝙣 𝙨'𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣
𝙙𝙞𝙧𝙞𝙢𝙪, 𝙩𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖
𝙢𝙪”
Klein mengalihkan pandangannya ke Leonard, memperhatikan bagaimana sang penyair begitu fokus.
“𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪, 𝙩𝙖𝙠 '𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙪
𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖, 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙪 𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣
𝙗𝙞𝙨𝙖”
Klein pun meletakkan buku yang ia baca, menangkup pipinya dan meletakkan lengannya di penyangga kursi. Pada akhirnya ia hanyut dalam lagu.
“𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙖𝙝𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪
𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙠𝙪, 𝙡𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙪, 𝙊𝙝 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙪
𝙠𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪.. ”
Leonard mendongak, ia tersenyum hangat ke arah Klein.
“𝙎𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖… 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖…”
Klein berkedip, semburat merah muncul dipipinya. Jantungnya berdegup kencang melihat bagaimana Leonard tersenyum ke arahnya dengan hangat.
“𝙆𝙖𝙪 𝙜𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙢 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙪, 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙪 𝙡𝙚𝙢𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣
𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝, 𝙠𝙖𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙞𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙥𝙪𝙨 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖
𝙨𝙚𝙨𝙖𝙡 𝙠𝙪”
Leonard tidak memperhatikan hal itu dan kembali fokus menyanyikan baris selanjutnya.
“𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪, 𝙩𝙖𝙠 '𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙪
𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙪 𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣
𝙗𝙞𝙨𝙖”
Klein mengalihkan pandangannya, mencoba menenangkan jantungnya sendiri.
“𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪
𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙠𝙪, 𝙡𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪, 𝙊𝙝 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙪
𝙠𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪.. ”
Leonard kali ini memejamkan matanya, menghayati lagu yang ia nyanyikan.
“𝙎𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖… 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖…”
Klein kembali menoleh Leonard, ia memperhatikan wajahnya dengan seksama. Bagaimana kelopak matanya menutup menonjol kan bulu matanya yang lebat, bagaimana tangannya dengan lihat memetik irama yang indah, bagaimana ia ingin mencium bibirnya itu-
"Ehem"
Aliran irama berhenti selaras dengan pikiran Klein, mereka berdua menoleh ke orang yang baru saja mengganggu.
Itu Rozanne, senyuman penuh arti terpasang diwajahnya saat melihat mereka berdua.
"Leonard, kapten memanggilmu"
Leonard yang mendengar namanya segera berdiri dan menyandarkan gitarnya ke meja.
"Nampaknya giliran aku yang sibuk, bye Klein, tolong jaga sebentar gitarku ya"
Leonard hanya melambaikan tangan nya, sama sekali tidak menoleh ke Klein. Ia hanya tersenyum dan membungkuk sedikit ke Rozanne sebelum pergi.
Rozanne memperhatikan kepergian Leonard sebelum menoleh ke Klein dan bertatapan dengannya selama beberapa saat.
"Maaf, apakah aku mengganggu acara 'romantis' kalian?"
Rozanne mengangkat alisnya, tersenyum dengan jahil.
"Tolong jangan mengatakan hal yang aneh dan... pergi saja.."
Klein menutupi wajahnya, itu merah, dan itu akan berguna jika saja telinga nya juga tidak memerah.
"Baiklah baiklah, bye Klein, semangat jaganya ya"
Rozanne yang melihat itu terkekeh kecil dan pergi.
"Hahhh.."
Klein membenamkan wajahnya di lekukan tangannya, bersandar ke meja hadapannya, sedikit melirik ke arah gitar yang ditinggal kan Leonard.
'apa sih yang kupikirkan'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara nyanyian terdengar dari pemakaman.
Itu terdengar sedih, hujan deras menemani nyanyian itu hingga terdengar lirih.
“𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪, 𝙩𝙖𝙠 '𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙪
𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙪 𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣
𝙗𝙞𝙨𝙖”
Seorang penyair tampan duduk menekuk lututnya, membelakangi nisan. Membiarkan tubuhnya basah dengan guyuran hujan deras.
“𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪
𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙠𝙪, 𝙡𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪, 𝙊𝙝 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙪
𝙠𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪.. ”
Leonard Mitchell sang penyair tampan itu bernyanyi sedih dengan suara gemetar.
“𝙎𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖… 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖…”
Hujan nampak mengaburkan air matanya, itu seperti menyampaikan perasaan seseorang, memberitahukannya; jangan menangis untuknya.
“𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙪, 𝙆𝙖𝙪
𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙠𝙪, 𝙡𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙪, 𝙊𝙝 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜
𝙠𝙪-”
Nyanyian itu terhenti sebelum baris terakhir. Leonard menggigit bibirnya mencoba menghentikan isak tangis yang ingin keluar lagi dan lagi.
Ia membenamkan wajahnya ke lututnya, memeluk dirinya sendiri.
Ia sedikit melirik ke gitarnya yang tergeletak disampingnya.
"Klein…"
Ia mencoba memfokuskan pendengarannya, berharap seseorang itu menyahutnya di sela sela hujan deras.
Kenyataan itu kejam, tidak ada tanggapan apapun bahkan dari dalam tanah di bawah nisan di belakangnya.
Ia tetap diam tidak berniat bergerak bahkan walaupun hujan nampak tidak akan berhenti untuk waktu yang dekat.
Itu sunyi, sepi, dingin, dan sendirian... Leonard tidak menyukai sendirian.. ia membencinya...
