Actions

Work Header

five times and more, loving and being loved

Summary:

Samatoki mencintai laut. Laut mengingatkannya pada kebebasan tiada batas, langit biru, dan deburan ombak pembawa sejuk sepoi dan ketenangan batin.

Sama halnya dengan rasa cintanya pada merah, hijau, dan Ichiro.

Notes:

Halo, saya Aria. Hari ini saya mencoba mengeksplor hubungan SamaIchi melalui laut.

Kemarin saya dimarahi oleh teman saya karena membuat bittersweet untuk event valentine ໒( •́ ∧ •̀ )७ Selamat membaca dan selamat hari kasih sayang!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

-2.

Samatoki menyukai laut.

Bukan karena dia tinggal di dekat pelabuhan atau karena Yokohama—kota yang paling dekat dengan laut—adalah teritorinya, melainkan satu alasan simpel: Samatoki menyukai laut itu sendiri.

Laut mengingatkannya pada banyak hal; deburan halus di tiap jeda, aroma khas memikat hati, terik mentari menyengat kulit, serta—

“Samatoki-san!”

Pria itu mengadahkan wajah ke sumber suara, menatap sosok pemuda tertawa riang sembari menjulurkan tangan kepadanya. Senyum lebar tersungging cerah di bibirnya, membangkitkan tiap warna di pandangan dan ada sebagian kecil darinya melambung pesat ke langit ketujuh. Tanpa sadar pria tersebut ikut tertawa.

“Samatoki-san!” panggil pemuda itu lagi, membawa merah, hijau, serta aroma biru laut di tiap lantunan kata. “Ayo kemari! Airnya terasa dingin, lho!”

Pria itu terbahak. “Kau seperti anak kecil saja, Ichiro,” ucapnya sembari melepas ikatan sepatu. Pilihan bagus mengajak Ichiro ke pantai sebelum matahari di ujung tanduk, panas pasirnya tidak menyengat telapak.

“Memangnya ada yang salah?”

Pria itu terdiam, memandang pemuda itu lekat; meneguk tiap bias cahaya dan kasih membias di depan mata. Dadanya terasa meledak menjadi jutaan atom tiap kali sepasang dwiwarna hijau merah menyapa balik.

Apakah ada yang salah?

Tidak. Tidak ada.

Samatoki menendang kecil pasir di sela jari kaki sebelum menenggelamkan kaki ke air laut. Benar apa kata Ichiro, airnya terasa nyaman.

Ujung bibirnya tertarik membentuk seringai mengejek. “Kau ini sudah tujuhbelas tahun, berlakulah seperti anak seusiamu.”

“…” Ichiro cemberut kesal. “Berisik. Padahal kau yang mengajakku kesini…”

Samatoki mendengkus geli. Reaksi yang lucu. “Pft, kau ini ya—oi!

Ia reflek mengambil satu langkah ke belakang menghindari cipratan air dan mengernyit setengah kesal. “Bocah sialan—kalau bajuku basah gimana? Nanti aku masuk angin waktu pulang nanti!”

“Masuk angin?” Ichiro memiringkan kepalanya sok inosen.

“Aku kira orang bodoh ‘nggak bisa masuk angin.”

“…”

Samatoki mengatur napas; alis berkedut hebat menahan amarah yang hampir meledak.

“Ichiro… Berani juga ya kau, bocah!”

“Ha!” Ichiro tergelak keras menghindari cipratan air Samatoki hempaskan dan berlari ke arah lain. “Samatoki-san juga kayak anak kecil!”

“Jangan lari, Ichiro! Kalau kau lelaki tulen, hadapi aku!”

“Ngapain, aku nggak mau basah—oi! Jangan tendang airnya ke aku!”

Tawa bergema di sepenjuru pantai bersama dengan keduanya saling berlarian menghempas air beserta pasir. Mereka baru berhenti tatkala sengat mentari siang membakar kulit dan sekujur baju mereka kotor oleh pasir serta air laut. Samatoki pun harus menanggalkan jaket kulit kesayangannya yang basah kuyup; dalam hati mengeluh memikirkan bagaimana membersihkan sela-sela jahitan penuh akan butiran pasir.

Kendati demikian, tidak ada sesal maupun amarah berlabuh di dada.

“Samatoki-san.”

“Apa?”

Ichiro mengulum bibirnya malu, merah merekah di kedua pipi. Satu tangannya menarik kecil kaus Samatoki dan menenggelamkan wajahnya ke bahu.

“…Terima kasih,” gumamnya mengalir dari celah-celah. “Sudah mengajakku ke pantai hari ini.”

Dan demi tuhan,

bila Samatoki tidak ingat mereka masih di tengah jalan, ia sudah membanting stir dan mencumbu pemuda itu hingga merah merekah cantik di wajah dan hanya namanya yang dia utarakan.

“Sama-sama,” hanya itu yang bisa ia katakan. Lebih dari itu hanyalah rangkaian kata tidak koheren beserta nafsu birahi tidak terkontrol. Sampai mereka sampai di tujuan, Samatoki harus menahan diri lebih lama lagi.

Tidak apa-apa. Ia sangat menikmati hari ini—sedikit siksaan duniawi bukanlah hal berat.

