Actions

Work Header

#1 di Ruang Arsip Terlarang

Summary:

Mendapati laporan yang masuk ke kantor Matra pagi itu, Cyno berniat melakukan investigasi yang dimulai dari pencarian data di Ruang Arsip Terlarang. Dia bertemu dengan Alhaitham di sana.

Notes:

Genshin Impact (c) Hoyoverse

Post Archon Quest 3.2; Spoiler Event Jamur Jawara Jaya. Cyno udah balik jadi Mahamatra dan Alhaitham menjabat PLT Grand Sage. Maafkan judul tidak kreatif karena saya gatau ini mau??? Dikasih judul apa??? Saya juga kurang yakin dengan ratingnya. Jadi mohon dikoreksi jika ada kesalahan.

Segala peringatan standar karya fiksi ada di sini. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari karya ini selain kepuasan pribadi. Hope you enjoy it!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Pagi itu, Cyno mendapati laporan baru masuk ke kantor Matra.

“Turnamen Nilotpala Lotus untuk Pawang Penjinak? Kenapa acara mencurigakan begini bisa lolos pemeriksaan Akademiya?” alis Cyno naik satu.

“Eh, iya, Senior Cyno. Para Matra lain juga sebenarnya berpikir begitu dari awal,” Nabil menggaruk kepalanya, kelihatan ragu-ragu. “Tapi proposalnya lolos dan sudah disetujui dari sebelum … pergantian pihak atasan, jadi susah juga mau dihentikan sekarang berhubung persiapannya sudah kelar semua dan acaranya juga sudah separuh jalan.”

Cyno kembali membolak-balik berkas itu di tangannya. “Tetap saja, hal yang membahayakan begini tidak bisa dibiarkan,” dia lalu memandang balik pada juniornya itu. “Apa kata atasan yang sekarang?”

“Itu dia, Senior. Setelah evaluasi ulang, atasan yang sekarang sepertinya tidak sependapat dengan yang dulu,” jawab Nabil. “Makanya kasusnya sampai ke kita. Atasan minta kita selidiki soal ini lebih lanjut.”

Mimik muka Cyno yang serius tidak berubah ketika matanya jatuh pada sebuah stempel resmi di akhir laporan. “Baiklah, aku terima,” firasatnya menjadi sangat, sangat tidak enak. “Sebelum itu, ada hal yang perlu kita siapkan,” ia lalu bangkit dan beranjak pergi, hendak menemui seseorang.


Cyno berjalan di sepanjang lorong Akademiya, langkah kakinya tegas namun tidak terkesan terburu-buru. Ia dalam perjalanan mencari keberadaan Utayba yang bertugas mengurusi Ruang Arsip Terlarang. Seperti biasa, sebelum memulai penyelidikan, Cyno perlu mencari tahu tentang apa yang akan dia hadapi. Berhubung kasus kali ini nampaknya berhubungan dengan penelitian yang dilarang Akademiya, dia pikir itu hal yang bagus untuk memulainya dari sana.

Mata kemerahan Cyno memindai sekeliling mencari sosok Utayba, yang kata rekan-rekan kerjanya sedang pergi ke sekitar gedung sayap barat Akademiya. Seingatnya, di sana juga merupakan lokasi Ruang Arsip Terlarang yang tersembunyi di antara ruang-ruang kelas yang dipakai oleh para pelajar. Apa mungkin lelaki itu malah sudah berada di sana?

Panjang umur. Sang Mahamatra Umum menemukan sosok Utayba di salah satu sudut lorong yang tersembunyi, berdiri di depan sebuah tembok kosong. Namun, pria itu tidak sendirian, dia bersama dengan—

Cyno menghentikan langkahnya. Sosok tinggi dengan jubah hijau dan rambut abu-abu itu, dimanapun dia akan segera mengenalinya. “Alhaitham,” dia berkata di bawah nafasnya.

Yang namanya baru saja disebut sepertinya sadar dengan kehadiran Cyno, ia lantas berbalik diikuti Utayba yang menengok. “Cyno, kebetulan sekali.”

“Oh, Tuan Cyno,” Utayba ikut menyapanya. “Kemari untuk untuk penyelidikan juga?” tanya pria itu.

Cyno mengangguk sebagai bentuk afirmasi, tapi tunggu—“Juga?”

Kali ini, Alhaitam yang menjawab “Aku di sini untuk penyelidikan juga, dan aku asumsikan tujuan kita di sini sama,” jawabnya. “Ini tentang turnamen fungus itu, bukan begitu?”

