Work Text:
Langit malam itu cukup sendu. Kala kebingungan di antara ingin tetap cerah atau menangis menumpahkan hujan. Gerombolan awan – awan yang melintas juga tampak kelabu, seolah memberikan peringatan bahwa hujan akan tumpah, namun tidak ada yang datang selain hembusan dingin angin malam.
Seisi bar terlihat sunyi, sedikit dentingan gelas dari kerjaan bartender di balik meja. Cuit – cuit percakapan terdengar samar, ada beberapa yang tergelak, menertawakan hidup malang miliknya. Ada juga yang bercakap dalam hening, mengeluarkan keluh kesah kesengsaraan sembari meracuni tenggorokan. Ada pula yang mengawang mempertanyakan jalan hidup tanpa tujuan miliknya. Jarum jam yang menunjuk angka sembilan juga tidak dihiraukan, memang tempat itu tidak berencana untuk tutup, begitu juga orang – orang disana yang tidak berencana untuk pergi.
Seseorang menaiki panggung kecil yang berada di tengah – tengah bar, mengetuk mikrofon miliknya—berusaha menarik perhatian pengunjung dari gelas – gelas alkohol yang mereka genggam. Pria itu berdehem, tersenyum saat mendengar beberapa tepukan tangan. Beberapa orang disini mungkin mengenalnya, kecuali mereka yang mungkin baru pertama kali menghabiskan malam di tempat ini. Malam itu ia mengenakan kemeja biru kelam, sedikit dekorasi polkadot mini. Di lengkapi dengan celana jeans hitam. Orang – orang menyebutnya malaikat tengah malam, selalu khas dengan penampilan kelam yang bersanding dengan suara bak malaikat.
“Selamat malam.” Suaranya menggema dari getaran pengeras suara. “Mungkin malam ini tampak kelam bagi kita, Saya keluar sebentar dan melihat langit cukup mendung. Tapi—disini kita bisa melupakan segala hal yang terjadi di hidup ini. Setidaknya, untuk sejenak. Izinkan saya melantunkan lagu ini untuk seseorang—setengah jiwa saya yang sedang tertidur.”
Suara bass terdengar, diikuti alunan piano dari jemari lentik pianist disana. Seisi bar memberikan tepuk tangan mereka. Kembali menikmati akhir hari dengan iringan suara merdu yang mengiring bulan sepanjang malam.
That faint voice of yours that grazed me
Please call my name one more time—
“Semangat Jeonggukie!”
Sang penyanyi tersenyum malu tatkala orang – orang menyoraki namanya. Alunan piano yang diiringi rintik hujan tampak menjadi hiburan penenang gratis orang – orang disana. Jeongguk menikmati detik demi detik musik bergema di telinganya. Ia menatap satu persatu pengunjung bar, ada beberapa yang kembali fokus dengan percakapannya, beberapa mendengarkan dirinya bernyanyi dengan penuh khidmat, ada pula yang sibuk menahan diri karena sudah terlalu mabuk akibat alkohol. Jeon Jeongguk hanya tersenyum dan kembali fokus ke lirik lagu miliknya.
Mungkin sedikit membosankan bagi orang – orang, menghabiskan malam dengan bernyanyi di sebuah bar, melihat segala macam bentuk manusia dengan berbagai sengsara hidup yang mereka tumpahkan di minuman – minuman ini. Dunia itu sulit untuk dihidupi, setidaknya tiap orang butuh satu malam untuk membuat diri sendiri amnesia akan segala kekejaman dunia yang keji ini.
Malam itu ia mengenakan kemeja cokelat muda. Sedikit hiasan garis garis putih. Tak lupa celana jeans hitam yang menjadi ciri khas dirinya. Pernah beberapa orang menanyakan berapa jumlah celana hitam yang ia miliki—Jeongguk tidak sanggup menjawab. Ia bahkan tidak mampu barang hanya untuk menghitung.
Senyumannya manis, kata orang. Jeongguk tidak pernah melunturkan itu dari wajahnya. Selama ia bahagia dengan pekerjaannya, ia akan selalu tersenyum sembari mengerjakan. Tak peduli jika orang bilang membosankan—Jeongguk mempertaruhkan hidupnya disini. Bahkan uang miliknya sudah cukup untuk menyewa satu apartemen kecil, tidak lagi hanya sepotong roti untuk satu hari. Ia selalu menaikkan kedua alisnya sebagai respon dari pujian – pujian yang diteriakkan orang – orang.
Omong – omong untuk malam itu, Jeongguk sedikit tertarik dengan seseorang. Beberapa hari ini, Ia duduk di ujung bar. Terlihat mengenggam segelas whiskey yang selalu terisi penuh. Figur itu akan duduk, menumpu dagu sembari tersenyum menatap dirinya bernyanyi. Ia sedikit menonjol dengan helaian pirang terang di tengah remang. Jeongguk selalu bertemu pandang dengannya—sepersekian detik ia merasa seperti melihat keindahan semesta di kedua bola mata redup itu. Warnanya sedikit coklat, cukup gelap, mendekati hitam. Jeongguk akan menaikkan satu alisnya, dan pria itu terkekeh pelan, meneguk cairan cokelat emas miliknya—tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan.
Selalu seperti itu. Sepanjang malam Jeongguk menghabiskan napas dengan bernyanyi, orang itu tidak pernah lepas menatap. Ia heran apa yang dipikirkan saat melihat dirinya? Ia terkadang tersenyum, terkadang terkekeh kecil saat Jeongguk merespon beberapa sorakan penghuni bar. Matanya indah, namun tampak sendu. Dari kejauhan Jeongguk tidak bisa menemukan cahaya di kedua bola mata itu. Lagipula ia terlalu terang menderang untuk duduk di area gelap sebuah bar.
Apa ia baru saja jatuh dari langit?
.
Berganti hari, orang itu selalu disana. Jeongguk ingat dengan jelas kemarin malam ia mengenakan kemeja silk putih polos. Untuk malam ini, ia mengenakan sweater putih tulang, sedikit kebesaran. Jeongguk menyelesaikan lagunya setelah lima menit berlalu. Membungkuk kepada penonton sebelum beristirahat sampai penampilan selanjutnya. Ia menuruni panggung, sejenak menyapa pemain – pemain musik yang selalu setia dengannya. Jeongguk melangkah menuju bar, memesan segelas wine merah. Ia mendudukkan diri, tidak jauh dari figur itu. Tiga kursi darinya, Jeongguk tidak bisa untuk tidak mencuri pandang.
Pria itu berbincang dengan bartender, salah satu tangan menumpu dagu. Kulitnya putih pucat, tampak halus. Helaian pirang miliknya untuk malam itu sedikit bergelombang, Jeongguk bersumpah ia bagai melihat malaikat yang tersasar di bumi yang kejam ini. Jemari – jemari indah itu mengenggam gelas whiskey seolah tidak ingin membuatnya rapuh. Bahkan kedua mata yang menyipit manis saat tersenyum, membuat Jeongguk lupa akan dunia.
Bahkan saat gelas wine diletakkan di hadapannya, Jeongguk tidak sedikitpun melirik.
Figur itu lantas menoleh, bertemu pandang dengan si penyanyi bar yang tampak kehilangan kesadaran akan keindahan dirinya. Jeongguk mengerjap, terkejut karena baru saja tertangkap basah. Ia hanya tersenyum sembari mengelus tengkuk miliknya, terasa dingin.
“Um, halo?”