Karena Samatoki sangat, amat menyukai laut.

Ia pula menyukai merah, hijau, dan Yamada Ichiro.

 


 

+5.

Jyuto menurunkan gawai ia pegang dan melempar tatapan tidak percaya kepada Samatoki.

“Kau…mau pindah? Ke Okinawa?”

Samatoki mengangguk kecil, menyesap kopi hangat semenit lalu diberikan oleh pelayan kafe. “Aku sudah berjanji pada Ichiro,” ucapnya pelan. “Setelah revolusi melawan Chuuoku dan segala tetek bengeknya sudah selesai, aku akan fokus dengan hubungan kami dan pindah ke kota lain.”

Pria berumur tigapuluhempat tahun tersebut melirik ke cincin emas melingkar di jari manis Samatoki sebelum menatap balik sang empunya.

“Kau…yakin?”

Samatoki mengangguk mantap.

“Aku sudah berjanji, Jyuto. Kali ini, aku akan membuatnya bahagia.”

Pria itu tidak langsung merespon. Ditatap air muka lawan bicaranya dalam-dalam, mempelajari tiap emosi serta pesan tersirat di setiap gerakan otot dan arah pandang. Baginya, Samatoki sudah lebih dari sekadar rekan satu tim—dia adalah keluarganya. Adiknya. Sahabat sejatinya. Ia tidak ingin pria tersebut terlempar ke jalan yang salah lantaran ada keraguan di dirinya meski hanya secuil.

“Bagaimana dengan Riou?” tanyanya. “Atau Jiro dan Saburo?”

Samatoki menghela napas menyadari kemana arah pembicaraan mereka akan berlabuh. “Riou sudah tidak membutuhkan yakuza untuk menutupi jejaknya, lagipula kau ‘kan tinggal satu atap dengannya. Untuk apa aku harus khawatir? Itu ‘kan tugasmu,” Tangannya kembali menggiring mulut gelas ke ujung bibir.  “Begitu pula dengan dua bocah itu; Saburo terakhir kali kudengar diterima kuliah di Harvard dan Jiro sudah menjadi pemain sepak bola internasional. Mereka bukan lagi anak kecil yang harus digiring kemana-mana, Jyuto.”

Jyuto membuka mulut hendak merespon, namun ia katup kembali. Ia tidak bisa mengelak ucapan Samatoki; kedua anak itu bukan lagi remaja yang harus dipantau setiap hari. Baik Jiro dan Saburo sudah menjadi dewasa dengan cara mereka masing-masing. Samatoki dan Ichiro sudah lama menanggalkan peran sebagai penjaga kedua Yamada termuda.

Tetap saja…

“Okinawa lumayan jauh dari Yokohama,” ucap Jyuto khawatir. Satu tangannya lincah mencari informasi jadwal penerbangan dan membandingkan dengan jadwal kerjanya. “Sebulan sekali mungkin bisa, tapi untuk setiap minggu…”

Samatoki menggeleng. Dasar polisi satu ini, selalu saja khawatir. “Jangan paksakan dirimu, Jyuto.”

“Tapi—”

“Aku akan baik-baik saja. Sungguh.”

“—!” Pandangan Jyuto sontak beralih pada Samatoki, seketika lupa dengan gawai di tangan serta teh herbal lama mendingin terbelangkalai.

Ekspresi pria tersebut tidak berubah; pandangannya lurus beradu dengan milik Jyuto serta otot rahang sedikit tegang. Dia benar-benar serius dengan ucapannya, tidak sekalipun berjenaka.

“Samatoki…” mulai Jyuto. Takjub, lega, serta sedikit sendu melekat kuat di tiap silabel. “Kamu—"

“Hentikan,” Samatoki menyeludupkan wajah ke telapak tangan dengan kedua pipi merekah merah. Jiro mengangguk kencang tidak melanjutkan ucapannya, namun ekspresi terharunya sudah lebih cukup mengutarakan apa yang tertinggal di kerongkongan.

“Samatoki… Aku benar-benar—” Jyuto menggeleng kepala. “—tidak, tidak. Lupakan saja.”

“Tanpa kau suruh sudah kulakukan. Jangan banyak tingkah, kelinci.”

Jyuto hanya tergelak kecil. Diraih cangkir tehnya, menyadari pesanannya sudah mendingin, dan menegak habis dalam beberapa teguk. Percakapan kali ini membuat tenggorokannya terasa kering, namun tidak sepadan dengan rasa senang membuncah di dada.

Ia tidak sabar menceritakan hal ini kepada Rio dan Nemu. Tanpa menghubungi mereka sekarang Jyuto sudah tahu reaksi mereka tidak jauh beda dengannya.

Jyuto benar-benar bangga dengan sahabatnya.

“…Samatoki.”

“Apa?”

“…Ingat baik-baik bahwa kau sangat dicintai olehnya.”

Samatoki tidak menjawab, namun jemarinya yang mengelus pelan cincin di tangan sudah lebih dari cukup menjawab kerisauan Jyuto.

 

(Chuuoku sudah tidak ada lagi. Beban yang lama ia panggul akhirnya berhasil ia tanggalkan.