“Benar,” mendengarnya membuat Cyno mengerutkan kening. “Bukankah kau sendiri yang yang mengirim permintaan untuk mengurusnya kepada kantor Matra? Kasusnya sudah diserahkan pada kami, untuk apa masih turun tangan sendiri?”

“Katakanlah," Alhaitham melipat kedua tangannya di depan dada, "ada sesuatu dalam kasus ini menarik perhatianku secara pribadi,” dia mengatakan itu dengan nada yang terdengar tenang, tapi dari pengalamannya mengenal pria itu, Cyno merasa dia bisa mendengar sesuatu yang menandakan kalau Alhaitham benar-benar tertarik. “Lagipula, kupikir sekalian saja karena ada hal lain yang harus aku periksa juga di sini.”

Alasan yang dikatakan barusan membuat Cyno memicingkan mata. “Untuk kepentingan pribadi, ya?”

“...”

“...”

Utayba memijit pelipisnya begitu merasakan aura yang semakin memberat di sekitar mereka berdua. Sebelum si Sekretaris membalas perkataan sang Mahamatra Umum dan memantik api yang lebih besar, dia buru-buru menengahi. “Aku yakin Sekretaris Alhaitham juga memikirkan sesuatu untuk kepentingan Akademiya. Kalau begitu mari kita masuk ke ruang arsip, biar kutunjukkan dimana bahan yang kalian butuhkan.” 

Mengabaikan kedua petinggi Akademiya yang masih memeloti satu sama lain di belakang sana, Utayba berbalik untuk menekan suatu tombol yang memunculkan sebuah pintu “rahasia” dari dinding yang tadinya tampak polos. Dia lalu mengeluarkan sebuah kunci khusus dari sakunya, membuka pintu itu, dan mempersilahkan keduanya masuk.


Suasana hening yang sedikit menyesakkan menyelimuti Ruang Arsip Terlarang.

Setelah mengantarkan keduanya masuk ke dalam ruangan, Utayba tidak lama pamit pergi karena dia tiba-tiba teringat kalau masih ada urusan lain. Sang pengurus ruang arsip pergi dengan terburu-buru setelah berpesan agar mereka dimohon untuk baik-baik saja ditinggal berdua. Menyisakan Cyno dan Alhaitham yang hanya bertukar pandang sekilas sebelum lanjut dalam melakukan pencariannya masing-masing.

Sekarang, Cyno dan Alhaitham berada di sudut rak arsip yang berbeda—dari ujung satu ke ujung yang lain. Mereka tidak memperpanjang hal yang di pintu masuk untuk saat ini, tapi kentara sekali bagaimana mereka menjaga jarak dari satu sama lain meskipun tidak ada orang lain lagi ruangan ini.

Untuk Cyno sendiri, sebenarnya satu ruangan berdua saja dengan sang sekretaris yang kini merangkap pengganti Grand Sage sementara ini benar-benar membuatnya tidak nyaman. Siapa coba yang bakal nyaman ditinggal berdua dengan mantan apalagi yang putusnya tidak baik-baik? Sewaktu operasi penyelamatan Lesser Lord Kusanali, keduanya memang sempat berdamai untuk sementara waktu dan menyelesaikan beberapa kesalahpahaman yang pernah terjadi. Tapi itu semua hanya sementara waktu saja demi kesuksesan misi dan tidak berlangsung lama karena mereka kembali bentrok tidak lama setelah semua itu selesai.

Meskipun demikian, nyatanya masih ada percikan-percikan tak terelakkan yang terjadi setiap mereka bertemu.

Fokus, Cyno, kamu harus tetap profesional saat sedang bekerja.

Cyno melirik Alhaitham di ujung sana yang tampak masih sibuk dengan sebuah buku di tangannya, dia berusaha tidak memedulikan keberadaan sang juru tulis dan fokus menelisik satu demi satu berkas yang mungkin berkaitan dengan kasus yang akan ditanganinya. Dari hasil penelusurannya ternyata penelitian tentang jamur, atau dalam hal ini, monster fungus ternyata pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini terjadi sudah cukup lama, jauh sebelum Cyno menginjakkan kakinya di Akademiya. Penelitian dilakukan di suatu desa petani yang dekat dengan Apam Woods, dengan tujuan untuk menjinakkan para fungus. Namun, sayang, nampaknya penelitian tersebut gagal total dan memakan banyak korban.