Suara pria itu terdengar merdu, barang hanya berkata – kata. Jeongguk heran, apa tuhan sengaja melepaskan salah satu malaikatnya kemari? Untuk apa? Dunia ini kotor, ia terlalu indah untuk berada disini.
“Halo..?” Jeongguk ingin menertawakan diri sendiri. “Malam sekali?”
Figur itu tertawa, pelan. Jeongguk bisa merasakan darahnya berdesir kencang. “Bagaimana denganmu? Ini sudah lewat tengah malam.”
“Ah, masih ada tiga lagu lagi.”
“Setiap hari?”
“Dua hari sekali, aku ada kelas untuk kuliah.”
“Oh—masih cukup muda.”
Pria itu meneguk whiskey, gelasnya tampak hampir kosong. Jeongguk mengikuti dengan meminum cairan merah marun miliknya.
“Jimin.”
Jeongguk menaikkan alis, “Huh?”
“Park Jimin.” Figur itu berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Jeongguk—Tersenyum manis saat ia berhenti dihadapannya. “Obrolan kita singkat, tapi cukup untuk membuatku tidak bosan. Terima kasih, Jeongguk.” Ia lalu berbalik, melangkah menuju pintu bar. Keluar dari tempat itu. Jeongguk tidak bisa berhenti mengekori siluetnya sampai ilang dari sudut mata.
Percakapan mereka singkat—terlalu singkat. Jika saja boleh, apa Tuhan bisa menurunkan malaikatnya itu kembali esok hari?
Sorak – sorakan terdengar sembari ia bernyanyi, alunan piano juga tidak berhenti mengiringi. Jeongguk tersenyum saat beberapa orang memuji suaranya. Selalu sama dalam enam tahun ini, ia tetap berdiri dibelakang mikrofon. Bar tempatnya bernyanyi juga tidak banyak berubah. Hanya terdapat dua bartender baru yang menggantikan bartender lama. Ia meninggalkan pekerjaannya untuk yang lebih baik, Jeongguk ingat dengan jelas saat orang itu bercerita sejenak sebelum ia meninggalkan bar ini.
Tempat persegi itu masih terlihat sama. Dengan dingin cokelat kayu, beberapa dekorasi daun – daun plastik tergantung indah di langit – langit. Lampu – lampu yang menempel di dinding sengaja dibiarkan remang, orang – orang sudah muak dengan dunia yang terang. Beberapa sofa yang tersebar dengan meja bundar di tengah – tengahnya juga selalu ramai. Tak lupa sebuah bar di bagian pojok yang selalu menyediakan apa saja untuk mereka yang ingin lupa akan kehidupan.
Jeongguk menutup matanya, menikmati setiap melodi yang mengetuk telinga. Orang – orang selalu terkagum – kagum akan suaranya. Ia bernyanyi dengan penuh perasaan—langsung dari lubuk hati yang paling dalam.
Khususnya untuk malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Jeongguk berusaha menenangkan hatinya untuk tidak menangis. Air matanya meronta – ronta untuk menetes.
When will it be?
If I see you again—
“Oh ya? Umur berapa pertama kali kau membuat lagu?”
“Lima belas tahun, sekitar enam tahun yang lalu.”
“Sialan, manusia bertalenta dari planet mana dirimu ini?”
Jeongguk tertawa, ia memang selalu tertarik dengan hal – hal yang berhubungan dengan musik, bahkan sejak pertama kali mendengarkan. Ia merasa jiwanya hanya untuk musik, sampai mati. Ia belajar membuat lagu secara otodidak, beberapa video daring yang ia lihat di situs internet, serta buku – buku pinjaman perpustakaan. Tuhan juga memberikannya suara yang merdu, Jeongguk merasa sempurna untuk musik.
“Lalu, bagaimana bisa berakhir disini?” Jimin meneguk jus jeruk miliknya. Katanya bosan dengan alkohol, setidaknya malam itu ia ingin sedikit sehat.
“Ah, temanku tidak ada kerjaan. Ia mengirim videoku bernyanyi ke pemilik bar ini. Seminggu kemudian aku mendapatkan surel berisi ajakan wawancara. Bayangkan betapa bingungnya aku?”
Jimin tertawa, “Kau tidak mempersiapkan apa – apa.”
“Benar. Untung saja pria tua itu hanya menyuruhku bernyanyi, dan bertanya apa aku pernah tampil di depan orang banyak.”
“Lalu jawabanmu?”
“Aku sering mengikuti kompetisi bernyanyi sejak sekolah, jadi kurasa menghadapi orang banyak bukan hal yang sulit.”
Figur pirang itu mengangguk. “Tentu saja, tidak mungkin orang tanpa pengalaman dapat dengan mulus menghadapi manusia – manusia aneh disini.”
Jeongguk terkekeh, menegak anggur merah miliknya. Ia baru saja menyelesaikan penampilan dengan tiga lagu. Masih ada sekitar dua atau tiga lagu lagi sampai ia selesai dan pulang sebelum mentari terbit. Sudah beberapa minggu ini Jimin tidak pernah tidak datang kemari. Ia selalu menghabiskan waktu di sela – sela bernyanyi untuk mengobrol dengannya. Hanya beberapa hari sampai keduanya cukup dekat, seolah sudah mengenal dari kehidupan mereka sebelumnya.
“Dirimu?”
Jimin menaikkan alisnya, “Aku?”
“Kau tidak pernah menceritakan tentang dirimu. Aku bisa mati penasaran.”
Pria pirang itu tertawa, mengalun merdu mengetuk gendang telinga Jeongguk. “Apa yang ingin kau tahu? Hidupku membosankan.”
“Hm? Bagaimana seseorang yang sangat menarik memiliki hidup yang membosankan?”
Jimin terdiam sejenak sebelum tersenyum, “Apa – apaan? Kau menggodaku?”
“Sudah dari dua minggu yang lalu, tapi terima kasih sudah menyadari.”
Jimin tertawa, memukul pelan lengan tegap Jeongguk. “Kau ini benar – benar sesuatu, Jeonggukie.”
“Ayolah.”
Jimin menghela napas, tersenyum menatap pria dua tahun lebih muda darinya ini. “Aku dulu penari.”
“Dulu?”
“Ya, sudah berhenti sejak dua tahun yang lalu. Masalah kesehatan. Tarian kontemporer, sedikit mirip balet.”
Jeongguk mengerjap sejenak. “Oh ya? Wow, rasanya tidak pernah melihat laki – laki melakukan itu.”
“Aku memang manusia langka.” Jimin mengedipkan sebelah mata, Jeongguk merasa panas di bagian pipinya.
Tidak ada respon, Jimin melanjutkan. “Sekarang aku hanya penulis majalah. Membosankan memang.”
“Itu sudah cukup, kurasa? Setidaknya hidupmu berguna.” Jeongguk menghabiskan sisa wine miliknya. Melirik ke arah jam dinding, lima menit menuju penampilan selanjutnya.
“Ya, aku ingin sedikit berguna untuk dunia ini. Walau cuman sejenak.”
Jimin tersenyum sebelum menghabiskan cairan oranye miliknya. Saat bertemu pandang, Jeongguk sadar ia sudah jatuh cinta saat itu juga.
—I will look into your eyes
And say, "I missed you"
Jeongguk membuka matanya, pemandangan bar masih sama seperti semenit yang lalu. Ia melirik ke arah piano yang masih dimainkan, suara bass yang masih memantul bising menyeruak di seluruh bar, serta suaranya yang masih mengalun merdu. Tidak ada yang berubah, walau Jeongguk selalu berharap untuk bangun dari mimpi buruknya saat ini.