Kali ini, Samatoki akan menikmati hidup sepenuhnya. Untuknya, dan untuk dirinya sendiri.)

 


 

+5.3.

“Bunga mawarnya satu, ada?”

“Ah, Samatoki-san!” sang penjaga toko bunga terkesiap tatkala sosok penghuni baru kota kecil mereka muncul di mulut pintu. Pria yang dimaksud melambai balik.

Pemuda itu beranjak dari posisi jongkoknya dan berlari masuk ke dalam. “Ada kok, ada! Aku sudah menyiapkan satu sesuai pesanan Samatoki-san hari lampau, tapi kalau mau yang buket khusus valentine juga boleh! Kebetulan masih banyak stok mawar hari ini.”

Samatoki menaikkan satu alis tertarik namun memilih untuk tidak mengubah pilihannya. “Satu mawar saja sudah cukup. Pasanganku bisa-bisa mengamuk kalau disodorkan sebuket besar.”

Pemuda itu hanya tersenyum dan mengangguk; menghormati pilihannya. Dengan cekatan ia membungkus pesanan Samatoki lalu menghiasinya dengan sehelai pita hijau mengikuti permintaan.

Kombinasi warna yang unik, mungkin pasangan pria tersebut menyukai warna merah dan hijau.

“Ini dia mawarnya, Samatoki-san,” pemuda itu menyodorkan bunga tersebut. Tanpa banyak kata Samatoki meraih dompetnya dan membayar pembeliannya. “Aku harap pasangan Samatoki-san menyukainya.”

Pria itu tertawa kecil, tangan menggenggam tangkai bunga erat.

“Aku juga berharap yang sama, bocah.”

Pria itu membuang napas setelah melangkahkan kaki keluar toko. Jantungnya mendadak berdetak tidak karuan seakan-akan ia adalah gadis dirundung cinta monyet, bukan pria dewasa yang sudah fasih urusan cinta-cintaan.

Andai Ichiro tahu, dia pasti akan menertawainya seharian. Awalnya dia akan berusaha keras untuk tidak tertawa, tapi perlahan tawa kecil akan terlepas satu-dua dan berakhir pada tawa lapang menggelitik perut.

“Maaf, maaf,” ucapnya di sela tawa. Terbayang jelas di benaknya, lengkap dengan senyum lebar mengalahkan kilau mentari dan jenaka di sepasang dwiwarna. “Tapi—membayangkanmu bertingkah malu seperti gadis sekolahan—pfffttt—"

Senyum kecil mengulas di bibir.

Samatoki harus bergegas.

Ichironya sudah menunggu di laut sana.

 


 

+0.4.

Bajingan. Bajingan. Bajingan.

“Samatoki,” Ichiro menggenggam bahu Samatoki erat.

“Atur emosimu. Ingat apa misimu sekarang.”

Dadanya terasa seperti mau meledak. Kalau saja ia tidak ingat dengan misinya sekarang, sudah sedari tadi ia menghantam sekumpulan manusia brengsek hingga darah mewarnai setiap tapak.

Menyita peredaran hypnosis mic dari khalayak umum—yang ilegal maupun legal, semua sudah dilarang menurut peraturan terbaru pasca revolusi meruntuhkan dinding Chuuoku. Seperti yang sudah tertera dalam perjanjian antara pihak Chuuoku dan resistan: Otome akan menurunkan tuntutan pajak tinggi kepada pria dan mereka akan menghancurkan seluruh hypnosis mic.

Seharusnya ini bukanlah misi yang sulit; bertarung dengan mik di tangan sudah menjadi bagian dari diri Samatoki, apalagi mengurus cecurut sialan yang kerap mengotori teritorinya. Seharusnya ia tidak usah membuang-buang tenaga untuk peduli maupun tersulut.

Tetapi tidak untuk kali ini. Tidak bisa selama dengan mudahnya mereka tertawa.

Tertawa akan perjuangan mereka menghancurkan lingkaran distopia, tertawa akan keringat serta darah mereka teteskan untuk para bajingan keparat brengsek ini, tertawa atas pengorbanan—

“Tutup mulut kalian!” hardik Ichiro murka, tetapi tidak ada yang mendengar.

Tiap mulut sahut-menyahut menjujai jutaan kata namun hanya pengang menyapa gendang telinga. Samatoki tidak tahu apa yang mereka katakan, apa yang mereka gesturkan, tapi ia tahu hanya tersisa caci-maki dan serapah yang sama.

Merah perlahan mendominasi.

“Samatoki,” Ichiro menoleh ke pria di samping khawatir. Tangannya terulur hendak menenangkan, namun terlambat sudah.

“Jangan membuatku mengulang dua kali,” geram Samatoki mengatur napas. Pembuluh darah di pelipis berkedut panas. “Serahkan mik kalian sekarang juga, atau kuhajar satu persatu sampai tidak ada yang mengenali wajah menjijikkan kalian.”

Salah satu dari mereka terbahak keras hingga bergema sepenjuru pelabuhan. Kepalan tangan Samatoki kian mengerat hingga ujung kuku mulai mencabik kulit.

Berisik. Akan Samatoki pastikan si brengsek satu itu tidak akan bisa tertawa lagi seumur hidup.