Diantara dokumen-dokumen itu, istilah-istilah seperti Withering Potion dan Alat Pengendali beberapa kali disebut tapi tidak dijeaskan lebih lanjut. Sang Mahamatra Umum merasa kalau dia perlu memberi perhatian khusus mengenai kedua topik ini.

Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Cyno baru menyadari kalau ada kehadiran lain yang berdiri tepat di belakangnya. Sejak kapan Alhaitham di sana—sial, dia jadi lengah.

“Alhaitham,” Cyno mendesis, “Apa maumu.”

Nada sang sekretaris tenang seperti biasa ketika dia menjawab. “Ada berkas yang ingin kubaca di sektor ini.”

Cyno merasakan tubuh Alhaitham di belakangnya semakin maju, hampir mendesaknya di antara tubuh tingginya dan rak arsip. “Apa ini caramu menyuruhku untuk menyingkir? Tidak bisakah kau mengatakan padaku untuk sedikit minggir dengan baik-baik?” tegurnya.

“Siapa yang menyuruhmu menyingkir? Lanjutkan saja kegiatanmu, kamu tampak serius sekali dari tadi. Jangan biarkan aku mengganggumu, berkas yang mau aku ambil ada di bagian atas.”

Pelipis Cyno berkedut. Tahan Cyno, tahan. Ingin rasanya ia memakai sedikit kekuatan untuk mendorong Alhaitham menjauh. Tapi dia tahu hal ini hanya akan menimbulkan keributan berkepanjangan, apalagi tadi Utayba secara implisit berpesan agar mereka tidak mengacak-ngacak ruang arsip.

Untuk menghindari keributan, sang Mahamatra Umum berniat menyingkir saja, namun terhalang tangan Alhaitham yang baru saja terangkat tepat di samping kepalanya. “Alhaitham,” desisnya.

“Ah, maaf,” dibilangnya begitu, tapi pria itu sama sekali tidak terdengar menyesal. “Ternyata tempatnya lebih rendah dari perkiraanku.”

“Ck,” Cyno berusaha keluar dari sisi yang satunya lagi, tapi tangan Alhaitham yang satunya juga naik dan memblokir aksesnya.

“Ternyata yang aku cari ada di sebelah sini—”

Alhaitham,” sumbu emosi Cyno tersulut karena merasa dipermainkan, membuatnya berusaha berbalik dari kungkungan kedua lengan kekar sang sekretaris. Namun karena ruang geraknya terbatas, dia jadi sedikit bertabrakan dengan tubuh depan lelaki di belakangnya.

Dug

Hiasan kepalanya terasa membentur sesuatu, lalu Cyno merasakan keberadaan di belakangnya menjauh. Keadaan itu membuatnya berhasil membalikkan badan dan dia menemukan Alhaitham yang mundur sambil sedikit membungkuk. Dengan satu tangannya menutupi wajah bawahnya, mata  “Apa yang tadi itu perlu?” ucapan pria itu terdengar sedikit sengau.

Mata Cyno menyipit, setengah terasa puas melihat itu. “Salahmu sendiri. Jangan main-main denganku.”

“Siapa yang main-main,” Alhaitham mengangkat wajahnya, dari sela-sela jari yang menutupi hidungnya, Cyno bisa melihat warna merah–darah yang keluar. “Aku benar-benar mencari sesuatu,” dia mengangkat tangannya yang satu lagi. Di sana ada sebuah berkas dengan cap Spantamad dan Amurta yang bertuliskan ‘Gangguan Leyline Zona Withering dan Efek Sampingnya pada Fungus’.

Cyno tertegun, dia jadi sedikit merasa bersalah. Cuma sedikit. Lagipula, memang salah Alhaitham sendiri juga yang menghalangi jalannya tadi. Tapi, melihat darah yang masih keluar dari hidung sang sekretaris membuatnya merasa perlu bertanggung jawab. Apalagi–kenapa darahnya keluar banyak sekali?! Apa tadi memang separah itu? Dia memang tidak masalah melihat Alhaitham terluka atau berdarah, tapi itu jika dihasilkan dari pertarungan yang jujur dan adil, bukannya ketidaksengajaan konyol seperti ini.

Menghela napas, Cyno memutuskan sesuatu. “Baiklah kalau begitu, aku minta maaf,” sejujurnya dia agak berat untuk mengatakannya. “Duduklah, akan kubantu menghentikan darahnya.”

