Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-09
Words:
1,703
Chapters:
1/1
Kudos:
29
Bookmarks:
5
Hits:
2,125

Red Notice

Summary:

Changmin caught his crush, Lee Hyunjae, getting off in a bathroom and decided to help

Notes:

Hello! Enjoy this milkyu fic :D

Please bear with me as I am not a professional writer lol

twitter @hatteokki x

Work Text:

Ah.... ah....

Kerasnya suara musik dari speaker hitam yang berdentum di luar ruangan memekakkan telinga kontras dengan lampu putih LED dan suasana sunyi dalam kamar mandi.

Changmin, setengah mabuk dan setengah kebelet, berjalan dengan sempoyongan membuka pintu kamar mandi. Matanya menyipit, memproses cahaya yang mendadak memasuki netranya. Pandangannya berputar dan kepalanya berdentum seirama dengan musik yang diputar. Kakinya melangkah menuju ke satu bilik yang terlihat tidak terkunci dan mendorongnya terbuka.

“Kak.... Hyunjae?”

Well, this is awkward for several reasons.

Alasan pertama: Changmin tidak pernah menyangka bahwa ia bisa melihat kepunyaan Kak Hyunjae.

Alasan kedua: fakta bahwa yang berada disitu benar-benar Kak Hyunjae.

Alasan ketiga: Changmin menyukai Kak Hyunjae.

“Eh.... Changmin, gue bisa jelasin—”

Penjelasan Hyunjae mungkin penting, tapi Changmin sudah hampir mengompol pada titik ini. “Kak, sorry tapi gue kebelet banget. Boleh pinjem toiletnya dulu?”

Hyunjae dengan buru-buru kembali memakai celananya dan berjalan keluar bilik, mempersilahkan Changmin untuk masuk dan pergi ke wastafel mencuci tangannya. Changmin melirik sekilas gundukan dibalik celana Hyunjae yang masih terlihat jelas sebelum mengunci pintu dan melanjutkan kegiatannya.

Hal pertama yang menyapa Changmin kembali saat membuka pintu bilik adalah wajah Hyunjae. Dengan senyum dan wajah sedikit bersalahnya yang tetap terlihat tampan dan tengil. Hati Changmin melengos. Dia bisa saja langsung bertekuk lutut pada Hyunjae saat itu juga jika masih mabuk.

“Min, apa yang kamu liat—” ”Iya, Kak. Aku gak liat apa-apa, kok. Mulutku juga ketutup rapat. Aku gak bakal ngasih tau siapa-siapa.” Changmin menggerak-gerakannya tangannya, membuat gestur bahwa mulutnya terkunci dan membuang kuncinya.

“Mhmm..” Hyunjae hanya tersenyum pada jawaban yang diberikan Changmin. Cue to the awkward tension between them at this moment.

Changmin melirik gundukan di bagian selatan Hyunjae. Dia melihatnya saat memergoki Hyunjae barusan. Besar. Changmin meneguk ludahnya, berusaha untuk menampilkan ekspresi normal dan menghilangkan merah dari telinganya.

Tapi yang tidak Changmin sadari, adalah bahwa Hyunjae sadar. Hyunjae tahu pasti— atau merasa cukup yakin— bahwa Changmin menginginkannya. Dan apa yang akan dilakukan Hyunjae jika ada cowok lucu yang menginginkan dirinya? Tentu saja Hyunjae akan terus-terusan menggoda mereka dan membuat mereka bertekuk lutut dan memohon padanya. Itulah yang akan dilakukan Hyunjae kepada Changmin malam ini.

“Min...”

Changmin dapat melihat aura tengil kembali di wajah Hyunjae. Ia merasa harus kabur dari situasi ini, tapi kakinya tidak mau bergerak dan tetap di tempat. “Iya, Kak?”

“Udah pernah?”

Changmin bingung dengan arah pertanyaan Hyunjae yang mendadak. “Pernah apa, Kak?”

“Masturbasi.”

Changmin batuk-batuk mendengar kata tersebut diucapkan dengan sangat ringan oleh Hyunjae.