Senyum lebar tertarik di wajahnya, namun tidak ada kasih apalagi belas kasihan di dalamnya. Kelak, senyum itu akan menjadi mimpi buruk ratusan para pendosa malang dan tidak ada satupun jiwa yang selamat dari api amarah sang setan bermata merah.

Di ujung ruang, Ichiro hanya bisa pasrah menonton sang kekasih mengamuk sejadi-jadinya.

Samatoki…

Samatoki mengerjap dua kali. Sejak kapan pandangannya menjadi kabur?

Pria itu tidak ingat lengkap apa yang terjadi setelahnya. Ia hanya mengingat panas amarah membakar tubuh hingga ubun-ubun, tanpa aba-aba mengaktifkan mik, belasan varian ekspresi ketakutan, dan…

Samatoki menunduk ke bawah. Menatap kosong kedua tangannya yang kotor oleh darah bukan miliknya. Perlahan pandangannya melebar, menyapu tiap sudut ruang yang penuh oleh retakan, darah, dan tubuh orang tidak dikenal.

…Oh.

Ini semua…aku yang melakukan.

Hening mencekam. Untuk sesaat Samatoki tidak bisa berpikir apa-apa; sekujur tubuhnya mendadak mati rasa meninggalkan sensasi dingin merayap tengkorak.

Apakah mereka masih hidup? Ia tidak tahu. Pria itu tidak bisa membawa dirinya untuk khawatir; ia sendiri bahkan tidak bisa merasakan apapun. Ia hanya berdiri di situ, tidak bergeming.

Kenapa? Adalah satu-satunya kalimat muncul di benak.

Kenapa ini semua terjadi?

Samatoki tahu jawabannya ada di depan mata, ia hanya perlu mengambil satu langkah dan semuanya akan selesai.

Tetapi tidak bisa. Rasa asin di hari itu menempel erat di tiap indera dadanya terasa sesak, sesak, sesak, sesak. Saking sesaknya ia ingin mengamuk, mengutuk, menarik siapapun yang berdiri di atas langit ketujuh dan menenggelamkannya jauh, jauh, jauh di dasar laut.

Samatoki hanya ingin ini semua berakhir.

Samatoki hanya ingin, hanya ingin…orang itu kembali.

“Samatoki.”

Dari belakang, Ichiro menarik jemari penuh darahnya dan menggenggam erat. Sendu terlukis di air muka akan tetapi ia tetap tegar. Untuk kasihnya dalam genggaman.

Beribu kata guna menghibur muncul bertubi-tubi di benak, namun tidak ada satupun yang berhasil keluar dari kerongkongan.

Ichiro tahu meski mulutnya berbusa pun Samatoki tidak akan mendengarkannya. Pemuda itu hanya bisa menawarkan sentuhan dan satu ucapan kecil,

“Ayo pulang, Samatoki.”

Ini bukan salahmu.

Ah, benar juga.

Pulang. Samatoki harus berpulang; orang-orang terkasihnya telah menunggu di rumah.

Tapi di mana?

 

(Sekejap, Samatoki merindukan laut.

Ichiro pun merindukannya. Sejuta memori indah, memori pilu, semua terkubur dalam deburan ombak.)

 


 

+0.8.

Jyuto menghela napas panjang. Di depannya, Samatoki meringkuk di bawah selimut sengaja memunggunginya.

“Aohitsugi Samatoki.”

Tidak ada reaksi.

“Samatoki,” ulang Jyuto dengan penekanan lebih. Senyum masih senantiasa tersungging namun pelipis berkedut merah. “Aku tahu kau mendengarkanku. Sekali lagi kau tidak merespon, akan kujadikan seluruh koleksi baju vintage punyamu kain lap di dapur. Aku tidak main-main.”

Samatoki mengerang panjang dan akhirnya membalikkan badan menghadap Jyuto. Ditatap rekan satu timnya tidak suka, bergumam kasar, “Apa? Kalau kau datang hanya untuk menggangguku, lebih baik kau pergi jauh-jauh.”

Jyuto hanya menarik napas panjang sebelum menggestur pada meja di sebelah kasur. Di atasnya terduduk manis baki berisi rangkaian makanan—buatan Riou, mata Jyuto menangkap catatan kecil di samping mangkuk nasi—dingin.

“Lagi-lagi kau tidak menyentuh makananmu.”

“…” Samatoki mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Jyuto tidak putus asa dan tetap melanjutkan,

“Padahal Riou sudah menggunakan bahan makanan normal untukmu. Lihatlah, dia bahkan tidak menggunakan daging kodok favoritnya! Kau sendiri suka ‘kan dengan masakan Riou?”

Samatoki masih tidak menjawab, namun pandangannya kini menurun dan berkali-kali melirik makanan yang dimaksud—merasa bersalah kepada sang mantan tantara.

“Kalau begitu… akan kumakan.”

Oke, Jyuto memberi tepukan imaginer di punggung pada dirinya sendiri. Setidaknya ada perkembangan.

“Sekarang?”

“Nanti.”

Oh, Tuhanku. “Dan nanti itu kapan, Samatoki?”