Tanpa menunggu persetujuan yang bersangkutan, sang Mahamatra Umum menarik–sedikit menyeret Alhaitham ke deretan meja dan kursi yang disediakan di antara barisan rak di Ruang Arsip Terlarang. Sang juru tulis Akademiya itu tidak menolak ketika didudukkan di salah satu kursi yang ditarik Cyno, yang langsung berlutut di depannya untuk memudahkan akses.

Alhaitham tanpa berkata apa-apa membiarkan Cyno bekerja untuk menghentikan pendarahan pada hidungnya. Pria berambut putih itu tidak sadar memajukan wajahnya untuk menginspeksi luka di wajah Alhaitham. Tidak terlihat ada luka luar, berarti masalahnya cuma di dalam. Kalau begitu tinggal Cyno sumpal saja hidung pria itu dengan tisu, beres urusan.

Cyno terkesiap ketika merasakan tangan Alhaitham tiba-tiba berada di tengkuknya. Hal itu membuatnya hendak buru-buru berdiri tapi tangan itu memberi tekanan di sana dan menahannya. “Apa yang kau lakukan?” Cyno mendongak, mendapati Alhaitham yang memandangnya lekat.

Alhaitham membuat gestur pada hiasan kepala Cyno. “Aku tidak mau terbentur benda ini lagi.”

“Ck, tidak akan. Tadi itu cuma kecelakaan,” Cyno berdecak.

“Bukan berarti tidak mungkin tidak terjadi lagi, kan?”

“Diamlah,” atau kali ini mungkin aku akan melakukannya dengan sengaja. “Lebih baik kau ambil tisu di sana dan berikan padaku. Tiga lembar.”

Tanpa mengalihkan pandangan dari manik kemerahan sang Mahamatra Umum, tangan Alhaitham terjulur untuk mengambil tisu yang disediakan di atas meja. Sret, sret, sret, sret, lalu dia menyerahkannya pada Cyno.

“Aku cuma minta tiga.”

“Tidak semuanya untukmu.”

Cyno menghela nafas kasar, dia menyambar tiga lembar tisu dan menyisakan satu di tangan Alhaitham, yang menyimpannya di sakunya. Dengan dua tisu yang pertama, dia mengelap darah yang keluar dari hidung pria bersurai abu-abu itu. Lalu, dia melipat tisu yang terakhir dan menyumpalkannya di lubang hidung sebelah kanan Alhaitham. Dia melakukannya dengan cepat dan terburu-buru, ingin segera menyelesaikan semua ini lalu pergi dari sini berhubung penyelidikannya dirasa sudah cukup.

Dia bisa mendengar Alhaitham meringis karena diperlakukan dengan begitu kasar. “Bisakah kau sedikit lebih pelan? Ini yang kau sebut dengan perawatan? Kalau kau seorang dokter, pasienmu semuanya akan lari.”

“Sayangnya aku memang bukan seorang dokter, dan aku tidak tahu kalau kau sekarang jadi begitu lembek,” Cyno membalas sambil memperhatikan ‘hasil karya’-nya di wajah Alhaitham. “Sudah selesai. Kalau begitu aku permisi dulu,” dia lalu bangkit berdiri untuk beranjak menuju pintu keluar.

Di balik punggungnya, Cyno bisa merasakan pandangan Alhaitham padanya, tapi dia berusaha abai dan meraih gagang pintu. “!” Tidak mau terbuka?

“Ternyata betul,” Alhaitham berujar. “Pintunya terkunci.”

Cyno berbalik, menatap Alhaitham yang masih duduk dengan tenang di kursinya. “Apa maksudmu?”

“Utayba yang membawa kuncinya, dia pasti reflek mengunci tempat ini ketika keluar tadi untuk menghindari seseorang masuk sembarangan kemari,” jawab sang sekretaris Akademiya itu.

“Kau menyadari itu dan tidak mencoba mencegahnya tadi?” tuntut Cyno.

“Aku baru menyadarinya ketika mendengar suara pintu yang terkunci dari luar, dan saat itu aku sedang memegang beberapa berkas,” tutur Alhaitham. Dia mengangkat alis, “Kau sendiri tidak menyadarinya?”

“...” Sial, dia benar-benar terdistraksi dengan pikirannya sendiri gara-hara Alhaitham tadi, sampai-sampai instingnya yang biasanya tajam menjadi tumpul. “Tidak, aku sibuk dengan peyelidikkanku,” elak Cyno. Itu tidak sepenuhnya salah, karena dia memang berusaha mengalihkan perhatiannya tadi dengan serius membaca beberapa berkas.