Walaupun ini adalah kenyataan, Jeongguk enggan ingin mengakui. Terlalu mengerikan untuk menjadi nyata, setidaknya biarkan ia menganggap ini hanya mimpi semata.
Bola matanya melirik, tidak ada lagi figur pirang di ujung mata. Bahkan kursi di ujung bar itu tampak kosong. Terlalu pojok untuk menonton penampilannya, terlalu sunyi untuk menikmati malam yang sudah tanpa suara. Bahkan mungkin terlalu dingin untuk mereka yang butuh kehangatan. Cahayanya jauh lebih redup dari yang lainnya, semakin kelam tanpa kepala pirang yang biasa berada disana.
Ia sempat heran, mengapa manusia bak cahaya penerang semesta itu selalu duduk di bagian tergelap bar ini?
Sungguh jika ia bisa, ia tidak ingin mengetahuinya.
The moon looks lonely
Like it's crying in the bright night sky—
“Ggukie—“
Kondisi apartemen Jeongguk cukup remang, Tidak sempat menekan saklar lampu utama saat masuk, cahaya bulan yang memaksa masuk menembus lembaran kaca jendela digunakan untuk penerangan. Tak ada ruang napas saat mereka melangkah masuk, Jeongguk mendorongnya jatuh terbaring di atas sofa. Menangkap bibir ranum itu tanpa ada niat untuk melepaskan.
Saat pertama kali Jeongguk mengira kulit pucat Jimin akan sangat halus bagaikan kapas—adalah benar adanya. Ia tidak bisa berhenti menciumi setiap inci kulit porselen manusia ini. Jimin menggeliat pelan dibawahnya. Menahan napas setiap bibir Jeongguk menyentuh kulit leher yang cukup sensitif. Ia menengadah, memberikan ruang bebas bagi Jeongguk untuk begerak menyusuri tiap inci lehernya.
Jimin terkekeh geli saat Jeongguk mengendus telinganya. Sedikit merinding, darahnya berdesir.
“Wow, wow, calm down, bunny.” Jimin menangkup wajah pria dua puluh satu tahun itu. Tersenyum saat menatap setiap detail wajahnya. Mata Jeongguk bulat, biasanya akan berbinar. Hidung yang tinggi serta bibir tipis yang selalu membuatnya gemas. Jimin tersenyum sembari mengelus pipi pria diatasnya, “Kau sungguh tidak sabaran, hm?”
Jeongguk memutas bola mata. “Siapa yang memaksa untuk pulang?”
“Kau tidak ingin dipecat karena ketahuan bercinta di dalam toilet bar, ‘kan?”
Pemilik rambut hitam itu tertawa, mengenggam pergelangan Jimin dan menjepitnya dengan sofa. Ia perlahan menciumi wajah Jimin, mulai dari dahi, kedua mata, hidung, sampai berakhir di bibir tebal miliknya. Jeongguk serasa lupa dunia, bibir Jimin selalu membuatnya amnesia, mabuk kepayang. Seolah terbang di bawa ke dimensi lain, meninggalkan dunia yang kotor ini.
Ia melumatnya, menikmati suara – suara kecil yang terselip keluar di sela – sela ciuman panas mereka. Tangan – tangan Jeongguk lalu bergerak, menyusuri kulit dibawah sweater hitam itu, rasanya dingin—namun halus dan lembut. Jimin melenguh pelan saat Jeongguk mengenggam pinggangnya dengan cukup erat, seolah memberi sinyal bahwa pria berambut hitam itu sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuhnya.
Jimin memutuskan ciuman mereka, menaikkan kedua lengan saat Jeongguk berusaha menyingkirkan sweater tebal itu dari tubuhnya. Sejenak dinginnya malam menggelitik kulit telanjang Jimin—Namun sentuhan Jeongguk cukup hangat untuk mengusir rasa mengiggil yang menerpa. Ciuman – ciuman kecil ia berikan, tanda apresiasi indahnya ciptaan tuhan yang ada di hadapannya.
“So beautiful, Jimin..” Jeongguk menciumi pipi berisi milik Jimin. Menikmati semburat merah menjalari wajah pucat itu secara perlahan. Lantas Jimin memeluk tubuh Jeongguk, menariknya dekat. Membuat Jeongguk sedikit kebingungan.
“Ada apa?”
Jimin menggeleng, mencium sisi kepala Jeongguk. Menghirup aroma produk rambut yang cukup khas. “Aku suka jika Ggukie selalu disini..”
Jeongguk tersenyum, ia menumpu tubuhnya dengan siku agar tidak menimpa Jimin. Rasanya manusia ini cukup rapuh, ia takut akan Jimin akan retak. “Aku selalu disini?”
“Maksudku..” Jimin terdiam sejenak. Detik selanjutnya ia tertawa dan menggelengkan kepala. Ia melepaskan pelukan, menangkup wajah bak kelinci milik Jeongguk. Menata kedua mata hitam yang membawa seulurh galaksi bima sakti di dalamnya. Indah, Jimin rela tersesat disana. “Selamanya?”
Jeongguk menaikkan salah satu alisnya, “Selamanya?”
“Sampai di kehidupan kita selanjutnya, kau tetap harus jatuh cinta padaku.”
Ada kekehan lembut disana. “Itu waktu yang lama Jimin, dan, ya, kupastikan diriku di kehidupan selanjutnya akan jatuh cinta padamu. Manusia mana yang tidak buta akan cinta saat melihat malaikat?”
Jimin tertawa, memukul pelan dada bidang Jeongguk. Pria ini menggemaskan, Jimin bingung diantara sedih dan juga bahagia. Ia ingin memilikinya untuk waktu yang lama—sangat – sangat lama.
Tapi apakah waktunya cukup untuk itu?
Dulu, Jeongguk tidak pernah percaya ada malaikat tanpa sayap. Beberapa mitos dan ilustrasi selalu meproyeksikan malaikat dengan kedua sayap putih membentang luas, wajah yang indah serta cahaya yang terang menderang. Mereka tampak seperti surga berjalan, Jeongguk tidak pernah tahu bahwa ada salah satu dari mereka yang pernah memijak bumi.
Terdengar dramatis, tapi itulah kesan pertamanya terhadap Park Jimin.
Saat itu ia masih muda, bernyanyi di atas panggung dengan senyum – senyum malu. Memerah setiap ada orang yang memuji suaranya. Dahulu ia selalu melihatnya duduk di ujung bar. Sebelum kenal, Jeongguk menyebutnya sebagai malaikat yang bersantai di bumi, selalu dengan segelas whiskey. Terkadang hanya jus jeruk. Ia heran, mengapa Tuhan mau melepaskannya? Bukannya ia lebih baik diam di surga? Dunia ini tidak cocok untuk makhluk yang begitu sempurna.
“Beautiful midnight angel, Jeonggukie!”
Jeongguk tersenyum mendengar sorakan tersebut, ia melambai sejenak ke arah sang pemilik suara. “Terima kasih!” kata Jeongguk, sebelum melanjutkan lagunya kembali.
Ia sedikit terdistraksi, Jeongguk menggelengkan kepalanya.
The day, that moment
If I knew this was gonna happen—
“Jimin?!”