“Oh. Belum pernah ya berarti?” Hyunjae hanya manggut-manggut melihat reaksi Changmin terhadap pertanyaannya barusan.

“Pentingnya apa emang buat Kakak tau....” Changmin berhasil membalas perkataan Hyunjae setelah menetralkan degup jantungnya.

“Mau diajarin gak?”

Deg. Jantung Changmin bisa copot beneran.

“Diajarin gimana, Kak?”

“Diajarin, cara enaknya gimana. Biar kalau pas lagi kepengen terus gak ada partner, masih bisa main solo.” Hyunjae mengedipkan sebelah matanya.

And Ji Changmin, being the sluttish that he actually is, tanpa sadar menganggukkan kepalanya. Hyunjae is so gonna be a death to Changmin.


Berhimpitan pada bilik kamar mandi berukuran kecil, Hyunjae duduk di atas kloset sementara Changmin tetap berdiri, badannya mengarah pada Hyunjae dan bagian atas perutnya sedikit menempel dengan wajah Hyunjae, membuat Changmin merasa sedikit tergelitik.

“Lepas dulu celananya dong, ganteng.”

Rasa malu Changmin saat ini tidak dapat diukur dengan kalimat, tetapi ia tetap menuruti apa yang disuruh oleh Hyunjae. Melepas sabuk pinggangnya, membuka resleting dan menarik turun seluruh pelindung tubuh bagian bawahnya. He is now half-naked, half-hard, in front of smug Hyunjae.

“Pinter.” Hyunjae menepuk-nepuk pundak Changmin. And for some reason, Changmin felt more confident already.

“Sekarang diajarin gimana enaknya ya.”

Changmin mengangguk. Ia siap menerima pelajaran malam ini.

“Tangannya gini..” Hyunjae menggenggam penis Changmin secara mendadak tanpa aba-aba dan peringatan, membuat Changmin sedikit berteriak dan dengan segera menutup mulutnya.

“Hahaha. Sorry, sorry. Kaget ya.” Hyunjae tertawa. Reaksi Changmin terlalu lucu di matanya.

Changmin hanya mengangguk dengan wajahnya yang masih merah. Dia tidak menyangka akan ada dalam hidupnya, sebuah memori bisa melakukan ini bersama Hyunjae. Hyunjae, pujaan hatinya.

Tangan Hyunjae perlahan memijat pelan, menangkup dan menekan, memberikan rangsangan pada bagian-bagian yang ia tahu akan memberikan nikmat. Tentu saja teorinya benar, karena sekarang Changmin mendesah keenakan, matanya tertutup dan satu tangan digunakan untuk menutupi mulutnya demi mencegah keluarnya suara yang akan menyebabkan mereka ketahuan melakukan hal yang tidak pantas di sebuah kamar mandi umum.

Hyunjae dengan asik terus memainkan tangannya pada penis Changmin hingga Changmin merasa tidak tahan. “Ah— Kak... M-mau...” Dan saat itu juga, tangan Hyunjae berhenti, melepas genggamannya. Changmin melotot, tidak menyangka Hyunjae akan bersikap kejam seperti ini dengannya.

“Kak.... Kakak...” Rengek Changmin. Pinggulnya digoyang-goyangkan ke arah telapak tangan Hyunjae, yang tidak lagi meresponnya.

“Kan tadi Kakak niatnya ngajarin kamu. Cobain sendiri dong.” Jujur, kalau Changmin gak keburu sange pengen keluar, mungkin Hyunjae udah dia pukul.

Changmin dengan ragu-ragu mengarahkan tangannya, mencoba untuk menggengam dan memainkan tangannya sesuai dengan apa yang dia ingat dari gerakan Hyunjae.

Ugh... Kak.... Mau tangan Kakak... Tangan aku rasanya gak sama....”

Hyunjae might or might not felt proud because of this.

Pinggul Changmin yang masih berusaha mencari nikmat dihentikan oleh Hyunjae. “Changmin mau dienakin sama Kakak?”