“Hmmm,” sang juru tulis Akademiya tidak menunjukkan reaksi apa-apa mendengar jawaban basi Cyno. “Baiklah, kita tunggu saja Utayba. Nanti dia juga akan kembali,” putusnya singkat. Dia lalu beralih untuk membuka berkas yang tadi dia ambil dan mulai membaca.

Cyno sendiri hanya dapat merutuk dalam hati karena harus berbagi udara dalam satu ruangan dengan Alhaitham lebih lama, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi dia kembali berjalan ke rak dimana dia tadi melakukan investigasi, berpikir untuk menghabiskan waktunya menunggu dengan melihat apakah dia melewatkan sesuatu karena diusik oleh seseorang tadi.

Suasana hening yang tadi terjadi lagi di Ruang Arsip Terlarang dengan kedua penghuninya yang kembali sibuk masing-masing. Akan tetapi, hal ini tidak berlangsung lama karena salah satu dari mereka membuka suara, “Mahamatra Umum.”

Merasa terpanggil, Cyno menoleh dan menemukan Alhaitham memandangnya. “Kemarilah,” pria itu menunjuk kursi lain yang ada di dekatnya. “Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Tidakkah kita sedang berbicara sekarang?”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

Cyno mengalah dan beranjak untuk duduk di kursi di samping Alhaitham setelah memposisikannya sehingga kursi-kursi mereka berhadapan. “Apa yang ingin kau bicarakan?” Cyno menyilangkan tangannya di depan dadanya.

“Mengenai yang sedang kau tangani yang sekarang,” tukas Alhaitham. “Sebelum itu, aku ingin mencocokan informasi yang kita punya soal kasus yang melibatkan fungus.”

Setelah kontemplasi singkat, sang Mahamatra Umum kemudian membeberkan informasi apa saja yang di dapat dari penelusurannya barusan yang dia rasa terkait dengan penyelenggaran Turnamen Nilotpala Lotus untuk Pawang Penjinak. Ditambah dengan kecurigaan para Matra yang diceritakan Nabil padanya tadi pagi di kantor soal Kautilya, sang peneliti dari Amurta yang menjadi panitia acara dan sponsornya, Elchingen, yang asal-usulnya tidak jelas.

Alhaitham mendengarkan dengan atentif, tidak banyak berkomentar selain anggukan dan beberapa gumaman pendek. Barulah setelah Cyno selesai memaparkan semuanya, dia angkat bicara. “Memang benar kalau Kautilya punya reputasi yang buruk. Bukan hanya di kalangan para murid, tapi juga peneliti Akademiya yang lain dan para sponsor,” pria berambut kelabu itu mengernyit sebentar sebelum menambahkan, “Aku pernah bertemu beberapa kali dengannya, desas-desus yang beredar tentangnya itu sebagian besar benar.”

“Kau bilang dia punya reputasi yang buruk di kalangan para sponsor. Lantas bagaimana sponsornya yang sekarang? Dia tampaknya punya sponsor yang kuat.”

“Sponsornya yang sekarang ini punya latar belakang yang abu-abu. Aku curiga kalau dia terlibat dengan Fatui.”

“Fatui, katamu?” Alarm menyala di kepala Cyno mendengarnya. “Apa ini ada hubungannya dengan sisa aktivitas Fatui yang kau bicarakan tempo hari?”

“Bisa dibilang begitu,” Alhaitham mengangguk. “Sebenarnya aku ke sini untuk mencari tahu sesuatu yang mungkin berhubungan dengan apa yang para Fatui itu inginkan, dan menemukan kalau ujung dari hal ini dan kasusmu mungkin menuju pada hal yang sama,” terangnya. Dia kemudian menunjuk dokumen yang sejak tadi dibacanya, diletakkan berjajar di permukaan meja di sebelahnya. “Ini, lihatlah.”

Cyno bangkit dari kursinya untuk berdiri lebih dekat agar bisa melihat lebih jelas apa yang ditunjuk sang Sekretaris Akademiya. Matanya menangkap dua cetakan biru bertuliskan Alat Pengendali dan Withering Potion di bawahnya. Di sekitar cetakan-cetakan biru itu dijelaskan bagaimana fungsi kedua alat itu yang berhubungan dengan gangguan Leyline. Setelah dicermati kalau Withering, yang pada dasarnya gangguan efek Leyline, memiliki efek yang cukup besar pada para fungus, beberapa peneliti dari Akademiya berpikir dapat menggunakannya untuk keuntungan. Awalnya kedua alat ini dikembangkan untuk menekan pertumbuhan fungus, namun tampaknya kemudian tujuannya mulai melenceng untuk mengendalikan fungus.