Jeongguk panik, ia baru saja melihat bercak merah menetes di baju – baju putih milik Jimin. Jauh lebih panik saat ia tidak dapat menemukan sang pemilik di dekatnya. Jeongguk tidak tahu apa yang terjadi—ia baru saja bangun menatap mentari, Jimin sudah hilang pergi entah kemana. Ia menyusuri tiap inci apartemennya hingga mendengar suara rintihan kesakitan dari dalam kamar mandi. Jeongguk segera menerobos pintu itu—menemukan Jimin berlutut di hadapan kloset, memuntahkan sesuatu yang tidak ingin Jeongguk lihat seumur hidupnya.
“Jimin? Jimin?!” Jeongguk berlutut, memegangi bahu kekasihnya yang tampak rapuh. Sang empunya terbatuk, menoleh, tersenyum di tengah rasa sakinya. Wajahnya pucat, bibirnya merah akibat darah—kantung mata hitam yang membuat kondisinya begitu menyedihkan.
Jeongguk tidak bisa untuk tidak cemas, “Sebentar, aku ambilkan handuk—oke? Kita ke rumah sakit hari ini.” Ia segera berlari menuju kamar, mengambil dua lembar handuk bersih dan segelas air putih untuk Jimin.
Ia tidak mengerti, ia tidak tahu apa yang terjadi, Jeongguk merasa tersesat di dalam labirin. Ia tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang mulai tidak karuan, kondisi Jimin jauh dari kata baik – baik saja. Ia berlari kembali ke dalam kamar mandi. Jimin bersandar di dinding—masih terbatuk – batuk walau sudah tidak sehebat barusan. Napasnya tampak tidak baik—bahkan suara yang ia keluarkan saat bernapas membuat Jeongguk tidak nyaman.
Pemilik rambut hitam itu lalu berjongkok, membersihkan sisa – sisa muntahan darah di wajah dan tangan Jimin. Bahkan pria pirang itu sudah tidak punya tenaga untuk bergerak, ia pasrah dalam kendali Jeongguk yang berusaha membersihkan dirinya. Jimin tersenyum, miris. Menatap wajah Jeongguk yang fokus serta penuh cemas. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa – apa. Seolah napasnya bisa diambil kapan saja. Ia merasa kosong, rasanya sulit barang hanya untuk tetap membuka mata.
“Jimin? Jimin?” Jeongguk yang mendapati Jimin mulai hilang kesadaran, menangkup wajah kekasihnya. Menepuk nepuk pipi berisi itu. “Tetap sama aku, oke? Bertahan sebentar lagi.”
Jeongguk tidak ingin Jimin menutup matanya. Ia tidak peduli itu hanya pingsan atau tertidur—ia takut jika Jimin tidak akan membuka matanya kembali.
“..Ggu..kie? Aku ngantuk..” Jimin terdengar serak, terbatuk di detik kemudian setelah mencoba berbicara.
“Shush, diam, oke? Aku cuman butuh kau sadar. Tatap aku Jimin.” Jeongguk mengunci tatapan sendu milik Jimin. Cahaya yang tidak pernah ada masih terus di carinya. Jeongguk semakin tidak karuan saat mata Jimin terasa kosong.
“Jimin?”
“Ng..?”
“Masih disana?” Jeongguk menumpahkan sedikit air di atas handuknya, membersihkan beberapa darah kering yang susah untuk hilang.
“Disini selalu..” Jimin tertawa, suaranya terdengar berat dan serak. Jeongguk meringis.
“Selalu jawab aku, oke?”
“Mmm.. mm.” Jimin mengangguk pelan. Sungguh ia ingin sekali tertidur, matanya terasa berat.
Jeongguk menyingkirkan handuk yang ia gunakan setelah selesai. Ia mencuci tangan dengan cepat. “Kita langsung pergi, sekarang.” Ia mengangkat tubuh Jimin. Jeongguk merasa ia begitu ringan hari ini, seolah diterpa angin sedikit saja—Jimin bisa terbang dan rapuh.
“Jimin?”
Jimin membuka salah satu matanya, bertemu dengan kedua bola mata hitam penuh ketakutan disana.
“Tetap bersamaku.”
Jimin tersenyum dan mengangguk, sebelum ia melihat gelap dengan utuh.
Jika saja Jeongguk diizinkan untuk kembali menyusuri waktu, ia bersumpah akan mengubah segala takdir yang telah terjadi. Katakanlah itu mustahil, Jeongguk rela mengorbankan segalanya demi dunia yang lebih baik.
Semesta ini sudah cukup kejam, apa lagi yang kurang baginya untuk dihancurkan?
Jeongguk tidak mengerti, tidak pernah mengerti. Bahkan bibirnya semakin bergetar saat semakin jauh ia bernyanyi. Hatinya perih, luka terbuka akibat teriris. Takdir pahit menjemputnya tanpa menyapa, rasanya sakit, jiwanya hampa.
Langit malam itu akhirnya memutuskan untuk menangis. Menumpahkan nelangsa dunia yang terus – terusan merintih penuh sakit. Menitik di jalan – jalan sepi. Membiarkan apapun yang tidak berlindung terbasahi.
Jeongguk melirik ke luar jendela, rintik – rintik air menghujam kaca bening tanpa belas kasihan. Telinganya seketika tuli dengan suara bumi menangis. Terlalu familiar dan sangat ia benci.
Ia melanjutkan lagunya, berusaha fokus ke suara piano yang masih setia mengalun merdu. Jeongguk tidak boleh merusak penampilannya hanya karena suara hujan. Walaupun terdengar seperti teriakan penuh rasa sakit, bumi seperti sedang menangisi nasibnya. Apakah manusia begitu kejam sehingga tempat mereka hidup ini harus terus – terusan bersedih?
Walaupun hatinya sama – sama memaksa untuk menangis, Jeongguk menelan air matanya dalam – dalam. Tak mengizinkannya keluar barang hanya setetes.
In a rapturous memory
The rain pours even when I dance alone—
“Sejak kapan?”
Jimin terduduk membisu. Ia memijit telapak tangan yang tertutup sweater miliknya. Jeongguk frustasi, hubungan mereka berjalan cukup lama, dan ia benar – benar buta dengan rahasia terbesar Jimin. Kenapa? Jeongguk tidak siap jika sesuatu terjadi tiba – tiba, ia bisa saja menyerah akan jiwanya.
“Jimin..”
Jimin menelan ludah, ia juga sakit, Ia juga perih. “enam... bulan.”
Kecewa, itu yang dilihat Jimin. Ia berusaha menahan bulir air mata yang sudah memupuk di ujung mata. Sungguh, ia juga tidak ingin apapun terjadi—walaupun memang rasanya sudah terlambat. Ia egois, ‘kan? Ia takut jika orang dihadapannya ini meninggalkannya sendiri. Ia takut jika ia harus menatap kesunyian di akhir hidup. Sungguh penyiksaan yang ia terima rasanya cukup, ia tidak ingin menutup mata tanpa peluk.
“Jimin..”
Napasnya tercekat, bulir bening itu menetes. “Aku.. Takut Jeongguk.” Jimin merasa dadanya kembali sakit. Rasa yang selalu ia benci. “Segala macam mimpi buruk yang selalu aku alami—kau meninggalkanku. Karena apa? Ini..” Ia menatap Jeongguk, sebelenggu rasa frustasi di kedua mata itu. “Aku tidak sempurna seperti yang kau bayangkan Ggukie, maafkan aku.”