Changmin membuka matanya dan menatap dalam ke mata Hyunjae, mengangguk. Mencoba menyalurkan seluruh emosinya kalau dia siap untuk apapun yang Hyunjae ingin lakukan kepadanya.

“Mau... Mau Kakak...”

Maka tanpa ragu-ragu, Hyunjae kembali memfokuskan tangannya memberi nikmat kepada Changmin. Mengocoknya cepat, naik.. turun... naik... turun... Desahan Changmin dapat didengar dengan jelas oleh Hyunjae, merdu seperti aliran musik di luar ruangan.

“Kak... Lebih kenceng.. Ah... Tangan Kakak... Enak...”

Hyunjae hanya memfokuskan diri pada gerakan tangannya yang sudah licin dengan cairan pre-cum dari Changmin. “Keluarin, ya, Sayang...”

Mendengar kata ‘sayang’ diucapkan oleh Hyunjae, tubuh Changmin bergetar. Ia mencapai puncaknya, ditemani oleh Hyunjae. He wouldn’t ask for anything more in this world. Cairannya menciprati tangan dan sedikit wajah Hyunjae, which when he opens his eyes, he saw that Hyunjae collects his cum on his finger and licks it. Gross, but hot.

Changmin hendak memakai kembali celananya and call it a night when he saw the bulge in Hyunjae’s pants is still there.

“Kakak....” Cicit Changmin kecil.

“”Hm?”

“Itu... Kakak masih keras...” Changmin menunjuk gundukan dibalik celana Hyunjae.

“Oh? Gak pa-pa. Nanti Kakak urus sendiri aja.”

Changmin menimbang-nimbang seluruh pro dan kontra pilihannya sejenak. Ia bisa saja mengikuti kata Hyunjae dan kabur sebelum situasi bertambah aneh, atau dia bisa mengambil langkah berani dan membuat segalanya makin aneh because fuck it, dia baru saja diberikan handjob oleh Hyunjae di bilik kecil kamar mandi tempat pesta yang harusnya mereka nikmati berlangsung yang mana sudah terlanjur aneh.

Saat Hyunjae berdiri dan berniat membuka pintu bilik, Changmin tiba-tiba bergeser ke sisi kanan kloset dan berlutut disana.

“Ngapain, Min?”

“Ngebales Kakak. Kan tadi Kakak udah enakin aku, sekarang gantian.”

“Terus ngapain berlutut?”

“Ini kurang jelas kah aku mau ngapain? Ya aku mau nyepong Kakak.”

“Ngelantur kamu? Masturbasi katanya belum pernah, udah mau sok-sokan nyepongin orang segala.”

“Aku gak bilang gak pernah. Itu kan asumsi Kakak sendiri.”

Hyunjae mengangguk-angguk. Benar yang dikatakan Changmin, itu tadi hanya asumsinya.

“Terus kalo soal sepong, udah pengalaman juga?”

Changmin menggeleng. “Belum. Tapi aku pernah liat di film-film sama video bokep. Atau Kakak bisa ajarin aku juga, kan.” Perkataan Changmin kali ini juga diucapkan dengan sangat enteng.

Tangan Hyunjae yang sedari tadi memegang kenop kini dilepas. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat, sangat tertarik dengan tawaran Changmin. “Ini kamu serius?”

“Iya, serius. Cepetan sebelum kaki aku kesemutan.” Changmin mulai menepuk-nepuk lututnya yang sudah dingin dan memerah.

Melihat Hyunjae masih memberikan ekspresi ragu, Changmin mulai bergerak dengan inisiatifnya sendiri. Membuka sabuk pinggang Hyunjae dengan tangannya, tetapi mencoba menurunkan resleting celana dengan giginya sesuai dengan apa yang pernah ditontonnya yang menurutnya seksi.

Min....” Hyunjae menggeram. Pemandangan Changmin yang sedang berlutut, ditambah Hyunjae bisa merasakan napas hangat Changmin menembus celana dalamnya membuat Hyunjae mabuk kepayang. Dia bisa aja menerkam Changmin jika tidak menahan diri.