Netra kemerahan sang Mahamatra Umum terus menelusuri setiap informasi yang ada di berkas itu, mencocokannya dengan apa sudah ia ketahui sebelumnya. Seperti ada bohlam yang menyala di kepalanya ketika ia sampai pada suatu kesimpulan. “... Para Fatui itu ingin menghimpun kekuatan dengan menggunakan para fungus?”

“Sepertinya demikian. Terdengar menggelikan, tapi bisa jadi sangat efektif,” balas Alhaitham. “Mereka memakai turnamen ini sebagai kedok yang bagus untuk membuat para peserta mengumpulkan fungus dan melatih mereka.” 

“Kalau begitu kita harus segera bertindak. Aku akan turun tangan sendiri untuk meringkus mereka secepatnya,” putus Cyno, mengepalkan tangannya.

“Jangan terburu-buru, kita tidak punya bukti kuat untuk saat ini. Sejauh ini kita belum bisa menyatakan seberapa berbahayanya Wisdom Orb dan Floral Jelly yang mereka gunakan,” ujar Alhaitham.

“Ck, benar-benar … Kalau kita terus mengawasi mereka lebih dekat. Pasti ada sesuatu yang akan bisa kita temukan.” Cyno mendecak, ternyata instingnya benar mengenai sesuatu yang tidak mengenakkan akan terjadi. Pertama terjebak dengan orang yang paling ia hindari belakangan ini, dan sekarang kasus yang dia tangani ternyata jauh lebih rumit dari kelihatannya. “Ditambah lagi, aku harus berurusan dengan bajingan-bajingan dari Snezhnaya itu. Ini pasti akan sangat merepotkan,” raut wajahnya mengeras.

Kepala Cyno mulai berkedut memikirkan bagaimana dia akan bertindak selanjutnya untuk kasus ini. Dia menjadi terlalu terlarut dalam pikirannya lagi sampai-sampai tidak sadar menggigit bibirnya. Di saat seperti itu, sang Mahamatra Umum merasakan sebuah tarikan pada tangannya yang membuatnya berbalik dan menyadari posisinya yang begitu dekat dengan Alhaitham untuk ketiga kalinya hari ini.

Pandangan sang Mahamatra turun pada Alhaitham yang masih duduk di kursinya sambil memegangi tangannya yang masih terkepal.

“Ya, ini memang sangat merepotkan karena akan sulit untuk diatasi,” ujar Alhaitham lamat-lamat dengan raut wajah serius, tapi kemudian dia melempar tatapan lembut pada Cyno. “Tapi aku yakin kalau kamu pasti akan bisa mengatasinya, Mahamatra Umumku. ” 

Cyno hampir saja luluh mendengar bagaimana Alhaitham memanggilnya seperti itu ditambah dengan tatapannya yang penuh arti. Seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya dan pipinya terasa sedikit panas. Tapi, kata kuncinya adalah hampir. Sayangnya gumpalan tisu yang menyumbat hidung Alhaitham membuatnya kelihatan konyol. Sebuah tawa kecil tanpa sengaja lolos dari bibir Cyno. “Terimakasih untuk kepercayaanmu itu,” tensi di bahunya jadi sedikit mengendur. “Daripada itu, bagaimana dengan hidungmu?”

Alhaitham sendiri sempat terperangah sebentar mendengar tawa yang jarang keluar dari sang Mahamatra berambut putih di depannya. Namun, ia lantas menyadari sebab tawa Cyno dan menarik keluar sumpalan hidungnya dan menghela nafas. Sepertinya hal barusan melukai harga dirinya sedikit. “Sudah lebih baik.” Tidak ada darah lagi yang keluar, sepertinya mimisan pria itu sudah berhenti sepenuhnya.

“Baguslah kalau begitu, tadi darah yang keluar banyak sekali,“ tanpa sadar, tangan kiri Cyno terangkat untuk menyentuh pipi Alhaitham. Ah, ini hampir seperti refleks. Dulu, sewaktu masih ada kata kita di antara mereka, dia sering sekali melakukannya di momen-momen kebersaamaan yang jarang terjadi.

“Ya, meskipun sebenarnya perawatanmu yang asal-asalan tadilah yang membuat darahnya keluar lebih banyak.”