Jeongguk terdiam, ia melangkah mendekati malaikat hidupnya ini. Sayapnya rapuh, nyaris patah. Jeongguh merasa sesak melihatnya. Ia berlutut, Jimin mengikuti pandangan matanya. “Siapa yang berkata aku akan meninggalkanmu? Seperti ini? Omong kosong darimana, Jimin?” Tangan – tangan kekar itu mengelus paha berbalut celana cokelat, bergetar karena kesedihannya memaksa untuk keluar. “Kita bisa melawannya bersama – sama. Kau tau aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri saat menyadari kau melawan penyakit ini sendirian?”
Ada isakan tangis disana. Sayap malaikatnya patah, Jimin mulai merapuh. Hati Jeongguk seolah diremas, perlahan meremuk.
“Jimin? Aku bersumpah akan terus bersamamu bahkan sampai kehidupan kita selanjutnya, kau ingat?”
Jimin mengangguk di tengah – tengah tangisannya. Ia menggenggam pergelangan tangan Jeongguk, cukup erat. Memohon agar kedua tangan ini tidak pernah lepas darinya.
“Aku tidak pernah bohong akan kata – kataku, Jimin.” Ia menatap kedua mata rapuh itu dengan mantap. “Aku akan tetap bersamamu, jatuh cinta padamu untuk seratus kehidupanku selanjutnya. Sampai aku merasa muak—karena aku tidak akan pernah muak denganmu.”
Kedua mata Jeongguk itu bulat, kadang binarnya tampak seperti kumpulan bintang. Memiliki seantero galaksi semesta. Jimin ingin tersesat disana. Walau memakan waktu sampai seribu tahun juga, ia rela. Daripada dunia ini—rasanya kejam. Ia tidak tersesat, namun terperangkap ke dalam siksaan tanpa henti milik semesta. Pelukan Jeongguk adalah satu – satunya tempat ia merasa aman dari segala macam buruan kekejaman dunia, Jimin tidak ingin kehilangan itu—barang hanya sebentar.
“Jeongguk?”
Jeongguk mengangkat kedua alisnya, “Ya?”
“Tetap mencintaiku seumur hidupku?” Kedua mata itu berbinar, walau singkat. Jeongguk menangkap cahaya itu, walau hanya sekelebat.
“Aku akan mencintaimu seumur hidupku, Jimin.”
Jimin menangis—memeluk kekasih hidupnya. Sungguh jika ia bisa memohon, ia ingin diberi waktu hidup—sedikit saja. Ia ingin terus merasakan kehangatan Jeongguk sampai ia lupa rasanya. Sampai ia lupa rasa manis bibir itu. Ia egois—ia tau itu. Tapi untuk sisa hidupnya, harusnya tidak apa – apa, ‘kan?
Jeongguk membuka matanya sekali lagi.
Hari itu masih hujan, ia masih bernyanyi, tuts piano masih mengeluarkan melodi. Masih tidak berubah, ia masih berada di dalam mimpi.
“Siapa orang yang kau nyanyiin, Jeon?! Beruntung sekali, aku iri.”
Jeongguk menoleh. Seorang wanita yang tampaknya berumur tiga puluh tahun keatas menyahut setelah ia melakukan pidato singkat di tengah – tengah lagu. Jeongguk tersenyum, ia hanya menggeleng dan lanjut bernyanyi. Aneh rasanya, empat menit terasa seperti empat abad. Jeongguk tidak pernah bermimpi selama ini.
Tapi, biasanya mimpi buruk akan selalu terasa lama, bukan?
“Ia sedang tertidur, nona.” Jeongguk menjawab. Suara bass yang mengiring kembali berbunyi. Kedua mata hitam itu tertutup mengikuti senyuman. “Ia cukup lelah, tidak bisa datang kemari.”
Wanita itu tertawa. Mengangkat gelas anggur merahnya, sinyal untuk Jeongguk melanjutkan nyanyiannya. “Aku harap ia bisa mendengar suaramu sekarang!”
Jeongguk mengangguk. Kembali fokus ke mikrofon di hadapannya. Orang – orang disana juga masih sama, belum ada yang pergi ataupun masuk. Suara rintik hujan kembali menusuk gendang telinganya. Jeongguk merasa mual, ia ingin muntah saat itu juga.
Ya, ia sedang tertidur, cukup lelap.
By the time this mist clears
I'll run with my feet wet
So hug me then—
“Jimin?”
Pria pirang itu tersentak. Ia menoleh cepat, mendapati Jeongguk yang masih setengah sadar berdiri di ambang pintu. Tersenyum, kaki – kaki itu melangkah mendekat. Jeongguk tampak tidak baik, ia jarang tidur akhir – akhir ini. Terkadang menghabiskan malam di balkon apartemen, Jimin juga pernah mendapatinya menonton televisi sampai mentari terbit. Apakah ini salahnya? Apa Jeongguk jauh lebih menderita karenanya?
“Ggukie? Ingin kembali tidur? Kau baru saja terlelap dua jam yang lalu.” Tangan kurus itu meraih pipi Jeongguk, jauh lebih berisi dari miliknya.
Jeongguk menggeleng, “Aku tidak bisa tidur terlalu lama—kau sedang apa? Rambutmu rontok lagi?”
Hening, Jimin melirik ke arah wastafel. Helaian – helaian pirang yang baru saja ia buang bisa membuat saluran sumbat. Ia harus membersihkan itu. “Tidak apa – apa, selalu begini, ‘kan? Aku hanya membuang sisanya agar kasur kita tidak penuh akan rambutku.”
Jeongguk terdiam. Helaian emas Jimin adalah hal yang paling ia sukai. Selalu menonjol di pojok gelap bar tempat ia bernyanyi. Apa itu akan hilang sebentar lagi?
Jermari Jeongguk meraih kepala Jimin. Membelai rambut pirang milik kekasihnya. Masih terasa halus, walau tampak rapuh. Sensasinya masih sama, mungkin jika memang ini semua hilang—pasti bisa kembali, ‘kan? Jeongguk akan bekerja lebih keras untuk membeli produk rambut yang bagus. Rambut Jimin bisa kembali tumbuh, ia tidak perlu khawatir lebih jauh.
“Kau harus sarapan jika tidak bisa tidur, ayo.” Jimin menggenggam pergelangan tangan kekasihnya, menuju dapur. Walau kepalanya terasa berputar, ia masih ingin berbuat banyak untuk Jeongguk. Tidak betah rasanya terus – terusan terbaring di kasur. Ia bosan, ingin kembali normal seperti biasanya.
“Tunggu—biar aku yang memasak, Jimin.” Jeongguk menahan lengannya, perlahan. Ia tahu Jimin sangatlah rapuh. “Kau istirahat saja.”
Jimin terdiam, kemudian menggeleng. “Untuk hari ini, aku yang memasak, ya?”
“Kau selalu berkata kepalamu berputar jika berdiri terlalu lama.” Jeongguk mengelus lengan telanjang Jimin. Bahkan baju kaos yang biasa terlihat pas—sekarang cukup longgar ditubuh Jimin. “Dapur juga cukup panas, kau bisa sakit kepala.”
“Aku merasa baik hari ini, jadi kurasa tidak apa – apa. Kumohon?”
Harusnya tidak apa – apa, kenapa ia merasa khawatir? Jimin juga tampak segar. Jarang sekali melihatnya begitu cerah. Beberapa bulan ini hanya penuh dengan rintihan sakit setiap paginya. Apa hari ini Tuhan memberikannya keajaiban? Jimin tampak sehat. Ia akan segera sembuh, ‘kan? Perawatan rumah sakit sepertinya berhasil. Jeongguk tidak perlu khawatir lebih jauh, benar ‘kan?