Samatoki bungkam. Pandangan mendarat ke arah pria di hadapan namun fokusnya melalang buana ke negeri entah-berantah.

Jyuto memijat kening tidak tahu lagi harus berkata apa. Jakurai sudah mengingatkannya untuk memberi ruang kepada Samatoki terlebih dahulu; Jyuto masih mengingat jelas kata-katanya, namun melihat kondisi sahabatnya sekarang…ia tidak tega.

“…Samatoki.”

Napas getir keluar dari sela bibir. Ia tidak tahu apa yang Samatoki pikirkan maupun apakah dia mendengarnya, Jyuto tidak lagi peduli. Setidaknya, pria ini perlu tahu.

“Ini soal adikmu, Nemu.”

Samatoki masih tidak menatapnya, akan tetapi bahunya sedikit tersentak menandakan atensinya mulai tertarik kembali.

“…Ceritakan padaku.”

Bagus. Berarti Jyuto tidak perlu mengulang dua kali.

(Sedikit dia tahu, ada sosok lain mendengarkan percakapan mereka.)

Ichiro beringsut mendekati pria yang bergulung di dalam selimut, tertawa geli kala menemukan hanya pucuk menyembul di atas. Tangannya sempat terulur untuk menyentuhnya namun ia tarik kembali. Pemuda itu memilih untuk duduk di sampingnya, menatap lurus lembayung senja lewat senja.

“Hei, Samatoki,” panggilnya. “Aku mendengar semuanya.”

Tidak ada jawaban. Tidak apa-apa, Ichiro sudah terbiasa.

“…Kau tahu, kupikir lebih baik kau datang saja. Nemu pasti sedih kalau tahu kakaknya yang tersayang menolak untuk datang ke acara pernikahannya,” Ichiro mencoba membayangkan reaksi gadis itu lalu meringis. Bila ia berada di posisi Nemu, sedih bercampur marah tidak cukup untuk menggambarkan perasaannya.

Seperti yang ia duga, Samatoki tidak menjawab lagi. Ichiro sudah tidak kaget.

Yang ia tidak duga adalah dengkuran halus menghampiri indera pendengarannya. Perlahan ia menarik turun selimut yang merengkuh figur pria itu, menemukan wajah tertidur Samatoki; lengkap dengan titik-titik kecil membasahi bantal disertai sisa airmata menghiasi pipi.

Sendu seketika merajah sekujur tubuh, menggiring air mata berkumpul di pelupuk. Oh, Samatoki-ku.

“Samatoki,” menahan isak, Ichiro melanjutkan, “Sudah hampir setahun sejak kita memenangkan perang. Apakah ini sikap yang layak untuk seorang pemenang? Meringkuk berhari-hari di dalam kamar, meratapi apa yang sudah lama pergi? Begitu?”

Hipokrit. Ichiro ingat dahulu Samatoki pernah memberinya julukan tersebut dan betapa bencinya ia mendengar kata itu.

Tapi kali ini ia harus mengakui bahwa benar apa katanya; Ichiro tidak lain adalah hipokrit. Munafik yang hanya bisa berbohong dan berbohong, entah untuknya atau untuk sang terkasih.

(Semua sendu yang Samatoki jinjing, semua kasih yang Samatoki bawa hingga ke dasar neraka,

Disebabkan tak lain oleh Yamada Ichiro. Ialah pelaku sesungguhnya.

Bukan Samatoki. Tidak pernah Samatoki.

Hanya Ichiro.)

“…Samatoki, sayang,”

Ichiro tidak tahu persis apa yang tersisa di dalam dirinya maupun apa yang mendorongnya untuk menangkup wajah Samatoki erat hingga hidung mereka saling bersentuhan. Tidak ada hangat napas berganti di antara apalagi panas sentuhan pengundang kasih tiada tara. Hanya saja, di detik itu, di saat itu, Ichiro merasa kembali hidup—untuk Samatoki, dan Samatoki seorang.

Apakah itu adalah tekad? Ataukah keputusasaan?

Atau…cinta?

“Tolong. Bahagialah, untukku. Jangan salahkan dirimu terus-menerus.”

Ini semua salahku.

Andai saja kau bisa mendengarku, sayang.

 

(Pagi itu, Samatoki menyadari tidurnya jauh lebih nyenyak dibandingkan hari-hari lalu.

Selang kemudian, Jyuto dikejutkan oleh Samatoki menelponnya untuk menjemputnya mengunjungi Nemu. Pria itu hampir saja melanggar lalu lintas karena mengendarai mobil terlalu cepat.)

 


 

+2.

Samatoki terbangun dengan sesak mengisi paru-paru dan asin merengkuh indera lidah.

Ia mulai terbiasa dengan sensasi tersebut; beribu cara sudah Samatoki lakukan untuk mengusir gusar di dada namun tidak ada hasil, satu-satunya jalan keluar hanyalah berkompromi. Membiarkannya dengan harapan suatu saat nanti akan pergi sendiri.

Hari ini Samatoki senggang sehari penuh—kesempatan yang jarang ia dapatkan di hari kerja, karena itulah ia ingin menggunakannya dengan baik.

Seperti mengunjungi tempat itu, misalnya.