Perkataan Alhaitham barusan membuat Cyno menyadari tindakannya, dan dia buru-buru ingin menarik tangan kirinyanya tapi ditahan sang Grand Sage sementara yang menggenggam tangan di pipinya. Matanya memicing, baru saja dia luluh sedikit dengan pria ini dan emosinya langsung dipantik lagi. “Kau mau menyalahkan bentuk tanggung jawabku barusan?”

“Kalau yang barusan itu kau sebut bertanggung jawab, maka standarmu benar-benar rendah.”

Cyno masih berusaha menarik tangannya, tapi tangan Alhaitham yang menahannya malah mengerat. “Lalu, apa bentuk tanggung jawab yang kau inginkan, Alhaitham?” tuntutnya jengkel.

“Yang aku inginkan?” Tangan Alhaitam yang satu lagi bergerak untuk menarik tubuh Cyno untuk lebih merunduk lebih dekat. Sangat dekat sampai mempertemukan wajah mereka. “Ini,” bisik pria itu sambil memiringkan kepala, sebelum mempertemukan bibir mereka.

Cyno yang mendapati serangan mendadak dari Alhaitham kehilangan keseimbangannya karena terkejut. Ia nyaris terjatuh kalau bukan karena ditahan si Sekretaris dan tangan kanannya yang refleks bertumpu pada pegangan kursi. Dengan posisi yang kurang enak itu, Cyno memundurkan wajahnya untuk berbicara. “Alhaitham–!”

“Ah, maafkan aku. Posisi seperti ini tidak nyaman untukmu. Tahan sebentar, ya,” Cyno menyaksikan bagaimana netra milik pria itu berkilat dengan sesuatu yang membuatnya bergidik, sebelum bibirnya kembali diraup. Kali ini dalam pergulatan yang melebihi antara bibir bertemu bibir.

Saat mulut mereka sedang sibuk bersilat lidah secara literal, Cyno merasakan Alhaitham bangkit dan menggiringnya untuk menjatuhkannya di atas permukaan meja yang rendah, di sebelah jejeran dokumen. Tautan mereka terlepas, dan Cyno melempar pandangan menuduh pada lelaki di atasnya. “Ini yang sebenarnya kau inginkan daritadi? Dasar mesum.”

Alhaitham menarik ujung-ujung bibirnya, dia tidak mengelak. “Maafkan aku. Melihatmu begitu serius dengan penyelidikanmu memiliki daya tarik sendiri yang tidak bisa kutolak. Ditambah lagi, hanya ada kita berdua di sini, aku jadi tidak bisa menahan diri.”

Cyno tidak bisa mengelak, mungkin ini yang membuatnya terus terdistraksi sedari tadi. Tapi dia punya harga diri yang harus dipertahankan, jadi dia berusaha mencari alasan. “Utayba akan segera kembali.”

“Tidak masalah, dia tidak akan kembali dalam waktu dekat.”

“Bagaimana kau tahu soal itu?”

Tidak ada jawaban yang didapat Cyno, karena Alhaitham sekali lagi meraup bibirnya. Kali ini jauh lebih agresif dari sebelumnya. Tidak hanya itu, kedua tangan pria itu juga mulai naik untuk membelai bagian-bagian lain di tubuh Cyno. Semua ini perlahan-lahan membuat sang Mahamatra Umum kewalahan menerimanya.

“Daripada itu,” Alhaitham menarik diri untuk memperhatikan bagaimana Cyno terengah-engah mengatur napas dengan wajah merah pekat dan berantakan di bawahnya. Sambil mengusap saliva yang mengalir di sudut bibir Cyno dengan tisu yang ia taruh di kantung tadi, Alhaitham mengulur sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa puas. “Sepertinya kita akan butuh lebih banyak tisu.” 


Utayba berjalan terburu-buru menuju ke arah Ruang Arsip Terlarang dengan perasaan panik dan cemas.

Tadi, ketika dia teringat ada urusan penting yang harus dia tangani secepatnya, pria paruh baya itu sangat antusias untuk pergi. Alasan itu sangat bagus untuk pamit undur diri dari Ruang Arsip Terlarang dengan atmosfer mengerikan di dalamnya. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah keberadaan sang Mahamatra Umum dan sang Sekretaris Akademiya yang menjabat sebagai Grand Sage sementara di sana.