Jeongguk perlahan mengangguk. “Ya.. baiklah.”
Jimin tersenyum cerah. Jeongguk merasa seperti nostalgia. Sudah lama sekali tidak melihat wajah itu bercahaya. Walau kulitnya masih pucat, bibirnya masih terlihat putih, hari itu Jimin kembali terang. Seolah matahari hidupnya kembali bersinar. Jeongguk merasa hidup, sedikit. Ia tidak bisa mengontrol senyumannya, pagi ini terlalu bahagia untuknya.
.
“Pancake?”
Jeongguk mengintip dari bahu Jimin, aroma manis dari adonan pancake memancingnya untuk berkunjung. Ia tersenyum saat Jimin terkekeh pelan. Ia ingat, pertama kali mereka berkencan, Jimin membuat pancake untuknya. Untuk hari itu, rasanya terlalu manis. Mungkin Jimin memasukkan terlalu banyak gula, tapi Jeongguk tidak pernah protes. Rasanya selalu sempurna selama Jimin ada dihadapannya, ikut mengeluh karena rasa manis yang berlebihan. Jeongguk berkata pancake tersebut manis karena Jimin yang membuatnya, pria pirang itu tertawa—godaan Jeongguk itu sudah basi, katanya.
“Kali ini kupastikan tidak terlalu manis.” Ia membalik adonan pancakenya, tinggal menunggu sisi satunya untuk matang, maka ia akan selesai. “Tunggu di ruang tengah, Ggukie. Kita bisa makan ini sambil menonton berita pagi hari yang membosankan.”
Jeongguk tertawa, ia lalu mengangguk dan menunggu di sofa. Untuk pertama kalinya televisi pagi itu tidak terasa membosankan. Walaupun suara pria pembawa berita disana tidak pernah berubah, untuk hari itu Jeongguk tidak merasa muak. Biasanya ia akan mengeluh bosan, protes kenapa stasiun televisi tidak mengganti pembawa beritanya, berakhir dengan Jimin yang tertawa dan menyuarakan pendapat yang sama.
Tapi untuk hari itu, rasanya tidak membosankan.
“Oh, sudah selesai?” Jeongguk menoleh, Jimin sudah duduk di sampingnya, meletakkan dua piring pancake dengan sedikit dekorasi potongan stoberi. Pemandangan itu membuatnya lapar, ia sudah lupa rasanya menginginkan makanan. Kapan terakhir ia merasa lapar?
Jimin memotong sedikit bagian pancake, mengarahkannya ke depan mulut Jeongguk. “Ini tidak akan manis.” Jeongguk dengan senang hati mencicipinya.
Benar, tidak terlalu manis. Ada sedikit rasa asin, mungkin dari mentega yang digunakan. Stoberinya juga tidak terlalu asam. Jeongguk menaik-turunkan alisnya. Rasa pancake hari itu cukup sempurna. “Enak.” Ucap Jeongguk. “Sempurna, Jimin.”
Jimin bertepuk tangan. “Akhirnya, aku tidak membuatmu diabetes lagi, ‘kan?”
“Masih, soalnya kau masih disini.” Jeongguk tersenyum miring, memancing Jimin untuk memukul lengannya. Tidak berasa, tanpa tenaga.
“Basi, Jeonggukie. Kau masih saja mengulang kalimat itu?” Ia memotong untuk dirinya, mencicipi pancake itu. Benar, rasanya enak—tidak terasa seperti tumpukan adonan gula layaknya pancake yang ia buat dahulu.
“Kenapa? Kau bosan?”
“Basi, Ggukie, basi.” Jimin terkekeh. “Tidak ada ide lain? Kau harus sering – sering menonton film romansa.”
“Tidak ada yang bagus selain serial picisan di televisi. Aku tidak suka.”
Jimin tersenyum, “Picisan pun, godaannya jauh lebih baik darimu.”
Jeongguk menaikkan satu alisnya. “Oh? Jadi kau suka yang picisan? Oh Jimin—a hopeless romantic.”
“Apa – apaan itu? Dapat istilah darimana?”
“Novel yang kupinjam dua hari yang lalu. Picisan, tidak selesai kubaca.”
Pria pirang itu tertawa. Walaupun kepalanya terasa berdenyut—kehadiran Jeongguk bagaikan penyembuh, penderitaannya seolah menghilang, walau hanya sebentar. “Aku menunggu kalimat baru darimu.”
“Kau ingin aku menonton drama – drama romansa televisi, itu maksudmu?”
“Tentu saja. Kau harus berlatih dari sana.”
Jeongguk meraih pinggang Jimin, mendekatkan tubuh mereka, mengecup pipi kurus kekasihnya. “Baiklah baiklah. Kau ingin yang seperti apa?”
“Apa saja, asalkan tidak lagi—‘pancake ini manis karenamu, Jimin’—saja.”
“Hmm, oke, oke. Tunggu saja. Aku akan temukan yang lebih baik.”
Jimin tersenyum, “Janji?”
“Janji.”
Ah, janji.
Jeongguk selalu menepati janjinya, ia bukan tipe manusia pengecut yang lari dari tanggung jawab. Ibunya akan marah jika Jeongguk bertindak tidak sesuai dengan kata – kata. Bahkan janji yang terdengar lucu itu saja ditepatinya. Walau terlambat, ia bahkan tidak tahu Jimin mendengarkan atau tidak saat itu.
Ia semakin mual, suara – suara piano mulai memudar. Rintik hujan terdengar bising, Jeongguk benci. Ia ingin mati.
Tepukan tangan juga tidak lagi terdengar, ia hanya bisa melihat tangan – tangan yang bergerak. Gelas – gelas yang berdenting juga tidak lagi bersuara. Apa ia tuli? Telinganya tidak bekerja baik malam ini.
‘Ah.. sial.’
Behind the faint smile that looked at me
I will draw a beautiful purple shade—
Hari itu hujan, cukup deras. Rintiknya menghujam jendela, suaranya menganggu gendang telinga.
Jeongguk tidak tidur, ia tidak menghitung hari. Apakah dua? Tiga? Atau empat hari? Ia lupa kapan terakhir ia terlelap menuju alam mimpi. Realita terlalu mengerikan untuknya menutup mata. Seolah apa saja bisa terjadi saat ia bangun—entah itu buruk atau baik, ia tidak ingin merasakannya. Terlalu menyeramkan, Jeongguk tidak suka.
Suara alat – alat rumah sakit membuatnya tuli. Ia tidak bisa mendengar apapun selain itu. Menggema tidak berhenti, terus mengetuk menghantui.
Wajah Jimin terlihat pucat. Matanya tertutup, sangat rapat. Ia tidak bersuara juga tidak bergerak. Jeongguk lupa sudah berapa lama, barang untuk menghitung saja ia lupa. Helaian pirang kekasihnya sudah tidak lagi terlihat, Jimin menangis saat seluruh rambutnya harus di pangkas habis. Jeongguk selalu berkata bahwa ia tetap indah, Jeongguk selalu berkata malaikatnya tetap bersinar. Ia rindu mata Jimin, walau tampak sendu tanpa cahaya, ia rindu bagaimana kedua mata itu menyipit manis saat ia tersenyum. Ah iya, sudah berapa lama ia tidak mendengar suara tawa Jimin? Jeongguk tidak ingat. Yang terakhir ia bisa ingat hanyalah rintihan sakit, erangan perih, derita penuh tangis.