Di ujung kamar, Ichiro bungkam. Menatap pemandangan pagi kota Yokohama dengan sejuta kata mengilat di pandangan.

Kalau kau tidak mau pun juga tidak apa, adalah yang ia ingin katakan. Sayangnya Ichiro tidak pandai berbohong bahkan ke dirinya sendiri.

Samatoki terdiam. Sensasi asin di mulut menjadi-jadi bersama rumput laut bergoyang di tiap tapak.

(Tenggelam, tenggelam, tenggelam.

Hangat dekapan kesunyian kekal seperti apel ranum di hadapan petualang kelaparan.)

Samatoki memaksakan diri untuk bangun dari kasur dan berjalan menuju dapur. Tubuhnya spontan bergerak sendiri mempersiapkan sarapan. Benaknya melayang entah kemana sebelum tertarik kembali ketika menyadari ia membuat kopi secangkir lebih.

“Sudah kuduga,” Ichiro berpangku wajah menatap ekspresi linglung pasangannya. “Kau selalu seperti ini ketika kau melamun. Kau pikir di rumah ini ada berapa kepala?”

Pandangannya beralih ke meja makan di mana ia menaruh sarapan.

“Kelebihan satu, sayang. Kelebihan satu.”

 Samatoki menghela napas panjang, letih membuncah di dada.

Lagi dan lagi, ia terus melakukan kesalahan serupa.

Perjalanan ke tempat dituju terasa panjang dan melelahkan.

Samatoki menyadari ia mulai membenci banyak hal setelah sekian lama tidak mengendarai mobil sendiri. Kedipan lampu lalu lintas setiap si merah menyala terang, lantunan musik ia tidak pernah dengar, gunyonan bodoh di sela-sela pembicaraan omong kosong, sensasi dingin setir mobil, langit biru menggantung di atas sana—Samatoki membenci semua.

“Tunggu sebentar lagi, Samatoki,” Ichiro senantiasa mengingatkan. “Sebentar lagi kau akan tiba di tujuan.”

Pria itu melirik buket kecil terduduk di sebelah. Ia awalnya tidak berencana membelinya, tapi ia tidak bisa berpaling kali pertama matanya mendarat padanya.

Bunga matahari—cerah dan menarik perhatian langit beserta sejuta makhluk berpayung di bawahnya.

(Seperti anak itu.)

Tatkala ia sampai di tujuan, Samatoki tidak membuang waktu untuk keluar dari mobil dan bergegas berjalan menuju tempat dituju. Buket bunga matahari di dalam genggaman ia bawa dengan penuh hati-hati seakan mereka terbuat dari gelas kaca.

Pria itu bisa merasakan belasan tatapan dengan varian ekspresi tertuju padanya. Ia tidak mengindahkannya; selama mereka tidak menghampirinya, Samatoki akan membiarkan mereka menatapnya sesuka hati.

Tanpa melihat pun Samatoki tahu apa yang mereka lemparkan padanya: prihatin, sendu, serta belas kasihan.

Samatoki tidak butuh itu semua.

Di belakangnya, Ichiro melirik sekumpulan orang yang mereka lewati. Beberapa di antaranya merupakan orang-orang yang ia kenali—nenek penjaga toko buah, orangtua beserta anak yang pernah ia tolong, pegawai kantoran yang selalu berpapasan tiap pagi, dan masih banyak lagi—atau yang pernah memakai jasa yorozuya.

Dan di antaranya, Samatoki mengambil satu langkah maju.

Langkah pria itu terhenti persis di depan monumen menjulang. Samatoki menunduk sedikit, meraih seutas nama terukir sendiri di antara tiang-tiang kecil berisikan belasungkawa dan memori akan histori baru terukir pada masa sekarang.

Nama milik seorang pemuda yang dicintai oleh langit, oleh bumi, oleh semesta. Seorang pemuda yang kini tertidur pulas di langit ketujuh, tidak lagi menahu akan rasa sakit maupun penderitaan kehidupan.

Pemuda yang mencintai laut, sebagaimana ia mencintai Samatoki.

   In memoriam,

      Yamada Ichiro.

   Gugur secara hormat pada usia 19 tahun di tengah insiden Peruntuhan Chuuoku. Monumen ini dibangun untuk mengenang dan menghormati sang Bintang kejora Ikebukuro. Selamanya ia akan dikenang di hati kami.

Tersenyum getir, Samatoki menaruh buket matahari di samping monumen kemudian meluruskan pinggang seakan-akan sendu yang ia tampilkan hanyalah fatamorgana.

(Salah.

Samatoki hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ichiro.)

“Yo, Ichiro.”

Samatoki berbisik sangat pelan; lebih dari itu hanya akan ada air mata sia-sia terbuang.

Ichiro tidak akan suka. Ia datang untuk menyapa, bukan untuk menunjukkan pada kekasihnya sendiri bahwa setelah dua tahun pun, ia masih tidak bisa berpaling.

Ia merindukan tawa riangnya. Merindukan senyum bodohnya kalau sudah kumat membicarakan kartun kesukaan. Merindukan dekapan hangatnya di kala sendu. Samatoki sangat, sangat dibuat muak oleh rasa rindunya ia berkali-kali berusaha membenci Ichiro, membenci dirinya sendiri, membenci dunia beserta seisinya yang terus mengingatkan betapa ia mencintai pemuda itu dan selamanya ia akan terus seperti ini.