Changmin menciumi penis Hyunjae yang masih terbalut dengan celana dalam, memberikan kecupan basah hingga meninggalkan jejak gelap. Kemudian dengan gerakan yang dibuat se-provokatif mungkin, Changmin menggigit bagian pinggir celana dalam Hyunjae dan menurunkannya dengan giginya.

Sekarang penis Hyunjae berada tepat di depan wajah Changmin.

“Yakin?”

Changmin menatap mata Hyunjae, meminta persetujuan. Hyunjae menganggukan kepala.

Dengan gerakan pelan dan sehati-hati mungkin, Changmin mulai mendekatkan mulutnya. Awalnya tidak yakin apa yang harus dilakukan, jadi dia mulai dengan kembali menciumi penis Hyunjae pada segala sisi, mulai dari ujung hingga ke pangkalnya. Kemudian dimainkan lidahnya, mencoba merasakan Hyunjae, mengalir mengikuti urat-urat yang terlihat.

“Min... Jangan main-main, ah.” Hyunjae hampir tidak tahan dengan ritme pelan Changmin. Ia harus merasakan hangat mulut Changmin sekarang atau ia bisa gila.

Jadi yang dilakukan Changmin adalah, membuka mulutnya lebar-lebar dan meratakan lidahnya. Membawa penis Hyunjae perlahan-lahan masuk ke dalam rongga mulut, kemudian menutup dan menggembungkan pipinya. Berhati-hati untuk tidak mengenai gigi.

Fuck... Min. Mulut kamu enak.... Sekarang coba gerakin maju mundur, ya.”

“Mhmm..” Changmin mencoba menjawab, memberikan getaran listrik yang enak mengalir ke seluruh tubuh Hyunjae. Dan dengan gerakan pelan, mencoba untuk mulai memaju-mundurkan kepalanya sesuai dengan instruksi. Maju... mundur.... maju..... mundur...

Beberapa menit berlalu, Changmin masih berkutat dengan ritme pelannya yang membuat Hyunjae merasa sedikit frustrasi. “Min... Aku yang gerak aja, gimana?”

Changmin melepaskan mulutnya. Matanya berair dan bibirnya mulai membengkak. Hyunjae thinks Changmin looks prettiest like this.

“Iya... Yaudah. Aku juga pegel lehernya...”

Hyunjae tertawa. Bagaimana mungkin seseorang masih bisa terlihat (atau terdengar) lucu saat sedang melakukan blowjob? Mungkin hanya Changmin seorang.

“Buka lagi mulutnya..” Changmin menurut. Dikulumnya penis Hyunjae yang sudah kembali merangsak mulutnya. Hyunjae memulai dengan ritme pelan seperti yang dilakukan Changmin, untuk membuatnya terbiasa, kemudian mulai menaikkan temponya.

Ah... Ah... Min... Coba ngomong lagi...”

“Hng....” Getaran dari tenggorokan Changmin mampu membawa Hyunjae mencapai puncaknya.

Changmin mencoba untuk menelan cairan di mulutnya, namun terlalu banyak sehingga sebagian menetes pada lantai dan mengenai kakinya.

Hyunjae, dengan tampang terjahilnya, menyapukan jarinya pada bibir Changmin dan memaksa sisa-sisa cairannya untuk kembali disodorkan ke dalam mulut Changmin. Again, gross, but hot.

Wajah horror Chanhee kali ini yang pertama dilihat oleh Changmin dan Hyunjae ketika membuka pintu bilik.

“Min???? Jangan bilang????” Ucap Chanhee dramatis sambil menunjuk ke arah Changmin dan Chanhee, bolak-balik. Changmin panik, sementara Hyunjae hanya tertawa.

“Lo gak denger atau liat apapun!!!!” Changmin yang malu mencoba untuk menyingkirkan Chanhee keluar dari kamar mandi bersamanya, tapi Chanhee malah berteriak, “TANGAN LO BELUM DICUCI JI CHANGMIN!!! JANGAN PEGANG-PEGANG GUE JIJIKKKKK!”

 

-end.