Ia rindu nyanyian Jimin. Sempat bertanya kenapa Jimin tidak menjadi penyanyi seperti dirinya, Jimin akan menjawab bahwa ia malu. Padahal suaranya terdengar manis, Jeongguk selalu suka. Terkadang ia akan bersenandung ketika memasak, atau saat membantu Jeongguk membersihkan apartemen. Mereka sering bernyanyi bersama, bahkan Jimin selalu membantunya membuat lagu – lagu baru. Tidak lupa jemari lentik yang lihai bermain piano—Ah, Jimin belum mengajarinya. Jeongguk pastikan ia menagih Jimin untuk mengajarinya piano saat mereka keluar dari sini.
Mereka akan keluar dari rumah sakit ini, berdua, ‘kan?
Kedua mata hitam itu menatap, memperhatikan setiap detail wajah indah milik Jimin. Jeongguk selalu mengingatkan dirinya untuk memuji Jimin setiap pagi. Pipinya akan memerah, lalu Jimin akan memukul dadanya. Jeongguk menikmati semuanya. Setelah itu ia akan mencium bibir Jimin, rasanya lembut dan hangat. Ah, kapan terakhir kali ia mencium Jimin? Ia rindu.
“Jimin?”
Jemari – jemari dingin itu diraih, tidak bergerak sama sekali. Jeongguk meringis. “Aku rindu pancake. Kau tidak pernah mengajarkanku bagaimana cara membuatnya.” Ia tersenyum, walau rasanya pahit. “Kurasa resep di internet tidak se-enak milikmu.”
“Saat pulang nanti, kau harus beri aku resepnya. Selama masa pemulihanmu, biar aku yang memasak pancake, oke?” Jeongguk menatap Jimin, sepersekian detik berharap Jimin untuk membuka matanya.
Ia menghela napas, cukup panjang. “Satu operasi lagi dan kau akan pulang, Jimin.” Ia menggenggam jemari Jimin. “Satu lagi, kau tidak akan menderita lagi.”
Hening, rintik hujan juga belum berhenti.
“Aku pernah janji untuk mencari kalimat godaan yang lebih bagus, ‘kan?” Jeongguk tertawa pelan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia percaya Jimin bisa mendengar. “Aku sudah menyelesaikan tiga seri drama picisan televisi kesukaanmu. Tapi kurasa, tidak ada yang lebih baik dari milikku.”
Jempol Jimin terasa dingin, Jeongguk mengelusnya untuk memberi kehangatan.
“Kau tau, aku pernah menjatuhkan air mata ku di sungai.”
Sekelebat bayangan wajah Jimin yang memerah, Jeongguk tidak bisa untuk tidak tersenyum.
“Di hari dimana aku bisa menemukannya lagi, itulah waktunya aku berhenti mencintaimu.”
Malam itu suara alat rumah sakit tidak pernah meninggalkan memori Jeongguk. Bersamaan dengan rintik hujan. Harapan untuk melihat kedua bola mata kelam Jimin masih tersisa, walaupun rasanya tidak mungkin untuk menjadi nyata.
Samar – samar suara alat rumah sakit menghantuinya kembali. Jeongguk nyaris saja kehilangan konsentrasi akan musik pengiring jika ia tidak segera sadar. Menyadarkan diri bahwa ia tidak kembali ke masa lalunya. Rasanya sulit, bayang – bayang ruangan remang itu masih ada.
Masih cukup gelap, masih cukup mengerikan.
Alunan piano mulai memudar, Jeongguk menghela napas, lagunya akan selesai sebentar lagi. Ia menutup mata, menggelengkan kepala. Berusaha fokus pada detik terakhir nyanyiannya. Perlahan suara tepuk tangan dan dentingan gelas kembali terdengar, telinganya bebas dari cengkraman memori masa lalu. Perlahan berhenti menulikannya.
Sepersekian detik setelah ia membuka mata, figur pirang itu disana. Duduk menatapnya dengan segelas whiskey. Kedipan selanjutnya ia menghilang.
Jeongguk sungguh ingin memohon pada dunia untuk berhenti. Bulir bening yang ia tahan akhirnya meloloskan diri. Jeongguk menangis, pengunjung bar ikut merasa hatinya teriris.
Rasanya sakit, perih.
We may not be on the same page
But I want to walk this path with you—
Apartemennya masih gelap. Jeongguk bahkan tidak sadar saat ia menutup pintu dengan cukup kuat.
Kaki – kaki berbalut pantofel itu melangkah. Menemukan ruangan tengahnya yang berantakan. Kain – kain selimut masih terletak di atas sofa. Kabel – kabel konsol game masih terlilit satu sama lain. Majalah – majalah juga tidak tersusun rapi di bawah meja. Pria berambut hitam itu menoleh ke arah dapur. Masih terlihat rapi dan kosong, sangat hampa. Ia yakin alat masaknya sudah sangat berdebu. Ia menghabiskan waktu yang lama di rumah sakit. Bahkan mengambil cuti dari pekerjaannya sebagai penyanyi bar malam hari.
Jeongguk berhenti di saat hendak melewati sebuah meja kecil. Isinya hanyalah kertas – kertas lagu dan beberapa figura foto. Ia memiliki semua foto fase kehidupan Jimin disana. Saat mereka baru pertama kali bertemu, layaknya dua burung kenari saling jatuh hati. Di foto kedua, Jimin menciumnya. Dengan latar belakang dapur apartemen yang disinari remang cahaya kuning. Terlihat domestik. Foto ketiga, kali ini Jimin sendirian, tampak terkejut karena Jeongguk mengambil fotonya secara tiba – tiba sesaat setelah ia menoleh. Ekspresinya lucu, terkejut dan sedikit bingung. Foto keempat, Jeongguk mencium kepala Jimin yang baru saja memangkas habis rambutnya. Mata kekasihnya tampak memerah, Jimin menangis sepanjang proses. Terlalu menyayangi rambut pirang, katanya.
Jeongguk menghela napas, cukup bergetar. “Aku selalu bilang bahwa kau tetap terlihat indah, ‘kan?” Ia tersenyum, terlihat miris.
Ia kembali melangkah, melewati ruangan tengah, menuju dapur. Suara dentingan piring dan percikan minyak masih bisa ia dengar, walaupun samar. Setiap pagi, ia akan menemukan Jimin menyibukkan diri di dapur. Jeongguk akan tersenyum dan memeluknya dari belakang. Saat itu Jimin masih ‘terlihat’ sehat. Jeongguk selalu berharap untuk tahu lebih awal. Sedikit lebih awal, sedikit saja—
“Kau belum mengajariku cara membuat pancake Jimin.” Jeongguk menumpu lengannya di konter dapur. Sisa air matanya belum juga lelah untuk menetes. “Juga piano. Kau janji untuk mengajariku agar lagu – lagu yang kubuat terdengar lebih natural.”
Jeongguk merasa hatinya dicabik – cabik.
“Kau juga belum mendengar lagu baruku, Jimin.” Ia tersenyum. “Aku siapkan itu untuk ulang tahunmu. Tinggal tiga hari lagi—kenapa kau buru – buru sekali?”
Ia menghela napas, lagi.
Jeongguk melangkah menuju pintu kamarnya. Ia tahu ia tidak akan bisa melewati ini. Tapi untuk yang terakhir—ia ingin melakukannya.