Samatoki merindukan Yamada Ichiro rasanya ia ingin melempar diri ke dasar laut dan tenggelam bersama abu sang terkasih.

Samatoki memang manusia paling bodoh di muka bumi.

 

(Di belakang, Ichiro hanya bisa menyenderkan tubuh ke punggung Samatoki dan menatap kosong langit biru.

Kali ini saja, biarkan dia berpura-pura jantung mereka masih berdetak beriringan.)

 


 

+5.3.

Samatoki menghela napas panjang setelah melempar setangkai mawar ke tengah lautan, menikmati deburan ombak sore hari diselingi kicau ribut burung. Bungkus plastik dan pita penghias sudah ia tanggalkan dan ia taruh di atas bebatuan terdekat; tidak baik mengotori sembarangan.

Ia bersyukur telah menemukan tempat yang bagus untuk menikmati keindahan laut Okinawa seorang diri. Andai saja Ichiro ada disampingnya, pasti dia sudah berlari ke mulut pantai dan berlarian.

Samatoki mendengkus jenaka membayangkannya. Sesaat ia teringat pada masa-masa mereka masih berpacaran; anak itu masih 17 tahun kalau tidak salah.

Ah, sudah berapa lama sejak saat itu? Tujuh tahun? Delapan tahun? Samatoki tidak ingat betul, tapi dia menyimpan tiap detik kebersamaan mereka di tempat spesial di hatinya. Senyumnya, tawanya, amarahnya, semua. Tersimpan rapi di memori terdalam sebagai pengingat bahwa benar ia telah mencintai dan dicintai.

Tidak terasa sudah lima tahun sejak kematian Ichiro. Lima tahun juga perjuangannya untuk menerima kenyataan dan membuka halaman baru. Perpindahannya ke Okinawa hanyalah awal dari langkah baru sekaligus penebusan janji terakhirnya dengan pemuda itu—bagaimanapun juga, Samatoki adalah pria yang selalu menepati janjinya.

Ichiro mencintai laut.

Samatoki pun, mencintai laut. Sebagaimana ia mencintai merah dan hijau.

Pandangannya beralih pada lembayung senja, di mana awan berenang-renang riang di atas sana tanpa beban sedikitpun.

Di detik ini, di saat ini juga, Samatoki akan menyudahi semuanya.

“…Hei, Ichiro.”

“Ya?”

Diam sesaat. Tidak ada kata yang tertukar, hanya debur ombak sore beserta kicau burung sesekali menjadi peneman keheningan. Samatoki menatap lurus garis tipis perantara langit dan bumi, bertanya,

“Apakah kau mencintaiku, Ichiro?”

“Tentu,” sahut Ichiro tanpa jeda.

“Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Samatoki. Sampai kapanpun, aku akan selalu disampingmu.”

“—?!”

Hening menyapa. Samatoki terbelalak kaget melototi sumber suara—hampa, tidak ada siapapun, seharusnya tidak ada siapapun—yang bertahun-tahun ia hanya bisa dengar lewat rekaman lama dan mimpi.

Suara itu, apa mungkin—?

Samatoki menelan ludah takut-takut sebelum memanggil,

“…Ichiro?”

Tidak ada jawaban.

Perlahan, Samatoki menghembuskan napas dengan rahang bawah bergetar. Sial, sekarang ia ingin menangis lagi.

Sudah berapa lama ia ingin mendengar kalimat itu? Sudah berapa banyak skenario ‘andai saja’ ia ciptakan di benak, menggerogoti tubuhnya hingga tersisa tulang belulang?

Jadi selama ini kau selalu menemaniku? Samatoki rasanya ingin tertawa. Menertawai kebodohannya selama lima tahun lebih. Sialan kau, Ichiro. Bisa-bisanya kau menyaksikan sisi lemahku.

Samatoki tidak pernah menyesal telah jatuh cinta pada Yamada Ichiro. Tidak akan pernah.

“Terima kasih.”

Untuk terakhir kalinya, Samatoki mengadahkan wajah ke atas, membiarkan setetes air mata menitis turun—

Samatoki mengambil satu tarikan napas panjang, melepas semua setelah lima tahun lamanya.

Ia tidak lagi tenggelam.

Di mulut pantai, Ichiro tersenyum hangat memerhatikan punggung Samatoki kian mengecil. Mawar yang pria itu hanyutkan kini berada di dalam genggaman.

“Selamat hari kasih sayang, Samatoki,” ucapnya kepada angin sepoi sore. Kicau burung saling bersahutan membuatnya teringat kala pria tersebut membawanya ke pantai untuk kali pertama.

Memori yang indah, namun Ichiro pun juga harus menyudahi semuanya.

“Jangan menyusulku terlalu cepat ya?”

Melempar satu senyum hangat untuk terakhir kali, Ichiro berbalik arah dan berjalan masuk ke tengah laut.

Samatoki telah melantunkan kalimat terakhir penutup panggung tragis bernama dunia, dengan mereka sebagai tokoh utama. Sudah waktunya untuk Ichiro berpulang setelah sekian lama melalangbuana.