Sudah jadi rahasia umum di antara para sivitas akademika kalau kedua petinggi Akademiya itu sangat tidak akur satu sama lain. Latihan bertarung yang super intens sampai berujung luka serius sampai pesan-pesan di papan pengumuman yang bernada tidak ramah, semua sudah jadi gosip hangat para pelajar sampai staf. Tadi Utayba juga melihat sendiri bagaimana mereka berinteraksi dengan tensi yang mengkhawatirkan ketika hendak masuk ke ruang arsip. Sampai di dalam pun, meskipun mereka mengambil posisi di sudut berbeda yang paling jauh dari satu sama lain, suasana tetap terasa berat.

Jadi, ketika dia punya alasan pergi, pria itu bergegas dengan terburu-buru sampai terlupa kalau dia mengunci kedua orang itu di ruang arsip dan pergi membawa kuncinya. Mana urusannya tadi berbuntut panjang dan dia baru menyadari semua itu cukup terlambat. Bagus sekali. Dia memang percaya pada Cyno, dan tadi juga sudah berpesan untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa memberi kerusakan pada Ruang Arsip Terlarang. Tapi, siapa yang tahu, ‘kan, apa yang bakal terjadi setelah mereka ditinggal selama ini …

Begitu sampai di depan ruang arsip, Utayba membuka kunci dengan hati-hati sambil mengirim doa tak henti-henti kepada Archon Dendro. Dia mendorong pintu dengan pelan sambil mengintip takut-takut. Betapa leganya dia ketika menemukan Ruang Arsip Terlarang masih utuh dan tidak berubah jadi lautan abu.

“Oh, Utayba, kau sudah kembali.”

Sang pengurus ruang arsip mendapati sang Mahamatra Umum yang barusan menyapanya duduk di salah satu kursi di pojok ruangan. Di sebelahnya ada sang Sekretaris Akademiya yang berdiri bersandar di salah satu rak buku. Mereka sepertinya sedang bercakap-cakap sebelum Utayba datang. Pria itu menyadari kalau suasana di antara mereka masih sedikit tegang tapi sudah berkurang dibanding yang sebelumnya.

“Cyno, Sekretaris Alhaitham, saya mohon maaf atas kelalaian saya,” Utayba meringis, tangannya terkatup memohon maaf.

Cyno berdiri dari duduknya, dia menghela napas dan berjalan ke arah Utayba yang masih berdiri di dekat pintu masuk diikuti Sekretaris Alhaitham. “Tolong jangan diulangi lagi, ini menunda waktu kami untuk bekerja.”

“Saya benar-benar mohon maaf.”

Utayba sudah menyiapkan diri untuk diceramahi oleh sang Mahamatra Umum, tapi yang bersangkutan tidak mengatakan apa-apa lagi. Itu membuatnya sedikit lega. Jadi dia lanjut bertanya apa mereka membutuhkan hal lain lagi, yang dijawab dengan gelengan oleh keduanya.

“Kami sudah menemukan semua yang kami butuhkan,” jawab Sekretaris Alhaitham. “Kalau begitu kami akan pergi sekarang.”

Kedua petinggi Akademiya itu kemudian melewati Utayba untuk menuju pintu masuk. Saat itulah, dia merasa melihat bekas kemerahan di leher sang Mahamatra Umum.

Melihat itu, Utayba jadi berpikir. Digigit serangga? Masa sih, ruangan ini kan sangat tertutup dan dibersihkan secara teratur setiap beberapa hari sekali. Dia memastikannya sendiri. lagipula tanda itu kelihatan seperti bekas—

Utayba berbalik, hendak bertanya pada Cyno mengenai tanda itu. Akan tetapi, sebelum dia membuka mulutnya, dia menemukan Alhaitham yang menengok kebelakang padanya sambil membuat gestur jari telunjuk yang diletakkan di depan bibir. Mata sang Sekretaris berkilat dengan berbahaya, mengingatkannya pada seekor Rishboland Tiger yang memasang sikap siaga untuk mengancam siapapun yang melanggar teritorinya.

Utayba pun kembali menelan pertanyaannya. Roda di kepalanya bekerja sambil memperhatikan punggung kedua petinggi Akademiya itu menghilang di balik pintu Ruang Arsip Terlarang. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada hal lain untuk mencari pengalihan, dan perhatiannya jatuh pada tempat sampah di sudut lain ruangan.

Tadi pagi, seingatnya kotak sampah kecil itu itu kosong, tapi sekarang dia menemukan kalau isinya penuh dengan tisu … Tunggu, apa di antara tisu-tisu itu darah? Wajah Utayba menjadi pucat seketika.

Pada akhirnya, dia sampai pada satu kesimpulan, dan dia rasa dia tidak akan bisa tidur malam ini.