Pintu putih itu didorong terbuka. Kamar tidurnya juga tidak banyak berubah. Kasur terlihat rapi, Jimin menyuruhnya untuk merapikan sebelum mereka pergi menuju rumah sakit. Aroma tubuh Jimin masih tertinggal, walaupun samar. Ia masih bisa melihat beberapa sweater kekasih hidupnya tergantung rapi—hampir seluruhnya berwarna putih. Bertolak belakang darinya yang menyukai warna hitam, kelam.
Kaki – kaki itu kembali melangkah, rasanya berat. Hantaman memori membuat kepalanya serasa melayang. Jeongguk sudah tidak bisa lagi merasakan air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Ia mendudukkan diri di atas kasur. Menghidupkan lampu tidur yang berdiri anggun di atas meja kecil. Sesaat alisnya berkerut, sebuah kertas terbaring rapi di atas meja itu. Jeongguk tidak ingat pernah meninggalkan kertas lagunya disini.
Lembaran itu diraih, saat Jeongguk membaliknya, serasa dunianya runtuh seketika.
‘Malam, Ggukie.
Ah, aku tidak bisa berpikir banyak untuk menulis ini. Kepalaku rasanya ingin lepas.
Bagaimana keadaanmu? Tersenyumlah. Kau itu mirip seperti kelinci saat bahagia, aku suka. Jangan sering menangis, aku tidak suka jika Ggukie sedih karenaku. Aku baik – baik saja, Ggukie. Sedikit lagi, satu operasi lagi, penderitaanku akan berakhir, ‘kan?
Aku minta maaf jika aku tidak dapat bertahan. Rasanya sakit, Ggukie. Untuk bernapas saja rasanya sulit. Kepalaku selalu berdenyut. Bahkan saat ini, badan – badanku seolah menolak untuk bergerak. Aku takut aku tidak bisa kembali ke apartemen ini. Aku takut—malam ini adalah malam terakhir aku melihat senyum kelinci Ggukie yang lucu.
Jeonggukie, hidupku hampa selama enam bulan. Diagnosis kanker yang kuterima pertama kali membuatku kehilangan harapan untuk hidup. Walaupun masih tidak separah saat ini, aku merasa tidak ingin hidup lagi. Tapi—aku rasa tuhan berkata lain saat pertama kali aku melihatmu bernyanyi di bar itu. Aku jatuh cinta, Ggukie. Dari pertama kali mataku bertemu pandang denganmu—serasa duniaku kembali berwarna. Jujur, aku takut untuk jatuh cinta. Aku takut meninggalkan luka. Sungguh tidak adil untukmu. Aku egois ‘kan, Ggukie? Aku egois untuk memilikimu walau aku tahu waktu hidupku tidak lagi lama. Aku egois untuk membuatmu jatuh hati disaat aku akan pergi dengan segera. Aku egois untuk memohon kepada tuhan agar memberikan aku waktu, untuk mencintaimu.
Maafkan aku Ggukie. Maafkan aku. Aku tidak sempurna. Aku bukan malaikat yang selalu kau idam – idamkan.
Maafkan aku Ggukie. Kau harus melewati rasa sakit ini.
Maafkan aku Ggukie. Kau harus hancur karena keegoisanku yang menginginkan kehangatan sebelum aku menutup mata.
Ggukie, jika aku tidak dapat bertahan, kau akan tetap mencintaiku di kehidupanku selanjutnya, ‘kan? Kau akan tetap mencium pipiku saat pagi hari, Kau akan tetap tersenyum untukku, ‘kan? Aku akan mencintaimu Ggukie sampai kapanpun. Percaya padaku, kumohon?
Sekali lagi, aku minta maaf jika aku tidak bertahan. Tolong tersenyum untukku? Aku mencintaimu, bahkan sampai dunia berakhir pun, aku akan selalu mencintaimu, Jeonggukie.
Park Jimin.’
Jeongguk merasa lupa caranya bernapas. Ia menghirup aroma kertas itu, masih ada aroma khas tubuh Jimin disana. Beberapa tulisannya juga sedikit memudar, mungkin Jimin menangis saat menulisnya. Bahu tegap Jeongguk bergetar hebat. Kesedihan yang berusaha ia buang kembali dengan begitu kejam. Rasa sakit yang tanpa belas kasihan menghajar hatinya habis – habisan, tanpa sedikitpun sisa.
Jeongguk merasa hampa, jiwanya melayang. Seolah setengah dari hidupnya baru saja diambil dengan paksa. Ia merasa sesak, rasanya perih menyakitkan.
Tak lama suara rintik hujan terdengar samar. Sepertinya dunia ikut menumpahkan sedih saat malaikatnya tiada. Awan – awan kelabu tampak memuntahkan elegi yang menyayat hati. Malam itu semakin kelam tanpa cahaya. Sunyi menerpa tanpa suara. Jeongguk merasa waktu hidupnya berhenti saat itu juga.
Ia merasa tuli. Telinganya berdenging. Suara rintik hujan tak dapat lagi ia dengar. Hanya detak jantung yang mengetuk bising gendang telinganya. Seolah akan meledak saat itu juga. Darahnya berdesir cepat. Kedua matanya berkabut, kebingungan antara mimpi dan realita.
Lagipula, realitanya begitu menyakitkan untuk menjadi nyata. Jeongguk merasa ia terperangkap dalam mimpi buruk yang akan bertahan selama – lamanya.
Empat tahun berlalu, rasanya masih sama. Menyakitkan.
Jeongguk mengerjap. Menghapus air matanya segera sebelum mengalir melewati pipi berisi miliknya. Ia hanya tersenyum saat pengunjung bar mulai merasa kasihan. Lagunya terdengar sedih, ada beberapa dari mereka yang memberi tepuk tangan lagi untuk menyemangati dirinya. Ia hanya tersenyum, mengucapkan terima kasih di sela nyanyian.
“—But I want to walk this path with you. Still with you..”
Suara bass itu berhenti. Diikuti oleh piano. Jeongguk menghela napas panjang. Suara tepuk tangan perlahan mengusik telinganya. Pria berambut hitam itu tersenyum, membungkuk sebagai tanda terima kasih kepada pengunjung bar yang setia mendengarkannya.
“Terima kasih.” Jeongguk mulai berbicara. “Aku.. menyanyikan lagu ini untuk seseorang yang tidak berada disini. Boleh aku minta sesuatu untuk kalian semua?” Orang – orang menyahut, ada beberapa yang hanya mengangguk. “Orang yang kucintai sekarang sedang tertidur, cukup lelap. Aku ingin kalian membuat permohonan, agar ia bahagia di dalam tidurnya. Agar ia tidak lagi menangis, tidak lagi merasa sakit di dalam tidurnya.”
Beberapa orang seketika iba. Mereka memberikan sorakan semangat kepada Jeongguk, pria itu hanya tersenyum. Berusaha menahan air matanya untuk kembali tumpah.
“Terima kasih.” Ia lalu membungkuk untuk terakhir kalinya dan turun dari panggung. Ia melangkah menuju pintu keluar bar, untuk melihat langit yang masih saja menangis.
“Jimin?” panggil Jeongguk. Ia menengadah, menatap awan kelabu. Tetesan air hujan terasa perih saat menabrak wajahnya, namun Jeongguk tidak peduli. “Ingat godaan picisan terakhirku?”
Ia terkekeh pelan.
“Aku tidak pernah menemukan air mataku lagi, Jimin.” Ia tersenyum, walau hatinya terasa perih tercabik – cabik. “Jadi, kau tidak perlu takut.”
FIN.