Di tengah gelapnya laut, inilah rumahnya.

 


 

 

 

 

0.

Air mata hanya boleh jatuh ketika orang terdekat menemui ajal.

Samatoki ingat betul dengan kalimat itu. Bertahun-tahun ia memegang teguh kalimat itu selayaknya petuah dari sang kuasa, tidak pernah sekalipun membiarkan diri sendiri meneteskan airmata dalam kondisi apapun.

Karena itu, mengapa—?

“Jakurai-san! Jakurai-san! Sial, dimana dia—”

Ini adalah saat paling tepat untuknya menangis. Seharusnya ia menangis—semua orang telah berderai air mata, mengutuk dan melempar sumpah serapah,

terkecuali dirinya seorang.

“Tidak bisa, ini di luar kemampuanku—"

“—mundur! Mereka tidak main-main!”

“Ichiro? Oi, Ichiro! Bertahanlah!”

Semuanya terus dan terus berputar ulang di benaknya seperti kaset rusak. Ia bahkan berani bersumpah aroma anyir darah masih membekas di jemarinya, teriakan panik bertumpang tindih di telinga, adiknya yang tersayang—Nemu, batinnya terisak, Oh, Nemu—merengkuh tubuh pria itu pria itu pria bersimbah darah darah darah ia tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya bisa menonton Ichiro terhempas dan darah mengucur mengucur i̷n̸i̷ ̸s̶e̸m̴u̶a̴ ̷s̸a̸l̶a̴h̷n̶y̸a̴—

“Samatoki.”

Butuh sedetik untuknya menyadari seseorang menyebut namanya. Pria itu menoleh ke sumber suara, mendapati Jyuto beserta Riou menatapnya khawatir bercampur prihatin.

Samatoki tidak menyukai tatapan mereka.

“Apa?” paraunya, intonasi sedikit lebih kasar dari yang direncanakan. Pria berkacamata itu terlihat tidak keberatan—ekspresinya justru semakin mengeruh—dan melanjutkan, dengan nada lebih halus,

“Hanya tinggal kau yang belum melihat jasad Ichiro.”

Samatoki terdiam.

Haruskah?

Sejujurnya Samatoki tidak mau. Menghadiri upacara pemakaman ini saja sudah membuatnya ingin segera pulang dan minum sebanyak-banyaknya, melupakan realita dan segala kebangsatannya.

Samatoki hendak menolak, tapi satu tatapan dari rekannya membuatnya merasa tidak enak.

“…Sebentar saja,” Samatoki dengan berat hati beranjak maju. “Setelah ini kita pulang. Aku tidak mau berlama-lama di sini.”

Bila ucapannya terkesan dingin dan acuh bagi yang mendengar, bukan urusannya. Dunia tidak perlu tahu apa yang Samatoki sesungguhnya rasakan dan bukan tugasnya meluruskan kesalahpahaman mereka.

Sebisa mungkin pria itu menghindari saling tatap-menatap dengan siapapun khususnya kepada Yamada bersaudara yang tersisa. Emosinya terlalu berantakan bahkan untuk sekadar memberi sapa apalagi belasungkawa.

Jangan menangis, batinnya berbisik. Jangan perlihatkan sisi lemahmu di hadapan mereka.

Langkahnya terhenti. Di hadapannya, hanya terpisah beberapa puluh senti di antara, bersemayam tubuh sang kekasih. Sekarang adalah kesempatan terakhir dan selamanya untuk menatap wujudnya dengan mata telanjang; Samatoki berkali-kali berbisik pada diri sendiri seperti sedang membaca mantra.

Satu langkah.

Dunia berhenti berputar. Hiruk-pikuk melengking, membias, kemudian hening.

Satu langkah.

Ada yang bergejolak hebat di perut membuatnya mual. Samatoki kehilangan kontrol tubuhnya—setiap syaraf, motorik, sensasi terasa mati, mati, mati. Mungkin manusia normal sudah sedaritadi pingsan di tempat.

Satu langkah.

Berhenti.

Ichiro kini memenuhi seluruh pandangannya.

Tenang, satu-satunya komentar yang terbesit. Baru kali ini Samatoki melihat Ichiro setenang ini. Berbalut jas hitam dan bunga mengelilingi, Ichiro yang tertidur di dalam peti itu terlihat…elegan. Selayaknya putri tidur menunggu sang pangeran memberikan kecupan di bibir.

Apakah aku perlu mengecupmu untuk membangunkanmu?

Samatoki tersenyum nanar.

Sungguh mimpi yang teramat konyol.

 

(Tidak ada air mata menetes.

Sebagai gantinya, Samatoki semakin tenggelam, tenggelam, tenggelam ke dasar laut.)

Notes:

Sedikit trivia:

Bagi yang belum menyadari, angka yang dipasang di tiap scene mengindikasikan kapan itu terjadi.

Kemudian bila menghapus setiap kemunculan Ichiro yang dialognya dimiringkan, maka akan lebih terasa betapa lonly sang kuda putih kesayangan kita semua :") Untuk yang bingung dengan satu-dua hal boleh banget bertanya~ <33